Sebagai seorang pendidik saya terusik ketika membaca tulisan Bapak Ahmad Syafii Maaarif di harian Republika Selasa tanggal 23 Desember 2008 dalam rubrik resonansi khusus tentang hal berikut, " Nah, jika ada partai yang juga mengklaim diri sebagai partai da`wah, tetapi dipimpin oleh mereka yang belum teruji secara moral dan intelektual, tentu akan sulit diharapkan untuk menempatkan politik sebagai kendaraan da`wah. Pasti yang berlaku sebaliknya, pragmatisme politik kekuasaan akan lebih dominan, sedangkan tujuan da`wah untuk menegakan kejujuran, keadilan dan kebenaran secara berangsur akan dipinggirkan untuk kemudian diabaikan sama sekali. Maka jadilah partai itu tampil dalam kamuflase yang menipu para pemilih", demikian bagian terakhir tulisan itu.
Menurut saya sebagai simpatisan partai yang mengaku partai da`wah itu ada beberapa kata-kata yang mengiris hati saya :
1. Kata "dipimpin oleh mereka yang belum teruji secara moral dan intelektual", Apa maksudnya ? . Apakah orang yang bermoral itu kalangan tua yang selama ini saya memandang selalu berebut menjadi penguasa. Kalau tidak diangkat jadi pimpinan akan ada komplain sehingga KPU bingung serta biaya besar harus dikeluarkan lagi. Ada juga menimbulkan ketidakpastian seperti baru saja terjadi di pilkada Maluku Utara. Selain itu ada lagi kaum tua yang membuat statement yang membingungkan, seolah-olah kalau tidak mengeluarkan hal-hal yang aneh tidak meras jadi manusia. Beda dengan kepemimpinan partai yang ada di partai da`wah itu. Pimpin bukan memajukan diri untuk jadi pemimpin, tapi ditunjuk .
Saya pernah ditunjuk jadi caleg untuk 2 priode, tapi bukan saya yang minta. Jadi pemimpin itu sebuah amanah. Walaupun saya tidak akan memungkiri ada yang mau juga dengan menonjolkan dirinya. Pada akhirnya akan tetap pada aturan yang berlaku. Disini saya melihat bahwa moral mereka sangat teruji. Secara intelektual juga begitu cuma saja mereka umumnya sangat muda dalam usia. Apakah yang dimaksud teruji secara intelektual adalah orang yang sebenarnya telah gagal menyelesaikan permasalahan bangsa tapi maju lagi? Atau seperti mereka yang cukup dengan menulis saja di media,terus tidak mau mengaplikasikan ilmunya dengan berdarah dan berkeringat ?. Wallahu `alam, barangkali saya sangat awam dalam hal ini, namun saya punya hak untuk berpendapat.
2. Kata "partai itu" ,saya rasa ini hanya suatu suuzhon saja. Was-was mungkin jangan-jangan suatu saat partai da`wah tersebut menyamai Masyumi, padahal mungkin generasi kakek nenek mereka yang bersintuhan dengan Masyumi. Saya tidak tahu kenapa Bapak kita yang mulia ini bisa menuliskan hal tsb.
3. Untuk pendidikan politik, sebaiknya menurut saya tidak usah menunjuk tepat pada hidung partai tertentu. Mari kita meningkatkan atau bahkan sama-sama sharing.Wallahu `alam bissawab. Wassalam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar