Sabtu, 30 Mei 2009

Pelajaran dari ayat-ayat Kauniyah

Kajian Ahad malam 29 Mei `09 oleh Ust. Dr. Muhammad Anwar di Mesjid Darussalam Kota Wisata Cibubur.

 

            Allah SWT memperkenalkalkan manusia kepada alam juga untuk bisa menjadi pelajaran dan menjadi sumber belajar. Manusia bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan manusia. Kita lihat ayat-ayat kauniyah yang berikut :

 

I.              A i r,  merupakan ciptaan Allah SWT yang sangat penting di jagat ini. Surat Al-Anbiya` : 30, menyatakan, “…..dijadikan segala yang hidup ddari air…”. Sayyid Qutb menafsirkan sifat air antara lain :

1.    M e r a m b a h, mencari tempat yang rendah atau mencari pori-pori untuk meresap. Sayyid Qutb juga menerangkan bahwa karakter air yang begini harus bisa dibaca oleh manusia untuk diaplikasikan. Manusia  dinamakan dengan An Nass, makhluk social  (Zoon Politicon)  karena itu tiap manusia harus sadar,  bahwa dia tergantung pada orang lain, sekaligus dibutuhkan orang lain (internaslisasi dan eksternalisasi).

 

Internalisasi, adalah apa yang dilakukan orang lain ditarik untuk diri sendiri.

 

Eksternalisasi, adalah memberikan potensi yang dimiliki kepada orang lain segala sesuatu yang baik.

 

Mentransformasikan “kebaikan” kepada orang lain dengan prinsip “mua`malah”, ta`awun bil birri wataqwa atau musyarakah”, sehingga menghasilkan manfaat bagi dirinya dan orang lain.

                       

 

2.    A k t i f, air selalu bergerak, dinamis, tidak tinggal diam mencapai tujuannya, aplikasinya dalam kehidupan manusia adalah manusia harus dinamis tidak statis.

Air mutlak, adalah air yang akan beradaptasi dengan setiap tempat, bersifat suci dan mensucikan (thahir dan muthahir).  Bisa dimanfaatkan untuk apa saja. Begitupun manusia mestinya mengaplikasikan itu dalamkehidupannya. Sifatnya cepat bergerak, kreatif, inovatif, dengan dinamika yang tinggi. Semakin dinamis semakin produktif sehingga untung semakin banyak. Inilah pelajarannya. jadi tidak ada alasan untuk Muslim tetap terbelakang dan miskin.

 

II.             A n g I n , Surat al Hijr “ 23, karakter angin disini adalah bergerak menembus ke seluruh penjuru dunia. Angin digerakan oleh Allah SWT, dengan ini Dia member pelajaran kepada manusia supaya mobilisasi dan fleksibelitas harus tinggi, sehingga bisa menggerakan masyarakat. Atau juga sebagai mesin yang menggerakan komponen-komponen yang ada setelah mengorganisasikan potensi-potensi yang ada. Dimulai dengan planning yang baik serta evaluasi dan dijadikan rekomendasi untuk perbaikan mendatang. Itulah pelajaran yang diambil dari angin.

 

Angin fleksibel dalam kondisi apapun, bisa menyesuaikan diri sehingga adaptif terhadap situasi dan kondisi.

 

Multidimensi, manusia jika ingin berkembang maka bentuk diri sebagai multi dimensi. Contoh, ketika imam sholat maka harus ingat ma`mum, oleh karena itu ayat yang dibaca jangan panjang-panjang. Jika sholat sendirian silakan  membaca ayat yang panjang.

 

III.           A l – A r d h u/b u m i,

 Surat An-Naziat ayat 31 – 33  menyatakan  karakter    bumi sebagai    berikut :

    

Tempat berpijak, yang ditanam akan tumbuh dan berkembang. Mau diapakan pun tidak akan protes. Menampung yang baik dan yang jelek dan menjadikan semuanya menjadi suci. Umpamanya  “dipipisi” namun bumi menerimanya dan menjadikan sebagai suci lagi.

Bumi juga menumbuhkan apa yang tertanam baik dirawat ataupun tidak dirawat.

 

Aplikasinya bagi manusia adalah akal dan tubuh diberi Allah SWT hendaklah memberikan hasil sehingga kita tidak miskin dan fakir. Dan konsep ini harus disebarluaskan sehingga bisa menjadi solusi makro. Adaptasinya manusia harus menjadi “problem solving” . Bumi menampung seluruhnya dan menjadikannya bermanfaat, maka seharusnya manusia ya

ng dianugerahi pikiran lebih dari itu. Jangan sampai tidak memberikan solusi.

 

IV.          A s – S y a m s/ m a t a h a r i  Al Qashas : 71 menyatakan karakter matahari sebagai berikut :

Manusia harus mampu menerangi dan mentransfer energi  positif, memberikan uswah dan qudwah yang bisa disinarkan kepada orang lain. Bukankah Rasulullah saw telah menjadikan keteladanan sebagai suatu sinar ( Al Ahzab : 21).

Tapi manusia belum mentranformasikan diri sehingga belum bisa memberikan uswah, contohnya saja dalam rumah tangga, sudahkan anak-anak menjadikan orang tuanya sebagai contoh?. Keteladan yang baik merupakan energi yang positif. Contoh dalam al Qur`an Luqmanul Hakim (Surat Luqman ) yang secara fisik digambarkan sebagai kurang menguntungkan tapi dia merupakan teladan abadi sepanjang masa dan menjadikannya sebagai cahaya yang bersinar terang dalam kehidupan manusia.

Semoga bisa diambil manfaatnya.

Rabu, 27 Mei 2009

Didiskwalifikasi…..?, sedih deh.

Setelah ujian, paralel 6 libur sepekan terus masuk setiap selasa rabu  untuk beberapa pekan. Pekan pertama tanggal 26 dan 27 Mei `09 lewat kita melaksanakan “class meeting”. Session pertama adalah cerdas cermat, lumayan untuk mengingat lagi soal-soal ujian, walaupun hanya yang mudah-mudah saja. Masing-masing kelas diwakili 2 team, team putra diwakili oleh Naufan, Ghazi dan Mahbubi sedangkan team putri diwakili oleh Hanifah, Sally dan Areta.

Dalam babak pertama sepertinya kelas Qatar tidak serius, Naufan sepertinya lemas banget, tapi kalau ada soal Math, Naufan yang serius, Ghazi jago Math Qatar malah sepertinya tidak bersemangat, kali ingat Fawwas ya… yang sudah pindah ke Kuwait (bukan kelas Kuwait lah yaooo….). Namun mereka bisa mengumpulkan 400 point.

Memasuki babak berikutnya setelah “circle time for snack time”, tapi team Qatar putra tidak muncul-muncul padahal “free play”telah berlansung selama 30 menit. Kemana putra Qatar? O alah biasa, mereka adalah pecandu futsal, masih futsal di bawah, jadi lupa naik  ke lantai 3. Akhirnya didiskwalifikasi deh. Bu Wen sedih, tapi sepertinya anaknya lebih sedih setelah naik keringatan lagi, dan babak berikutnya telah dimulai, hu..hu…

The qatar of fajar hidayah




Rekaman kegiatan qatar sesudah ujian di hp bu wen

Senin, 25 Mei 2009

Naik sepeda ontel

SMP tahun 1976, merupakan masa-masa yang sangat indah buat ummi, coba bayangkan kita masuk SMP di SMP negeri Dangung-Dangung yang disaat itu merupakan SMP favorit, SMP Top lah. Saat itu TV belum ada, tapi di Pekanbaru sudah ada TV hitam putih siarannya dari Malaysia dan Singapura. Kata orang-orang SMP kita diliput TV karena merupakan SMP terbaik se Asia Tenggara. Wah bangga banget bisa sekolah di SMP ini.

Belajar di SMP itu ingat guru-guru yang penuh dedikasi dalam tugasnya. Disamping kita dikasih ilmu, kita juga dididik dengan akhlak mulia. Sholat kita dipantau terus sama guru-guru. Cara kita berpakaian sangat diperhatikan, namanya sekolah negeri dan belum ada yang pakai jilbab, tapi rok minimal 10 cm dibawah lutut, tidak boleh ketat, sampai ummi waktu itu papai baju atuk tua karena harus lapang. Coba ya waktu itu telah dikenal jilbab. Yang ada waktu itu baju kurung dengan selendang panjang dililitkan di kepala ala Diniyah putri. Satu-satunya murid yang pakai kerudung segitiga adalah uni Ef anaknya guru ummi ibu Lela Rosma.

Cara berbicara terhadap orang tua, terhadap guru dan orang dewasa lain, dipantau terus. Kita main sama besar juga diperhatikan, apalagi waktu itu kita juga lagi centil-centilnya, maklum baru memasuki usia aqil baligh. Setiap hari kita shalat Zuhur berjama`ah dan dikasih kultum. Pokoknya lengkap kegiatan kita, Cuma saja disayangkan belum ada kewajiban menutup aurat, guru tidak bisa memaksakan, sebab kalo mau menutup aurat pilihannya ke MTsN bukan SMP, namun guru tetap memeperhatikan akhlak mulia dan dikasih tahu menutup aurat wajib, kitanya yg tdk mau. Bahkan di segi lain sepertinya kita merasakan lebih baik dari madarasah. Madrasah sebagian ada yang meneladani kita misalnya absensi sholat.

Ibu Lela Rosma sampai sekarang masih sehat adalah guru yang kreatif, beliau memegang mata pelajaran Prakarya. Kami diajarkan bagaimana menyulam, membuat miniatur “rumah gadang”tidak tanggung-tanggung dari batok kelapa, dan dipasang battery serta dimasukan kedalam rumah kaca. Ketika pameran pendidikan hasil karya kami ada yang beli lho.Juga diajari bermacam jenis sulaman dan rajutan.

Sebagian guru-guru sudah ada yang meninggal, seperti Pak Muslim Jamal guru IPS, yang kalau beliau mengajar seakan-akan kita mengembara kemana-mana. Guru lain adalah Pak Ali Satar mengajar IPA, yang kalau kita masuk laboratorium bersama beliau kita akan merasa sebagai ilmuwan. Jelas sekali kenangannya, ummi sempat memasukan logam Na kebesaran dalam air, sehingga bukan hanya letupan tapi ledakan kecil yang terjadi, sampai timbul api yang cukup besar.  Dan kami sempat berlarian keluar labor. Ummi dihukum dengan menggantikan tabung-tabung reaksi yang pecah harganya Rp 275, yang waktu itu sangat besar sekali. Kita saja jajannya cuma Rp25, itu sudah bisa beli lontong sayur, beli bakso dan kue apem.

Itu di labor, kalo belajar sejarah ibu Nurianis Kimin mengajar seakan-akan memutar silhuet, rasanya kita benar-benar mengalami musim dingin ketika diceritakan bagaimana Napoleon Bonaparte membawa tentaranya ke Rusia. Lain lagi ibu Samsimar mengajar matematika, kita benar-benar kalau tidak dapat sepuluh kita akan terus belajar. Ummi tidak tahu apa yang ada di guru-guru kita, masing-masing guru menimbulkan kesan seakan-akan kita belajar terus, secapek apapun kita tetap belajar.

Guru Bahasa Inggris kami Bapak Yuniaris, bapak mungil yang Englishnya cas cis cus, ingat sekali, mengajarkan past tense, wah menetes air mata mengenang masa lalu. Tapi masa itu tidak akan kembali lagi.Banyak hal-hal di masa lalu yang tidak lepas dari ingatan dan menjadi teladan untuk masa sekarang. Guru Biologi kami Bapak Martin ini lain lagi kalau mengajar. Dia tidak akan melihat kita kalau mengajar, tapi tidak masalah. Pokoknya guru-guru di SMP siip semua. Di kemudian hari sebagian ada yang jadi guru SMA dan Kepala Sekolah SMA.

Tak kalah serunya adalah kegiatan pulang pergi sekolah. Biasa kami masuk pukul 08.00. pukul 07.00 ummi sudah nongkrong depan rumah nungguin teman. Setelah temannya datang kita bareng-bareng ke Simpang Pokan Nonyan, dari sana segerombolan siswa SMP akan barengan ke Dangung-Dangung 7 km dari kampung ummi Padang Jopang, Seruuuu…….naik sepeda ontel. Ummi pakai sepeda phoenix warna biru, dibelikan atuk tua sebagai milik pribadi yang sampai sekarang masih ada, dititipkan ke Tek Win di Lubuk Alung Pariaman.

Cerita tentang naik sepeda tidak akan berhenti,apalagi  kalau ketemu kawan yang dulu bareng-bareng naik sepeda, pokoknya asyik sekali. Suatu ketika ummi pernah menabrak anak, sebenarnya bukan menabrak, tapi cuma tersenggol. Kebetulan guru matematika lewat, nah ketahuan naik sepeda tidak punya tata tertib. Ummi dipanggil ke kantor majlis guru, diceramahi panjang lebar sampai ummi akhirnya pulang sekolah ummi lihat anak itu. Ternyata sampai ke rumahnya ummijadi tahu itu saudara jauh yang ibunya biasa mengerjakan sawah di dekat sawah ummi, kadang dia mengerjakan sawah ummi juga. Sedih sekali lihat adik kembar itu terpincang-pincang pergi sekolah. Makanya kalau naik sepeda berikan hak pengguna jalan lain, apalagi kalau naik mobil.

Lain kali kita ketawa-ketawa naik sepedanya, berhubung mau liburan. Ketika itu baru saja terima rapor, ummi ranking dua di kelas I/6 selisih 2 angka. Yang juara 1 nya teman ummi Istinoferita sekarang dia menjadi dosen di Fakultas Pertanian Unand. Eh kita itu termasuk 5 besar paralel kelas 1 yang jumlahnya 7 kelas tambah 2 kelas filial Mungka, jadi 5 besar dari 9 kali 40 anak, atau lebih dari 360 an anak. Menurut ummi fantastik sekali. Tapi ummi pinginnya rangking puncak, tapi tidak tercapai. Ingatnya karena itu saking gembiranya terima lapor dan libur 2 pekan, sehingga naik sepeda ontelnya sampai di marahain sopir bis ke Payakumbuh karena memenuhi jalan raya. Mungkin sebal karena sepertinya pemilik jalan raya hanya kita saja, rombongan anak SMP.

Pernah juga ketika pulang sekolah kita kehujanan, eh bukannya berhenti tapi tetap hujan-hujan. Karena bajunya sudah transparan kami malu sekali sehingga kami pakai sarung dan mukena yang biasa dibawa untuk shalat, jadilah kami bersepeda pakai mukena. Lucuuuuu… dan diteriaki orang-orang sebagai pocong apalagi kami masuk sore pulangnya sudah hampir Magrib, hujan lagi.Belum ada listrik sepanjang jalan. Yang ini sepedanya simking atuk tua. Sepeda…..sepeda sehat setiap hari tidak luput dari sepeda ontel.

 

Sabtu, 23 Mei 2009

Luruskan dan rapatkan shaf!.


Ahad 23 Mei `09 oleh Dr Daud Rasyid di Mesjid Darussalam Kota Kajian hadits malam Wisata Cibubur. 
 
 Hadits Rasulullah saw :
1.   “Tegakanlah shaf dan luruskan shaf kalian, samakan antara pundak dengan pundak (bahu sejajar) antara kaki dengan kaki dirapatkan sehingga tersentuh tangan saudaramu dan jangan biarkan celah-celah diantaramu untuk syetan”. HR Abu Dawud
2.   “ Barang siapa menyambungkan shaf maka Allah SWT akan menyambungkannya dan barang siapa memutuskan shaf maka Allah SWT memutuskannya”  . HR Abu Dawud.
3.   “Rapatkanlah shaf kalian tidak ada celah diantaranya, luruskanlah leher, sesungguhnya aku melihat syetan lalu lalang seperti anak kambing lalu lalang”. Hadits dari Anas.bin Malik. 4.   “ Sesungguhnya Allah SWt bershalawat untuk bagian kanan shaf dan shaf terdepan adalah shaf yang utama”. HR Abu Dawud.  

Hampir di semua mesjid belum dapat meluruskan shaf. Imam sebenarnya belum dapat memulai shalat apabila shafnya belum lurus dan belum rapat. Imam hendaklah memerintahkan agar jama`ah melihat ke kiri dan ke kanan.Diperlukan kesadaran jama`ah untuk masalah ini.

Untuk meluruskan dan merapatkan shaf tidak diperlukan kaidah adat istiadat, siapa saja wajib meluruskan walaupun akan memerintahkan pejabat paling atas sekalipun. Jadi boleh saja bersentuhan dengan mentri atu presiden sekaligus bisa saja bersentuhan denganpetani atau siapa saja yang datang paling dahulu dan mengisi shaf terdepan. Tdk perlu pindah jika ada pejabat yang datang kemudian.

Bila ada yang batal wuduknya silahkan saja keluar dan melintasi shaf, dan lain bergeser. Dibolehkan melintasi kecuali lewat di depan imam atau lewat di depan orang yang shalat sendirian tanpa batas.belakang imam boleh saja lewat-lewat dengan memperhatikan kepala jama`ah lain, supaya kepala.

Boleh jadi penyebab ketidakkhusyu`an adalah karena masalah shaf ini, disebabkan syetan bolak-balik saja akibat shaf tidak sempurna. Jangan membentuk shaf berikutnya sebelum shaf yang di depannya sempurna. Shaf pertama jauh lebih utama dari shaf yang di belakangnya. Maka berlombalah mengisi shaf pertama.

Namun justru sekarang kita melihat orang kebanyakan meninggalkan shaf di depan. Kemudian imam diletakan di tengah-tengah, tidak berat ke kanan ataupun ke kiri. Penuhkan dajn isilah celah-celah.

Demikianlah pembahasan tentang meluruskan dan merapatkan shaf dalam shalat jema`ah yang harus mmenjadi perhatian setiap umat Islaallahu `alam bissawab

Jumat, 22 Mei 2009

Kunjed arina




Maniiiiis walau sedikit...........punya makna besar.

Cerpen Terbaik, pada Lomba Cerpen Islam FKI Rabbani Unand Padang

“ASSALAMUALAKUM”
Salam seseorang di depan keIas Aku segera menghentikan kegiatan mencatatku. “Adik-Adik yang dicintai Allah, kami minta waktu sebentar saja. Mungkin adik-adik belum tahu Saya Rini, dari Forum Studi Islam di Fakultas ini, Saya akan memperkenalkan Unit Kegiatan Mahasiswa ini, di organisasi ini kita akan bersama-sama mentelaah atau mengkaji Islam lebih dalam lagi.
“Gila manis banget Kak Rini”
“Disini kita tidak hanya duduk-duduk mendengarkan mentoring saja tapi kita juga sesekali akan mengadakan jalan - jalan atau rihlah untuk mengkaji kebesaran Allah. LaIu, kita juga punya kegiatan belajar bersama untuk membantu adik-adik yang mempunyai kesulitan dalam perkuliahan juga, sambungnya”
Yap..!! Benar sekali aku memutuskan untuk mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa ini yang kata kakak-kakak senior dikenal dengan nama Forum Studi Islam (FSI). Tapi sungguh malang kegiatannya tidak berbaur antara laki-laki dengan perempuan. Jadi aku tidak punya kesempatan untuk melihat Kak Rini. Ada tabir yang membatas langsung, kuangkat tabir itu untuk mengintip tapi kakak tingkat menegurku. Yee… siapa yang betah begitu. Akukan masuk FSI ini ingin dekat dengan Kak Rini. Mendingan aku mundur aja deh
“Mad, aku jatuh cinta sama kak Rini..” kataku pada teman sebangkuku, Ahmad
“Astsghfirullah. Koq bisa?” tanya Ahmad heran, Aku melotot pada temanku yang masih betah Ikutan Forum Studi Islam itu. Dia segera mohon maaf padaku.
“Kamu ini, teman jatuh cinta bukannya diberi selamat atau diberi saran bagaimana agar bisa jadiaan, eh malah beristighfar. Aku jatuh cinta pada Kak Rini, tandanya aku masih normal suka pada lawan jenis Seharusnya kamu bersyukur. Coba kalo aku lesbian gimana coba?” Aku nyerocos panjang pendek
“Iya, sorri. Aku minta maaf,” kata Ahmad,
“Chan, emang ada manfaatnya kita pacaran,” lanjut Ahmad.
“Banyak, banyak banget, Diantaranya kita punya teman untuk berbagi cerita dan bisa nonton atau makan gratis. Ada yang memperhatikan kita, menyayangi kita” jawab ku barsemangat.
“Chan, kalau hanya untuk menyanyangi dan memperhatikan atau untuk berbagi cerita, kenapa kita tidak melakukannya bersama Allah, Bukankah Allah maha Pengasih dan maha Penyayang.”
“Itu mah lain, Akhi. Emang Allah bisa traktir kita makan atau nonton film?” aku balik bertanya.
“Bisa dong. Coba, sejak kamu lahir sampai segede ini siapa, yang memberimu makan? Orang tuamu? Mereka Itu hanya perantara Chan. Trus Allah mengajakmu nonton Film yang nggak akan pernah bisa dibuat oleh manusia; Contohnya Film nabi Adam saat berada di Surga bersama Hawa. trus nabi Nuh yang mebuat bahtera yang sangat besar. Titanic aja kalah Chan. Masih mau contoh yang lain?”
“Dimana kita bisa menontonnya” tanyaku tanpa menghiraukan pertanyaannya.
“Makanya baca tuh Qur’an. Jangan cuma jadi pajangan doang.”
“Ah itu tetap saja lain” Beda, aku masih protes.
“Oke. Kalau begitu mari kita lihat sisi buruknya. Kalau pacaran kita maunya Selalu berduaan, betul?”
“ya.”
“Maunya tidak ada yang menganggu betul”,
“ya”
“Kita maunya dia milik kita selamanya dan kita miliknya selamanya dan dunia ini serasa milik berdua, betul?”
“Ya.. Ya”
“Nah, kalau sudah begitu berarti kita sudah terbujuk rayuan setan. Kita sudah lupa sama Allah Kita lupa sholat dan kita berpikiran negatif. Nanti malam mau ngapain ya dengan dia? Kita sudah melakukan zina pikiran. Lalu apa yang terjadi kemudian? terjadilah suatu kecelakaan. Kamu ingat Ayu yang harus istirahat kuliah karena hamil dua bulan. Padahal dia sudah tingkat tiga. yang menghamili pacarnya sendiri. Pacarnya nggak mau bertanggung jawab. Orang tua mereka menolak menikahkan anaknya karena masih terlalu muda,” kata Ahmad menghentikan penjelasannya.
“Itukan tergantung orangnya. Dianya aja yang tidak pandai menjaga diri,” kataku berkelit.
“Astaghtirullah alazzim,” Ahmad mengurut dadanya dan menghela nafas panjang.
“Ya Allah limpahkan hidayah kepada Chandra, bukakanlah hati dan pikirannya” Ahmad berdoa dalam hati.
Aku nggak mengerti kenapa Ahmad begitu bersikeras melarangku untuk pacaran dengan Kak Rini. Mungkin dia iri. Aku mendengar banyak yang suka sama Kak Rini. Siapa yang tidak kepincut hatinya. Kak Rini orangnya sangat supel, berwibawa, pinter dan aktif berorganisasi. Pokoknya komplit. kayak jamu Sido muncul. Trus berita yang membuat sebel diriku adalah sudah ada beberapa teman yang sudah berencana mengirim surat cinta untuk kak Rini. Tentu aku nggak mau ketinggalan. Aku juga sudah merencanakan membuat surat cinta untuk kak Rini. Aku pergi ke toko buku, mencari kertas surat dan amplop warna merah jambu. Biar romantis gitu. Aku menulis surat cinta dan memberikannya Iangsung pada Kak Rini sepulang kuliah, Kak Rini menerima suratku dengan senyum yang manis sekali..! senyum close-up, kalah bo!, ini mungkin pertanda baik untukku. Aku segera menghayal seandainya cintaku diterima Kak Rini, Aku pergi ke Kampus dengan hati yang gembira..Suratku sudah kuberikan, tinggal tunggu jawaban diterima atau ditolak.
tapi aku optimis akan diterima, hidup memang harus optimis iya khan,
“Kamu koq nggak pernah datang lagi kegiatan LQ, Kak Hafish nanyai kamu terus loh.
”Kak Hafish siapa ya?”
“Mentor kita, pikuuunl”
“Oo… Kakak itu, males, Mad, tapi kamu jangan bilang ltu. Cari alasan lain yang bagus.”
“Enak aja nyuruh orang bohong tak usah lah yau.” Ahmad mengeluarkan lidahnya.
“Oh, iya. Hampir lupa. Kak Rini besok sore akan telepon,” sambung Ahmad.
“Yang benar aja, Mad.” Ahmad mengangguk
“Besok jam empat sore “ Tapi dia tahu nomor HP ku dari mana, ya?”
“Ya dari aku, bego”.
“Eh, aku mau ke Perpustakaan, ikut nggak?” Aku menggelengkan kepala. Sejak kapan aku suka berkunjung ke tempat yang satu itu. Mendingan duduk di Cafe main domino bareng teman-teman, daripada disuruh kesana. Cihuy Mungkin Kak Rini ingin memberi jawaban atas suratku tempo hari. ya, besok tepat tiga hari setelah aku memberikan surat itu.
Jam dinding di rumahku berdentang tiga kali. Menunjukkan jam tiga Iebih tiga puluh menit. Uh! lambat sekali jam ini berputar. Aku lalu meraih sebuah Komik yang baru kemarin aku beli di Gramedia. Aku membuka halaman dami halaman. tapi, Tetap saja tak dapat menghilangkan galau di hatiku. Degupan jantungku. Diterima atau ditolak ya? ku lemparkan komik itu ke atas kursi dan meraih remote control televisi. Kuhidupkan Televisi ah… acara Sepak Bola yang kusukai benar-benar tidak menarik bagiku. Aku paksakan juga mataku melotot ke Tivi dan berusaha untuk berkonsentrasi. Tapi tetap saja mataku sebentar-sebentar melirik jam yang menempel di dinding. Jam berdantang empat kali. Aku bergegas bangkit dan meraih HP yang semenjak tadi kuletakkan diatas meja agar memperoleh sinyal yang lebih baik, maklum kamar costku terlindung dengan rumah yang tinggi, sehingga menggangu sinyal HP yang masuk. Tak berapa lama benda kecil yang berada di tanganku berdering dan aku yakin pasti kak Rini yang menelpon seperti janjinya kemarin.
“Assalamualaikum,” sapa orang di seberang.
“Waalaikum salam.”
“Bisa bicara dengan Chandra.” “Ya, saya sendiri. Ini Kak Rini Ya?”
“Ya. Maaf terlambat lima menit.”
“Oo… nggak apa-apa,” kataku sambil berusaha menekan irama gemuruh di dadaku.
“Jadi diterima atau ditolak?” tanyaku tak sabaran.
‘‘Sebelum saya mejawabnya Saya ada satu pertanyaan untuk Chandra. Apa pengertian atau hakikat pacaran bagi Adik?”
“Dua orang yang berlainan jenis yang saling mencintai.”
“Tapi apakah adik sudah mencintai Nabi Muhammad dan Allah? Aku terdiam. Selama ini aku hanya menunaikan ibadah hanya sekedar gugur tugas. Bukan karena dasar mencintai.
“Sudah?” ulang Kak Rini.
“Belum.”
Kalau begitu maafkan saya, Saya tidak bisa menerima cinta mu. Dik Chandra, jangan khawatir, Kalau memang jodoh tak akan kemana. Kelak Allah akan mempertemukan kamu dengan jodohmu. Mungkin saya atau orang lain. Satu hal yang harus Chandra ingat. Allah memberi jodoh berdasarkan kita. Jika kita termasuk orang yang sabar, Allah memberi kita jodoh yang sabar juga. Kalau Chandra rajin sholat maka Allah memberikan jodoh yang rajin sholat juga. Kalau kita cinta pada Allah dan rasulnya, maka Allah memberi Chandra yang sama. Sekali lagi maafkan saya.”
“Kak, waIaupun cewok lain yang suka sama kakak?”
“Atas izin Allah untuk saat ini juga akan saya tolak. Kalau Chandra mau menjadi adik atau teman, saya menerimanya dengan senang hati. Baiklah saya rasa sudah jelas. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” KIik. Telepon tertutup, aku segera menekan nomor telepon Ahmad untuk curhat.
“Mad aku ditolak,” kataku tanpa basa-basi setelah kuyakin suara di seberang adalah Ahmad.
“Aku sudah tau.
“Kamu sudah tau?”
“Ku cegah tapi tidak mau. Aku tahu sifat Kak Rini.”
“Apa maksudmu, tahu sifat Kak Rini?”,
“lye. Kak Rini itu Kakak kandungku. Dan kamu bukan cowok yang pertama ditolaknya. Dulu Si Indra, Boby terus…”
Tubuhku terasa lemas mendengar pengakuan ahmad. Duh… malu sekali Andai aku tahu… Aku baru ingat persamaan kedua orang itu. Kedua-duanya suka memberi caramah dan nasehat, Aku sangat malu pada Kak Rini karena belum mencintai Allah dan Rasulnya. Aku teringat kembali perkataan Kak Rini yang mengatakan Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dan itu benar..!!!!

Diambil dari :

http://heldicandra.blog.friendster.com/

Aksi




Kamis, 21 Mei 2009

Sungguh indah ciptaan Allah SWT




Ayooooo.........action

Blog EntryIrwan Prayitno: Idealisme Guru dan Pembangunan Peradaban BangsaMar 19, '08 2:20 AM
for everyone

oleh Irwan Prayitno, DR., Psi., MSc. (anggota DPR RI)

dari http://irwanprayitno.info/artikel/1195640746-idealisme-guru-dan-pembangunan-peradaban-bangsa.htm

Membangun sebuah peradaban bangsa yang baik dan kuat, bukanlah pekerjaan sederhana yang dapat dilakukan dengan sakali ayunan tangan. Karena, kekuatan-kekuatan eksternal dan tantangan globalisasi pasti akan berusaha menghambat tatanan masyarakat yang sedang dibangun tersebut.

Bahkan, sejarah telah memperlihatkan bahwa tidak semua reformasi, revolusi dan perubahan sosial secara otomatis dapat berjalan dengan mulus dan senantiasa menghasilkan kehidupan yang lebih baik. Sebagai contoh, Revolusi perancis yang terjadi tahun 1787, memerlukan waktu 13 tahun untuk mencapai kondisi politik yang stabil. Majelis Nasional pasca revolusi yang dibentuk pada 1789 masih diwarnai oleh orang-orang yang tidak membawa aspirasi perubahan dan 43 % terdiri dari pejabat-pejabat yang bisa disuap.

Kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945, ternyata juga bukanlah sebuah jaminan bahwa manusia Indonesia akan selamanya terbebas dari penindasan dan keterbelakangan. Karena ternyata, kezaliman dan kesewenang-wenangan bukan cuma watak khas dari imperialisme Belanda, Portugis, Jepang atau Inggris saja. Akan tetapi, ia adalah watak dasar dari semua orang yang hatinya tidak tergantung pada nilai-nilai moral, keimanan, dan keadilan. Sejak tahun 1950-an, ternyata kita telah mengalami tindakan represif dari dua periode rezim otoriter yang kontroversi, yakni orde lama dan orde baru. Padahal, kedua rezim itu tumbuh sebagai hasil sebuah gerakan yang pada dasarnya bercita-cita menegakkan kemerdekaan sebagai hak asasi manusia dan memajukan peradaban bangsa Indonesia.

Membangun peradaban sebuah bangsa pada hakikatnya adalah pengembangan watak dan karakter manusia unggul dari sisi intelektual, spiritual, emosional, dan fisikal yang dilandasi oleh fitrah kemanusiaan. Fitrah adalah titik tolak kemuliaan manusia, baik sebagai bawaan seseorang sejak lahir atau sebagai hasil proses pendidikan.


Nelson Black dalam bukunya yang berjudul "Kapan Sebuah Bangsa Akan Mati" menyatakan bahwa nilai-nilai akhlak, kemanusiaan, kemakmuran ekonomi, dan kekuatan budaya merupakan sederet faktor keunggulan sebuah masyarakat yang humanis. Sebaliknya, kebejatan sosial dan budaya merupakan faktor penyebab kemunduran sebuah peradaban. Ia juga menulis, “Kebejatan sosial akan tampak pada pengingkaran atas konstitusi dan instabiltas ekonomi.”

Edward Gibbon menilai bahwa kebobrokan moral adalah penyebab dari kehancuran sebuah peradaban. Gibbon menulis, “Menyerahnya para pejabat di hadapan penyelewengan budaya dan penyalahgunaan kekuasaan, telah menyebabkan sebuah bangsa harus takluk di hadapan bangsa lain.”

Pada hakikatnya, pendidikan merupakan upaya membangun budaya dan peradaban bangsa. Oleh karena itu, UUD 1945 secara tegas mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.

Pendidikan adalah proses internalisasi budaya ke dalam diri seseorang dan membuat orang jadi beradab. Pendidikan juga merupakan kunci bagi pemecahan masalah-masalah sosial. Karena itulah, pendidikan yang progresif menyerukan penataan kembali masyarakat dan bangsa lewat pendidikan. Dengan pendidikan, reformasi (terutama reformasi pendidikan budi pekerti) dapat dijalankan. Begitu juga halnya dengan reformasi moralitas (agama), reformasi kebudayaan (keindonesiaan), reformasi nasionalisme (NKRI).

Reformasi budaya merupakan bagian-bagian kecil dari proses transfomasi budaya dalam suatu rentang sejarah panjang sebuah peradaban (Sachari dan Sunarya, 1998:1). Reformasi dapat diartikan sebuah gerakan untuk mengubah tatanan yang mengandung pemahaman sebagai perubahan bertahap, pembaruan, penataan kembali, penggantian cara, penyatuan kembali, dan perbaikan tatanan yang rusak. Seluruh perangkat budaya termasuk pendidikan, hakikatnya mengalami proses perubahan terus-menerus (evolusi), reformasi, diferensiasi, adaptasi, yang diciptakan dalam keadaan berubah terus. Pendidikan termasuk perubahan yang tak penah berakhir.

Pada Kongres Pendidikan se-Indonesia yang digelar di Yogyakarta bulan Oktober 1949, almarhum Ki Hadjar Dewantara dari Taman Siswa mengatakan bahwa "Hidup haruslah diarahkan pada kemajuan, keberadaban, budaya dan persatuan, dan kita seharusnya tidak menolak elemen-elemen yang datang dari peradaban asing. Ini adalah demi mendorong proses pertumbuhan dan pemerkayaan yang lebih lanjut bagi kehidupan nasional, dan secara mutlak untuk menaikkan kebanggaan bangsa Indonesia.

Pemerintah Indonesia telah terus-menerus memberikan perhatian yang besar pada pembangunan pendidikan dalam rangka mencapai tujuan negara, yaitu mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Yang pada akhirnya akan sangat mempengaruhi kesejahteraan umum dan pelaksanaan ketertiban dunia serta berkompetisi dalam percaturan global.

Namun, sampai dengan tahun 2004 pelayanan pendidikan belum dapat sepenuhnya disediakan dan dijangkau oleh seluruh warga negara. Masih banyaknya penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan merupakan salah satu kendala utama terbatasnya partisipasi pendidikan di Indonesia.

Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain bagi bangsa ini, bahwa pendidikan harus menjadi prioritas strategis dalam kebijakan pembangunan nasional. Pendidikan harus dijadikan landasan dan paradigma utama dalam mempercepat pembangunan bangsa. Maka, dalam pengembangan kebijakan bidang pendidikan, pemerintah tidak bisa melakukannya dengan pasif, statis dan sebagai rutininitas belaka, yang tidak memiliki orientasi jelas. Tetapi, pembangunan pendidikan harus dilakukan secara dinamis, konstruktif dan dilandasi semangat reformis, kreatif, inovatif dengan wawasan jauh ke depan.

Pembangunan sektor pendidikan haruslah menghasilkan sistem nilai yang mampu mendorong terjadinya perubahan-perubahan positif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga, dapat menciptakan kehidupan masyarakat yang adil, sejahtera, dan aman. Karena, Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009 mengamanatkan tiga misi pembangunan nasional, yaitu: 1) Mewujudkan Negara Indonesia yang aman dan damai, 2) Mewujudkan bangsa Indonesia yang adil dan demokratis, dan 3) Mewujudkan bangsa Indonesia yang sejahtera.

Untuk mewujudkan misi pembangunan tersebut, masyarakat terdidiklah yang akan mudah didorong dan mau diajak berubah untuk mengembangkan sistem kehidupan yang aman, damai, adil, demokratis, dan sejahtera. Pendidikan akan melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Pemerintah telah menetapkan Renstra pendidikan tahun 2005 – 2009 dengan tiga sasaran pembangunan pendidikan nasional yang akan dicapai, yaitu meningkatnya perluasan dan pemerataan pendidikan, meningkatnya mutu dan relevansi pendidikan; dan meningkatnya tata kepemerintahan (governance), akuntabilitas, dan pencitraan publik.

Karena itu, kebijakan pendidikan nasional harus mampu menghadirkan pemerataan pendidikan yang bermutu pada setiap sisinya. Dalam konteks outcome, pendidikan nasional harus mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan intelektual dan akhlak mulia secara seimbang.

Pembangunan pendidikan hendaknya dapat membangun manusia Indonesia seutuhnya sebagai subyek yang bermutu. Membangun manusia seutuhnya berarti mengembangkan seluruh potensi manusia melalui keseimbangan olah hati, olah pikir, olah rasa, olah raga, dan olah jiwa yang dilakukan seiring dengan pembangunan peradaban bangsa.

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa Pendidikan nasional harus berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Yang diarahkan dan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar manjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana peran dan idealisme guru dalam mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa tersebut? Apa yang harus dilakukan guru untuk meningkatkan kinerja dan profesinya sebagai pendidik? Lalu bagaimana dengan kesejahteraan dan nasib masa depan guru ditengah tuntutan dan himpitan ekonomi?

Idealisme Guru dalam Membangun Peradaban Bangsa

Dalam upaya membangun peradaban bangsa, peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan nasional adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sebab, saat ini pendidikan Indonesia sudah jauh tertinggal dari negara-negara tetangga sesama ASEAN sekalipun.

Indeks Pembangunan Manusia menunjukkan peringkat Indonesia yang mengalami penurunan sejak 1995, yaitu peringkat ke-104 pada tahun 1995, ke-109 pada tahun 2000, ke-110 pada tahun 2002, ke 112 pada tahun 2003, dan sedikit membaik pada peringkat ke-111 pada tahun 2004 dan peringkat ke-110 pada tahun 2005. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemerintah dituntut lebih serius lagi menangani masalah pendidikan.

Sebenarnya, ada beberapa persoalan kuantitatif pendidikan yang perlu segera ditangani secara bertahap dan tersistem (Suyanto, 2004).

Pertama, rendahnya partisipasi pendidikan. Jumlah penduduk usia prasekolah (5 - 6 tahun) adalah 8.259.200 yang baru tertampung 1.845.983 anak (22, 35%). Penduduk usia sekolah dasar (7 - 12 tahun) 25.525.000, baru tertampung 24.041.707 anak (94.19%). Jumlah usia SMP (13-15 tahun) 12.831.200, baru tertampung 7.630.760 anak (59,47%). Penduduk usia SMA (16 - 18 tahun) 12.695.800, baru tertampung 4.818.575 anak (37,95%). Penduduk usia pendidikan tinggi (19 - 24 tahun) 24.738.600, baru tertampung 3.441.429 orang (13,91%).

Kedua, banyaknya guru/dosen yang belum memenuhi persyaratan kualifikasi. Guru TK sebanyak 137.069, yang sudah memiliki kewenangan mengajar sesuai dengan kualifikasi pendidikannya baru 12.929 orang (9,43%). Sebanyak 1.234.927 guru SD yang sesuai dengan kualifikasi pendidikannya baru 625.710 orang (50,67%), sedangkan 466.748 guru SMP, yang sesuai dengan kualifikasi pendidikannya baru 299.105 orang (64,08). Guru sekolah menengah (377. 673), yang terbilang layak baru 238.028 orang (63,02%), sedangkan dosen perguruan tinggi (210.210), yang sesuai dengan kualifikasi pendidikannya baru 101.875 orang (48,46%).

Ketiga, tingginya angka putus sekolah. Angka putus sekolah SD 2,97%, SMP 2,42%, SMA 3,06%, dan PT 5,9%.

Keempat, banyak ruang kelas yang tidak layak untuk proses belajar. Ruang kelas TK yang jumlahnya 93.629, yang kondisinya masih baik 77.399 (82,67%), kelas SD (865.258), yang masih baik hanya 364.440 (42,12%). Ruang kelas SMP (187.480), yang masih baik 154.283 (82,29 %). Ruang kelas SMA (124.417) yang kondisinya masih baik 115.794 (93,07%).

Kelima, tingginya jumlah warga negara yang masih buta huruf. Dari penduduk total 211.063.000, yang masih buta huruf pada usia 15 tahun ke atas 23.199.823 (10,99%).
Terlepas dari persoalan kuantitatif tersebut, dalam konteks pembangunan sektor pendidikan, guru merupakan pemegang peran yang amat sentral dalam proses pendidikan. Karena itu, upaya meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraan para pendidik adalah suatu keniscayaan. Guru harus mendapatkan program-program pelatihan secara tersistem agar tetap memiliki profesionalisme yang tinggi dan siap melakukan adopsi inovasi. Guru juga harus mendapatkan penghargaan dan kesejahteraan yang layak atas pengabdian dan jasanya. Sehingga, setiap inovasi dan pembaruan dalam bidang pendidikan dapat diterima dan dijalaninya dengan baik.

Di sinilah kemudian guru dituntut memiliki kualitas ketika menyajikan bahan pengajaran kepada subjek didik. Kualitas seorang guru dapat diukur dari segi moralitas, bijaksana, sabar dan menguasai bahan pelajaran ketika beradaptasi dengan subjek didik. Sejumlah faktor itu membuat dirinya mampu menghadapi masalah-masalah sulit, tidak mudah frustasi, depresi atau stress secara positif, dan tidak destruktif.

Seorang guru mempunyai tanggung jawab terhadap keberhasilan anak didik. Dia tidak hanya dituntut mampu melakukan transformasi seperangkat ilmu pengetahuan kepada peserta didik (cognitive domain) dan aspek keterampilan (pysicomotoric domain), akan tetapi juga mempunyai tanggung jawab untuk mengejewantahkan hal-hal yang berhubungan dengan sikap (affective domain).

Mahdi Ghulsyani seorang cendekiawan muslim memandang bahwa guru merupakan kelompok manusia yang memiliki fakultas penalaran, ketaqwaan dan pengetahuan. Ia memiliki karakteristik: bermoral, mendengarkan kebenaran, mampu menjauhi kepalsuan ilusi, menyembah Tuhan, bijaksana, menyadari dan mengambil pengalaman-pengalaman.

Dalam pepatah jawa, guru adalah sosok yang digugu omongane lan ditiru kelakoane (dipercaya ucapannya dan dipanut tindakannya). Pesan ini mengandung makna bahwa "guru itu perkataannya selalu diperhatikan dan perbuatannya selalu menjadi teladan". Menyandang profesi guru, berarti harus menjaga citra, wibawa, keteladanan, integritas, dan kredibilitasnya. Ia tidak hanya mengajar di depan kelas, tapi juga mendidik, membimbing, menuntun, dan membentuk karakter moral yang baik bagi siswa-siswanya.
Kondisi saat ini, menuntut guru agar menjadi salah satu faktor penentu tinggi rendahnya mutu hasil pendidikan. Karena, keberhasilan penyelenggaraan pendidikan sangat ditentukan oleh sejauh mana kesiapan guru dalam mempersiapkan peserta didiknya melalui kegiatan belajar-mengajar. Tugas utama guru sebagai pendidik harus diarahkan untuk membekali peserta didik dengan nilai-nilai akhlak, keimanan, dan pengetahuan yang sesuai dengan tuntutan zamannya agar menjadi generasi masa depan yang menjadi harapan bangsanya.

Namun demikian, posisi strategis guru untuk meningkatkan mutu hasil pendidikan ini sangat dipengaruhi oleh kemampuan profesional mengajar dan tingkat kesejahteraannya. Karena itu,Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, mudah-mudahan menjadi landasan dan tonggak penting dalam peningkatan idealisme kita untuk membangun peradaban bangsa melalui pendidikan nasional. Kita berharap, profesi sebagai guru menjadi benar-benar mulia dan bermartabat. Guru tidak lagi dianggap sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Tapi, jasa-jasa guru betul-betul diperhatikan dan dihargai dengan layak dan manusiawi.

Akhirnya, marilah kita jadikan momentum sekarang ini sebagai pembangkit kembali idealisme guru dalam membangun peradaban bangsa Indonesia. Sehingga, masa depan Indonesia bisa lebih maju, berkualitas, berbudaya, cerdas, dan dapat bersaing dalam percaturan dunia. Para guru harus menjadi lokomotif utama bagi perubahan karakter, keunggulan SDM dan modernisasi bangsa Indonesia.

Dengan dideklarasikannya Persaudaraan Guru Sejahtera Indonesia (PGSI), kita berharap PGSI beserta anggotanya mampu melahirkan guru yang berkualitas dan mampu memaksimalkan peran guru dalam membangun peradaban bangsa melalui pendidikan. Pembangunan peradaban bangsa yang dilakukan oleh para guru yang tergabung dalam wadah PGSI ini harus didasarkan pada paradigma membangun manusia Indonesia seutuhnya, yang berfungsi sebagai subyek yang memiliki kapasitas untuk mengaktualisasikan potensi dan dimensi kemanusiaan secara optimal.

Dimensi kemanusiaan itu mencakup tiga hal paling mendasar, yaitu: (1) afektif yang tercermin pada kualitas keimanan, ketakwaan, akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur serta kepribadian unggul, dan kompetensi estetis; (2) kognitif yang tercermin pada kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menggali dan mengembangkan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi; dan (3) psikomotorik yang tercermin pada kemampuan mengembangkan keterampilan teknis, kecakapan praktis, dan kompetensi kinestetis. Para guru dituntut melakukan proses sistematis dalam upaya meningkatkan martabat manusia secara holistik, yang memungkinkan ketiga dimensi kemanusiaan paling elementer tersebut berkembang optimal.

Diantara nilai-nilai unggul yang perlu dimiliki dan diperhatikan dari karakter guru yang diharapkan untuk membangun sebuah peradaban bangsa adalah: Beriman, Amanah, Profesional, Antusias dan Bermotivasi Tinggi, Bertanggung Jawab, Kreatif, Disiplin, Peduli, Pembelajar Sepanjang Hayat, Visioner dan Berwawasan, Menjadi Teladan, Memotivasi (Motivating), Mengilhami (Inspiring), Memberdayakan (Empowering), Membudayakan (Culture-forming), Produktif (Efektif dan Efisien), Responsif dan Aspiratif, Antisipatif dan Inovatif, Demokratis, Berkeadilan, dan Inklusif.

Mudah-mudahan nilai-nilai luhur tersebut menjadi landasan idealisme guru untuk membangun peradaban bangsa. Selamat atas terbentuknya Persaudaraan Guru Sejahtera Indonesia (PGSI). Semoga ALLAH SWT selalu memberkati dan membimbing kita dalam menjalankan amanah mencerdaskan kehidupan Bangsa Indonesia.
Amin.

Disampaikan pada Deklarasi Persaudaraan Guru Sejahtera Indonesia, Asrama Haji Sukolilo Surabaya, 10 September 2006
 http://armanbelajar.multiply.com/journal/item/182

Senin, 18 Mei 2009

Puisi dari teman sekelasku sejak kelas 1 SD sampai Kelas 3 SMA

    ADRI SANDRA

    BAGIAN SATU
MEMINTAL OMBAK
selamat berpisah, kenanglah
laki-laki yang berdiri di balai-balai bambu
memandang danau kembar siang yang silam
pandanglah seperti diam tembok puri
di pundaknya renda-renda langit
mewiru dukana, liar awan di angkasa
tak tahu tujuan pasti
biarkan cinta pulang ke cinta
rindu pulang ke rindu, bila negeri ini sunyi
biarkan darah lukaku menetes
membasahi mimpi-mimpi yang kabur
pandanglah aku dari jauh
seperti engkau memandang bukit
di seberang danau kembar waktu silam
berlatar kabut yang suram
selamat berpisah, biarkan aku berjalan
tetap di negeri ini
biarkan duka pulang ke duka, ke rumah sukmawi
di sini aku sendiri memintal riak dan angin
di danau tanpa pelabuhan.
Payakumbuh, 1996).

MENGUKUR PEMANDANGAN
Seperti sehelai daun kering saja
engkau melayang di bawah matahari
dalam gigil dan denyut bimbang
saat kududuk di kursi panjang
mengukur pemandangan
yang bergerak dalam matamu
begitu lama, ilusi yang kusimpan dulu
terhenti di sudut impian kabur
kini engkau tampak berdiri jauh
di bawah rimbun randu
sebaris kabut mengapuk di pucuknya
matahari sumbing menjelang senja
di kursi panjang ini
aku telah mengukur pemandangan
sisa-sisa waktu akan tetap meruang
berhembus ke balik hidup masa datang.
Tanjung Pati, 1996)

.
AKAR KEHILANGAN POHON
Masih saja pohon-pohon di gunung itu
berdiri angkuh dan manja
rimbun daun-daunnya mengundang angin
membelai-belai tubuhnya
berdesir dan bernyanyi ria
melengking ke angkasa atau suaranya turun lembah
seperti tiupan suling seratus penggembala
akar-akarnya yang berumah dalam bumi
selalu menjalar tanpa batas waktu
untuk menghidupi batang, ranting dan daun-daunnya
akar-akar yang menderita demi kasih dan cinta
tak pernah menikmati panas matahari
tak melihat awan bertengger di pucuk pohon
tak melihat bulan dan bintang malam hari
masih saja akar-akar itu berumah dalam bumi
sementara pohon-pohon kecintaannya
dimutasi ke desa-desa dan kota tanpa kulit, ranting dan daun-daun
pohon-pohon yang mendindingi rumah-rumah manusia
dari serbuan angin dan dingin cuaca
sementara akar-akar itu tetap berumah dalam bumi
mati dalam bumi
melebur bersama duka yang dituba.
Padang Japang, 1996).

SUARAMU TERSANGKUT DI UJUNG OMBAK
Bagi: RPD
Dari senja ke malam kita dibalut asap
debur ombak pantai Padang menguap ke ruang musim
di mana darah kita mengalir perlahan dari kepala ke ujung kaki
dan kau bicara tentang waktu!
lalu kita layangkan pandang ke sudut negeri tak bernama
masih putih, asap menebal
debur ombak menggetarkan pondasi langit
gigil darah di tubuh memuai saat panas semakin sesak di kamar itu
dari malam menjelang pagi asap itu berangsur hilang
kita berselam dalam malam, berenang di udara kota
kita melintasi jalan-jalan bersimpang
darah kita mengalir seperti sungai ke muara yang jauh
dan aku bicara tentang lalang-lalang kering
di mana puisi-puisi tersangkut
raung angin menggetarkan pohon-pohon di bukit
angin yang berasal dari laut
pencipta ombak dan lagu tak berirama
di sana musim selalu panas
"ya, kita berada di negeri yang sama
bumi penyair, tanpa tetes darah petaka!" katamu
pagi, suaramu tersangkut di ujung ombak
dan kau berkelana entah sampai di mana.
Padang, 1994 - Kayutanam, 1996).

TAMSIL RAHASIA
Tak perlu tabuh diguguh lagi
karena peristiwa ini bukanlah sejarah besar
yang perlu dicatat atau diberitakan
kita tengah tidur di arena kekalahan
berselimut bendera kebodohan
kita rubuh tanpa perlawanan balasan
negeri ini tak lagi punya pagar
penjara tak lagi berterali
marilah mencuci luka nurani
meyakini diri musuh bersembunyi
di penjara yang dibikinnya sendiri
sebab kabut tebal di abad ini
menghalang pandangan kita
menatap kebenaran seutuhnya
tak perlu tabuh diguguh lagi
karena peristiwa hanyalah tamsil rahasia
dari kekalahan yang terselamatkan
dari kemenangan yang menghancurkan
Diambil dari: http://www1.sarawak.com.my/org/taraju/adri2.html

Sumbangan kampungku untuk negeri, tapi tidak ada rakyat negeri ini yang peduli...........

Lawatan Sejarah Nasional
PDRI, Penyambung "Nyawa" Kemerdekaan

Indira Permanasari

Awal Januari 1949 merupakan saat istimewa bagi Jamaan Ismail yang renta dan sekarang berganti nama H Chatib Jamaan, warga Bidar Alam, Kabupaten Solok Selatan. Sebagai Komandan Kompi Badan Pengawal Nagari dan Kota atau BPNK, Jamaan bertugas menjemput tamu penting, rombongan Syafruddin Prawiranegara di Abai Sangir. Rapat para pemuka nagari Bidar Alam menyepakati itu.

Sekitar tiga puluh orang anggota rombongan datang ke Abai Sangir. Mereka sebagian berjalan kaki dan lainnya dengan perahu yang sederhana berdayung kayu, termasuk Syafruddin. Dari Abai Sangir mereka harus berjalan kaki 12 kilometer ke wali nagari untuk diterima secara resmi.

Jamaan sadar itu bukan rombongan biasa, terutama sang pemimpin rombongan. Di pundaknya terletak nasib kemerdekaan yang baru secuil waktu dinikmati rakyat Indonesia. Dia sudah mendengar Syafruddin mendapat mandat untuk melaksanakan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Sebagai komandan BPNK waktu itu, Chatib ditugaskan oleh pemuka masyarakat nagari Bidar Alam untuk menyiapkan kebutuhan rombongan. Misinya agar rombongan Syafruddin dapat memimpin pemerintahan darurat RI di Bidar Alam dengan aman. Jamaan Ismail saat itu tidak sendiri.

Pada usianya yang renta dengan ingatan yang mulai mengabur Jamaan bercerita tentang besarnya dukungan rakyat kepada rombongan Syafruddin waktu itu, di depan peserta Lawatan Sejarah Nasional (Lasenas) yang terdiri dari para siswa dan guru sejarah pada pertengahan Agustus lalu. Tema Lasenas Ke-5 itu ialah "Peranan Masyarakat Sumatera Tengah dalam Menyelamatkan Republik Indonesia: PDRI Suatu Mata Rantai Sejarah Republik Indonesia". Mereka meninjau jejak-jejak PDRI yang tersebar di berbagai daerah di Sumatera Barat (dulu Sumatera Tengah).

Rakyat dengan sukacita menyediakan rumahnya sebagai markas. Jamaan juga menghimpun tenaga BPNK dan Pemuda untuk berjaga malam (ronda), menyusun tenaga pengangkutan kuda beban dengan tugas mencari perbekalan beras dan sayuran ke Kerinci dan Muara Labuh, menyusun tenaga anak perahu dengan tugas mencari bensin dan kebutuhan lainnya ke Pulau Punjung satu kali seminggu serta menyediakan lapangan olahraga.

Di pedalaman Bidar Alam itu, dengan sederhana dan bersahaja, didukung kekuatan masyarakat setempat, pemerintahan darurat dijalankan. Bidar Alam waktu itu masih berupa kampung di pedalaman dengan sebagian wilayah masih berupa rimba.

Perjalanan Syafruddin Prawiranegara ke Bidar Alam merupakan bagian dari rangkaian kisah sekitar tujuh bulan beliau menjadi pemimpin pemerintahan darurat RI. Sebuah pemerintahan darurat yang terus bergerak dan berpindah-pindah. Semua itu bermula ketika pada 19 Desember 1948 Yogyakarta dan Bukit Tinggi diserang oleh Belanda.

Kabinet Hatta yang sudah mencium keinginan Belanda untuk menduduki kembali Indonesia, beberapa jam sebelum serangan Belanda ke Yogyakarta, segera bersidang darurat. Keputusannya, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta memberikan mandat atau menguasakan kepada Syafruddin Prawiranegara membentuk pemerintahan Darurat di Sumatera Tengah.

Saat itu, Syafruddin yang menjabat sebagai Menteri Kemakmuran RI sedang bertugas di Bukit Tinggi. Kalaupun Syafruddin gagal, mandat diserahkan kepada pemimpin RI di luar negeri, yakni Dr Soedarsono, Mr Maramis, dan Palar untuk membentuk Exile Government di New Delhi. Soekarno dan Hatta sendiri kemudian ditawan di Bangka oleh Belanda.

Sejarawan dari Universitas Negeri Padang, Mestika Zed, mengungkapkan, surat mandat itu konon tidak sempat dikawatkan karena hubungan telekomunikasi kadung jatuh ke tangan Belanda. Surat hanya beredar di kalangan Republieken. Namun, dengan insting dan kecepatan berpikir akhirnya beliau berhasil membentuk PDRI di Halaban, sebuah kecamatan di Kabupaten Lima Puluh Kota, pada 22 Desember 1948.

Jangan bayangkan, sebagai pemimpin saat itu, Syafruddin memimpin dari istana. Sejak itu, Syafruddin dan rombongannya menjalankan pemerintahan dengan bergerak terus dari daerah ke daerah lain di pedalaman Sumatera Barat. Sahabat terdekat para pemerintah darurat saat itu ialah rakyat. Syafruddin yang penuh karisma dan bersifat merakyat dengan cepat diterima dengan baik oleh warga setempat.

Keberadaan PDRI menunjukkan bahwa Republik Indonesia masih berdiri. Pada 17 Januari 1949 Stasiun Radio PDRI berhasil melakukan kontak dengan New Delhi, India. Syafruddin dari Bidar Alam sempat mengirimkan ucapan selamat kepada Nehru dan peserta konferensi New Delhi melalui Stasiun Radio UDO yang diteruskan ke Stasiun ZZ Koto Tinggi dan diteruskan lagi ke YJB6.

Konferensi New Delhi yang dihadiri oleh 19 negara Asia termasuk delegasi peninjau, kemudian mengeluarkan resolusi yang berisi protes terhadap agresi militer Belanda dan menuntut pengembalian tawanan politik dalam hal ini Soekarno, Hatta, dan semua pemimpin Republik ke Yogyakarta.

Keberadaan stasiun Radio YBJ6 sangat membantu komunikasi dalam dan luar negeri, terutama untuk menyuarakan bahwa pemerintahan RI masih ada.

Jamaan dengan berapi-api menceritakan kesannya terhadap ketokohan Syafruddin pada masa PDRI itu. "Ondee ... kalau cerita itu, air mata saya turun, semangatnya berapi-api. Kata-kata Syafruddin yang paling berkesan buat saya waktu dia bilang ’kita harus memenangkan RI dan tidak takut kepada manusia, hanya takut kepada Allah’. Itu dikatakannya berulang- ulang," ujarnya.

Setelah sekitar dua bulan di Bidar Alam, rombongan bergerak secara bertahap ke Sumpur Kudus. Mereka meninggalkan Bidar Alam dengan berjalan kaki dan naik perahu melalui desa-desa. Setelah itu Syafruddin juga sempat berangkat ke Koto Tinggi dan berpindah ke Padang Japang, Koto Kaciak. Di Padang Japang, rombongan menginap di rumah salah seorang warga, Jawanir.

Sampai pada akhirnya datang utusan dari Kabinet Hatta, yakni Leimena, Moh Natsir, dan A Halim untuk menemui Syafruddin. Telah terselenggara Perundingan Roem-Royen antara Belanda dan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden M Hatta. Syafruddin tidak menyetujui perundingan yang dianggapnya merugikan Indonesia itu. Rombongan Leimena datang untuk membujuk Syafruddin pulang dan mengakui hasil perundingan itu untuk kemudian menyerahkan mandat.

Jawanir (79) yang sempat dikunjungi para peserta Lasenas bercerita, betapa alotnya perundingan di Koto Kaciak, Padang Japang, Payakumbuh saat itu. "Dari pukul delapan malam hingga subuh keesokan harinya rombongan Leimena berusaha membujuk," ujarnya.

Setelah shalat subuh baru diputuskan, mereka berangkat ke Yogyakarta dan mengembalikan mandat kepada Soekarno dan Hatta. Jawanir mengenang sosok Syafruddin sebagai sosok penuh karisma dan cinta Republik Indonesia. Pemerintahan darurat itu berakhir 13 Juli 1949 yang ditandai dengan sidang pertama Kabinet Hatta setelah agresi kedua militer Belanda dengan agenda pengembalian mandat PDRI oleh Syafruddin kepada Soekarno-Hatta.

Penyelamat kemerdekaan

Proses kelahiran PDRI 22 Desember 1948 hingga 13 Juli 1949 ialah sebagai salah satu bagian dari reaksi Republik dalam menghadapi agresi kedua militer Belanda sebelum kejatuhan Yogyakarta sebagai ibu kota negara waktu itu. Dengan adanya PDRI, secara de facto Indonesia masih berdiri sebagai sebuah bangsa.

Menurut sejawaran, Mestika Zed, pentingnya kedudukan PDRI dalam sejarah perjuangan bangsa, antara lain, adalah karena secara nasional merupakan jembatan yang menghubungkan dan menghidupkan kembali kekuatan perjuangan yang sudah berantakan di berbagai daerah.

"Kami juga dapat membayangkan apa jadinya RI seandainya tidak ada PDRI. Pada saat yang sama, PDRI merupakan simbol integrasi nasional karena perjuangan kemerdekaan pada masa itu akhirnya berhasil melewati ujian terberat dari ancaman integrasi bangsa," katanya.

Episode PDRI menunjukkan betapa partisipasi rakyat lokal memainkan peran sentral. Seandainya pemimpin yang mengungsi ke pedalaman itu tidak dijamin keselamatan nyawanya dan tidak disubsidi makanannya oleh rakyat, niscaya nasib mereka hilang ditelan sejarah. Pada saat itu rakyat bukan lagi sekadar pelengkap penderita dalam perjuangan nasional, melainkan penggerak utama yang menentukan menghadapi masa-masa krisis darurat.

Mestika lalu meminjam kata-kata sejarawan terkenal Prof Sartono Kartodirjo, "PDRI adalah soal to be or not to be Republik. Tanpa PDRI, Republik yang diproklamasikan beberapa tahun sebelumnya nyaris tenggelam untuk selama-lamanya."

Diambil dari http://64.203.71.11/kompas-cetak/0709/20/humaniora/3857340.htm

Sumbangan kampungku untuk negeri, tapi tidak ada rakyat negeri ini yang peduli...........

Lawatan Sejarah Nasional
PDRI, Penyambung "Nyawa" Kemerdekaan

Indira Permanasari

Awal Januari 1949 merupakan saat istimewa bagi Jamaan Ismail yang renta dan sekarang berganti nama H Chatib Jamaan, warga Bidar Alam, Kabupaten Solok Selatan. Sebagai Komandan Kompi Badan Pengawal Nagari dan Kota atau BPNK, Jamaan bertugas menjemput tamu penting, rombongan Syafruddin Prawiranegara di Abai Sangir. Rapat para pemuka nagari Bidar Alam menyepakati itu.

Sekitar tiga puluh orang anggota rombongan datang ke Abai Sangir. Mereka sebagian berjalan kaki dan lainnya dengan perahu yang sederhana berdayung kayu, termasuk Syafruddin. Dari Abai Sangir mereka harus berjalan kaki 12 kilometer ke wali nagari untuk diterima secara resmi.

Jamaan sadar itu bukan rombongan biasa, terutama sang pemimpin rombongan. Di pundaknya terletak nasib kemerdekaan yang baru secuil waktu dinikmati rakyat Indonesia. Dia sudah mendengar Syafruddin mendapat mandat untuk melaksanakan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Sebagai komandan BPNK waktu itu, Chatib ditugaskan oleh pemuka masyarakat nagari Bidar Alam untuk menyiapkan kebutuhan rombongan. Misinya agar rombongan Syafruddin dapat memimpin pemerintahan darurat RI di Bidar Alam dengan aman. Jamaan Ismail saat itu tidak sendiri.

Pada usianya yang renta dengan ingatan yang mulai mengabur Jamaan bercerita tentang besarnya dukungan rakyat kepada rombongan Syafruddin waktu itu, di depan peserta Lawatan Sejarah Nasional (Lasenas) yang terdiri dari para siswa dan guru sejarah pada pertengahan Agustus lalu. Tema Lasenas Ke-5 itu ialah "Peranan Masyarakat Sumatera Tengah dalam Menyelamatkan Republik Indonesia: PDRI Suatu Mata Rantai Sejarah Republik Indonesia". Mereka meninjau jejak-jejak PDRI yang tersebar di berbagai daerah di Sumatera Barat (dulu Sumatera Tengah).

Rakyat dengan sukacita menyediakan rumahnya sebagai markas. Jamaan juga menghimpun tenaga BPNK dan Pemuda untuk berjaga malam (ronda), menyusun tenaga pengangkutan kuda beban dengan tugas mencari perbekalan beras dan sayuran ke Kerinci dan Muara Labuh, menyusun tenaga anak perahu dengan tugas mencari bensin dan kebutuhan lainnya ke Pulau Punjung satu kali seminggu serta menyediakan lapangan olahraga.

Di pedalaman Bidar Alam itu, dengan sederhana dan bersahaja, didukung kekuatan masyarakat setempat, pemerintahan darurat dijalankan. Bidar Alam waktu itu masih berupa kampung di pedalaman dengan sebagian wilayah masih berupa rimba.

Perjalanan Syafruddin Prawiranegara ke Bidar Alam merupakan bagian dari rangkaian kisah sekitar tujuh bulan beliau menjadi pemimpin pemerintahan darurat RI. Sebuah pemerintahan darurat yang terus bergerak dan berpindah-pindah. Semua itu bermula ketika pada 19 Desember 1948 Yogyakarta dan Bukit Tinggi diserang oleh Belanda.

Kabinet Hatta yang sudah mencium keinginan Belanda untuk menduduki kembali Indonesia, beberapa jam sebelum serangan Belanda ke Yogyakarta, segera bersidang darurat. Keputusannya, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta memberikan mandat atau menguasakan kepada Syafruddin Prawiranegara membentuk pemerintahan Darurat di Sumatera Tengah.

Saat itu, Syafruddin yang menjabat sebagai Menteri Kemakmuran RI sedang bertugas di Bukit Tinggi. Kalaupun Syafruddin gagal, mandat diserahkan kepada pemimpin RI di luar negeri, yakni Dr Soedarsono, Mr Maramis, dan Palar untuk membentuk Exile Government di New Delhi. Soekarno dan Hatta sendiri kemudian ditawan di Bangka oleh Belanda.

Sejarawan dari Universitas Negeri Padang, Mestika Zed, mengungkapkan, surat mandat itu konon tidak sempat dikawatkan karena hubungan telekomunikasi kadung jatuh ke tangan Belanda. Surat hanya beredar di kalangan Republieken. Namun, dengan insting dan kecepatan berpikir akhirnya beliau berhasil membentuk PDRI di Halaban, sebuah kecamatan di Kabupaten Lima Puluh Kota, pada 22 Desember 1948.

Jangan bayangkan, sebagai pemimpin saat itu, Syafruddin memimpin dari istana. Sejak itu, Syafruddin dan rombongannya menjalankan pemerintahan dengan bergerak terus dari daerah ke daerah lain di pedalaman Sumatera Barat. Sahabat terdekat para pemerintah darurat saat itu ialah rakyat. Syafruddin yang penuh karisma dan bersifat merakyat dengan cepat diterima dengan baik oleh warga setempat.

Keberadaan PDRI menunjukkan bahwa Republik Indonesia masih berdiri. Pada 17 Januari 1949 Stasiun Radio PDRI berhasil melakukan kontak dengan New Delhi, India. Syafruddin dari Bidar Alam sempat mengirimkan ucapan selamat kepada Nehru dan peserta konferensi New Delhi melalui Stasiun Radio UDO yang diteruskan ke Stasiun ZZ Koto Tinggi dan diteruskan lagi ke YJB6.

Konferensi New Delhi yang dihadiri oleh 19 negara Asia termasuk delegasi peninjau, kemudian mengeluarkan resolusi yang berisi protes terhadap agresi militer Belanda dan menuntut pengembalian tawanan politik dalam hal ini Soekarno, Hatta, dan semua pemimpin Republik ke Yogyakarta.

Keberadaan stasiun Radio YBJ6 sangat membantu komunikasi dalam dan luar negeri, terutama untuk menyuarakan bahwa pemerintahan RI masih ada.

Jamaan dengan berapi-api menceritakan kesannya terhadap ketokohan Syafruddin pada masa PDRI itu. "Ondee ... kalau cerita itu, air mata saya turun, semangatnya berapi-api. Kata-kata Syafruddin yang paling berkesan buat saya waktu dia bilang ’kita harus memenangkan RI dan tidak takut kepada manusia, hanya takut kepada Allah’. Itu dikatakannya berulang- ulang," ujarnya.

Setelah sekitar dua bulan di Bidar Alam, rombongan bergerak secara bertahap ke Sumpur Kudus. Mereka meninggalkan Bidar Alam dengan berjalan kaki dan naik perahu melalui desa-desa. Setelah itu Syafruddin juga sempat berangkat ke Koto Tinggi dan berpindah ke Padang Japang, Koto Kaciak. Di Padang Japang, rombongan menginap di rumah salah seorang warga, Jawanir.

Sampai pada akhirnya datang utusan dari Kabinet Hatta, yakni Leimena, Moh Natsir, dan A Halim untuk menemui Syafruddin. Telah terselenggara Perundingan Roem-Royen antara Belanda dan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden M Hatta. Syafruddin tidak menyetujui perundingan yang dianggapnya merugikan Indonesia itu. Rombongan Leimena datang untuk membujuk Syafruddin pulang dan mengakui hasil perundingan itu untuk kemudian menyerahkan mandat.

Jawanir (79) yang sempat dikunjungi para peserta Lasenas bercerita, betapa alotnya perundingan di Koto Kaciak, Padang Japang, Payakumbuh saat itu. "Dari pukul delapan malam hingga subuh keesokan harinya rombongan Leimena berusaha membujuk," ujarnya.

Setelah shalat subuh baru diputuskan, mereka berangkat ke Yogyakarta dan mengembalikan mandat kepada Soekarno dan Hatta. Jawanir mengenang sosok Syafruddin sebagai sosok penuh karisma dan cinta Republik Indonesia. Pemerintahan darurat itu berakhir 13 Juli 1949 yang ditandai dengan sidang pertama Kabinet Hatta setelah agresi kedua militer Belanda dengan agenda pengembalian mandat PDRI oleh Syafruddin kepada Soekarno-Hatta.

Penyelamat kemerdekaan

Proses kelahiran PDRI 22 Desember 1948 hingga 13 Juli 1949 ialah sebagai salah satu bagian dari reaksi Republik dalam menghadapi agresi kedua militer Belanda sebelum kejatuhan Yogyakarta sebagai ibu kota negara waktu itu. Dengan adanya PDRI, secara de facto Indonesia masih berdiri sebagai sebuah bangsa.

Menurut sejawaran, Mestika Zed, pentingnya kedudukan PDRI dalam sejarah perjuangan bangsa, antara lain, adalah karena secara nasional merupakan jembatan yang menghubungkan dan menghidupkan kembali kekuatan perjuangan yang sudah berantakan di berbagai daerah.

"Kami juga dapat membayangkan apa jadinya RI seandainya tidak ada PDRI. Pada saat yang sama, PDRI merupakan simbol integrasi nasional karena perjuangan kemerdekaan pada masa itu akhirnya berhasil melewati ujian terberat dari ancaman integrasi bangsa," katanya.

Episode PDRI menunjukkan betapa partisipasi rakyat lokal memainkan peran sentral. Seandainya pemimpin yang mengungsi ke pedalaman itu tidak dijamin keselamatan nyawanya dan tidak disubsidi makanannya oleh rakyat, niscaya nasib mereka hilang ditelan sejarah. Pada saat itu rakyat bukan lagi sekadar pelengkap penderita dalam perjuangan nasional, melainkan penggerak utama yang menentukan menghadapi masa-masa krisis darurat.

Mestika lalu meminjam kata-kata sejarawan terkenal Prof Sartono Kartodirjo, "PDRI adalah soal to be or not to be Republik. Tanpa PDRI, Republik yang diproklamasikan beberapa tahun sebelumnya nyaris tenggelam untuk selama-lamanya."

Diambil dari http://64.203.71.11/kompas-cetak/0709/20/humaniora/3857340.htm

Sabtu, 16 Mei 2009

Married???..............Pesan kepada calon suami.

Kajian tematik Ahad malam 16 Mei `09 oleh Dr Amir Faisal di Mesjid Darussalam Kota Wisata – Cibubur.

Membentuk rumah tangga Qur`ani

Dalam menjalankan rumah tangga ukurannya adalah tuntunan Allah SWT,  yaitu sbb : “Menjaga diri dan keluarga dari api neraka yang dijaga oleh malaikat yang keras dan kejam dan tidak perna h lupa dalam menjalankan perintah Allah”.  (At Tahrim : 6)

@ Ketika keluarga-keluarga jelek maka lahirlah pemimpin yang jelek.

@ Jadi yang paling penting disini adalah mengurus diri dan keluarga, maka        akan lahir masyarakat yang baik.

Tujuan Rumah tangga adalah :

1.     Membangun takwa,Surat Annisa` : 1,

“ Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri ang satu (Adam) dan Allah menciptakan pasangannya (Hawa)dan dari keduanya Allah memperkembangbiakan laki-laki dan perempun yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan namaNya kamu saling meminta dan peliharalah hubungan kekluargaan . Sesungguhnya  Allah selalu menjaga dn mengawasimu”.

2.     Takwa dan keluarga,Rasulullah menuntun  setelah seseorang menikah tidak ada pilihan lain kecuali bertakwa, karena rumah tangga penuh cobaan dan ujian dan untuk menjalani semua harus ada bekal takwa.

3.     Takwa menjauhkan diri dari azab,Sesuai dengan Surat Azzumar : 61, “Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka. Mereka tidak disentuh oleh azab dan tidak bersedih hati”.

4.     Belajar dari sejarah, Al Hasyr : 18, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah.Sungguh Allah Maha teliti terhadap apa yang telah kamu kerjakan .

5.     Berbuat ihsan, Rasulullah bersikap baik kepada istri-istrinya. Ketika Aisyah ditanya tentang akhlak Rasulullah, jawabnya, “Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur`an, belum pernah beliau memelototkan mata”. Ini sesuai dengan Surat Azzumar : `10, “Katakanlah Muhammad, “Wahai hamba-hambaKu yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu. Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas”.

6.     Jujur berbicara, Surat Al Ahzab : 70, “W@ahai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar”. Rasulullah berkata tidak mungkin seseorang berdusta kecuali ia telah kehilangan takwanya. Apabila seorang suami seorang yang takwa tidakmungkin bohong pada istri dan keluarganya dan sebaliknya. Keluarga yang berselingkuh adalah keluarga yang tidak dibangun atas dsar takwa.

7.     Takwa melahirkan “khasyyah”,  Surat An Naml : 33, “…..Kita memliki kekekuatan dan keberanian yang luar biasa….”. Tidak mungkin seorang yang bertakwa tidak takut kepada Allah SWT. Banyak orang yang berangkat ke bandara pukul 03.00 karena takut ketinggalan pesawat, tapi tidak banyak yang bangun pukul 03.00 malam karena takut pada Allah SWT. Begini cara mengukur kadar “khasyyah”.

8.     Jauhkan kezaliman, jangan biarkan istri meronta karena kezaliman suami. Ajika masih ada kezaliman kezaliman terhadap istri berarti bukan rumah tangga yang bertakwa.

9.     Allah bersama orang yang bertakwa, Surat An Nahl : 128, “Sungguh Allah bersama orang yang takwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan”. Banyak rumah yang sempit tapi nyaman bagi penghuni yang takwa, dan sebaliknya banyak rumah yang luas dan lapang tapi tanpa ketakwaan menjadi rumah yang tidak nyaman.

10.            Takwa, bersahabat dengan orang-orang yang baik, Surat At Taubah : 119, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar”. Orang yang baik akan bersahabat dengan orang yang baik. Rasulullah bersabda, “Seseorang cendrung kepada akhlak sahabatnya. Bersahabat dengan penjual harum minimal mencium wanginya, bersahabat dengan pandai besi minimal kepercik apinya”.

11.            Jauhi  perangai syetan, Surat Al-A`raf : 201, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat dari syetan, mereka segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.

Termasuk kerja syetan adalah was-was dan membuang-buang waktu. Orang yang beriman cirinya terdapat dalam Surat Al Muk`minun. Wallahu `alam bissawab. Wassalam