Rabu, 31 Desember 2008
Pengajaran sosial kepada anak didik
Selasa, 23 Desember 2008
PERNYATAAN SIKAP TENTANG PERINGATAN HARI HAM SE-DUNIA DAN TOLAK BLOKADE TERHADAP JALUR GAZA
Sabtu, 20 Desember 2008
Guru....oh....guru
Seandainya guru d kasih tempat yg dihormati mgkin bangsa ini akan menjadi bangsa yg besar. Tapi guru hanya dipandang sebelah mata baik dr pemerintah,murid-murid,org tua ataupun penyelenggara pndidikan maupun masyrkt umum.
Kita lihat ilustrasi berikut. Ketika seorg anak ditanya,apa cita-citanya kalau sdh besar. Banyak anak yg menjawab jadi dokter,insinyur dsb. Jadi guru jarang, sebab guru dpandang sbg cita-cita yg kurang hebat dan tidak punya masa depan . Nanti tdk sejahtera, dsb padahal guru adalah adalah pembntuk peradaban. Tanpa guru semua tdk akan jadi apa-apa.
Ketika ditanya gaji seorang guru penyelenggara pndidikan dg ringan akan menetapkan angka 400 rb rupiah, sementara kebutuhan bisa jadi 5-10 kali lipat. Seorg guru pasti akan mncari peluang utk memenuhi kbtuhan hdpnya. Bgmn dia akan profesional?
Sebaliknya pernahkah guru dipikirkan perasaannya? Saya sbg guru sgt malu ketika org tua menganggap guru tdk profesional. Tdk pantas, tdk cocok, tdk bisa bekerja sama dsbnya embel-embel negatif lain.
Tolong dengar wahai slrh yg msh punya "rasa" kita ingin anak didik kita org yg paling "hebat",kalaupun anak didik kita itu berhsl kita guru ckp bangga walaupun dia dimana,tanpa tahu mantan gurunya, entah bgmn. Maka pd para org tua murid mari kita krj sama hrmonis dlm membntuk generasi tanpa "suuzhon". Sungguh kita guru sngt bahagia mendengar kesuksesan mrk. Bagi kita guru tdk ada mantan murid, tapi sblknya bg murid dan org tua adlh mantan guru.
Kemudian kita lihat juga pandangan anak didik terhadap guru. Sangat sedikit murid yang punya rasa hormat terhadap guru terlepas dari sikap gurunya. Oke kita tidak memungkiri ada guru yang hanya sekedar profesi,tapi tidak sedikit guru yang menganggap jadi guru adalah pengabdian yang tidak mengharap apa-apa dari muridnya. Kalau dilihat betapa banyak anak didik yang susah untuk dididik, barangkali menurut pandangan saya jangan-jangan ini disebabkan oleh karena guru tidak dihargai. Sebagai guru saya sangat mengharapkan untuk ada penghormatan kepada guru ,supaya negeri ini jangan kualat. Ini saja ,karena guru sangat berharap muridnya berhasil dunia akhirat. Bahagia sekali rasanya kalau bangsa ini berubah akibat guru didengarkan"
Saya membayangkan jika seandainya diantara murid-murid angkatan guru saya dulu berhasil dunia akhirat,artinya disamping cerdas intelektualnya juga cerdas spiritualnya,maka pasti koruptor,ataupun politisi yang tidak menyayangi bangsa dan negeri ini tidak banyak.Sekarang biarlah yang berlalu tetap berlalu,tapi yang akan datang generasi murid saya jangan terulang lagi . Kepada para guru mari kita "mendidik", jangan sekedar "mengajar"
Kemudian kepada para orang tua mari kita berbimbingan tangan untuk membentuk generasi. Kita jangan saling menyalahkan. Mari saling menghormati, guru kadang tidak membutuhkan uang dan materi tapi lebih membutuhkan aktualisasi diri, uang bisa dicari, tapi harga diri kemana membelinya?
Kepada pemerintah dan penyelenggara pendidikan, mari kita merenung , merenung dan sekali lagi merenungkan .Kembalikan guru kepada tempat asalnya, jadi jadikan lembaga pendidikan sebagai ajang jual beli ilmu. Kembalikan lembaga pendidikan sebagai tempat membentuk manusia seutuhnya, kembalikan seperti dulu pernah terjadi di zaman kakek nenek,jadi guru adalah kehormatan bukan profesi buangan. Perguruan Tinggi pembentuk guru tidak menerima sisa-sisa perguruan tinggi lain. Jadikan Perguruan Tinggi keguruan sebagai tujuan utama. Jangan pernah menerima mahasiswa keguruan lewat katabelece,ataupun program komersial. Ini harapan....harapan yang semoga didengarkan oleh yang punya hati nurani. Wassalam
Jumat, 12 Desember 2008
Kenapa?
Sebagai seorang pendidik saya terusik ketika membaca tulisan Bapak Ahmad Syafii Maaarif di harian Republika Selasa tanggal 23 Desember 2008 dalam rubrik resonansi khusus tentang hal berikut, " Nah, jika ada partai yang juga mengklaim diri sebagai partai da`wah, tetapi dipimpin oleh mereka yang belum teruji secara moral dan intelektual, tentu akan sulit diharapkan untuk menempatkan politik sebagai kendaraan da`wah. Pasti yang berlaku sebaliknya, pragmatisme politik kekuasaan akan lebih dominan, sedangkan tujuan da`wah untuk menegakan kejujuran, keadilan dan kebenaran secara berangsur akan dipinggirkan untuk kemudian diabaikan sama sekali. Maka jadilah partai itu tampil dalam kamuflase yang menipu para pemilih", demikian bagian terakhir tulisan itu.
Menurut saya sebagai simpatisan partai yang mengaku partai da`wah itu ada beberapa kata-kata yang mengiris hati saya :
1. Kata "dipimpin oleh mereka yang belum teruji secara moral dan intelektual", Apa maksudnya ? . Apakah orang yang bermoral itu kalangan tua yang selama ini saya memandang selalu berebut menjadi penguasa. Kalau tidak diangkat jadi pimpinan akan ada komplain sehingga KPU bingung serta biaya besar harus dikeluarkan lagi. Ada juga menimbulkan ketidakpastian seperti baru saja terjadi di pilkada Maluku Utara. Selain itu ada lagi kaum tua yang membuat statement yang membingungkan, seolah-olah kalau tidak mengeluarkan hal-hal yang aneh tidak meras jadi manusia. Beda dengan kepemimpinan partai yang ada di partai da`wah itu. Pimpin bukan memajukan diri untuk jadi pemimpin, tapi ditunjuk .
Saya pernah ditunjuk jadi caleg untuk 2 priode, tapi bukan saya yang minta. Jadi pemimpin itu sebuah amanah. Walaupun saya tidak akan memungkiri ada yang mau juga dengan menonjolkan dirinya. Pada akhirnya akan tetap pada aturan yang berlaku. Disini saya melihat bahwa moral mereka sangat teruji. Secara intelektual juga begitu cuma saja mereka umumnya sangat muda dalam usia. Apakah yang dimaksud teruji secara intelektual adalah orang yang sebenarnya telah gagal menyelesaikan permasalahan bangsa tapi maju lagi? Atau seperti mereka yang cukup dengan menulis saja di media,terus tidak mau mengaplikasikan ilmunya dengan berdarah dan berkeringat ?. Wallahu `alam, barangkali saya sangat awam dalam hal ini, namun saya punya hak untuk berpendapat.
2. Kata "partai itu" ,saya rasa ini hanya suatu suuzhon saja. Was-was mungkin jangan-jangan suatu saat partai da`wah tersebut menyamai Masyumi, padahal mungkin generasi kakek nenek mereka yang bersintuhan dengan Masyumi. Saya tidak tahu kenapa Bapak kita yang mulia ini bisa menuliskan hal tsb.
3. Untuk pendidikan politik, sebaiknya menurut saya tidak usah menunjuk tepat pada hidung partai tertentu. Mari kita meningkatkan atau bahkan sama-sama sharing.Wallahu `alam bissawab. Wassalam
My ideal school
Sbg seorang guru dlm fikiran saya terdapat sebuah impian,yaitu sekolah ideal.Sekolah ideal yang saya maksud adlah sekolah yg mampu menjadikan anak didiknya dewasa pada setiap aspek kemanusiaannya.
Rasulullah saw menjadi contoh dlm hal ini, berhsl mendidik Usamah bin Zaid putra Zaid bin Haritsah sehingga mampu menjadi panglima perang dlm usia yg relatif muda.
Kalau krn bukan pendidikan tdk mungkin Usamah bisa jadi dewasa baik fisik, intelektual maupun mental spiritual.
Menjadi panglima perang harus memenuhi syarat kedewasaan ketiga aspek tsb. Usamah berhasil dlm syarat ini, dewasa scr fisik walaupun usianya relatif muda. Dewasa inteluktualnya, tanpa hal ini seorang panglima tdk layak pd dirinya,sebab perang membutuhkan taktik strategi brilian. Begitu pun spiritualnya. Tanpa kedewasaan spiritual seorang semuda Usamah tdk akan mau mencari kesusahan dan kematian d medan perang.
Demikian obsesi saya,yg sgt mungkin diwujudkan dg mendirikan sebuah sekolah di perkampungan di alam yg msh perawan . Di tengah persawahan,mempunyai sungai dan didukung oleh sdm yg juga bersedia menjalani pendidikan sepanjang hayat.
Rasulullah SAW, dididik di lingkungan pedesaan. Dengan menggembalakan kambing. Ada beberapa ibrah yang bisa diambil di sini. Pendidikan diri Rasulullah adalah "tarbiyah Rabbaniyah" yang dapat kita laksanakan untuk zaman kiwari. Di perkampungan yang jauh di luar kota,artinya mempunyai udara yang dan lingkungan yang bersih ,tidak terkena polusi air,udara dan budaya. Dengan demikian Rasulullah SAW mempunyai bahasa yang bersih,dengan bahasa yang bersih akan mudah berkomunikasi dengan orang lain. Ilmu bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain. Untuk penemuan ilmiah justru dalam Islam tidak ada hak patennya asla bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif.
Kenapa gembala kambing? Agaknya semua orang tahu kambing adalah binatang yang susah dikendalikan. Dengan pendidikan ini ternyata dalam mendidik seorang bukanlah dengan memanjakan anak didik tapi mengajak anak didik untuk menyatu dengan alam dan bisa menundukan alam sehingga mendatangkan manfaat untuk seluruh alam . Juga bisa melatih kesabaran. Pendidikan butuh kesabaran,tanpa kesabaran pendidikan tidak dapat berlanjut sesuai dengan tujuannya. Jadi bukan pemaksaan kehendak tapi pelatihan untuk mengontrol kehendak.
Kemudian Rasulullah dididik di keluarga miskin tapi bersih aqidahnya. Bukan di keluarga terpandang. Fuondasi pendidikan Rasulullah SAW adalah pada Bunda Halimatussaadiyah jauh di luar kota. Bukan pada keluarga terpandang keluarga Abdul Muthalib, Dengan demikian Rasulullah tidak dilatih untuk sombong tapi dididik untuk rendah hati.
Wassalam
Kamis, 11 Desember 2008
Kincir air
Di minangkabau biasa dibuat kincir air yang multi fungsi. Untuk menumbuk padi dan menaikan air dari sungai ke sawah-sawah.
Teknologi murah dan ramah lingkungan. Kalau dikembangkan bisa menjadi objek wisata dan pendidikan.
Disamping untuk mengairi sawah bisa berfungsi untuk kolam ikan. Jika sebuah kincir setiap putarannya yang berlangsung 5 menit mengambil air di sungai 0.5 kubik itu ditampung di kolam penampungan yang difungsikan sebagai kolam ikan baru dialirkan ke sawah. Kalau dimodifikasi seorang teknisi bisa tetap mengalir tanpa bbm sedikitpun, kemudian kincir berputar oleh air. Air menaikan air sendiri tanpa istirahat dan tanpa bbm spektakuler bukan? Namun entah kenapa teknologi tidak dilirik. Kepada para insinyur tolong dikembangkan.
Kenapa teknologi ini saya katakam murah dan ramah lingkungan? Zaman ini kan bbm sulit, agaknya dalam perut bumi sudah tidak memadai lagi cadangan energi karena dikuras terus, maka menjadi mudah dan murah untuk memakai teknologi ini . Kemudian tidqak akan mengeluarkan asap karena air sendiri yang memutar kincirnya .Wassalam