Senin, 29 November 2010

Rendang Ke Mentawai

Sumbar | Senin, 22/11/2010 10:28 WIB

PKPU Kirim 1, 5 Ton Rendang ke Mentawai

Husnal Hayati - Padang Today

klik untuk melihat foto
Rendang.

Selain terus mengirimkan relawan, bantuan  makanan dan obat-obatan, PKPU Padang juga mengirimkan 1,5 ton rendang ke Kabupaten Mentawai.

Rendang yang menjadi makanan khas masyarakat Ranah Minang ini, akan dibagikan kepada para korban gempa dan tsunami di daerah kepulauan itu.

Kepala Bidang Pendayagunaan PKPU Padang Dedi Abdul Kadir mengungkapkan, untuk memasak rendang sebanyak itu, menghabiskan waktu tiga hari tiga malam dengan melibatkan sekitar 15 orang tukang masak, dibantu dengan pemeras kelapa dan pengepakan.

“Semua itu dikerjakan relawan PKPU bekerja sama dengan ibu-ibu di Sungai Sapih Padang, yang memang sudah ahli memasak rendang dalam jumlah banyak. Bahkan ada juga masyarakat sekitar lokasi sukarela membantu begitu mengetahui rendang ini untuk masyarakat korban bencana,” paparnya.

Bantuan dalam bentuk rendang ini menurut Dedi, selain siap saji untuk dikonsumsi masyarakat, juga tidak memberatkan.

"Jika bantuan dalam bentuk hewan ternak dikirimkan, justru menyulitkan sebagian masyarakat untuk memasaknya. Sebab, pascatsunami tidak semua masyarakat memiliki kelengkapan alat memasak, termasuk kesulitan mencari bumbu masaknya," jelasnya.(*)

SUMBER : http://www.padang-today.com/?today=news&id=23170

Jumat, 26 November 2010

Fajar Hidayah? Insya Allah tidak pernah dan tidak akan pernah injak Al Qur`an

Ratusan Orang Serang Pesantren Anak Yatim

Sabtu, 27 November 2010 - 03:58 wib
Salman Mardira - Okezone
Ilustrasi (Foto: Koran Sindo)

BANDA ACEH - Ratusan orang menyerang Pondok Pesantren terpadu Fajar Hidayah di Desa Cot Mon Raya, Kecamatan Lhok Nga, Kabupaten Aceh Besar.
 
Tak ada korban jiwa dalam peristiwa Jumat (26/11/2010) malam itu. Namun, sebagian besar bangunan yang dihuni lebih 200 anak yatim itu rusak dan seorang santri luka terkena serpihan kaca.
 
Informasi dihimpun okezone di lokasi kejadian, penyerangan terjadi saat para santri sedang bersiap melaksanakan Salat Isya.
 
Massa bersenjata balok dan batu masuk ke komplek pondok setelah merobohkan pagar samping dan menghancurkan kaca dinding serta sejumlah mobiler yang ada di pesantren itu. Para santri dan guru sontak panik dan menyelamatkan diri ke lantai dua.
Seorang santri yang belum diketahui identitasnya terluka akibat terkena serpihan kaca yang dipecahkan massa.
 
Belum diketahui motif penyerangan tersebut. Diduga aksi itu terjadi karena warga terprovokasi dengan isu yang beredar melalui SMS bahwa di pesantren itu ada aksi menginjak potongan ayat-ayat Alquran yang dilakukan dalam pelatihan fahmul Quran terhadap 800 guru se-Aceh yang berlangsung dalam tiga hari ini di sana.
 
Sore sebelum kejadian, sejumlah warga sekitar (Cot Mon Raya) mendatangi pesantren Fajar Hidayah, menanyakan isu yang beredar itu.
 
Perwakilan warga, Muspika Kecamatan dan pihak pesantren kemudian berembuk. Warga pun bubar setelah mendapat penjelasan bahwa isu itu tak benar.
 
Tanpa diduga, malamnya penyerangan dilakukan massa secara brutal terjadi. Keusyik (Kepala Desa) Cot Mon Raya, Rusli mengatakan, penyerangan itu tak dilakukan oleh warganya.
 
“Warga kami sudah paham, karena sudah mendapat penjelasan. Itu massa bukan warga sini, itu warga lain, mereka seperti ada yang memprovokasi,” kata dia.
 
“Kami tidak melihat mereka datang, tiba-tiba sudah kejadian. Mereka tidak terlihat karena beraksi dalam gelap, sepertinya menggunakan kayu dan batu,” tambah Rusli.
 
Buntut dari penyerangan, semua santri dan peserta pelatihan di pesantren itu diungsikan ke Dayah (Pesantren) lain terdekat, sebagian ditampung di rumah-rumah warga, untuk menghindari serangan susulan. TNI dan Polisi mengamankan lokasi kejadian.
 
Pemimpin Yayasan Fajar Hidayah, Mirdas Ekayora mengatakan, pihaknya tak pernah melakukan aksi menginjak ayat Al Quran. “Itu sangat tidak benar, itu semua ada kesalahpahaman,” ujarnya.
 
Menurutnya, tulisan yang berserakan itu merupakan tulisan kosakata bahasa Arab, hasil dari game mengenal bahasa Arab untuk guru peserta pelatihan fahmul Quran.
 
“Itu tulisan Arab, bukan ayat Alquran. Itu bagian dari game kartu yang dikemas dalam tajwid, kemudian diartikan dalam bahasa Inggris. Tidak ada sama sekali niat kami menulis ayat-ayat Alquran, tapi itu hanya huruf Arab yang mungkin tulisannya mirip seperti di Quran, jadi inilah yang salah dipahamkan,” jelas Mirdas.
 
Sementara Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Armensyah Thay mengatakan, pihaknya mulai melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab penyerangan.
 
“Akan kita panggil beberapa saksi untuk dimintai keterangan,” sebut dia. “Hingga malam ini belum ada yang kita jadikan tersangka, tunggu penyelidikan dulu,” sambungnya.
 
Pasantren Fajar Hidayah di Aceh dibangun pada 2006 atas bantuan Singapura, menampung anak yatim korban tsunami, konflik dan dari keluarga miskin di Aceh.
(lam)

sumber : http://news.okezone.com/read/2010/11/27/340/397616/ratusan-orang-serang-pesantren-anak-yatim

Rabu, 03 November 2010

Allahuakbar! Masjid tak Tersentuh Tsunami, 50 Orang Selamat

Ricco Mahmudi - Padang Ekspres


klik untuk melihat foto
Foto udara keadaan lokasi yang
terkena dampak gempa tsunami
dari helikopter M17 milik
TNI AD di Eru Paraboat,
Kepulauan Mentawai, Sumatera
Barat, Senin (1/11). Foto:
RAKA DENNY/JAWAPOS
Naga tsunami membelah Bumi Sikerei di keheningan malam nan mencekam. Kehadirannya yang tak diundang itu telah memupuskan harapan penghuni pesisir pantai Dusun Pasa Puat, Kecamatan Pagai Utara. Saat semuanya hancur, sebuah masjid menatap pantai berdiri kokoh.


Pagi itu, sekitar pukul 10.00 WIB, langit Sikakap tampak mendung. Di luar rumah tanah tampak lanyah. Pepohonan dan rerumputan masih basah setelah diguyur hujan deras sepanjang malam. Sebentar lagi, sepertinya hujan deras bakal turun. Ya, membasuh duka Bumi Sikerei. 

Di luar rumah, bau mayat menyengat. Aroma tak sedap menebar ditiup angin. Memang, hingga Jumat (29/10), mayat masih bergelimpangan di pinggir jalan. Pikiran saya langsung terbayang ratusan warga Pagai Selatan yang bertahan di perbukitan, dalam kondisi hujan badai. Selain menahan lapar, dinginnya malam, mereka harus melawan penyakit yang kini menyerang.    

Ternyata benar. Hujan deras mengguyur Sikakap. Tak hanya hujan, tapi juga badai. Di posko utama, para jurnalis dan relawan telah ber¬kum¬pul. Seperti biasa, setiap pagi kami siap-siap menyisir desa terpencil yang belum terjamah bantuan. Pagi itu, tim relawan dan jurnalis hendak menuju Dusun Pasa Puat di Pagai Utara. Dusun itu, semua rumah hancur. Mujur, tidak ada korban jiwa.

Perjalanan menggunakan kapal kayu atau long boat. Kapal itu mampu memuat 12 orang dan sedikit logistik untuk pengungsi. Berapa menit berlayar, gelombang dua meter menghadang. Pelayaran pun dihentikan. Setelah menunggu sekitar satu jam, boat yang dinakhodai Dayat itu dilanjutkan selama dua jam pelayaran. Sepanjang perjalanan, boat nyaris karam karena dipenuhi air. Kami sampai di tujuan sekitar pukul 17.00 WIB.

Dari pantai, Dusun Pasa Puat sunyi senyap. Sedikit pun tidak terlihat tanda-tanda seperti sebuah kampung. Permukiman penduduk rata dengan tanah. Tak satu pun rumah warga yang berdiri. Semua tiarap. Hanya ada satu bangunan berdiri kokoh menghadap pantai. Ya, sebuah masjid. Garin masjid itu juga selamat. Zulfikar namanya.
Hari beranjak senja. Hujan belum juga reda. Zulfkar tampak bersiap menunaikan Shalat Maghrib. Dalam obrolannya, pria berusia 40 tahun itu mengaku telah tingal di dusun itu sejak kecil. Sama dengan usia masjid itu yang berdiri sekitar tahun 1960 silam. "Ini masjid tertua di dusun kami. Bentuk masjid itu sudah tidak asli lagi, karena terus diperbaiki," ujar Zulfikar.

Zulfikar menceritakan, masjid ini sama sekali tidak tersentuh tsunami pada malam itu. Padahal, lokasinya tidak jauh dari pantai. Sedangkan rumah-rumah warga di sekitar masjid, rata dengan tanah. Masjid inilah yang menjadi tempat perlindungan masyarakat saat gelombang besar datang.

Seperti mukjizat, air laut hanya sampai di teras masjid. D luar masjid, Zulfikar melihat dengan mata kepala sendiri gelombang tsunami mencapai delapan meter. "Kami dalam masjid ada sekitar 50 orang, sedangkan warga yang lain telah menyelamatkan diri ke perbukitan yang berjarak satu kilometer dari masjid. Melihat masjid tidak kena sama sekali, kami merasa heran. Setelah itu kami sadar ini adalah kehendak Tuhan," jelas pria berjenggot itu.

Zulfikar dan 50 warga lainnya tidak henti-henti mengucap kebesaran Allah. Di luar masjid, tsunami terus menerjang sebanyak tiga gelombang. Tiada yang menduga, tsunami menghindar dari masjid. "Sepertinya, di masjid air terbelah, sehingga lantai masjid pun tidak basah sama sekali," kenangnya. (*)
SUMBER : http://padang-today.com/?today=feature&id=368http://padang-today.com/?today=feature&id=368http://padang-today.com/?today=feature&id=368