Senin, 31 Agustus 2009

Hakekat Puasa

Shafwan Nawawi*:

Hakekat Puasa

Mesjid -
klik untuk melihat foto
Shafwan Nawawi*
Definisi al-shiyâm (puasa) menurut para ulama adalah al-Imsak (menahan) diri supaya tidak makan dan minum serta tidak melakukan permainan seksual atau semua yang membatalkan puasa sejak dari terbit fajar dan terbenam matahari. Namun pada umumnya puasa disikapi tidak (boleh) makan dan minum dan seterusnya sehingga begitu waktu berbuka, syahwat makan minumnya disalurkan sedemikian rupa, yang kadang-kadang melebih dari porsi di luar bulan puasa.

Untuk mengerti hakekat puasa ada tiga pokok normatif yang perlu dijelaskan di sini, sesuai dengan tuntunan Quran dan hadis yang berkaitan dengan maksud puasa tersebut. Pertama, bahwa kata kunci puasa ini terletak pada nilai ”imsak” (menahan) dirinya  itu. Dalam diri manusia terdapat naluri selera makan dan dorongan senang pada seks (QS. 3: 14) yang memiliki daya dorong yang kuat agar kebutuhannya terpenuhi atau tersalurkan.

Dorongan nafsu ibarat mesin mobil yang tahunya hanyalah bergerak maju. Dorongan majunya inilah yang ditahan, persis seperti mengeremkan mesin kenderaan. Yang mengeremnya itu adalah iman yang eksis dalam jiwa manusia.

Dari term yang diangkat oleh Al Quran dan sunah tersebut terdapat tiga syahwat yang perlu perlakuan imsak padanya, supaya tetap terpelihara dan sekaligus terkonrol, yaitu syahwat buthán (nafsu yang berurusan dengan masalah perut), syahwat kalam (nafsu bicara) dan syahwat jinsiyah (nafsu seksual)

Ketiga shahwat tersebut, bila tidak dipelihara dan dikontrol dengan baik, dapat menggiring manusia melakukan apa saja yang melanggar norma-norma kemanusiaan dan agama (khususnya Islam). Karena syahwat perut orang bukan hanya terdorong untuk mencari makan secara pantas dan halal, tapi bila sudah tidak dipelihara dan tidak terkontrol, orang bisa mengambil yang bukan haknya bahkan lebih jauh dari itu orang bisa jual diri. Adapun syahwat bicara, kalau sudah di luar porsinya, orang bisa memfitnah, ghibah, berdusta, berkata kotor dan sebagainya. Begitu juga dengan syahwat seksual, yang tidak terkendali, orang bisa menggoda anak orang lain, tapi  lebih jauh justru ada yang sampai memperkosa anak kandung sendiri. Di sinilah konsep imsak menjadi sangat urgen dalam kehidupan manusia dan inilah yang disyariatkan Islam.

Dalam menjelaskan syahwat perut terdapat hadis Nabi yang mengatakan: andai manusia ini memiliki dua bukit dari emas, maka niscaya ia akan menuntut yang ketiganya. Tuntutan  itu tidak akan berhenti kecuali jika sudah mati. Dalam menjelaskan ini syahwat seks dipahami dari hadis nabi riwayat Bukhari tentang arahan beliau supaya para pemuda yang mampu (termasuk secara material), segera menikah agar mata dan organ seksnya terjaga dari dosa.

Kedua, ialah bahwa menahan diri atau menahan hawa nafsu yang dimaksud adalah menahan diri terhadap hal-hal yang selama ini di luar Ramadhan, halal dilakukan siang hari. Hal inilah yang mejadi kemuliaan tersendiri di sisi Allah. Allah minta apa yang selama ini dihalalkan, mohon ditahan demi ketaatan pada-Nya. Makna ini dijelaskan pada ayat 187 surah Al Baqarah:

Dihalalkan untuk pada malam hari melakukan permainan seksual dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagi kamu dan kamu adalah pakaian bagi mereka Allah mengetahui bahwa kamu pernah tidak mampu menahan dirimu kemudian Allah mengampuni dan memaafkan kamu...

 Kesimpulan lain dari ini semua ialah bahwa untuk yang halal saja sudah dilarang, apalagi yang jelas haramnya. Di sinilah ketidaksadaran sebagian umat ini dalam beribadah puasa.

Karena faktanya justru pada bulan Ramadhan pula munculnya selingan kegiatan yang jauh dari nilai-nilai imsak atau menahan tersebut, seperti mereka yang menghabiskan waktu di kantor dengan main domino, ibu-ibu yang sukanya ngerumpi, anak-anak muda yang pacaran saat Shalat Tarawih atau Subuh, mereka yang berbuka dengan merokok setelah ijma’ ulama mengharamkannya, atau mereka yang berbuka dengan jamuan berbuka yang melimpah, atau apalagi mereka yang puasa masih saja korupsi, berzina, atau minum minuman keras arau berjudi.

Ketiga, ialah bahwa imsak, menahan, yang dimaksud adalah imsak yang ikhlas karena Allah atas dasar keimanan pada Allah, sesuai dasar pemanggilan Allah surat Al Baqarah 183, karena keislaman seseorang saja tidak cukup merespons ibadah puasa dengan benar dan sungguh-sungguh. Dalam Al Quran memang ada klasifikasi muslim dan mukmin tersebut. Perhatikan QS. Al Hujurat ayat 14. 

 Di ayat 14 surat Al Hujurat ini terlihat jelas orang-orang tersebut diakui keislamannya tapi belum diakui keimanannya. Esensi masalahnya ialah bahwa yang Muslim saja ini memiliki hati yang belum terisi oleh iman. Imannya baru di tataran konsep dan pemikiran, atau baru sebatas pengakuan dan keinginan, namun belum sampai ke hatinya. Hatinya masih ragu atau masih terisi dengan persepsi persepsi kemauannya. Karena itu belum terefleksikan keluar dirinya dalam bentuk sikap yang tegas, tindakan nyata dengan berjuang dan berkorban di jalan Allah. Karena itu yang mampu melaksanakan puasa ini dengan baik hanyalah orang-orang yang benar keimanannya. Wallahu’’Alam.

Hal inilah yang justru menjadi indikasi kemukminan seseorang yang dimaksud Allah yang dijelaskan pada ayat 15 surat yang sama. Orang-orang beriman hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasulnya, kemudian mereka tidak memiliki keraguan, mereka berjihad di jalan Allah dengan harta dan nyawa mereka. Itulah mereka yang keimanannya sudah benar.

Profil orang beriman tersebut telah dijabarkan dalam banyak ayat Al Quran antara dia memiliki ketaatan dan sikap monoloyalitas pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka memiliki hati yang gemetaran jika disebut nama Allah, apalagi ayat Allah dibacakan kepada mereka.

Mereka selalu tawakkal hanya pada Allah, mendirikan shalat dan menunaikan zakat (lihat QS. 8: 2-5.) Orang-orang beriman memiliki keyakinan dan ketaatan penuh dengan hukum Allah yaitu  ketaatan militeristik pada Allah (QS.34: 59)  Apabila sudah ada ketentuan hukum dari-Nya mereka langsung patuh dan tanpa ada rasa keberatan sedikitpun (QS. 2: 165). (*)

*Penulis adalah Ketua IKADI Sumbar dan Dosen IAIN Iman Bonjol Padang
sumber : http://www.padang-today.com/?today=tausiah&id=31

1 komentar:

  1. notes:
    setiap postingan mohon di publish di grup, sekalin tarbiyah ISLAMiyah kepada para pembaca di grup scr tdk langsung, insya ALLOH, ada manfaatnya krn di grup juga harus ada tulisan2 bermakna sepeprti ini.

    BalasHapus