Selasa, 12 Mei 2009

Paha..............boleh protes!!!

        Tolong disimak hal-hal berikut sebuah oleh-oleh dari UAN SD hari II, tanggal 12 Mei`09.

         Di beberapa sekolah negeri di kabupaten Bogor mohon ma`af lokasinya dekat sekali dengan kediaman Presiden kita. Mohon disimak kejadian-kejadian dari laporan beberapa orang teman pengawas :

1. Kebetulan soal di amplop soal 40 lb yang dipakai 31 lb, jadi sisa 9 lb dari yang sisa itu ada guru panitia ujian sekolah setempat yang mengerjakan juga, tahu untuk apa?.Indikasinya untuk nanti sebelum amplop ditutup  jawaban siswa dibenarkan lagi, dg patokan soal yang dikerjakan guru ybs sehingga siswa terbantu.Hal ini disetujui oleh Kep.Sek. Lebih miris lagi ketika hal itu dituliskan dalam berita acara oleh teman pengawas, justru pengawas itu dipanggil oleh UPTD. Diceramahi supaya anggap yang ujian anak sendiri dsb, dsb. Ternyata pengawas tersebut dipindahkan ke sekolah lain dengan alasan pengawas berlebih, padahal sudah diestimasi terlebih dulu diberi surat tugas dan name tag, dan ditempatkan sesuai Quota peserta ujian. Ada kemungkinan nih prediksi saya sendiri, "pengawas dari sekolah kami tidak akan di tempat di sekolah lain lagi pada ujian yang akan datang".

2. Sebelum so`al dibagikan ternyata lembaran jawaban yang dibagikan dulu sebelum soal sudah banyak yang terisi, indikasinya siswa telah mempunyai jawaban, sebelum pengawas sempat memeriksa nama dan kode ujian, mereka telah menjawab supaya pengawas tidak melihat karena sibuk membagikan soal.

3. Mohon maaf...........ada yang ketahuan menulis jawaban di selembar kertas dan kertas itu diplesterkan di paha....... dan mohon maaf itu "terlihat" oleh guru ikhwah, apa ndak istighfar panjang, terlihat di paha seorang anak perempuan yang sudah mulai baligh, siswi tersebut asyik aja, mau dilihatin terus gimana, mau tidak dilihatin nyonteknya jalan terus.

          Hal-hal seperti diatas bukan merupakan rahasia lagi, konon katanya wajar. Ada yang     beralasan, yah biasalah bu, disini banyak anak kampung yang kalau mereka tidak lulus tidak sekolah lagi. Lalu kalau mereka lulus, apakah mereka akan bertambah cerdas menghadapi hidup yang makin lama semakin tidak baik ini, bukan????. Apa tidak lebih baik mereka tidak lulus tapi mereka bisa berfikir secara jujur supaya bisa lulus maka harus belajar lagi?????

          Saya jadi berfikir tahun 1975, saya ikut ujian di SD 5 Talago Koto Kociak Kab 50 Kota Prop Sumbar, yang waktu itu ujian ditukar antar sekolah saya dari SD 2 Talago Padang Jopang. Pengawas dari beberapa sekolah bersama muridnya ngumpul, yang masih ingat sampai sekarang setelah 34 th berlalu adalah kejadian dimana guru pengawas dari SD Talago 3 mengasi kode-kode tertentu kepada muridSD nya, tidak segan mengajari muridnya berbuat curang, sepertinya hal itu telah berlangsung puluhan tahun, jadi wajar kan kalau sekarang mereka yang dulu itu teman-teman saya yang maaf tidak maju secara akademis tapi banyak yang jadi pejabat, sementara yang pintar banyak yang jadi petani, mendingan petani modern, tapi petani ini sekelas buruh tani. Kenapa? walaupun pintar tapi tidak cerdas cari modal, dan tidak punya kesempatan untuk akses modal.Jadi emang kita masih lama untuk maju, toh hal yang sama terjadi lagi di abad ke 21 ini.

         Sekarang permasalahannya adalah mari memahami masalah ini secara proporsional untuk dipikirkan jalan keluarnya dan dari mana memulai membangun karakter bangsa kita supaya jangan dianggap bangsa yang terkebelakang terus. Wallahu`alam bissawab

10 komentar:

  1. aaduuh ibu sedih sekali bacanya..
    manusia sekarang makin sulit berbuat jujur memang, mau jujur malah tersingkir :-) mungkin ada cara berfikir yang lompat; dalam artian pemrintah terburu2 menetapkan standar kelulusan tanpa didahului dengan upaya peningkatan kualitas guru dan kesejahteraannya (dan ini butuh waktu pastinya);

    sehingga banyak guru (saya yakin ibu dan teman2 di FH tidak termasuk) yang lebih suka mengambil jalan pintas untuk mendongkrak nilai siswa. para guru tsb jadi orang pragmatis, seolah tidak percaya pada proses yang dilakukannya untuk mendidik siswa, sehingga proses pendidikan rusak begitu saja di hari ujian...

    semoga ibu bisa istiqomah berjuang di bidang pendidikan, amiin

    BalasHapus
  2. hemm..Ini Ujuian tingkat SD atau SNU Bu,,ko udah pinter bener bikinn contekannya..:)

    BalasHapus
  3. Astaghfirullah,
    sedih, miris, ngenes, menyayangkan, pinginnya marah....
    Fakta yang mbak ungkapkan tersebut sesungguhnya seperti itulah potret kondisi pendidikan di Indonesia mbak. Tidak hanya SMA dan SMP saja tapi ternyata murid-murid SD sudah juga menjadi korban lingkaran setan sistem pendidikan di Indonesia. Sangat-sangat bobrok!!! Saya jg punya pengalaman jd tim independen 3 tahun lalu, hmpir sama kasusny.Satu lagi faktanya kondisi ini adalah sebuah konspirasi dan kejahatan terorganisir dalam dunia pendidikan. Hanya demi nama baik pejabat, wilayah dan sekolah, esensi pendidikan telah diabaikan, nurani guru telah digadaikan, anak murid dikorbankan, segala cara dihalalkan. Sungguh sangat-sangat biadab!!! Coba bayangkan apa jadinya jika kondisi seperti ini terus dibiarkan. Akankah kualitas pendidikan di Indonesia akan semakin maju??? Saya rasa kita smua tau jawabannya.

    BalasHapus
  4. masyaallah, ikut sedih& prihatin...speechless

    BalasHapus
  5. Assalamu'alaikum ayo semu coment, trs darimana pembenahan dimulai kalo tdk msk ke parlemen, apa rakyat kita dibodohi trs oleh kebodohan itu sendiri. Ws

    BalasHapus
  6. Astaghfirullah !!! ini kali ya akibatnya didikan yg berorientasi 'hasil' prosesnya jadi diabaikan terserah mau kaya' apa prosesnya, pokoknya 'hasil'.....veeery nice posting....

    BalasHapus
  7. Wah wah gak sd gak smp palagi sma sama saja..
    Hem...berapa susahnya 10 atau 20 tahun yang akan datang kita menemukan orang jujur...
    Ya mw gimana lagi,para pelajarnya aja gitu..
    90% ujian pada nyontek palagi klo ujian nasional mungkin lebih banyak...

    BalasHapus
  8. waduh..gawat nii...gmn mau maju ya..kira2...??

    BalasHapus
  9. Assalamu`alaikum ini anak sd nanda,anaknya sih pada pucat pasi tapi mereka telah dikondisikan, ini untuk ananda tahu demi memenuhi ambisi orang-orang dewasa yang diatasnya, supaya dianggap kerja profesional, kan kondite jadi baik. Selalu bersama do`a ibu,semoga dalam lindungan Allah SWT ws

    BalasHapus