Jumat, 31 Desember 2010

tahun baru?

lihat d tv, prtnjukan kembang api spektakuler dg biaya milyaran dollar, pikir sy coba kalo dialihkan k gaza, mgkn gaza sdh maju skali tapi itu kan pikiran sy, trs trkait hal ini, apa ya pertanyaan malaikat?

tahun baru

lihat di tivi, ada pertunjukan kembang api yg spektakuler di dubai, kataku dlm hati, bgmn kalau dana jutaan dollar yg difoya2kan itu dialihkan k gaza, terus apa pertanyaan malaikat nanti terkait hal ini ya?

Senin, 06 Desember 2010

jalan sehat gubernur

Sambut Tahun Baru, Gubernur Pilih Jalan Sehat dengan Warga
Erna Mardiana - detikBandung

<p>Your browser does not support iframes.</p>

Bandung - Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan memilih berbaur dengan warga untuk jalan sehat, sambut tahun baru Islam 1432 Hijriyah di plasa Pusdai Jabar, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa (7/12/2010).

Setelah membunyikan sirine tanda pelepasan peserta jalan sehat, orang nomer satu di Jawa Barat ini langsung ikut jalan sehat yang diselenggarakan oleh Jaringan Pemuda Remaja Masjid Indonesia (JPRMI) Kota Bandung ini.

Gubernur bersama sekitar lima ribu peserta jalan sehat menyusuri rute start dari Pusdai Jabar, Jalan Supratman, Jalan Katamso, Jalan Surapati, Jalan Pusdai dan finish di Pusdai Jabar lagi.

Dalam sambutannya, Gubernur Ahmad Heryawan menyatakan pentingnya menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Cara yang paling mudah dalam menjaga kesehatan adalah jalan sehat, mengkonsumsi makanan yang sehat dan tidak merokok.

Lebih lanjut gubernur juga mengajak masyarakat untuk menyambut tahun baru ini dengan prestasi dan kinerja yang lebih baik lagi.

"Mari sambut tahun baru Islam ini dengan penuh doa dan harapan baru",imbuhnya.

Setelah jalan sehat juga dimeriahkan dengan penampilan penyanyi pop Sunda Darso, Ebit Beat A dan tim nasyid Shotul Harokah. Hadiah utama berupa umroh dan sepeda motor dari sponsor serta aneka hadiah hiburan juga turut menyemarakkan acara ini.
(ern/ern)
SUMBER : http://bandung.detik.com/read/2010/12/07/120531/1510611/486/sambut-tahun-baru-gubernur-pilih-jalan-sehat-dengan-warga?881104485

Pesona Air Terjun 100 Tingkat

OBJEK WISATA YANG BELUM TERJAMAH

Pesona Air Terjun 100 Tingkat

Objek Wisata | Minggu, 25/04/2010 13:28 WIB



Sumatera Barat, adalah salah satu bagian dari Indonesia yang memiliki keindahan alam luar biasa itu. Meski tak sepopuler Bali ataupun Lombok, namun bicara potensi, Sumatera barat tiada duanya. Jika berada di Sumatera Barat kita seolah-olah dikepung keindahan.

Padang sebagai ibukota propinsi Sumatera Barat adalah salah satu lokasi yang juga memiliki keindahan itu. Selama ini yang paling dikenal di kota Padang adalah Pantai Padang, Pantai Air Manis atau jembatan Siti Nurbaya, Pantai Carolina dan Pantai Pasir Jambak . Gugusan bukit barisan yang mengelilingi kota Padang juga menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang baru menginjakkan kakinya di ranah minang ini.

Selain keindahan pantai yang bisa dijadikan objek wisata, Padang juga memiliki wisata air lainnya seperti Lubuk Minturun dan Lubuk Paraku. Kedua lubuk ini sangat ramai dikunjungi saat “balimau”, tradisi mandi sebelum bulan Ramadhan.

Namun di luar itu, ternyata kota Padang juga memiliki potensi wisata yang selama ini belum diketahui banyak orang. Padahal lokasinya tak jauh dari pusat kota Padang, hanya 45 menit perjalanan. Bahkan akan lebih dekat lagi jaraknya dari Bandara Internasional Minangkabau dengan waktu 20 menit perjalanan. Objek wisata ini dikenal oleh masyarakat sekitarnya sebagai “air terjun 100 tingkek”. Terletak di Nagari Sungai Duo Lubuk Minturun, kecamatan Koto Tangah kota Padang.

Berawal dari informasi teman-teman komunitas Minangkabau photographers yang pernah mengunjungi tempat ini, saya memutuskan ikut dalam rombongan yang akan menuju kesana untuk mengeksplore lebih jauh tempat ini dari sisi fotografi. Minggu pagi beberapa waktu lalu, kami melakukan perjalanan menuju “air terjun 100 tingkek”.

Kami, semua anggota komunitas yang hendak menuju Air Terjun membuat perjanjian bertemu di jembatan Lubuk Minturun jam 7.30. Sudah terlalu siang sebenarnya untuk mengambil foto yang indah, namun hal ini tidak menyurutkan niat kami menuju lokasi. Arak-arakan motor dan mobil yang kami bawa menuju lokasi menjadi perhatian masyarakat sekitar, karena tidak biasanya banyak orang berkendara ramai-ramai menuju tempat ini.

Jalan yang ditempuh menuju lokasi juga sudah bagus sehingga mobil dan motor bisa dibawa sampai ke lokasi air terjun. Jalan yang kami tempuh pun bukan jalan yang biasa, naik-turun berbelok-belok, , dengan pemandangan bukit barisan yang hijau membuat kami terbius akan keindahan alam dan kesegaran udaranya. Kami tidak perlu terburu-buru karena lalu lintas di kawasan ini tidak begitu ramai. Memang ada truk-truk besar yang mengangkut galian untuk Semen Padang melewati jalur ini, tapi tidak mengganggu perjalanan.

Udara dingin dan segar membuat kami sangat menikmati perjalanan. Setelah 20 menit kami mengendarai sepeda motor, kami sampai di sebuah warung yang menjadi tempat menitipkan sepeda motor sebelum kami masuk ke lokasi air terjun. Kami sempat menikmati bubur kacang hijau di warung itu sembari menunggu rekan kami yang mengendarai mobil. Mereka membawa benih ikan yang rencananya akan kami tebarkan di sungai.

Meski hampir jam 9, udara masih terasa dingin, kabut juga masih terlihat. Kami melajutkan perjalanan menuju lokasi. Hanya butuh waktu 10 menit berjalan kaki, kami pun sampai ke lokasi air terjun pertama. “Subhanallah”. Air pegunungan yang sangat sejuk menyentuh kulitku. Beberapa teman tampak mulai memasang peralatan fotonya.

Saya menikmati indahnya air terjun dengan merendamkan kaki di air sambil duduk di atas batu kali yang lumayan besar. Tak lama, teman-teman kami yang membawa benih datang, kamipun melanjutka perjalanan menuju air terjun selanjutnya. Jalan berbatu kami tempuh, menapaki batu-batu yang posisinya hampir vertical. Karena kondisi jalannya berbatu, takut jatuh, saya memutuskan bertelanjang kaki. Seorang teman berjalan di depan sebagai pembuka jalan dengan menenteng kantong berisi bibit ikan yang rencannya mau ditebar di sungai yang membentuk genangan seperti kolam.

Setelah berjalan sekitar 15 menit sampailah kami pada daerah yang ada air terjun bertingkat-tingkat. Di sisi kiri ada batu sebesar rumah dan kami mendaki batu itu,untuk menuju air terjun selanjutnya yang kami sebut sebagai “tirai”. Pemandangan disni luar biasa indahnya. Tanpa sadar, terpukau kendahan, seorang teman berdiri di sebuah batu untuk mengambil foto. Menurut tema-teman yang sudah kesana sebelumnya, apa yang dilakukan teman itu sangat berbahaya. Kami berteriak-teriak mengingatkannya.

Tak jauh dari situ, kami melihat ada villa di sebelah kanan sungai. Di sungai pun ada kubangan yang bisa dipakai berendam. Tanpa komando 3 orang teman langsung menceburkan diri ke dalam kolam. Sungguh-sungguh menggiurkan. Disini kami melepaskan separuh dari benih ikan yang kami bawa.

Kami ditawari masuk oleh penjaga villa. Duduk di beranda villa, kami mengobrol sambil menikmati pemandangan kota Padang dari atas bukit. Subhanallah indahnya….. Suara gemerecik sungai dan hawa sejuk pegunungan membuat kami enggan melangkah, padahal perjalanan kami masih belum usai.

Separuh benih ikan yang kami bawa harus ditebarkan. Kami meninggalkan villa. Lima belas menit perjalanan, kami sudah mendengar suara gemuruh air terjun. Inilah “Air terjun Tirai”. Kami menyebutnya demikian lantaran di depan air terjun ini tertutup oleh daun-daun harendong raja atau sering disebut jambu hutan. Suara deru air terjun menambah semangat kami. Tema-temanpun beraksi, jepret sana, jepret sini.

Aroma sejuk air membuat semua teman-teman ingin mandi di sana. Semuanya langsung nyebur, brrrrrr dingin dan sejuk. Tak lama kami bermain air 2 orang teman mencoba mengeksplore lebih jauh dengan naik ke atas air terjun. Saya bersama dua teman hanya menunggu di bawah air terjun sambil menikmati sejuknya air pegunungan.

Sekitar 1 jam kami berada di sana, memotret sambil bergaya dan mandi-mandi. Tak terasa mendung dan kabut mulai turun. Kamipun memutuskan untuk segera kembali. Kami melepaskan benih ikan dulu, sebelum pulang. Kami pulang dengan jalur yang berbeda. Tidak melalui sungai lagi tapi lewat jalan setapak kecil di depan villa. Sungguh menyenangkan.

Sejenak, kami istirahat di warungtempat kami menitipkan kendaraan sambil menyerbu makanan dan minuman disana. Kami kembali turun ke arah dimana perjanjian kami bertemu sebelum berangkat, yaitu jembatan Lubuk Minturun.

Salah seorang teman yang telah duluan pulang, ternyata sudah menunggu kami di sebuah warung nasi pinggir sungai. Wisata kuliner. Luar biasa. Setelah perjalanan yang melelahkan, disabut makanan yang menggiurkan, ow, betapa nikmatnya. Ditemani bunyi gemericik air sungai kami menyantap makanan dengan lahapnya.

Masakan yang disuguhkan ditempat ini sederhana namun sangat istimewa, ada gulai jariang, ikan bilih lado, telur dadar yang digoreng lebar dan kering, gulai lokan, ayam bakar, sayur toge bahkan ayam pop juga ada. Luar biasa nikmatnya. Bukan promosi, tapi perlu saya sampaikan bahwa makan di warung ini, harganya sangat terjangkau. (Linda Pluto)
SUMBER : http://www.padangmedia.com/index.php?mod=pariwisata&j=1&id=44

Senin, 29 November 2010

Rendang Ke Mentawai

Sumbar | Senin, 22/11/2010 10:28 WIB

PKPU Kirim 1, 5 Ton Rendang ke Mentawai

Husnal Hayati - Padang Today

klik untuk melihat foto
Rendang.

Selain terus mengirimkan relawan, bantuan  makanan dan obat-obatan, PKPU Padang juga mengirimkan 1,5 ton rendang ke Kabupaten Mentawai.

Rendang yang menjadi makanan khas masyarakat Ranah Minang ini, akan dibagikan kepada para korban gempa dan tsunami di daerah kepulauan itu.

Kepala Bidang Pendayagunaan PKPU Padang Dedi Abdul Kadir mengungkapkan, untuk memasak rendang sebanyak itu, menghabiskan waktu tiga hari tiga malam dengan melibatkan sekitar 15 orang tukang masak, dibantu dengan pemeras kelapa dan pengepakan.

“Semua itu dikerjakan relawan PKPU bekerja sama dengan ibu-ibu di Sungai Sapih Padang, yang memang sudah ahli memasak rendang dalam jumlah banyak. Bahkan ada juga masyarakat sekitar lokasi sukarela membantu begitu mengetahui rendang ini untuk masyarakat korban bencana,” paparnya.

Bantuan dalam bentuk rendang ini menurut Dedi, selain siap saji untuk dikonsumsi masyarakat, juga tidak memberatkan.

"Jika bantuan dalam bentuk hewan ternak dikirimkan, justru menyulitkan sebagian masyarakat untuk memasaknya. Sebab, pascatsunami tidak semua masyarakat memiliki kelengkapan alat memasak, termasuk kesulitan mencari bumbu masaknya," jelasnya.(*)

SUMBER : http://www.padang-today.com/?today=news&id=23170

Jumat, 26 November 2010

Fajar Hidayah? Insya Allah tidak pernah dan tidak akan pernah injak Al Qur`an

Ratusan Orang Serang Pesantren Anak Yatim

Sabtu, 27 November 2010 - 03:58 wib
Salman Mardira - Okezone
Ilustrasi (Foto: Koran Sindo)

BANDA ACEH - Ratusan orang menyerang Pondok Pesantren terpadu Fajar Hidayah di Desa Cot Mon Raya, Kecamatan Lhok Nga, Kabupaten Aceh Besar.
 
Tak ada korban jiwa dalam peristiwa Jumat (26/11/2010) malam itu. Namun, sebagian besar bangunan yang dihuni lebih 200 anak yatim itu rusak dan seorang santri luka terkena serpihan kaca.
 
Informasi dihimpun okezone di lokasi kejadian, penyerangan terjadi saat para santri sedang bersiap melaksanakan Salat Isya.
 
Massa bersenjata balok dan batu masuk ke komplek pondok setelah merobohkan pagar samping dan menghancurkan kaca dinding serta sejumlah mobiler yang ada di pesantren itu. Para santri dan guru sontak panik dan menyelamatkan diri ke lantai dua.
Seorang santri yang belum diketahui identitasnya terluka akibat terkena serpihan kaca yang dipecahkan massa.
 
Belum diketahui motif penyerangan tersebut. Diduga aksi itu terjadi karena warga terprovokasi dengan isu yang beredar melalui SMS bahwa di pesantren itu ada aksi menginjak potongan ayat-ayat Alquran yang dilakukan dalam pelatihan fahmul Quran terhadap 800 guru se-Aceh yang berlangsung dalam tiga hari ini di sana.
 
Sore sebelum kejadian, sejumlah warga sekitar (Cot Mon Raya) mendatangi pesantren Fajar Hidayah, menanyakan isu yang beredar itu.
 
Perwakilan warga, Muspika Kecamatan dan pihak pesantren kemudian berembuk. Warga pun bubar setelah mendapat penjelasan bahwa isu itu tak benar.
 
Tanpa diduga, malamnya penyerangan dilakukan massa secara brutal terjadi. Keusyik (Kepala Desa) Cot Mon Raya, Rusli mengatakan, penyerangan itu tak dilakukan oleh warganya.
 
“Warga kami sudah paham, karena sudah mendapat penjelasan. Itu massa bukan warga sini, itu warga lain, mereka seperti ada yang memprovokasi,” kata dia.
 
“Kami tidak melihat mereka datang, tiba-tiba sudah kejadian. Mereka tidak terlihat karena beraksi dalam gelap, sepertinya menggunakan kayu dan batu,” tambah Rusli.
 
Buntut dari penyerangan, semua santri dan peserta pelatihan di pesantren itu diungsikan ke Dayah (Pesantren) lain terdekat, sebagian ditampung di rumah-rumah warga, untuk menghindari serangan susulan. TNI dan Polisi mengamankan lokasi kejadian.
 
Pemimpin Yayasan Fajar Hidayah, Mirdas Ekayora mengatakan, pihaknya tak pernah melakukan aksi menginjak ayat Al Quran. “Itu sangat tidak benar, itu semua ada kesalahpahaman,” ujarnya.
 
Menurutnya, tulisan yang berserakan itu merupakan tulisan kosakata bahasa Arab, hasil dari game mengenal bahasa Arab untuk guru peserta pelatihan fahmul Quran.
 
“Itu tulisan Arab, bukan ayat Alquran. Itu bagian dari game kartu yang dikemas dalam tajwid, kemudian diartikan dalam bahasa Inggris. Tidak ada sama sekali niat kami menulis ayat-ayat Alquran, tapi itu hanya huruf Arab yang mungkin tulisannya mirip seperti di Quran, jadi inilah yang salah dipahamkan,” jelas Mirdas.
 
Sementara Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Armensyah Thay mengatakan, pihaknya mulai melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab penyerangan.
 
“Akan kita panggil beberapa saksi untuk dimintai keterangan,” sebut dia. “Hingga malam ini belum ada yang kita jadikan tersangka, tunggu penyelidikan dulu,” sambungnya.
 
Pasantren Fajar Hidayah di Aceh dibangun pada 2006 atas bantuan Singapura, menampung anak yatim korban tsunami, konflik dan dari keluarga miskin di Aceh.
(lam)

sumber : http://news.okezone.com/read/2010/11/27/340/397616/ratusan-orang-serang-pesantren-anak-yatim

Rabu, 03 November 2010

Allahuakbar! Masjid tak Tersentuh Tsunami, 50 Orang Selamat

Ricco Mahmudi - Padang Ekspres


klik untuk melihat foto
Foto udara keadaan lokasi yang
terkena dampak gempa tsunami
dari helikopter M17 milik
TNI AD di Eru Paraboat,
Kepulauan Mentawai, Sumatera
Barat, Senin (1/11). Foto:
RAKA DENNY/JAWAPOS
Naga tsunami membelah Bumi Sikerei di keheningan malam nan mencekam. Kehadirannya yang tak diundang itu telah memupuskan harapan penghuni pesisir pantai Dusun Pasa Puat, Kecamatan Pagai Utara. Saat semuanya hancur, sebuah masjid menatap pantai berdiri kokoh.


Pagi itu, sekitar pukul 10.00 WIB, langit Sikakap tampak mendung. Di luar rumah tanah tampak lanyah. Pepohonan dan rerumputan masih basah setelah diguyur hujan deras sepanjang malam. Sebentar lagi, sepertinya hujan deras bakal turun. Ya, membasuh duka Bumi Sikerei. 

Di luar rumah, bau mayat menyengat. Aroma tak sedap menebar ditiup angin. Memang, hingga Jumat (29/10), mayat masih bergelimpangan di pinggir jalan. Pikiran saya langsung terbayang ratusan warga Pagai Selatan yang bertahan di perbukitan, dalam kondisi hujan badai. Selain menahan lapar, dinginnya malam, mereka harus melawan penyakit yang kini menyerang.    

Ternyata benar. Hujan deras mengguyur Sikakap. Tak hanya hujan, tapi juga badai. Di posko utama, para jurnalis dan relawan telah ber¬kum¬pul. Seperti biasa, setiap pagi kami siap-siap menyisir desa terpencil yang belum terjamah bantuan. Pagi itu, tim relawan dan jurnalis hendak menuju Dusun Pasa Puat di Pagai Utara. Dusun itu, semua rumah hancur. Mujur, tidak ada korban jiwa.

Perjalanan menggunakan kapal kayu atau long boat. Kapal itu mampu memuat 12 orang dan sedikit logistik untuk pengungsi. Berapa menit berlayar, gelombang dua meter menghadang. Pelayaran pun dihentikan. Setelah menunggu sekitar satu jam, boat yang dinakhodai Dayat itu dilanjutkan selama dua jam pelayaran. Sepanjang perjalanan, boat nyaris karam karena dipenuhi air. Kami sampai di tujuan sekitar pukul 17.00 WIB.

Dari pantai, Dusun Pasa Puat sunyi senyap. Sedikit pun tidak terlihat tanda-tanda seperti sebuah kampung. Permukiman penduduk rata dengan tanah. Tak satu pun rumah warga yang berdiri. Semua tiarap. Hanya ada satu bangunan berdiri kokoh menghadap pantai. Ya, sebuah masjid. Garin masjid itu juga selamat. Zulfikar namanya.
Hari beranjak senja. Hujan belum juga reda. Zulfkar tampak bersiap menunaikan Shalat Maghrib. Dalam obrolannya, pria berusia 40 tahun itu mengaku telah tingal di dusun itu sejak kecil. Sama dengan usia masjid itu yang berdiri sekitar tahun 1960 silam. "Ini masjid tertua di dusun kami. Bentuk masjid itu sudah tidak asli lagi, karena terus diperbaiki," ujar Zulfikar.

Zulfikar menceritakan, masjid ini sama sekali tidak tersentuh tsunami pada malam itu. Padahal, lokasinya tidak jauh dari pantai. Sedangkan rumah-rumah warga di sekitar masjid, rata dengan tanah. Masjid inilah yang menjadi tempat perlindungan masyarakat saat gelombang besar datang.

Seperti mukjizat, air laut hanya sampai di teras masjid. D luar masjid, Zulfikar melihat dengan mata kepala sendiri gelombang tsunami mencapai delapan meter. "Kami dalam masjid ada sekitar 50 orang, sedangkan warga yang lain telah menyelamatkan diri ke perbukitan yang berjarak satu kilometer dari masjid. Melihat masjid tidak kena sama sekali, kami merasa heran. Setelah itu kami sadar ini adalah kehendak Tuhan," jelas pria berjenggot itu.

Zulfikar dan 50 warga lainnya tidak henti-henti mengucap kebesaran Allah. Di luar masjid, tsunami terus menerjang sebanyak tiga gelombang. Tiada yang menduga, tsunami menghindar dari masjid. "Sepertinya, di masjid air terbelah, sehingga lantai masjid pun tidak basah sama sekali," kenangnya. (*)
SUMBER : http://padang-today.com/?today=feature&id=368http://padang-today.com/?today=feature&id=368http://padang-today.com/?today=feature&id=368

Minggu, 31 Oktober 2010

Gubernur Sumbar Tolak Bantuan Asing

Andi Arief: Contoh Baik, Gubernur Tolak Bantuan Kemanusiaan Asing

JPNN - Padang Ekspres

klik untuk melihat foto
Gubernur Sumbar Irwan
Prayitno.
Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Andi Arief mengungkapkan, sejak terjadinya gempa dan tsunami Mentawai, tawaran bantuan kemanusiaan datang dari beberapa negara, seperti Amerika Serikat (AS), Selandia Baru, Australia dan Singapura.

Namun, oleh Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, kata Andi pula, tawaran bantuan itu ditolak karena pemerintah (setempat) masih mampu menanganinya. "Ini contoh baik saya kira. Pemerintah Daerah Sumbar masih mampu melakukan kepemimpinan politik," kata Andi Arief pada diskusi bertajuk "Bencana dan Duka Indonesia", di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (30/10/2010).

Seperti diberitakan sebelumnya, salah satu area yang terkena tsunami paling parah adalah Desa Pro Rugat di Pulau Pagai Selatan. Sebanyak 65 warganya dinyatakan tewas. Para penduduk desa bernaung di bawah terpal saat hujan datang, sembari bertutur bahwa sebagian warga lainnya memilih tetap bertahan di pebukitan karena terlalu takut untuk pulang.

Para pekerja kemanusiaan yang masuk ke pelosok Mentawai menemukan potongan karang raksasa dan bebatuan di lokasi yang dulunya rumah. Sedangkan mayat-mayat yang sudah dalam kondisi bengkak, berserakan di jalanan dan pantai.

Sementara, di sebuah Puskesmas di Pagai Utara, Sarifinus (35), membuai erat anaknya yang berumur 5 tahun, Dimas, karena mengerang kesakitan ketika paramedis merawat lengannya yang patah. Dimas ditemukan dalam keadaan hidup setelah air surut.

SUMBER : http://www.padang-today.com/?today=news&id=22474

Senin, 25 Oktober 2010

Album Foto 2010-10-25




Wakaf tunai ikadi, mohon sebar luaskan ya untuk pembangunan pusat pendidikan ikadi kab 50 kota Sumatra Barat

Kamis, 30 September 2010

Sakik paruik mambaconyo

Renungkanlah:


 
Seorang pengangguran melamar pekerjaan sebagai 'office boy'di Istana Negara (kantor SBY), Jakarta.
 
Andi Mallarangeng mewawancara dia dan melihat dia membersihkan lantai sebagai ob


'Kamu diterima,' katanya, 'berikan alamat e- mailmu dan saya akan mengirim formulir untuk diisi dan pemberitahuan kapan kamu mulai bekerja.' Laki-laki itu menjawab,'Tapi saya tidak punya komputer, apalagi e-mail.'
 
 
 
'Maaf,' kata Mallarangeng. 'Kalau kamu tidak  punya e-mail, berarti kamu tidak hidup. Dan siapa yang tidak hidup, tidak bisa diterima bekerja.'
 
 
 
Laki-laki itu pergi dengan harapan kosong. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan hanya dengan  Rp.100.000 di dalam kantongnya. Kemudian ia memutuskan untuk pergi ke Pasar Minggu dan membeli 10kg peti tomat. Ia menjual tom at itu dari rumah ke rumah. Kurang dari 2 jam, dia berhasil melipatgandakan modalnya. Dia melakukan kerjanya tiga kali, dan pulang dengan membawa Rp.300.000
 
 
 
Dia pun sadar bahwa dia bisa bertahan hidup dengan cara ini. Ia mulai pergi bekerja lebih pagi dan pulang larut. Uangnya menjadi lebih banyak 2x sampai 3x lipat tiap hari.Dia pun membeli gerobak, lalu truk, kemudian akhirnya ia memiliki armada kendaraan pengirimannya sendiri.
 
 
 
Lima tahun kemudian, laki-laki itu sudah menjadi salah satu pengusaha makanan terbesar di Indonesia. Ia mulai merencanakan masa depan keluarga, dan memutuskan untuk memiliki asuransi jiwa.
 
 
 
Ia menghubungi broker asuransi, dan memilih protection plan. Sang broker pun menanyakan alamat e-mailnya.
 
Laki-laki itu menjawab, 'Saya tidak punya e-mail.'
 
Sang broker bertanya dengan penasaran, 'Anda tidak memiliki e-mail, tapi sukses membangun sebuah usaha besar. Bisakah Anda bayangkan, sudah jadi apa Anda kalau Anda punya e-mail?!'
 
Laki-laki itu berpikir sejenak lalu menjawab, 'Ya, saya mungkin sudah jadi office boy di Istana Negara!!
 
____________ _________ _________ _________ ___
 
 
 
Pesan Moral:
 
1. Internet bukanlah solusi hidup Anda.
 
2. Kalau Anda tidak punya akses internet, lalu bekerja keras, Anda bisa jadi milyuner.
 
3. Kalau Anda menerima pesan ini melalui e-mail, Anda lebih dekat untuk menjadi 'office boy/girl' daripada seorang milyuner he..he4x. Have a nice day!!
 
 
 
NB Jangan kirim balik pesan ini pada saya, saya hendak menutup e-mail saya dan menjual tomat!!!

Sumber :

Re: [RANG TUJUAH KOTO] Fw: [gontorians] Fwd: Fw: Internet VS Tomat

Rabu, 29 September, 2010 16:39

 

Jumat, 17 September 2010

Kamis, 16 September 2010

ALAM AKAN RAMAH JIKA KITA SAYANGI

Berhubung kakak akan berangkat ke Kairo mengikuti jejak Azzam untuk menuntut ilmu di negeri seribu menara tersebut, maka ummi menyempatkan untuk mengajak kakak menemui atok, nenek, etek, mamak dan sepupunya semua ke kampung Padang Japang Payakumbuh Sumatra Barat. Di kampung dalam waktu yang sangat terbatas, Alhamdulillah bisa main ke sawah dan kincir airnya Mak Bal. Mak Bal atau M.Iqbal adalah adik ummi yang ke 3 telah memutuskan jadi petani. Sebagai petani Mak Bal sangat mencintai profesinya juga sangat mencintai alam.

          Mak Bal dengan sekuat daya memulai menanam padi organik dengan pupuknya dari kotoran sapi dan ayam. Untuk bertani harus bisa menyayangi alam. Mak Bal bahkan sekuat tenaga bisa memelihara harimau dahan yang di kampung disebut harimau buluh. Orang yang berusaha menangkapnya dimarahi habis-habisan oleh Mak Bal, supaya jera menangkapnya. Bahkan sekarang harimau buluh Mak Bal sudah beranak pinak. Harimau buluh itu memakan tikus-tikus yang memakan padi. Petani juga yang untung kan?.

          Selain itu kalau sawah kering bahkan Mak Bal rela memindahkan berudu katak yang kekeringan supaya katak bisa hidup baik, karena katak akan memakan belalang. Keseimbangan alam akan mengasih yang banyak kepada manusia. Kolam air yang berasal dari Batang Sinamar yang dialirkan ke sawah melalui sebuah kincir air bahkan tanpa sadar mengasih hasil tambahan. Ketika airnya kering dialirkan ke sawah ummi, kakak dan adik-adik menangkap ikan. Ikan yang ada di kolam Mak Bal bukan hanya ikan yang sengaja dilepas.

          Pengalaman menangkap ikan mungkin pengalaman yang tidak bisa dilupakan oleh ummi maupun kakak. Selain mendapatkan ikan nila yang sengaja dilepas, kita juga menemukan ikan bansai, udang dan bahkan kerang hijau, pensi, ikan baung, yang mungkin berasal dari Batang Sinamar. Kolam Mak Bal yang dijaga supaya seimbang terus memberikan berkah. Betapa tidak beberapa tahun yang lalu di sawah sudah sangat sulit menemukan belut, apalagi ikan karena pemakaian pupuk buatan dan pestisida. Sekarang Mak Bal berusaha untuk tidak pakai pupuk apalagi pestisida. Semoga langkah Mak Bal diikuti oleh banyak petani lain. Sungguh petani yang tidak ramah terhadap hewan-hewan predator itu, sungguh masih bisa merasakan bahwa setidaknya sawahnya digerayangi tikus.

          Selain memelihara harimau dan katak Mak Bal juga berusaha memelihara ular-ular yang hidup di sawah. Jadi kalau ketemu ular Mak Bal akan mengusir aja dengan baik, bukan memburunya. Beberapa waktu yang lalu banyak yang menangkap ular, biawak dan kodok raksasa di sepanjang aliran Batang Sinamar. Sekarang setidaknya di sekitar sawah kita sudah mulai ada lagi ular, dan kodok serta burung puyuh. Juga seperti burung sikikih yang bewarna biru. Burung yang sudah terlanjur punah adalah burung taguak-taguak, tiang alau dan burung kasawai. Coba kalau ada orang yang paham dari dahulu tentu kakak bisa melihat lagi. Tapi yang bisa kakak saksikan adalah burung puyuh yang tidak punya ekor. Harimau hanya bisa dilihat tahinya saja, tahinya berupa bulu-bulu tikus. Kalau harimaunya tidak bisa dilihat karena keburu sudah siang, dilihat. Juga berhubung sawah Mak Bal luas sekali, jadi sulit mencarinya lagi di pojok mana keluarga harimau itu lagi berburu tikus. Kalau ketemu sih Insya Allah bisa dilihat, harimaunya agak jinak, layaknya seekor kucing saja.

          Memang sih harimaunya disangka kucing, persis kucing dan dipeluhara oleh Mak Bal. Harimau tersebut tidurnya di dangau di tengah sawah Mak Bal. Dulunya anaknya saja, induknya mungkin sudah mati diburu. Harimau buluh makin hari makin sulit dijumpai saat itu. Anaknya dipindahkan Mak Bal ke dangau dan dilihat Mak Bal tiap hari. Alhamdulillah juga masih ada jantannya. Sekarang harimau itu telah merupakan keluarga yang lumayan besar.Semoga bisa bertahan ya Mak Bal . Amin 

Selasa, 04 Mei 2010

Aduuuh kasian diriku.....susah banget ya jadi org ta'at aturan, ceritanya ngawas ni d suatu mi d kawasan bjng kulur, kmrn d ruangan 2 yg isinya 5 org, mau pndah k ruangan o1 yg isinya 20 org, sama kepsek g boleh. Pagi2 sy dah kena damprat "ibu kalo ngawas silakan d ruangan 2, kalau gak gpp", kali krn sy keukeuh nutup amplop ljk ya, gimana nih sahabatku para guru.

Pengalaman hari ini ngawas uasbn sd, sy ngawas d suatu mi d kawasan bj kulur brsama dari sd neg nagrak 6 dan al azhar syifa budi. Menurut sy kelulusan sd ditentukan sekolah, kemudian yg bikin sy protes keras atas pelanggaran juknis ujian sprti pengalaman sy kepsek keberatan ngelem amplop ljk, ada jg pengalaman aneh teman yg ngawas d sebuah sd neg kwsan bjng kulur, gr yg bersangkutan terus terang mau ngasih jawaban ke anak2 walau hanya separo aja, ini atas perintah kepsek ktnya, tapi teman dr fajar hidayah tetap pd ketentuan tdk mau sprt itu. Ada lg teman d sebuah sd neg d kawasan nagrak, mereka d tolak pdhal jelas surat tgs dan nama mereka ada d sd tsb, tapi d sd tsb ada lg pengawas yg tdk ada srt tgs. Utk diketahui guru2 dr sit fajar hidayah ditakuti d sd neg krn keukeuh dg prinsip ujian. Kepada pejabat di diknas mhn perhatian, anak buahnya sll berusaha utk tdk jujur, pdhal kelulusan siswa mereka yg menentukan. Inilah cikal bakal korupsi.... Kapan negri ini akan bersih, bibit korupsi disemai dan dipupuk terus ....iya kaaaannnn.

Selasa, 20 April 2010

Ust Dr Dayat

Default Kelihaian Hidayat Nur Wahid Dipuji

Berkat Hidayat Nur Wahid, diplomasi Indonesia di sidang Parlemen Negara Islam bagus.

VIVAnews - Peran Hidayat Nur Wahid dalam sidang Persatuan Parlemen Negara Islam (PUIC) akhir Januari lalu di Kampala, Uganda, memperoleh pujian dari para anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang tergabung dalam forum BKSAP (Badan Kerja Sama Antar-Parlemen). Kelihaian Hidayat berbahasa Arab sangat membantu diplomasi.

"Bahasa Arab Pak Hidayat sama bagus dengan Bahasa Indonesianya," ujar Wakil Ketua BKSAP, Sidarto Danusubroto. "Bagaimana negara OKI tidak takluk pada beliau? Muka Melayu, tapi Bahasa Arab oke," ujar Sidarto Danusubroto dalam konferensi pers di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu 3 Februari 2010.

Pada tanggal 24-31 Januari, tim kecil BKSAP yang merupakan delegasi DPR, dipimpin oleh Ketua DPR Marzuki Alie, mengikuti Sidang Parlemen Negara-Negara OKI (PUIC) di Uganda. DPR RI adalah salah satu pendiri organisasi parlemen tersebut. PUIC sendiri menitikberatkan perjuangannya pada pencapaian perdamaian di kawasan Timur Tengah, salah satu titik sentral konflik terpanas dunia.

Dalam pertemuan PUIC di Uganda tersebut, Ketua DPR Marzuki Alie berhasil terpilih menjadi Presiden Konferensi PUIC sampai tahun 2012. Wakil Ketua BKSAP, Nurhayati Ali Assegaf, juga berhasil terpilih sebagai pemimpin sidang Standing Specialized Committee on Women, Social and Cultural Affairs. Ia adalah pemimpin sidang perempuan pertama di komite terkait.

Kefasihan Bahasa Arab Hidayat juga tak dapat dilepaskan dari keseluruhan keberhasilan yang dicapai parlemen Indonesia dalam Sidang PUIC tersebut. "Saya bangga dengan Pak Hidayat. Bahkan ia bisa mengetahui kesalahan pronounciation (pelafalan) yang dilakukan oleh delegasi negara-negara tersebut," kata Sidarto.

Mendengar pujian tersebut, Hidayat hanya tersenyum dan berkomentar singkat. Menurutnya, wajar saja bila Bahasa Arabnya tergolong baik, karena ia telah 13 tahun tinggal di Madinah, Arab Saudi, untuk kuliah S1 sampai S3. Yang terpenting, kata Hidayat, Indonesia harus berhasil mencitrakan diri bukan hanya sebagai pengirim TKI.

Di sisi lain, Marzuki mengakui, Indonesia selama ini memang belum memprioritaskan hubungan dengan negara-negara Timur Tengah. "Pada hari-hari besar mereka, wakil Indonesia nyaris tidak ada yang hadir. Berkebalikan dengan saat hari-hari besar negara-negara Eropa atau Jepang, di mana delegasi Indonesia pasti hadir," ujar Marzuki.

Oleh karena itu, kata Marzuki, Indonesia harus melakukan introspeksi karena tergolong kurang menghargai negara-negara Timur Tengah. Hal ini pulalah, ujar Wakil Ketua BKSAP M. Najib, yang menyebabkan buruknya performa Indonesia ketika berkomunikasi dengan negara-negara Timur Tengah. "Prioritas kita masih negara-negara Barat, Cina, Jepang, Singapura, dan lain-lain," ujarnya. Dengan demikian, DPR berharap pemerintah dapat memperbaiki hubungan ini di masa mendatang.


sumber :http://forum.vivanews.com/showthread.php?t=12214

Senin, 08 Maret 2010

dari saudara kita

Assalamu`alaikum wr wb
Ummi mendapat email dari teman ummi bu Vaya Izzati dan Bapak M.Arif Santoso dari Kuwait.
Rasanya Ummi bersalah kalau tidak membagi buat kita semua, karena memang untuk kita semua. Mohon disimak wassalam

Amika Muhammad: The Letter From Ghaza to Indonesian Peoples

The Letter From Ghaza to Indonesian Peoples

Sep 26, '09 10:49 AM for everyone oleh Elam 'Milisi Ikhwan' (catatan)

Untuk saudaraku di Indonesia

Saya tidak tahu, mengapa saya harus menulis dan mengirim surat ini untuk kalian di Indonesia,,??? namun , jika kalian tetap bertanya kepadaku, kenapa…? Mungkin satu-satunya jawaban yang saya miliki Adalah karena Negeri kalian berpenduduk muslim Terbanyak di punggung bumi ini,,,,bukan demikian saudaraku??? disaat saya menunaikan ibadah haji beberapa tahun silam, ketika pulang dari melempar jumrah Saya sempat berkenalan dengan salah seorang “aktivis da’wah” dari Jama’ah haji asal Indonesia, dia mengatakan kepadaku,”setiap tahun musim haji, ada sekitar 205 ribu jama’ah haji ber asal dari Indonesia datang ke Baitullah ini…!!!”. Wah,,,,sungguh jumlah angka yang sangat fantastis & membuat saya berdecak kagum, Lalu saya mengatakan kepadanya, “sauadaraku,,,,jika jumlah jama’ah Haji asal GAZA sejak tahun 1987 Sampai sekarang di gabung,,itu belum bisa menyamai jumlah jama’ah haji Dari negeri kalian dalam satu musim haji saja”. Padahal jarak tempat kami ke Baitullah lebih dekat di banding kalian yah… Wah….wah…pasti uang kalian sangat banyak yah, apalagi menurut sahabatku itu ada 5 % dari rombongan tersebut yang menunaikan ibadah haji untuk yang kedua kalinya,,,Subhanallah.

Wahai saudaraku di Indonesia

Pernah saya berkhayal dalam hati,,kenapa saya & kami yang ada di GAZA ini Tidak dilahirkan di negeri kalian saja. Wah….pasti sangat indah dan mengagumkan yah. Negeri kalian aman, kaya dan subur, setidaknya itu yang saya ketahui Tentang negeri kalian. Pasti para ibu-ibu disana amat mudah Menyusui bayi-bayinya, susu formula bayi pasti dengan mudah kalian dapatkan di toko-toko & para wanita hamil kalian mungkin dengan mudah bersalin di rumah sakit yang mereka inginkan. Ini…yang membuatku iri kepadamu saudaraku Tidak seperti di negeri kami ini….saudaraku, anak-anak bayi kami lahir di tenda-tenda pengungsian. Bahkan tidak jarang tentara Israel menahan mobil ambulance yang akan mengantarkan istri kami Melahirkan di rumah sakit yang lebih lengkap alatnya di daerah Rafah, Sehingga istri-istri kami terpaksa melahirkan diatas mobil,,,,yah diatas mobil saudaraku!! Susu formula bayi adalah barang yang langka di GAZA sejak kami di blokade 2 tahun lalu, Namun isteri kami tetap menyusui bayi-bayinya dan menyapihnya hingga dua tahun lamanya Walau, terkadang untuk memperlancar ASI mereka, isteri kami rela minum air rendaman gandum. Namun,,,mengapa di negeri kalian , katanya tidak sedikit kasus pembuangan bayi yang tidak jelas siapa ayah & ibunya , terkadang ditemukan mati di parit-parit, di selokan-selokan dan di tempat sampah,,,,itu yang kami dapat dari informasi televisi. Dan yang membuat saya terkejut dan merinding,,,,, ternyata negeri kalian adalah negeri yang tertinggi kasus Abortusnya untuk wilayah ASIA,,,,Astaghfirullah. Ada apa dengan kalian..??? Apakah karena di negeri kalian tidak ada konflik bersenjata seperti kami disini, sehingga orang bisa melakukan hal hina tersebut….!!!, sepertinya kalian belum menghargai arti sebuah nyawa bagi kami di sini. Memang hampir setiap hari di GAZA sejak penyerangan Israel, kami menyaksikan bayi-bayi kami mati, Namun, bukanlah diselokan-selokan ,,,,atau got-got apalagi ditempat sampah…saudaraku!!!, Mereka mati syahid,,,saudaraku… mati syahid karena serangan roket tentara Israel !!! Kami temukan mereka tak bernyawa lagi dipangkuan ibunya ,di bawah puing-puing bangunan rumah kami yang hancur oleh serangan roket tentara Zionis Israel, Saudaraku,,,,bagi kami nilai seorang bayi adalah Aset perjuangan perlawanan kami terhadap penjajah Yahudi Mereka adala mata rantai yang akan menyambung perjuangan kami memerdekakan Negeri ini Perlu kalian ketahui,,,sejak serangan Israel tanggal 27 desember kemarin Saudara-saudara kami yang syahid sampai 1400 orang, 600 diantaranya adalah anak-anak kami Namun,,,,sejak penyerangan itu pula sampai hari ini, kami menyambut lahirnya 3000 bayi baru Dijalur Gaza, dan Subhanallah kebanyakan mereka adalah anak laki-laki dan banyak yang kembar,,,Allahu Akbar!!!

Jumat, 12 Februari 2010

ips kelas 6

Materi IPS SD Kelas VI Semester I : PERKEMBANGAN SISTEM ADMINISTRASI WILAYAH INDONESIA

Januari 6, 2010 pada 7:43 am (Pendidikan)

Rate This



PERKEMBANGAN SISTEM ADMINISTRASI
WILAYAH INDONESIA



Peta Wilayah Indonesia


Perkembangan Wilayah Administrasi Indonesia


Pada awalnya berdiri negara kesatuan Republik Indonesia terdiri atas 8 provinsi yang ditetapkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada tanggal 19 Agustus 1945 yaitu sebagai berikut:
Sumatra
Jawa Barat
Jawa Tengah
Jawa Timur
Sunda Kecil (kepulauan Nusa Tenggara)
Kalimantan
Sulawesi
Maluku

Pada tahun 1950, provinsi di Indonesia jumlahnya 11. Hasil pemekaran dari Provinsi Sumatra yaitu Provinsi Sumatra Utara, Sumatra Tengah dan Sumatra Selatan. Provinsi Jawa Tengah dimekarkan menjadi Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Perkembangan jumlah provinsi di Indonesia adalah sebagai berikut :
Pada tahun 1956, jumlah provinsi di Indonesia adalah 15 provinsi.
Pada tahun 1957,jumlah provinsi di Indonesia ada17 provinsi.
Pada tahun 1958, provinsi di Indonesia berjumlah 20 provinsi.
Pada tahun 1959, provinsi di Indonesia berjumlah 20 provinsi.
Pada tahun 1960, provinsi di Indonesia berjumlah 21 provinsi.
Pada tahun 1967, provinsi di Indonesia berjumlah 25 provinsi.
Pada tahun 1969, provinsi di Indonesia berjumlah 26 provinsi.
Pada tahun 1976 , Timor Timur bergabung dengan Indonesia dan menjadi provinsi ke 27.
Pada tahun 1999, Timor Timur memisahkan diri dari Indonesia dan Provinsi Maluku dimekarkan menjadi Provinsi Maluku dan Provinsi Maluku Utara.
Pada tahun 2000, Provinsi di Indonesia berjumlah 32 provinsi.
Pada tahun 2002,Provinsi di Indonesia berjumlah 33 provinsi.
Pada tahun 2004,Provinsi di Indonesia berjumlah 33 provinsi.

Provinsi dan ibu Kota ProvinsiNo. Provinsi Ibu Kota
1 Nanggroe Aceh Darussalam Banda Aceh
2 Sumatra Utara Medan
3 Sumatra Barat Padang
4 Riau Pekan Baru
5 Kepulauan Riau Bandar Seri Bentan
6 Jambi Jambi
7 Bengkulu Bengkulu
8 Sumatra Selatan Palembang
9 Bangka Belitung Pangkal Pinang
10 Lampung Bandar Lampung
11 DKI Jakarta Jakarta
12 Banten Serang
13 Jawa Barat Bandung
14 Jawa Tengah Semarang
15 DI Yogyakarta Yogyakarta
16 Jawa Timur Surabaya
17 Bali Denpasar
18 Nusa Tenggara Barat Mataram
19 Nusa Tenggara Timur Kupang
20 Kalimantan Barat Pontianak
21 Kalimantan Tengah Palangkaraya
22 Kalimantan Timur Samarinda
23 Kalimantan Selatan Banjarmasin
24 Sulawesi Utara Manado
25 Gorontalo Gorontalo
26 Sulawesi Tengah Palu
27 Sulawesi Barat Mamuju
28 Sulawesi Selatan Makassar
29 Sulawesi Tenggara Kendari
30 Maluku Ambon
31 Maluku Utara Sofifi
32 Papua Jayapura
33 Irian Jaya Barat Manokwari





Peta Wilayah Provinsi di Indonesia



Provinsi Nanggroe Aceh DarussalamDidirikan : 7 Desember 1956
Luas Wilayah : 55.392 km2
Letak Astronomis : 2⁰ LU – 6⁰ LU dan 95⁰ BT-98⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Selat Malaka
Timur : Provinsi Sumatra Utara
Selatan : Samudra Hindia
Barat : Samudra Hindia


Provinsi Sumatra UtaraDidirikan : 7 Desember 1956
Luas Wilayah : 71.680 km2
Letak Astronomis : 1⁰ LU – 4⁰ LU dan 98⁰ BT- 100⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Provinsi NAD
Timur : Selat Malaka
Selatan : Provinsi Sumatra Barat dan Riau
Barat : Samudra Hindia


Provinsi Sumatra BaratDidirikan : 3 Juli 1956
Luas Wilayah : 49.333 km2
Letak Astronomis : 1⁰ LU – 3⁰ LS dan 98⁰ BT- 102⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Provinsi Sumatra Utara
Timur : Provinsi Riau
Selatan : Provinsi Jambi dan Bengkulu
Barat : Samudra Hindia


Provinsi RiauDidirikan : 25 Juli 1958
Luas Wilayah : 94.561 km2
Letak Astronomis : 1⁰ LU – 2⁰ LS dan 100⁰ BT – 105⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Provinsi Sumatra Utara
Timur : Selat Malaka dan Laut Cina Selatan
Selatan : Provinsi Jambi
Barat : Provinsi Sumatra Barat


Provinsi Kepulauan RiauDidirikan : 24 September 2002
Luas Wilayah : 11.196 km2
Letak Astronomis : 4⁰ LU – 1⁰ LS dan 104⁰ BT – 107⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Singapura dan Laut Cina Selatan
Timur : Provinsi Kalimantan Barat
Selatan : Selat Karimata
Barat : Provinsi Riau


Provinsi Jambi

Didirikan : 2 Juli 1958
Luas Wilayah : 53.436 km2
Letak Astronomis : 1⁰ LS – 3⁰ LS dan 101⁰ BT – 104⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Provinsi Riau
Timur : Selat Berhala dan Laut Cina Selatan
Selatan : Provinsi Sumatra Barat
Barat : Provinsi Sumatra Barat


Provinsi Bengkulu

Didirikan : 12 September 1967
Luas Wilayah : 21.168 km2
Letak Astronomis : 2⁰ LS – 5⁰ LS dan 101⁰ BT – 104⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Provinsi Jambi dan Provinsi Sumatra Barat
Timur : Provinsi Sumatra Selatan dan Jambi
Selatan : Provinsi Lampung dan Samudra Hindia
Barat : Samudra Hindia




Provinsi Sumatra SelatanDidirikan : 14 Agustus 1950
Luas Wilayah : 113.339 km2
Letak Astronomis : 1⁰ LS-5⁰ LS dan 102⁰ BT – 105⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Provinsi Jambi
Timur : Provinsi Bangka Belitung
Selatan : Provinsi Lampung
Barat : Provinsi Bengkulu




Provinsi Bangka Belitung

Didirikan : tahun 2000
Luas Wilayah : 13.664 km2
Letak Astronomis : 1⁰ LS – 3⁰ LS dan 105⁰ – 108⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Laut Cina Selatan
Timur : Selat Karimata
Selatan : Laut Jawa
Barat : Selat Bangka




Provinsi Lampung

Didirikan : 13 Februari 1964
Luas Wilayah : 35.376 km2
Letak Astronomis : 4⁰ LS – 6⁰ LS dan 103⁰ BT – 106⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Provinsi Sumatra Selatan
Timur : Laut Jawa
Selatan : Selat Sunda
Barat : Samudra Hindia




Provinsi DKI JakartaDidirikan : 10 Febuari 1965
Luas Wilayah : 656 km2
Letak Astronomis : 6⁰ LS – 7⁰ LS dan 106⁰ BT – 108⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Laut Jawa
Timur : Provinsi Jawa Barat
Selatan : Provinsi Jawa Barat
Barat : Provinsi Banten



Provinsi Banten

Didirikan : tahun 2000
Luas Wilayah : 8.651 km2
Letak Astronomis : 6⁰ LS – 7⁰ LS dan 104⁰ BT – 107⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Laut Jawa
Timur : Provinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta
Selatan : Samudra Hindia
Barat : Selat Sunda


Provinsi Jawa Barat

Didirikan : 14 Juli 1950
Luas Wilayah : 44.176 km2
Letak Astronomis : 6⁰ LS – 7⁰ LS dan 106⁰ BT – 107⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Provinsi DKI Jakarta dan Laut Jawa
Timur : Provinsi Jawa Tengah
Selatan : Samudra Hindia
Barat : Provinsi Banten




Provinsi Jawa Tengah

Didirikan : 4 Juli 1950
Luas Wilayah : 34.864 km2
Letak Astronomis : 6⁰ LS – 8⁰ LS dan 108⁰ BT – 111⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Laut Jawa
Timur : Provinsi Jawa Timur
Selatan : Samudra Hindia dan Provinsi DI Yogyakarta
Barat : Provinsi Jawa Barat




Provinsi DI YogyakartaDidirikan : 14 Maret 1950
Luas Wilayah : 3.142 km2
Letak Astronomis : 7⁰ LS – 8⁰ LS dan 110⁰ BT – 111⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Provinsi Jawa Tengah
Timur : Provinsi Jawa Tengah
Selatan : Samudra Hindia
Barat : Provinsi Jawa Tengah




Provinsi Jawa Timur

Didirikan : 4 Maret 1950
Luas Wilayah : 47.921 km2
Letak Astronomis : 7⁰ LS – 8⁰ LS dan 111⁰ BT – 114⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Laut Jawa
Timur : Selat Bali
Selatan : Provinsi Jawa Tengah
Barat : Samudra Hindia



Provinsi Bali

Didirikan : 14 Agustus 1958
Luas Wilayah : 5.632 km2
Letak Astronomis : 7⁰ LS – 9⁰ LS dan 114⁰ BT – 116⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Laut Bali
Timur : Selat Lombok
Selatan : Samudra Hindia
Barat : Selat Bali





Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB)

Didirikan : 14 Agustus 1958
Luas Wilayah : 20.153 km2
Letak Astronomis : 8⁰ LS -9⁰ LS dan 115⁰ BT – 119⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Laut Flores
Timur : Selat Sape
Selatan : Samudra Hindia
Barat : Selat Lombok




Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)

Didirikan : 14 Agustus 1958
Luas Wilayah : 47.389 km2
Letak Astronomis : 8⁰ LS – 12⁰ LS dan 118⁰ BT – 126⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Laut Flores
Timur : Selat Ombai
Selatan : Samudra Hindia
Barat : Selat Sape




Kalimantan Barat

Didirikan : 7 Desember 1956
Luas Wilayah : 146.807 km2
Letak Astronomis : 2⁰ LU – 3⁰ LS dan 108⁰ BT – 114⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Negara Malaysia
Timur : Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur
Selatan : Laut Jawa
Barat : Laut Cina Selatan dan Selat Karimata




Provinsi Kalimantan Tengah

Didirikan : 2 Juli 1958
Luas Wilayah : 153.800 km2
Letak Astronomis : 1⁰ LU – 4⁰ LS dan 111⁰ BT – 116⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat
Timur : Provinsi Kalimantan Timur dan Provinsi Kalimantan
Selatan : Laut Jawa
Barat : Provinsi Kalimantan Barat


Provinsi Kalimantan Timur

Didirikan : 7 Desember 1956
Luas Wilayah : 211.446 km2
Letak Astronomis : 4⁰ LU – 3⁰ LS dan 113⁰ BT – 119⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Negara Malaysia
Timur : Selat Makasssar dan Laut Sulawesi
Selatan : Provinsi Kalimantan Selatan
Barat : Negara Malaysia




Provinsi Kalimantan Selatan

Didirikan : 7 Desember 1956
Luas Wilayah : 36.985 km2
Letak Astronomis : 1⁰ LS – 4⁰ LS dan 114⁰ BT – 117⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Provinsi Kalimantan Timur
Timur : Selat Makassar
Selatan : Laut Jawa
Barat : Provinsi Kalimantan Tengah




Provinsi Sulawesi Utara

Didirikan : 13 Desember 1960
Luas Wilayah : 25.768 km2
Letak Astronomis : 0⁰ LU – 3⁰ LU dan 123⁰ BT – 126⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Laut Sulawesi
Timur : Laut Maluku
Selatan : Laut Maluku
Barat : Provinsi Gorontalo




Provinsi Gorontalo

Didirikan : 22 Desember 2000
Luas Wilayah : 10.804 km2
Letak Astronomis : 0⁰ LU – 1⁰ LU dan 121⁰ BT – 123⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Laut Sulawesi
Timur : Provinsi Sulawesi Utara
Selatan : Teluk Tomini
Barat : Provinsi Sulawesi Tengah




Provinsi Sulawesi Tengah

Didirikan : 23 September 1964
Luas Wilayah : 68.033 km2
Letak Astronomis : 2⁰ LU – 3⁰ LS dan 120⁰ BT – 122⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Laut Sulawesi
Timur : Provinsi Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan
Selatan : Provinsi Sulawesi Tenggara
Barat : Selat Makassar




Provinsi Sulawesi Barat

Didirikan : tahun 2004
Luas Wilayah : 16.787 km2
Letak Astronomis : 1⁰ LS – 4⁰ LS dan 119⁰ BT – 120⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Provinsi Sulawesi Tengah
Timur : Provinsi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan
Selatan : Provinsi Sulawesi Selatan
Barat : Selat Makasar


Provinsi Sulawesi Selatan

Didirikan : 13 Desember 1960
Luas Wilayah : 62.482 km2
Letak Astronomis : 0⁰ – 7⁰ LS dan 119⁰ BT – 122⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Provinsi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat
Timur : Provinsi SulawesiTengggara
Selatan : Laut Flores
Barat : Selat Makassar



Provinsi Sulawesi Tenggara

Didirikan : 23 September 1964
Luas Wilayah : 38.140 km2
Letak Astronomis : 3⁰ LS – 6⁰ LS dan 121⁰ BT – 124⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Provinsi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan
Timur : Laut Banda
Selatan : Laut Flores
Barat : Teluk Bone


Provinsi Maluku

Didirikan : 1 Juli 1958
Luas Wilayah : 85.728 km2
Letak Astronomis : 3⁰ BT – 9⁰ LS dan 126⁰ BT – 135⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Laut Seram
Timur : Laut Seram
Selatan : Laut Timor dan Laut Arafuru
Barat : Laut Maluku



Provinsi Maluku Utara

Didirikan : 4 Oktober 1999
Luas Wilayah : 53.836 km2
Letak Astronomis : 3⁰ LU – 2⁰ LS dan 125⁰ BT – 130⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Samudra Pasifik
Timur : Laut Halmahera
Selatan : Laut Seram
Barat : Laut Maluku




Provinsi Papua

Didirikan : 1969
Luas Wilayah : -
Letak Astronomis : 1⁰ LS – 9⁰ LS dan 135⁰ BT – 141⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Samudra Pasifik
Timur : Papua Nugini
Selatan : Laut Arafuru
Barat : Irian Jaya Barat




Provinsi Irian Jaya barat

Didirikan : tahun 2004
Luas Wilayah : -
Letak Astronomis : 0⁰ LS – 5⁰ LS dan 130⁰ BT – 135⁰ BT
Batas Wilayah
Utara : Samudra Pasifik
Timur : Provinsi Papua
Selatan : Laut Arafuru
Barat : Laut Seram dan Laut Halmahera


Wilayah Laut Indonesia

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan wilayah lautan yang cukup luas. Wilayah daratannya terdiri dari beribu-ribu pulau. Indonesia merupakan negara kepulauan terluas di dunia, dengan ribuan pulau yang tersebar di khatulistiwa terletak pada posisi silang yang sangat strategis, yang berada di Benua Asia dan Australia serta Samudra Hindia dan Pasifik.

Wilayah Indonesia pada saat proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 masih mengikuti Territoriale Zee en Maritieme Ordonantie tahun 1939. Lebar laut wilayah Indonesia 3 mil diukur dari garis air terendah dari masing-masing pantai pulau Indonesia, penetapan tersebut tidak menjamin kesatuan wilayah NKRI. Hal ini lebih terasa lagi bila dihadapkan pada pergolakan-pergolakan dalam negeri pada saat itu. Mengingat keadaan lingkungan alamnya, persatuan bangsa dan kesatuan wilayah negara menjadi tuntunan utama bagi terwujudnya kemakmuran dan keamanan. Atas pertimbangan tersebut, maka dikeluarkan Deklarasi Djuanda pada tanggal 13 Desember 1957.

Deklarasi Djuanda menyatakan bahwa letak geografis Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri atas ribuan pulau besar dan kecil dengan sifat dan corak tersendiri. Deklarasi tersebut juga menyatakan bahwa demi keutuhan teritorial dan untuk melindungi kekayaan negara yang ada di dalamnya, pulau-pulau serta laut yang ada harus dianggap sebagai satu kesatuan yang bulat dan utuh, yang ditetepkan UU No:4/Prp Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia.

Sejak tahun 1960 luas wilayah berubah dari + 2 juta km2 menjadi + 5 juta km2, dengan 65 % wilayahnya terdiri atas laut atau perairan. Perairan laut Indonesia berdasarkan Konvensi Hukum Laut Internasional di Jamaika tahun 1982 dibagi menjadi 3 bagian yaitu :
Batas laut teritorial yaitu 12 mil dari titik terluar sebuah pulau ke laut bebas,. Berdasarkan batas tersebut, negara Indonesia memiliki kedaulatan atas air, bawah laut, dasar laut, dan udara di sekitarnya termasuk kekayaan alam di dalamnya.
Batas landas kontinen sebuah negara paling jauh 200 mil dari garis dasar ke laut bebas dengan kedalaman tidak lebih dari 200 meter. Ladas kontinen adalah dasar laut dari arah pantai ke tengah laut dengan kedalaman tidak lebih dari 200 meter.
Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) ditarik dari titik terluar pantai sebuah pulau sejauh 200 mil. Dengan bertambahnya luas perairan Indonesia, maka kekayaan alam yang terkandug di dalamnya bertambah pula. Oleh karena itu, Indonesia bertanggung jawab untuk melestarikan dan melindungi sumber daya alam dari kerusakan.

Peta Wilayah Laut Indonesia

Berdasarkan Konvensi Hukum Laut Internasional di Jamaika tahun 1982 perairan laut teritorial Indonesia terdiri atas tiga bagian yaitu laut teritorial, batas landas kontinen, dan zona ekonomi eksklusif (ZEE). Selain ketiga wilayah perairan laut masih ada wilayah ini berbeda di dalam dan di antara Kepulauan Indonesia. Contoh wilayah perairan ini misalnya Laut Jawa, Selat Sunda, Selat Makasar, dan Laut Banda.

Untuk kepentingan persahabatan antar negara maka dlam konvensi Hukum Laut Internasional ditetapkan adanya lintas damai melalui laut teritorial. Yang dimaksud lintas damai adalah jalur wilayah laut teritorial yang boleh digunakan oleh pihak asing sepanjang tidak merugikan bagi kedamaian, ketertiban, dan keamanan negara yang berdaulat.

Laut selain berfungsi sebagai penghubung wilayah satu dengan yang lain dalam memperlancar hubungan transportasi, juga kekayaan yang terkandung di dalamnya sangat menopang kehidupan rakyat. Potensi yang ada di laut dapat menimbulkan masalah apabila pengelolaannya tanpa memperhatikan lingkungan.

Untuk mencegah kerusakan lingkungan laut maka beberapa usaha yang dapat dilakukan adalah :
Membatasi penggunaan beberapa macam alat penangkapan ikan.
Alat penangkap ikan berupa pukat harimau dilarang guna melindungi berbagai ikan tertentu.
memperhatikan daerah, jalur, dan musim penangkapan.
Mencegah pencemaran dan kerusakan, melakukan rehabilitasi, dan budidaya sumber daya ikan.
Membatasi daerah penangkapan.
Pengelolaan sumber daya alam dengan pendekatan lingkungan. Sumber daya alam harus digunakan secara nasional, tidak merusak lingkungan hidup, dilaksanakan dengan kebijaksanaan yang menyeluruh, dan memperhatikan generasi yang akan datang.
Membuat undang-undang untuk melindungi penyu dan melindungi pantai tempat penyu bertelur.

Mengeluarkan PP No. 17 tahun 1974 tentang Pengawasan Pelaksanaan Eksplorasi dan Eksploitasi Minyak dan Gas Bumi di daerah lepas pantai untuk menjaga terpeliharanya lingkungan laut.

sumber :http://fatonipgsd071644221.wordpress.com/2010/01/06/materi-ips-sd-kelas-vi-semester-i-perkembangan-sistem-administrasi-wilayah-indonesia/

Rabu, 03 Februari 2010

kakek -kakek kita terdahulu

Syekh Abbas Abdullah dilahirkan di nagari yang bernama Padang Japang, sebuah nagari di kenagarian kecamatan Guguk Kabupaten 50 Kota sekarang ini. Dalam bidang pendidikan, nagari ini adalah nagari yang termasuk paling dahulu mempunyai tradisi edukasi dibandingkan daerah lain pada masanya. Hal ini dapat dibuktikan dengan terdapatnya di daerah ini dua buah institusi pendidikan Islam yang termasuk tertua di Sumatera Barat yaitu surau Syekh Abdullah, ayah dari Syekh Abbas. Kemudian yang satu lagi, surau Syekh Muhammad Shaleh, ayah dari Syekh Abdul Wahid. Surau Syekh Abdullah didirikan di Padang Japang pada tahun 1854, tidak lama setelah berakhirnya Perang Paderi. Sedangkan surau Syekh Muhammad Shaleh pada mulanya didirikan di Padang Kandis, kemudian dipindahkan ke Tabek Gadang Padang Japang pada tahun 1906. Kedua institusi pendidikan (baca: tradisional) Islam ini telah banyak melahirkan cerdik pandai dan tersebar di berbagai daerah di Sumatera Barat dan di luar Sumatera Barat.

Syekh Abbas Abdullah secara genealogis berasal dari kalangan ulama. Dalam dirinya terdapat "darah biru" ulama-ulama terkemuka di daerahnya pada zaman mereka masing-masing. Dari pihak ayahnya terdapat tiga orang Syekh yaitu Syekh Muhammad Shaleh (Syekh Munggu), Syekh Abdul Wahid dan ayah Syekh Abbas Abdullah sendiri yakni Syekh Abdullah. Syekh Muhammad Shaleh hidup dipertengahan abad ke-19 Masehi yang berasal dari suku Tanjung nagari Padang Kandis. Beliau adalah ulama tasawuf yang menganut aliran tarekat naqsyabandiah. Tarekat ini dipelajarinya langsung dari Mekkah. Ia merupakan kemenakan persukuan ayah Syekh Abbas Abdullah. Sedangkan Syekh Abdullah Wahid Shaleh adalah anak dari Syekh Muhammad Shaleh. Tanggal kelahirannya tidak diketahui secara pasti, tetapi tahun wafatnya diperkirakan pada tahun 1369 H. Beliau mendapat pendidikan pada mulanya dari ayahnya Syekh Muhammad Shaleh, setelah itu dengan Syekh Muhammad Saad Mungka, kemudian melanjutkan kepada Syekh Muhammad Thaib Umar di Sungayang. Setelah menamatkan pelajarannya dengan Syekh Muhammad Thaib Umar, ia membuka pesantren di Tabek Gadang Padang Japang pada tahun 1906. Di waktu menunaikan ibadah haji di Mekkah, beliau berkesempatan tinggal di sana untuk belajar dengan Syekh Said Yamany dan Syekh Said al-Malikiy. Setelah kembali ke kampung halamannya, beliau langsung mengajar di tempat semula dan menggabungkannya dengan sekolah yang sealiran yaitu Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) pada tahun 1928.


Syekh Abdullah adalah ayah Syekh Abbas Abdullah. Dilahirkan di Padang Japang pada tahun 1830. Bapaknya merupakan mamak (paman) dari ayah Syekh Muhammad Shaleh. Waktu Syekh Abdullah lahir, situasi sosial politik Minangkabau pada waktu itu sedang hangat-hangatnya Perang Paderi. Ia merupakan murid tertua dari Syekh Taram (Beliau surau Durian) dan dari Syekh Kumai serta Tuanku Gadut yang semuanya merupakan ulama-ulama besar Minangkabau pada masanya. Setelah menamatkan pelajarannya, langsung membuka pesantren di Padang Japang pada tahun 1854. Tidak lama setelah itu, beliau pergi menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Pada tahun 1857, beliau kembali ke kampung halamannya dan mengajar kembali di sekolah semula. Diantara murid-muridnya yang kemudian dikenal sebagai ulama terkemuka di daerah mereka masing-masing antara lain adalah Engku Mudo Karuang Sicincin, Engku Sutan Air Tabit, Engku Capuak Air Tiris dan Engku Lima Puluh di Malalo.


Ibu Syekh Abbas Abdullah bernama Seko yang berasal dari nagari Padang Japang. Ibunya bukan berasal dari kalangan ulama, akan tetapi berasal dari keluarga hartawan yang taat beragama. Syekh Abbas Abdullah bersaudara enam orang dari satu ayah dengan tiga orang ibu. Yang tertua bernama Syekh Muhammad Shalih, yang kedua Syekh Mustafa Abdullah dan merupakan saudara seayah seibu Syekh Abbas Abdullah. Sedangkan dari ibunya yang lain terdapat saudaranya yang lain yaitu Syekh Muhammad Said, Sa'adah dan Sa'adud. Dari enam orang tersebut, empat orang menjadi ulama. Dengan memiliki latar belakang keluarga seperti yang diterangkan diatas, telah membuka jalan yang sangat luas bagi Syekh Abbas Abdullah untuk menjadi ulama besar. Apalagi sejak kecil, beliau memang dikondisikan oleh ayahnya untuk kelak menjadi seorang ulama.

Sebagaimana halnya ulama pada masanya, Syekh Abbas Abdullah juga merupakan "orang jemputan". Istri beliau berjumlah tujuh orang yaitu Kalimah, Lian, Tobik, Soviah, Saliah, Rohana dan seorang lagi di Batuhampar (tidak diketahui namanya). Dari ketujuh orang istrinya tersebut, Syekh Abbas Abdullah dikaruniai 15 orang anak yang diberinya nama Sofia, Zuraidah, Abdul Muis, Fauzi, Naimah, Azhariah, Damsakti, Azhari, Nuraini, Zahriah, Firman, Ismet, Faruq, Farid dan Adliah. Pada umumnya mereka dididik disekolah Syekh Abbas Abdullah kecuali tiga orang yaitu Azhari, Faruq dan Firman. Diantara anaknya yang cukup berhasil dan mengikuti jejak beliau menjadi ulama adalah H. Fauzi Abbas yang melanjutkan memimpin sekolah Darul Funun. Syekh Abbas wafat pada tanggal 17 Juni 1957.


Syekh Abbas Abdullah mulai masuk sekolah pada umur tujuh tahun. Waktu itu, pendidikan dan institusi pendidikan merupakan sesuatu yang langka dan elitis, baik untuk daerah Padang Japang maupun daerah-daerah lain di Sumatera Barat pada umumnya. Hal ini disebabkan karena pemerintah kolonial Belanda tidak begitu memperhatikan kebutuhan pendidikan rakyat. Sekolah yang ada hanyalah Kweekschool di Bukittinggi dan beberapa sekolah Gubernemen kelas II. Maka kondisi yang minim ini, pendidikan surau merupakan alternatif yang terbaik ketika itu. Di daerah 50 Kota pada masa Syekh Abbas Abdullah ini tidak begitu banyak terdapat institusi pendidikan surau yang cukup baik, diantaranya surau yang terdapat di Batuhampar, Canduang, Sicincin, Mungka, Padang Panjang, Padang Japang dan Pandam Garang Suliki. Oleh ayahnya, Syekh Abbas Abdullah dimasukkan ayahnya ke surau Pandam Garang. Walaupun ayahnya merupakan seorang ulama dan memiliki surau sendiri, namun Syekh Abbas Abdullah bukan belajar di surau yang dipimpin ayahnya tersebut. Hal ini disebabkan karena tuntutan adat istiadat Minangkabau yang berlaku pada waktu itu dimana anak-anak yang telah berumur tujuh tahun ke atas tidak baik tidur bersama dengan keluarganya lagi.


Waktu belajar di Pandan Gadang ini, Syekh Abbas Abdullah termasuk anak yang cerdas dan keras hati dalam mendapatkan pelajaran. Dari gurunya di Pandam Gadang inilah ia mendapat "mutiara kata" yang kelak menentukan jalan hidupnya. Isi mutiara kata tersebut adalah "kalau kamu ingin menjadi orang yang pintar dan berguna nanti, maka pergilah belajar ke negeri Mekkah". Perkataan inilah yang mendorongnya untuk pergi ke Mekkah selagi umurnya belum pantas menunaikan ibadah haji. Setelah enam tahun belajar di Pandam Gadang, keinginannya untuk pergi ke Mekkah semakin menggebu-gebu. Pada tahun 1896, satu kesempatan berharga terbuka baginya untuk mewujudkan keinginannya tersebut. Pada waktu itu, mamaknya, Ibrahim akan pergi ke Mekkah menunaikan ibadah haji. Kesempatan ini tidak disia-siakannya. Ia bermohon kepada mamak dan keluarganya untuk diizinkan ikut ke Mekkah. Tetapi mamaknya melarang, sebab umurnya masih kecil dan jalan yang akan dilalui sangat sulit. Tapi melihat keinginan yang demikian besar dan kegigihan Syekh Abbas Abdullah merayu dan memohon mamak serta keluarga, akhirnya Syekh Abbas Abdullah diizinkan berangkat. Tetapi setelah selesai menunaikan ibadah haji, Syekh Abbas Abdullah tidak mau pulang karena ia ingin belajar di Mekkah. Pada mulanya mamaknya melarang, akan tetapi berkat kegigihannya, mamaknya terpaksa memberi izin. Di Mekkah ini kemudian ia belajar kepada mufti mazhab Syafii yang juga merupakan putra asli Minangkabau, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawiy.


Setelah beberapa tahun belajar dibawah bimbingan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syekh Abbas Abdullah kemudian npulang ke kampung halamannya. Setelah beberapa tahun mengabdikan diri dan mengajar di kampung halamannya, Syekh Abbas Abdullah kemudian melanjutkan pendidikannya ke centre ilmu pengetahuan Islam lainnya pada masa itu yaitu ke Mesir. Di Mesir, beliau belajar di Universitas Al-Azhar sebagai pendengar (mustami'). Salah seorang gurunya yang kemudian sering disebutnya adalah Syekh Badwiy, ulama pintar tapi memiliki cacat penglihatan (buta). Sementara itu, disamping belajar di Mesir beliau menyempatkan diri pergi belajar ke daerah-daerah lain di Timur Tengah serta Eropa untuk mengadakan komparasi (studi perbandingan) seperti Palestina, Libanon, Syiria, Swiss dan lain-lain. Di Swiss beliau bertemu dengan Mahmud Yunus yang pada waktu itu sedang melakukan kunjungan ke sana. Sewaktu akan kembali ke kampung halamannya kembali, beliau kembali menunaikan ibadah haji ke Mekkah, kemudian beliau terus menuju Mesir untuk mengantarkan putera kakaknya Talut Musthafa dan Nazaruddin Thaha. Melihat perjalanan pendidikan Syekh Abbas Abdullah ini, maka dari berbagai institusi pendidikan serta "warna" pendidikan yang dilaluinya, maka bisa diambil kesimpulan bahwa Mekkah dan Mesir merupakan dua "warna" yang sangat mempengaruhi pemikiran Syekh Abbas Abdullah. Figur Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi di Mesir dan figur pemikiran serta ide-ide Muhammad Abduh di Mesir, menjadi konhtributor terbesar dalam mempengaruhi orientasi pemikiran Syekh Abbas Abdullah dalam pergulatan hidup dan pemikirannya kedepan.


Melihat masih banyaknya tradisi kultural di Minangkabau, khususnya didaerahnya yang masih banyak terjadi hal-hal yang bersifat bid'ah dan khurafat, maka Syekh Abbas Abdullah mencari format dan strategi yang efektif menanggulangi ini. Untuk itu ia pergi menemui teman-temannya yang dianggapnya bisa memahami keinginannya seperti Syekh Muhammad Thaib Umar di Sungayang Batusangkar, Syekh Abdul Karim Amrullah di Padang Panjang dan Syekh Ibrahim Musa di Parabek. Bertepatan di waktu itu di Padang Panjang dan Parabek, Syekh Abdul Karim Amrullah dan Syekh Ibrahim Musa sedang mengkoordinir murid-muridnya di bawah suatu organisasi yang diberinya nama Sumatera Thawalib. Sebagai hasil dari kunjungan Syekh Abbas Abdullah menemui teman-temannya itu adalah bergabungnya pelajar-pelajar surau Padang Japang ke dalam Sumatera Thawalib dan sekaligus sekolahnya dinamakan dengan Madrasah Sumatera Thawalib. Dalam institusi pendidikan ini, Syekh Abbas Abdullah membina dan mengembangkan pola pendidikan yang nantinya berguna bagi murid-muridnya untuk menghadapi tantangan lingkungan yang penuh dengan tantangan.


Diantara pembinaan dan pengembangan yang beliau lakukan adalah mempersiapkan kader-kader muballigh. Kader-kader muballigh ini dilatihnya sekali seminggu yang disebut dengan muhadarah. Murid-murid dilatih bagaimana cara memberikan ilmu yang telah didapat kepada masyarakat. Pada mulanya kegiatan ini terkonsentrasi di sekolah saja, tetapi melihat animo masyarakat yang demikian tinggi, maka beliau mulai mengembangkannya dan membuka diri untuk masyarakat sekitarnya serta tidak hanya terfokus bagi para pelajar saja. Diantara pelajar-pelajar yang telah dirasa cakap dan mampu dalam muhadarah ini, barulah diterjunkan ke dalam masyarakat. Mereka inilah yang dibawa oleh Syekh Abbas Abdullah berkeliling dari kampung ke kampung. Di saat para murid-muridnya berdakwah, Syekh Abbas Abdullah sering ikut tapi tidak ikut berdakwah. Beliau baru ikut menerangkan suatu materi ketika ada masalah yang tidak dapat dipecahkan dan pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh para muridnya. Menurut H. Sya'ban Naim, salah seorang muridnya, Syekh Abbas Abdullah tidak biasa berdakwah dan berpidato. Ia tidak memiliki kemampuan maksimal sebagai seorang orator.


Ide-ide baru yang dikembangkan melalui media dakwah ini ialah merobah cara berfikir masyarakat yang telah terkontaminasi. Pelaksanaannya adalah berpedoman kepada pemikiran Muhammad Abduh yang masuk ke Sumatera Barat melalui majalah-majalah dan buku-buku karangan Muhammad Abduh sendiri seperti Al-Islam Ruhul Madaniyah. Di antara ide-ide Muhammad Abduh yang begitu ditonjolkan pada waktu itu adalah masih terbukanya pintu ijtihad, tetapi ijtihad tersebut tidak boleh dilakukan oleh semua orang, melainkan bagi orang yang telah memenuhi berbagai persyaratan yang telah ditetapkan. Masalah yang masuk dalam "wilayah" ijtihad ini tidak mengenai masalah ibadah, akan tetapi mayoritas masalah kemasyarakatan. Kemasuarakatan inilah yang harus disesuaikan dengan kehendak zaman. Dengan sendirinya taqlid kepada ulama tak perlu lagi dipertahankan, tetapi perlu diperangi karena taqlid seperti inilah yang akan membawa ummat Islam berada dalam kemunduran dan tidak dapat maju.


Sebagai konsekuensi dari ide-ide yang dikemukakan oleh pelajar-pelajar Sumatera Thawalib Padang japang dibawah bimbingan Syekh Abbas Abdullah ini mendapat tantangan dari beberapa kalangan ulama. Kondisi ini menimbulkan perdebatan-perdebatan antara yang mempertahankan dan yang menentang. Di mana-mana diadakan Majelis Tarjih untuk memperbincangkan berbagai masalah-masalah yang muncul sehingga masing-masing kelompok berusaha untuk mempertahankan perspektif mereka. Dalam konteks ini, maka timbullah iklim intelektual yang hidup. Syekh Abbas Abdullah dengan pelajar-pelajar asuhannya membentuk suatu majelis tarjih yang waktu itu lebih dikenal dengan nama Debating Club. Debating Club ini pada mulanya diadakan dalam perkumpulan pelajar-pelajar di bawah bimbingan Syekh Abdullah Abbas saja, satu kali dalam satu minggu. Kemudian, sebagaimana halnya yang juga terjadi pada pelatihan muhadarah, kegiatan Debating Club ini juga menarik perhatian masyarakat. Akhirnya kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Debating Club ini sering di tempat terbuka dengan mengundang pelajar-pelajar lain seperti dari Tabek Gadang, Mungka dan lain-lain.


Materi yang diperbincangkan dalam Debating Club ini adalah masalah-masalah yang banyak terjadi di tengah-tengah masyarakat seperti masalah riba, judi, ibadat, bank dan lain-lain. Pengikut-pengikutnya terdiri dari guru-guru dan murid-murid dari kelas tertinggi. Sedangkan Syekh Abdullah Abbas sebagai pembina hanya ikut menghadiri dan ikut aktif apabila ada masalah yang sulit dipecahkan atau dicari jalan tengahnya. Hasil dari Debating Club ini kemudian akan disiarkan atau diberitahu kepada masyarakat oleh para muballigh. Hasil yang diperoleh dari tradisi Debating Club ini sangat besar sekali. Terjadi perubahan pola pikir dalam masyarakat. Seorang yang akan berfatwa harus meneliti secara cermat darimana sumbernya. Karena itu, suatu hal tidak lagi diterima secara "membabi buta atau taqlid" dari seseorang begitu saja. Masyarakat tidak disuruh menerima tanpa mengetahui dasar-dasarnya. Dengan demikian, dalam masyarakat, timbul tradisi kritis.


Sementara itu, cara berfikir ulama-ulama semakin hari semakin maju dan terbuka. Pengembangan ajaran Islam tidak hanya melalui media dakwah (lisan) saja lagi, akan tetapi ditambah dengan media jurnalistik (tulis) yaitu dengan menerbitkan majalah. Majalah Islam yang pertama sekali terbit di Sumatera Barat adalah Al-Munir di bawah pimpinan Syekh Abdullah Ahmad dan H. Marah Muhammad bin Abdul Hamid yang dibantu oleh HAKA, Dahlan Sutan Lembak Tuah, H. Muhammad Thaib Umar dan Sutan Mahmud Salim. Isinya mengupas tentang soal-soal agama yang sulit seperti masalah taqlid kepada satu iman, soal berhimpun di rumah orang kematian pada waktu hari pertama dan ketiga serta seterusnya, soal niat dan membaca usalli, soal berfoto, soal berdiri di waktu barzanji, soal tuah burung ketitiran dan masalah berpuasa dengan hisab dan rukyah. Majalah ini kemudian terhenti terbitnya karena percetakannya terbakar.


Kemudian pada tahun 1918, majalah Al-Munir diterbitkan kembali di Padang Panjang dengan nama Al-Munir el-Manar. Majalah ini diterbitkan oleh Jamiah Sumatera Thawalib Padang Panjang dua kali dalam satu bulan. Rais Tahrirnya adalah Zainuddin Labay el-Yunusiy, al-Mudirnya H. Syu'ib, Muharrirnya Abdul Hamid dan Annazirnya Basa Bandaro Padang. Pembantu-pembantunya terdiri dari H. Ahmad Khatib, H. Rasyid dan Abdul Madjid Sidi Sutan. Sedangkan pemimpinnya adalah HAKA, Syekh Muhammad Djamil Djambek, H. Abdullah Ahmad, Syekh Ibrahim Musa Parabek dan Syekh Abbas Abdullah Padang Japang. Penerbitan majalah ini kemudian diikuti oleh Jami'atul Muzakarah Ikhwan Parabek dengan nama Al-Bayan. Sedangkan Sumatera Thawalib Padang Japang menerbitkan pula dengan nama Al-Imam yang dipimpin sendiri oleh Syekh Abbas Abdullah. Nomor pertamanya diterbitkan pada bulan Nopember 1919 M./1338 H. Majalah ini diusahakan oleh pelajar-pelajar Padang Japang dengan biaya dari Syekh Abbas Abdullah. Isinya terutama mengupas tentang masalah agama yang berkaitan dengan pembaharuan pemikiran. Disamping itu juga terdapat ruangan terjemahan dari majalah-majalah Arab seperti Al-Manar dan Al-Ahram dari Mesir.


Majalah ini disebarluaskan ke tengah-tengah masyarakat, sehingga orang yang jauh dapat bertanya kepada ulama tentang soal agama atau soal lain yang dikeragui. Karena itu, pengembangan pembaharuan pemikiran melalui majalah ini sangat besar pengaruh nya. Dengan cara-cara seperti ini, Syekh Abbas Abdullah telah banyak menyumbangkan pemikiran-pemikirannya dalam membentuk dan membina kader-kader ulama yang dapat diterjunkan ke dalam masyarakat untuk memperbaiki pola dan perspektif pemikiran mereka. Perjuangan yang demikian bukanlah sesuatu yang mudah, akan tetapi membutuhkan kesungguhan, ketabahan, pengorbanan fisik mental finansial dan keuletan. Karena yang diubah bukanlah masalah bentuk luarnya, melainkan adalah adat tradisi yang telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat kala itu.


Langkah awal yang dilakukannya adalah terlibat secara langsung dalam pembinaan (ikut mengajar) di surau peninggalan ayahnya yang dipimpin oleh kakaknya, Syekh Mustafa Abdullah. Usaha yang dilakukannya pertama sekali adalah menukar cara belajar yang waktu itu hanya mementingkan beberapa mata pelajaran saja. Kemudian berusaha memperbaharui beberapa kitab yang dipelajari. Melalui Syekh Abbas Abdullah, sistem pelajaran di surau milik ayahnya ini yang kemudian dirubahnya menjadi Sumatera Thawalib Padang Japang, mulai diperkenalkan kitab-kitab yang dikeluarkan Mesir seperti Bidayatul Mujtahid karangan Ibnu Rusyd, tafsir Muhammad Abduh dan tafsir Al-Jawahir. Kitab-kitab ini diajarkan pada murid-mirid yang telah berada pada kelas tertinggi yaitu kelas VI dan kelas VII. Di samping itu, beliau juga mengajarkan kitab Al-Islam wal Ulumul Ashriyah kepada murid-murid tertentu.


Kitab-kitab yang beliau ajarkan ini sangat disukai oleh pelajar-pelajar yang berfikiran maju. Kitab Bidayatul Mujtahid tidak memihak pada salah satu mazhab, sangat sesuai dengan pemikiran yang suka berijtihad. Tafsir Muhammad Abduh dan tafsir Al-Jawahir yang uraiannya sesuai dengan rasio, cocok pula dengan perkem-bangan zaman. Sedangkan kitab Al-Islam wal Ulumul Ashriyah disukai pula karena dapat menimbulkan kesadaran dan semangat juang ummat Islam dalam menghadapi penjajahan Belanda. Disamping itu, ilmu matiq mulai diajarkan pada murid-murid kelas lima ke atas. Ilmu ini sangat berguna dalam melatih menegakkan pendapat dalam berdiskusi. Sejalan dengan diajarkannya ilmu matiq, maka cara belajar pun mulai berobah. Kalau sebelumnya murid belajar secara pasif, maka sekarang para murid diminta untuk aktif. Seorang murid ditunjuk untuk membaca, kemudian yang lainnya diminta untuk membandingkan bila ada yang salah.


Di samping perubahan materi dan cara belajar ini, cara menuntut pelajaran juga berubah. Pada masa sebelumnya seseorang yang pergi menuntut ilmu terlebih dahulu harus pergi mencari "induk semang". Bila tidak dapat induk semang, maka pergi meminta-minta tiap hari kamis ke kampung-kampung. Tradisi ini mulai dilarang oleh Syekh Abbas Abdullah karena menurut beliau meminta-minta bertentangan dengan ajaran Islam dan merendahkan derajat serta ilmu seseorang. Dengan demikian, seorang murid membawa perbekalan yang cukup dari kampung halaman mereka masing-masing. Bagi yang kurang mampu, dicarikan pekerjaan pada sore harinya. Untuk meninggikan pandangan masyarakat terhadap pelajar-pelajar, maka Syekh Abbas Abdullah mulai mengatur cara berpakaian. Kalau pada masa dulu seorang pelajar mirip dengan "labai", maka oleh Syekh Abbas Abdullah, para murid disuruh berpakaian bersih dan rapi, memakai alas kaki dan rambut dipotong tetapi tidak dicukur habis. Melihat perkembangan Sumatera Thawalib Padang Japang yang demikian, membuat masyarakat banyak yang tertarik untuk belajar. Sehingga berdatanganlah murid-muridnya dari berbagai pelosok daerah seperti dari Tapanuli, Bangkinang, Bengkulu, Jambi dan lain-lain. Murid-murid periode inilah yang menentukan perkembangan pendidikan agama pada masa selanjutnya seperti Nasharuddin Thaha, Zainuddin Hamidy dan lain-lain.


Sekembalinya dari menuntut ilmu ke Mesir, Syekh Abbas Abdullah langsung mencurahkan tenaga dan fikiran sepenuhnya pada perguruan Sumatera Thawalib Padang Japang. Diadakannya perbaikan dalam sistem pengajaran dan peralatan dengan menerapkan apa yang dilihatnya di Universitas Al-Azhar. Sekolah dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian Ibtidaiyah dengan lama belajar selama empat tahun dan Tsanawiyah dengan lama belajar selama empat tahun. Sementara itu, pada tahun 1928, pengetahuan umum seperti ilmu bumi, sejarah, tata negara, biologi dan bahasa asing mulai di perkenalkan.


Dalam pada itu, organisasi Sumatera Thawalib yang telah berusaha menyatukan pelajar-pelajar Madrasah Sumatera Thawalib yang ada, mengadakan rapat di Bukittinggi. Di antara isi rapat tersebut adalah meninjau kembali kemungkinan dimasukkannya mata pelajaran praktis seperti mata pelajaran pertanian, pertukangan dan perdagangan. Rapat ini tidak berjalan mulus karena sebagian peserta menarik diri. Tambahan lagi, suasana politik sudah mulai masuk kedalam Sumatera Thawalib yang mengakibatkan organisasi ini berubah menjadi Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI). Syekh Abbas Abdullah selaku orang yang telah banyak merasakan asam garam kehidupan ini, telah mengetahui hal ini. Beliau kemudian berkata : "kalau sekolah sudah memasuki dunia politik, maka sekolah itu akan hancur, boleh berpolitik tapi jangan di sekolah". Karena itu, ia menarik sekolahnya dari keanggotaan Sumatera Thawalib dan kemudian menukar nama madrasahnya menjadi Darul Funun el-Abasiyah.


Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh Syekh Abbas Abdullah adalah memperbaharui bangunan gedung tempat belajar. Hal ini dilakukan karena pada masa sebelumnya pelajar-pelajar Padang Japang hanya belajar di surau. Untuk itu, Syekh Abbas Abdullah mewakafkan sebagian tanahnya dan mengumpulkan sumbangan dari masyarakat. Tahun 1928, keinginan kemudian terealisasi. Pada tahun 1927, Muhammadiyah mulai masuk ke Padang Japang. Salah satu kegiatannya adalah mendidik pemuda berorganisasi melalui organisasi kepanduan Hizbul Wathan. Terinspirasi dengan organisasi Hizbul Wathan ini, maka banyak institusi pendidikan Islam pada masa itu mendirikan organisasi seperti Hizbul Wathan tersebut. Sumatera Thawalib Parabek dengan Ansharullah-nya, Thawalib Padang Panjang dengan Al-Hilal-nya dan Darul Funun el-Abasiyah Padang Japang dengan kepanduan Al-Kasyaf-nya. Dengan berdirinya Al-Kasyaf ini, maka bidang pelajaran keterampilan mendapat perhatian yang besar pula di madrasah tersebut. Sehingga madrasah Padang Japang ini betul-betul termasuk institusi pendidikan Islam yang maju waktu itu.


Sekitar tahun 1934, kemajuan madrasah ini mulai goncang karena pemerintah kolonial Belanda mulai mencurigai madrasah-madrasah di Indonesia, terutama di Sumatera Barat, yang mempelajari materi yang memiliki potensi untuk menumbuhkan perasaan nasionalisme kebangsaan. Penggeledahan mulai dilakukan, tidak terkecuali Darul Funun. Hal ini membuat kegiatan pendidikan berhenti untuk sementara waktu, walaupun akhirnya kemudian dilanjutkan lagi. Pada tahun 1942, konstelasi sosial politik Indonesia berubah. Menyikapi perubahan sosial politik yang terjadi, berbagai madrasah di Sumatera Barat membentuk berbagai lasykar pemuda untuk memperjuangkan kemerdekaan tanah air. Madrasah Darul Funun Padang Jabang oleh Syekh Abbas Abdullah dibentuk lasykar Sabilillah dibawah pimpinan Saaduddin Syarbaini. Setelah Indonesia merdeka, sebahagian dari anggota lasykar ini ada yang aktif dan menjadi anggota militer, seperti anaknya sendiri, Kapten Azhari, dan lain-lain.


Secara ideologis, Syekh Abbas Abdullah telah membentuk rasa kebangsaan para anak didiknyua. Dengan dirubahnya kurikulum Sumatera Thawalib Padang Japang yang memberikan porsi pembelajaran mengenai tata negara dan sejarah yang secara tidak langsung akan menumbuhkan rasa kebangsaan, membuat pemerintah kolonial Belanda menaruh curiga terhadap institusi pendidikan Islam seperti Sumatera Thawalib Padang Japang ini. Ketika Syekh Abbas Abdullah mulai berkiprah dalam dunia kemasyarakatan dan pendidikan di kampung halamannya, pengaruh komunis mulai merambah Sumatera Barat, tidak terkecuali di institusi pendidikan yang dipimpinnya. Pelajar-pelajar Sumatera Thawalib banyak yang apresiatif terhadap komunis dan berkeinginan untuk memasukinya. Oleh Syekh Abbas Abdullah hal ini ditentangnya habis-habisan dengan mengatakan bahwa komunis merupakan ideologi yang berseberangan secara total dengan ajaran agama Islam, terutama yang menyangkut ajaran mereka mengenai anti Tuhan. Dengan demikian, Syekh Abbas Abdullah memiliki kontribusi yang besar dalam mengantisipasi pernyebaran ajaran komunis, terutama dalam masyarakatnya dan para pelajarnya.


Kedatangan Jepang ke Sumatera Barat, kolonial Jepang berusaha mendekati para ulama. Sementara itu, para ulama memanfaatkan keadaan tersebut untuk mengorganisir diri dalam suatu badan yang bernama Majelis Islam Tinggi (MIT) dibawah pimpinan Syekh Sulaiman Ar-Rasuli dan Syekh Muhammad Djamil Djambek. MIT secara umum bertujuan untuk memperkokoh keimanan dan menolak secara tegas tradisi Seikere (menyembah atau membungkukkan badan menghadap Tokyo). Ketika Jepang terdesak, Jepang berusaha untuk menarik pemuda-pemuda ikut perang membela Jepang. Akan tetapi, umumnya para pemuda tersebut tidak begitu tertarik. Yeno Kenzo, Residen Jepang di Sumatera Barat berusaha mengumpulkan sejumlah pemuka agama, adat dan cerdik pandai dalam rangka membentuk badan lain yang bernama Gyu Gun Ko En Kai yang merupakan bagian dari Hoko Kai. Rasionalisasinya adalah bahwa badan yang dibentuk ini merupakan tentara rakyat dan akan berdampingan membela tanah air dengan Jepang. Keinginan inipun disosialisasikan kepada masyarakat. Ketika kabar ini sampai ke Padang Japang, banyak para pemuda yang ragu-ragu, kemudian mereka pergi menemui Syekh Abbas Abdullah yang waktu itu merupakan salah seorang anggota MIT untuk minta pendapat. Syekh Abbas Abdullah kemudian mengatakan : "Kalah politik Jepang oleh Belanda. Kalau Belanda tidak boleh kita menjadi tentara baginya, tetapi Jepang dibolehkannya. Masukilah Gyu Gun itu nanti berguna bagi kita untuk memeranginya". Perkataan Syekh Abbas Abdullah ini sangat berpengaruh terhadap masyarakat dan murid-muridnya. Sehingga banyak dari masyarakat yang memasuki Gyu Gun, diantara Azhari, anak beliau sendiri. Ketika Indonesia merdeka, dan untuk mensikapi hal ini, maka pada bulan Desember 1945, MIT sebagai badan yang memiliki pengaruh besar di Sumatera Barat mengadakan kongres di Bukittinggi pada bulan Desember 1945. Hadir dalam kongres tersebut para ulama dari berbagai penjuru Sumatera Barat. Hasil kongres tersebut menghasilkan semboyan revolusioner yang berbunyi : "Siapa-siapa yang tewas dalam memperjuangkan kemerdekaan dewasa ini adalah mati syahid dunia dan akhirat". Di samping itu kongres tersebut juga membentuk tiga panitia yakni panitia fatwa, panitia barisan Sabilillah dan panitia politik.

(C) Tim Peneliti-Penulis FIB-Adab IAIN Padang

Sumber :
http://74.125.155.132/search?q=cache:L_Mhjhc2w_8J:
ulama-minangkabau.blogspot.com/2009/07/syekh
-abbas-abdullah-padang-japang.html+padang+japang
&cd=97&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a