Bagi ummi keluarga bukanlah keluarga
besar sebab saya sendiri bersaudara 5 orang, abi juga 5 orang bahkan adik-adik
ummi tidak ada yang mempunyai anak 4 orang semuanya diatas 5, Tek Win anaknya 8
orang meninggal satu orang yaitu adik Marwan Hadid dalam usia 4 bulan kalau
tidak salah di tahun 1996 karena kebocoran jantung dan bibir sumbing. Kemudian
baru tahun 1997 baru lahir Abdul Latif, berturut-turut Ali Muzakkir, Nida ul
Khair, Ahmad Azhari, Aida Fitri, Wazna, dan adik Afif.
Mak Bal mempunyai
6 anak, si bungsu kembar laki dan perempuan lahir meninggal, diatasnya Farid,
Faim, Sabila dan Dini. Dari ke 4 anak Mak Bal
2 pasang sudah kuliah dua orang lulus SNMPTN tapi jangan sombong ya.
Kenapa? Dini pernah bilang waktu lebaran 2017 mengunjunginya di Kurai Taji
“Dini kan kuliah jadi tidak sempat untuk rapi-rapi”. Memang kak Arina belum
kuliah untuk saat ini.
Mak Mun mempunyai
7 anak, Haris, Fairus, Azizah, Assyifa, Ibrahim, bungsu tidak jadi Luqman dan
adik lucu Muthia. 7 orang memang sekarang kebanyakan tapi kalau sudah
besar-besar terasa juga kesepian. Jangan pernah merasa punya anak banyak ya Mak
mun, pasti semuanya akan membahagiakan kalau semua kita didik dengan benar,
sabar dan mari sama-sama memikirkan dan saling mengasih masukan.
Terakhir adik
bungsu ummi Mak Man mempunyai 6 orang anak dan hanya satu perempuan, Diah.
Pesan Mak Dang hati-hati menempuh dunia ini, engkau baru akan memasuki dunia
maka perlu ketenangan. Sesudah Diah, adiknya Hamzah, Abbas, Ja`far, Khalid,
Umair.
Bani Husni Rivai
ini selain yang meninggal adalah 28 orang dan ummi arus terlibat membesarkan
mereka setidaknya mengasih masukan kepada adik-adik ummi sebagai orang tua
mereka ini. Dari 28 orang ini ada beberapa yang menonjol yang harus mempunyai
perhatian ekstra yakni Azhari dan Ja`far. Sepertinya dua anak ini cerdas sekali
dan idenya bermacam-macam terutama untuk berbuat usil. Dan Abbas merupakan anak
yang tenang tapi sensitive dan juga penurut. Ke 3 anak ini di mata
ummi sangat
istimewa kalian sebagai kakak harus punya perhatian lebih kepada mereka.
Sekarang ummi
membahas kalian satu persatu. Mulai dari Miqdad Ramadhan. Kenapa? Diantara 28
orang itu antum laki-laki tertua. Walaupun ada 2 kakak namun agama meletakan
beban yang cukup berat kepada anak laki-laki. Banyak persolan di keluarga kita
yang mau tidak mau antum harus terlibat, mencarikan pemecahan masalah, di
samping masalah ummat juga harus antum pecahkan.
Ummi tahu berat
beban antum, namun ummi abi tetap akan berbagi dengan antum mulai dari masalah
perjodohan kakak-kakak dan adik antum, masalah sepupu antum dan juga masalah
ummat. Allah SWT memilih antum sebagai kader dakwah, memilih antum menjadi
Presma yang sebenarnya ummi tidak berharap sama sekali tapi Allah SWT telah
memilih antum berarti antum sanggup. Masukan ummi kepada antum, antum arus
lebih kuat maknawinya dengan demikian interaksi antum dengan Allah harus
semakin erat. Kemudian tidak kalah pentingnya adalah berkaitan dengan masalah
komunikasi. Rasulullah saw kalau bicara dia akan putar badannya kea rah lawan
bicara, supaya memperhatikan lawan bicara, Ini sikap yang harus antum pegang.
Selain itu antum harus mengembalikan kelumbutan hati antum sebagimana di masa
anak-anak.
Berbeda dengan anak ketiga ummi lahir hari Ahad tanggal 5
Ramadhan 1415 H pukul 12.45 bertepatan dengan 5 Februari 1995. Dengan bantuan
Lili di Srigunting, sama beratnya dengan kakak, 3200 gram panjang 50 cm.
Kelahiran disaksikan kakaknya di balik jendela yang lupa ditutup karena sudah
keburu lahir.
Anak laki-laki satu-satunya disebut
adik “puta” oleh kakak mungkin
maksudnya adik putra. Di tahun 1995 ini sungguh suatu perjuangan hidup yang
berat. Abi bekerja serabutan tapi di tahun 1996 masuk ke Adzkia sebagai OB.
Alhamdulillah dengan bekerja di 3 tempat pagi sebelum Subuh di SAGA uda
Syafruddin Karimi dan di SMK.
Abang Miqdad ini disebut atuk tua
mirip sekali dengan atua ndut ketika masih bayinya. Sayang tahun 1996 tepat 1
tahun umur abang atuk tua wafat, dalam usia 83 tahun.
Tk dan SD sampai kelas 6 di Adzkia,
sebenarnya semua bakat dan keterampilan Miqdad tidak terlalu berkembang setelah
pindah. Tadinya prestasi akademis anak-anak berkembang baik tapi menjadi mundur
di Fajar Hidayah mungkin penyesuaian ataupun mungkin lingkungan yang berbeda.
Teman-teman di Padang terseleksi tapi sesampai di Jakarta seperti masuk hutan
sempat tersasar.
Akhirnya abang tamat SMA dengan mulus
dan dengan mengambil bidik missi kuliah di Teknik Mesin UNJ. Alhamdulillah
sekarang sudah tahun-tahun akhir dan baru saja terpilih jadi Ketua BEM UNJ.
Kemudian
Fadhilah, anak tertua ummi yang bagi ummi punya keberatan khusus untuk ummi
untuk berjauhan denganmu. Bagi ummi antum ditunjuk Allah SWT sebagai pembuka
jalan “tarbiyah” buat adik-adikmu, Sedikit banyak karena antumlah tarbiyah
berjalan itu berjalan. Harus diingat itu maka kelembutan hatimu harus dijaga
dan di samping itu harus lebih lincah dari biasa karena beban lebih banyak dari
waktu yang tersedia.
Anak pertama Fadhilatunnisa lahir tanggal 9 Rajab 1411 H
bertepatan dengan 24 Februari 1991 pukul 02.40. 50 hari sebelum Ramadhan.Lahir
di rumah andung di Singguling bersama bidan Tek Yen. Tengah malam hari Kamis
ummi merasa sakit yang teramat sangat tapi masih lama. Besok siangnya semua
bersiap-siap andung dana bi sudah mempersiapkan semua bakal persalinan. Jumat
malam sudah semakin sering sakitnya.
Jauh sebelum subuh hari Ahad lahirlah
anak ummi pertama diberi nama Fadhilatunnisa. Kelahiran yang menurut
orang-orang sangat mulus. Walaupun menurut ummi kesakitan yang amat sangat dan
lama. Tek Yen bilang anaknya cantik kulitnya mulus dengan mata lebar dan bulat.
Sangat cantik memang waktu itu dengan berat 320 gram dan panjang 49 cm sungguh
membahagiakan semua yang hadir.
Diberi nama Fadhilah karena waktu itu
sedang berlangsung kasus jilbab beracun yang didugakan kepada ibu Fadhilah
sampai ke pengadilan dan ummi tidak terlalu mengikuti beritanya. Yang jelas
kalau berpakaian muslimah di masa itu sungguh perjuangan yang berat.
Melaksanakan syariat yang satu ini menimbulkan kegegeran di seantero Indonesia.
Kakak Fadhilah ini orangnya sensitif suka menangis. Kalau
dimarahi ummi pasti menangis kencang. Dia penyayang dan momong mungkin karena
anak tertua. Punya 3 adik dan sepupu yang banyaknya sekarang sudah 27 orang
dari pihak ummi. Jadi kepala dari sekian banyak cucu atuk Ndut (Husni Riva`i).
Waktu anak-anaknya Fadhilah adalah
anak yang tegas tapi suka pakai minimalis d rumah karena memang sudah besar
badannya. Tidak suka panas, sering sakit-sakitan dan setiap bulan sering ke
rumah sakit.
TK di Adzkia selama setahun, sampai
akhirnya pindah ke Belimbing. Di Belimbing TK di Qurrata `Ayun. Gurunya bu Evi
Sastri dan sebagian sudah lupa.
Masuk SD di SDN 03 Belimbing, pernah
dicubit gurunya yang kebetulan tetangga kami tapi berbekas sekali. Dibilang suka
main lagi belajar mungkin sama dengan ummi memasuki SD itu belum terlalu
memperhatikan pelajaran.
Kelas 2 pindah ke Adzkia, bersama
Annisa. Tetap di kelas 2 juga dan Annisa di kelas 1. Mulailah ummi memikirkan
sekolah untuk anak-anak ke depan dengan ekonomi yang boleh dibilang jauh dari
cukup ummi menebalkan telinga untuk tetap bersekolah di SDIT yang dipelesetkan
“Sekolah Dasar Islam Termahal” bagaimana lagi ingin yang terbaik untuk anak-anak.
Walaupun dengan memaksakan diri sering disindir tapi ummi cuek saja, yang jelas
pendidikan dasar yang terbaik lah, justru karena tidak mampu. Akhirnya Fadhilah
tamat SD Adzkia di tahun 2003.
Pendidikan selanjutnya di MTSn Gunung
Pangilun, selama 3 tahun, tamat di tahun 2006. Mau melanjutkan SMA sudah lulus
di MAN Gunung Pangilun dan SMA 3 Padang sebagai cadangan tinggal menyediakan
uang masuk. Di MAN Rp 1,5 jt dan di SMA Rp 3 jt. Ke mana akan kami cari?
Akhirnya nasib membawa kami ke Kota
Wisata Fadhilah masuk SMA Fajar Hidayah setelah 2 bulan tidak sekolah 24
Agustus 2006 kami baru resmi jadi warga Fajar Hidayah setelah 20 hari belum
tahu nasibnya bagaimana. Sekarang Fadhilah sudah tamat menjadi Sarjana Sastra
UNJ Rawamangun.
Sempat tidak lulus UN akhirnya kak
Fadhilah kuliah di UNJ di tahun ke 3. Walaupun tidak lulus kakak masih
menyempatkan diri untuk coba tes dan keterima di Teknik Elektro tapi tidak jadi
diambil karena memakai ijazah paket C.
Tentang ijazah paket C ketahuan sekali
bahwa ijazah itu tidak membawa izzah bagi penerimanya. Ujiannya kebetulan
bareng dengan siswa IPS dan dikasih jawaban oleh pengawas, apa itu tidak gila?
Banyak catatan ummi dalam perjalanan
hidup kakak Fadhilah. Entah kenapa kakak Fadhilah ini hemat sekali dalam jajan.
Waktu SD dikasih jajan tiap hari Rp 4000.00 sekalian ongkos yang waktu itu. Dia
tidak suka jajan sekali-kali dia jajan Rp 1000,00 dan bisa dapat keripik
singkong pedas Rp 250, 00 lumayan dapat 4 bungkus.
Suatu kali dia pulang sekolah cerita
ke ummi bahwa dia dicurigai mengambil uang temannya. Karena itu pasalnya beli
keripik sekalian 4 buah dan makan sedikit-sedikit sehingga lama maka dikira
banyak jajan. Berkali-kali ustadzah menanyakan jajan sampai ke ummi juga
ditanyakan kenapa Fadhilah jajannya banyak. Belakangan diketahui Fadhilah tahu
temannya yang laki-laki yang mengambil uang tersebut, tapi kakak Fadhilah sudah
kadung mencatat hal itu jauh di lubuk hatinya.
Hal yang sama terjadi waktu di SMA.
Berkali-kali teman dan bu Kepala Sekolah menanyakan hal sama. Yang hilang
adalah uang hasil “business day”
besar juga kira-kira Rp.300.000, 00 lebih. Belakangan juga diketahui adalah
temannya yang anak orang bea cukai cukup berada anaknya yang mengambil, di sini
kita harus berhati-hati orang yang tidak punya tidak semuanya yang hijau
matanya melihat uang. Bagi ummi ini merupakan catatan tersendiri.

Anak kedua ummi
Annisa, sifat keras kepalanya arus ummi akui itu ummi banget, Seperti itulah
ummi di masa remaja keras kepala dan keras hati, sedikit tertutup namun kita harus
menyesuaikan keadaan, Nak, bagaimana pun kalian anak ummi, ummi sangat
mengharapkan do`a-doa dari kalian. Maka rancanglah masa depat yang luar biasa.
Ummi dulu sering mendapat hinaan dari orang-orang dekat ummi dan kalian
diharapkan bisa menjawab tantangan zaman itu dengan keberhasilan dunia dan
akhirat. Jadilah shalihah yang membahgiakan dunia dan akirat.
Anak kedua ummi lahir setelah tengah malam ummi sakit. Kata
abi tahanlah dulu sampai subuh. Tapi sebelum subuh hampir-hampir sudah
tertahankan lagi. Akhirnya abi menjemput andung yang kebetulan menginap di
rumah andung abi rumah ibunya andung yaitu Mak Po. Maksud hati abi langsung
membawa Tek Yen bidan. Tapi ternyata Tek Yen tidak di mudik. Abi berlari ke
Koto Buruk menjemput Tek Yen tapi Tek Yen lagi membantu persalinan juga di
tempat prakteknya di Koto Buruk.
Dengan dipapah abi ummi berjalan ke
Koto Buruk setelah menitip kakak Fadhilah sama andung. Kakak Fadhilah baru
berusia 2 tahun tapi sudah pintar berkata-kata dan berlari. Di dunia
Internasional Bosnia lagi bergolak. Abi bilang coba bagaimana keadaan saudara
kita di Bosnia, hal ini menguatkan ummi walaupun keadaan gelap karena tidak ada
penerangan jalan tidak ada. Jalannya pun berlubang sungguh dirasakan sebagai
perjuangan yang berat. Kebetulan lewat truk yang mengambil batu di Batang Anai.
Alhamdulillah ada penerangandari truk tersebut.
Begitu sampai di tempat bidan ternyata
ada baru saja lahiran. Terpaksa ummi nunggu dibereskan sebentar. Tidak sampai 5
menit tapi rasanya lama sekali begitu naik ke bad bersalin langsung terdengar
tangisan anak kedua ummi yaitu Annisa. Kelahiran yang menurut orang yang
melahirkan sebelumnya kalau seperti lahir punya anak 10 juga tidak apa-apa
padahal melahirkan bukan hal yang gampang saja. Siapa ya yang lahirnya
berbarengan dengan Annisa? Ingat ummi anaknya laki-laki. Hari itu Sabtu, pukul
06.00 masih gelap di Lubuk Alung 10 Rajab 1413 H bertepatan dengan 23 Januari
1993. Annisa lahir dengan berat 4000 gram panjang 50 cm.
Melalui tahun 1993 merupakan hal yang
berat. Pekerjaan abi masih belum punya pekerjaan yang tetap. Mak Po
sakit-sakitan, Annisa umur beberapa
bulan Mak Po meninggal. Semoga mendapat tempat yang layak di sisiNya.Amin.
Annisa TK di Qurrata `Ayun. Keunikan
Annisa adalah dia tidak akan ngomong apa-apa kalua sesuatu terjadi. Pernah
sepulang sekolah TK di Jl Jeruk, lama sekali pulangnya setelah ummi cari waauu
ada sesuatu di balik pempersnya, rupanya sudah tidak tahan buang air besar maka
dia berdiri saja di persimpangan jalan.
Annisa ini keras hati dan jarang
menangis, tapi kemauannya kuat serta ngambekan. Sulit untuk berbalik lagi
setelah ngambek. Selain itu orangnya juga suka senyum bahkan oleh Era disebut
Annisa matanya sudah senyum dulu sebelum senyum yang sebenarnya
Setelah TK, ummi masukan kakak ke SD
Adzkia dengan proses yang berbelit-belit. Sepertinya ada keberatan menerima
anak-anak ummi tapi ummi menahan saja seperti tidak ada masalah.
Lulus SD di tahun
2004 Annisa ummi masukan ke Perguruan Ar-Risalah di Solok. Sama dengan di
Adzkia ummi acuh saja mengenai masalah biaya. Ternyata ust Irsyad mencarikan
orang tua asuh yaitu Bapak dari Atlantis ummi lupa namanya semoga diberkahi
oleh Allah SWT. Sebelumnya untuk masuk ke Arrisalah dibantu oleh seorang dokter
yang rumahnya di Padang Baru atas koneksi teacher
Wel. Alhamdulillah bisa masuk Arrisalah. Setelah tahun ke dua abi meminta
untuk merubah jalan hidup, sehingga kami sekeluarga hijrah dan terdampar di
Fajar Hidayah.
Ummi pernah dipanggil ust karena dibilang Annisa mengambil
uang temannya, setelah ummi tanya hal itu tidak terjadi. Masalahnya adalah
Annisa memakai kerudung temannya ternyata temannya yang mengasih sendiri hal
ini ummi tanya teman tersebut ke teman yang bersangkutan. Kenapa ya anak-anak
ummi menemui masalah yang sama.
Sebelum berangkat ke Jakarta Annisa dijemput ke Arrisalah
yang sudah pindah ke Air Dingin Lubuk Minturun. Lama baru bisa diambil ada
perpisahan dengan teman-teman dan ustadzah semua sampai bengkak mata semua. Dan
kita pulang ke Belimbing naik becak motor abi dengan perasaan berkecamuk. Berat
sekali meninggalkan rumah dan kota Padang.
Kakak masuk ke kelas 9 di SMP Fajar Hidayah rasanya ada
penyesalan membawa kakak ke Jakarta tapi bagaimana lagi kalua tidak dibawa
mungkin kami tidak bisa menjenguk dan tidak bisa mengasih belanja juga.
Tamat SMA berbarengan dengan kakak Fadhilah yang mengulang
lagi UNnya. Annisa mendapat plakat siswa teladan. Karena tidak langsung ditulis
akhirnya yang tertulis adalah nama siswa lain. Sempat menganggur dulu baru ikut
tes SNMPTN hal ini karena rencana kakak akan ke Al Azhar dan sudah dibuat
paspor dan sudah persiapan kesehatan, dan sebagainya tapi tidak pernah
dipanggil oleh kedutaan Mesir. Akhirnya setelah Arab Spring Mesir juga tidak
aman, akhirnya kakak diputuskan tidak usah ke Mesir.
Menunggu ke Malaysia tapi juga tidak nasib, bareng kak
Fadhilah sama-sama tes di UNJ kak Fadhilah lulus di sastra Indonesia dan kak
Annisa lulus di Tekhnik Elektronika. Tapi karena tidak cukup dana tahun
depannya kakak tes lagi dan lulus di FPBS jurusan Pendidikan Bahasa Jepang dan
sekarang dalam tahap penyelesaian,

Anak ke
4 lahir hari Jum`at sore pukul 16.30 tanggal 1 Ramadhan 1417 H bertepatan
dengan 10 Januari 1997. Dibantu Lili di Belimbing dekat pasar rumah ust Syofwan
alm. Kelahiran Arina mulus tanpa hambatan apa-apa. Alhamdulillah
TK di dan SD di Buah Hati Air Tawar
sampai kelas 4. Pindah ke Fajar Hidayah di kelas 4 Damascus dengan bu Endang
Indriyani. Pada awalnya merupakan masa-masa yang sulit bagi Arina, di Padang
baru merasakan punya teman. Temannya Izzah, Qotrinnada, Rif`ati dan Na`imah
yang masih teringat.
SD, SMP, dan SMA Fajar Hidayah
sekarang Arina mempersiapkan diri untuk kuliah masih belum lulus. Mudah-mudahan
tahun depan bisa mendapatkan kuliah yang diminati.
Arina walaupun kelihatannya merupakan
anak yang pemarah sebenarnya dia penyayang. Selalu dia yang mengingatkan dan
mengatur belanja sepupunya yang bersama kita. Dia yang menyiapkan makan Haris
dan Abdul Latif selama bersama kita. Dia tegas dan perhitungan keuangannya
jelimet sekali. Mudah-mudahan cita-citanya menjadi pengusaha berhasil
Kemudian bungsu
ummi, yang juga keras hati. Sangat sedih hati ummi ketika kelulusan di PTN
ditunda oleh Allah SWT, walaupun untuk kuliah hanya abang yang mulus masuknya, semua
kakak juga kuliah tahun ke-3 setelah SMA, namun untuk bungsu ini sepertinya
mendebarkan sekali. Ummi takut kalau sampai antum tidak kuliah. Takut tidak
bisa membekali kehidupan kelak yang semakin hari semakin sulit. Namun hal itu
antum lalui dengan tekad, ummi abi salut. Bahkan ummi sudah sangat pasrah hanya
bisa mengantarmu untuk menjalani kehidupan hanya sampai tamat SMA. Hal itu
berakhir ketika antum bisa melalui dengan tekad kuat. Alhamdulillah sekarang
harapan ummi untu sekuat daya mengantarkan kalian ke jenjang pendidikan
tertinggi. Berjuanglah anak-anakku, Insyaa Allah ummi abi selalu berdo`a.
Arina
merupakan anak yang trampil tangannya, membuat kerajinan dia bisa, melukis
juga. Memasak juga dan selalu bereksperimen. Namun agak moody sehingga kalu minta tolong membuatkan sesuatu kadang dia suka
marah tapi kalau ummi tidak mengacuhkan hal tersebut. Nanti juga akan selesai
sendiri.
Keempat anak itu mempunyai karakter
yang berbeda kalua mereka bareng di rumah pasti heboh. Tapi kalau lagi tidak
kumpul akan sepi sekali. Anak-anakku sholeh dan sholehah bawa ummi abi ke
syorga ya. Amin
Wassalam