Senin, 25 Mei 2009

Naik sepeda ontel

SMP tahun 1976, merupakan masa-masa yang sangat indah buat ummi, coba bayangkan kita masuk SMP di SMP negeri Dangung-Dangung yang disaat itu merupakan SMP favorit, SMP Top lah. Saat itu TV belum ada, tapi di Pekanbaru sudah ada TV hitam putih siarannya dari Malaysia dan Singapura. Kata orang-orang SMP kita diliput TV karena merupakan SMP terbaik se Asia Tenggara. Wah bangga banget bisa sekolah di SMP ini.

Belajar di SMP itu ingat guru-guru yang penuh dedikasi dalam tugasnya. Disamping kita dikasih ilmu, kita juga dididik dengan akhlak mulia. Sholat kita dipantau terus sama guru-guru. Cara kita berpakaian sangat diperhatikan, namanya sekolah negeri dan belum ada yang pakai jilbab, tapi rok minimal 10 cm dibawah lutut, tidak boleh ketat, sampai ummi waktu itu papai baju atuk tua karena harus lapang. Coba ya waktu itu telah dikenal jilbab. Yang ada waktu itu baju kurung dengan selendang panjang dililitkan di kepala ala Diniyah putri. Satu-satunya murid yang pakai kerudung segitiga adalah uni Ef anaknya guru ummi ibu Lela Rosma.

Cara berbicara terhadap orang tua, terhadap guru dan orang dewasa lain, dipantau terus. Kita main sama besar juga diperhatikan, apalagi waktu itu kita juga lagi centil-centilnya, maklum baru memasuki usia aqil baligh. Setiap hari kita shalat Zuhur berjama`ah dan dikasih kultum. Pokoknya lengkap kegiatan kita, Cuma saja disayangkan belum ada kewajiban menutup aurat, guru tidak bisa memaksakan, sebab kalo mau menutup aurat pilihannya ke MTsN bukan SMP, namun guru tetap memeperhatikan akhlak mulia dan dikasih tahu menutup aurat wajib, kitanya yg tdk mau. Bahkan di segi lain sepertinya kita merasakan lebih baik dari madarasah. Madrasah sebagian ada yang meneladani kita misalnya absensi sholat.

Ibu Lela Rosma sampai sekarang masih sehat adalah guru yang kreatif, beliau memegang mata pelajaran Prakarya. Kami diajarkan bagaimana menyulam, membuat miniatur “rumah gadang”tidak tanggung-tanggung dari batok kelapa, dan dipasang battery serta dimasukan kedalam rumah kaca. Ketika pameran pendidikan hasil karya kami ada yang beli lho.Juga diajari bermacam jenis sulaman dan rajutan.

Sebagian guru-guru sudah ada yang meninggal, seperti Pak Muslim Jamal guru IPS, yang kalau beliau mengajar seakan-akan kita mengembara kemana-mana. Guru lain adalah Pak Ali Satar mengajar IPA, yang kalau kita masuk laboratorium bersama beliau kita akan merasa sebagai ilmuwan. Jelas sekali kenangannya, ummi sempat memasukan logam Na kebesaran dalam air, sehingga bukan hanya letupan tapi ledakan kecil yang terjadi, sampai timbul api yang cukup besar.  Dan kami sempat berlarian keluar labor. Ummi dihukum dengan menggantikan tabung-tabung reaksi yang pecah harganya Rp 275, yang waktu itu sangat besar sekali. Kita saja jajannya cuma Rp25, itu sudah bisa beli lontong sayur, beli bakso dan kue apem.

Itu di labor, kalo belajar sejarah ibu Nurianis Kimin mengajar seakan-akan memutar silhuet, rasanya kita benar-benar mengalami musim dingin ketika diceritakan bagaimana Napoleon Bonaparte membawa tentaranya ke Rusia. Lain lagi ibu Samsimar mengajar matematika, kita benar-benar kalau tidak dapat sepuluh kita akan terus belajar. Ummi tidak tahu apa yang ada di guru-guru kita, masing-masing guru menimbulkan kesan seakan-akan kita belajar terus, secapek apapun kita tetap belajar.

Guru Bahasa Inggris kami Bapak Yuniaris, bapak mungil yang Englishnya cas cis cus, ingat sekali, mengajarkan past tense, wah menetes air mata mengenang masa lalu. Tapi masa itu tidak akan kembali lagi.Banyak hal-hal di masa lalu yang tidak lepas dari ingatan dan menjadi teladan untuk masa sekarang. Guru Biologi kami Bapak Martin ini lain lagi kalau mengajar. Dia tidak akan melihat kita kalau mengajar, tapi tidak masalah. Pokoknya guru-guru di SMP siip semua. Di kemudian hari sebagian ada yang jadi guru SMA dan Kepala Sekolah SMA.

Tak kalah serunya adalah kegiatan pulang pergi sekolah. Biasa kami masuk pukul 08.00. pukul 07.00 ummi sudah nongkrong depan rumah nungguin teman. Setelah temannya datang kita bareng-bareng ke Simpang Pokan Nonyan, dari sana segerombolan siswa SMP akan barengan ke Dangung-Dangung 7 km dari kampung ummi Padang Jopang, Seruuuu…….naik sepeda ontel. Ummi pakai sepeda phoenix warna biru, dibelikan atuk tua sebagai milik pribadi yang sampai sekarang masih ada, dititipkan ke Tek Win di Lubuk Alung Pariaman.

Cerita tentang naik sepeda tidak akan berhenti,apalagi  kalau ketemu kawan yang dulu bareng-bareng naik sepeda, pokoknya asyik sekali. Suatu ketika ummi pernah menabrak anak, sebenarnya bukan menabrak, tapi cuma tersenggol. Kebetulan guru matematika lewat, nah ketahuan naik sepeda tidak punya tata tertib. Ummi dipanggil ke kantor majlis guru, diceramahi panjang lebar sampai ummi akhirnya pulang sekolah ummi lihat anak itu. Ternyata sampai ke rumahnya ummijadi tahu itu saudara jauh yang ibunya biasa mengerjakan sawah di dekat sawah ummi, kadang dia mengerjakan sawah ummi juga. Sedih sekali lihat adik kembar itu terpincang-pincang pergi sekolah. Makanya kalau naik sepeda berikan hak pengguna jalan lain, apalagi kalau naik mobil.

Lain kali kita ketawa-ketawa naik sepedanya, berhubung mau liburan. Ketika itu baru saja terima rapor, ummi ranking dua di kelas I/6 selisih 2 angka. Yang juara 1 nya teman ummi Istinoferita sekarang dia menjadi dosen di Fakultas Pertanian Unand. Eh kita itu termasuk 5 besar paralel kelas 1 yang jumlahnya 7 kelas tambah 2 kelas filial Mungka, jadi 5 besar dari 9 kali 40 anak, atau lebih dari 360 an anak. Menurut ummi fantastik sekali. Tapi ummi pinginnya rangking puncak, tapi tidak tercapai. Ingatnya karena itu saking gembiranya terima lapor dan libur 2 pekan, sehingga naik sepeda ontelnya sampai di marahain sopir bis ke Payakumbuh karena memenuhi jalan raya. Mungkin sebal karena sepertinya pemilik jalan raya hanya kita saja, rombongan anak SMP.

Pernah juga ketika pulang sekolah kita kehujanan, eh bukannya berhenti tapi tetap hujan-hujan. Karena bajunya sudah transparan kami malu sekali sehingga kami pakai sarung dan mukena yang biasa dibawa untuk shalat, jadilah kami bersepeda pakai mukena. Lucuuuuu… dan diteriaki orang-orang sebagai pocong apalagi kami masuk sore pulangnya sudah hampir Magrib, hujan lagi.Belum ada listrik sepanjang jalan. Yang ini sepedanya simking atuk tua. Sepeda…..sepeda sehat setiap hari tidak luput dari sepeda ontel.

 

1 komentar: