Kamis, 16 September 2010

ALAM AKAN RAMAH JIKA KITA SAYANGI

Berhubung kakak akan berangkat ke Kairo mengikuti jejak Azzam untuk menuntut ilmu di negeri seribu menara tersebut, maka ummi menyempatkan untuk mengajak kakak menemui atok, nenek, etek, mamak dan sepupunya semua ke kampung Padang Japang Payakumbuh Sumatra Barat. Di kampung dalam waktu yang sangat terbatas, Alhamdulillah bisa main ke sawah dan kincir airnya Mak Bal. Mak Bal atau M.Iqbal adalah adik ummi yang ke 3 telah memutuskan jadi petani. Sebagai petani Mak Bal sangat mencintai profesinya juga sangat mencintai alam.

          Mak Bal dengan sekuat daya memulai menanam padi organik dengan pupuknya dari kotoran sapi dan ayam. Untuk bertani harus bisa menyayangi alam. Mak Bal bahkan sekuat tenaga bisa memelihara harimau dahan yang di kampung disebut harimau buluh. Orang yang berusaha menangkapnya dimarahi habis-habisan oleh Mak Bal, supaya jera menangkapnya. Bahkan sekarang harimau buluh Mak Bal sudah beranak pinak. Harimau buluh itu memakan tikus-tikus yang memakan padi. Petani juga yang untung kan?.

          Selain itu kalau sawah kering bahkan Mak Bal rela memindahkan berudu katak yang kekeringan supaya katak bisa hidup baik, karena katak akan memakan belalang. Keseimbangan alam akan mengasih yang banyak kepada manusia. Kolam air yang berasal dari Batang Sinamar yang dialirkan ke sawah melalui sebuah kincir air bahkan tanpa sadar mengasih hasil tambahan. Ketika airnya kering dialirkan ke sawah ummi, kakak dan adik-adik menangkap ikan. Ikan yang ada di kolam Mak Bal bukan hanya ikan yang sengaja dilepas.

          Pengalaman menangkap ikan mungkin pengalaman yang tidak bisa dilupakan oleh ummi maupun kakak. Selain mendapatkan ikan nila yang sengaja dilepas, kita juga menemukan ikan bansai, udang dan bahkan kerang hijau, pensi, ikan baung, yang mungkin berasal dari Batang Sinamar. Kolam Mak Bal yang dijaga supaya seimbang terus memberikan berkah. Betapa tidak beberapa tahun yang lalu di sawah sudah sangat sulit menemukan belut, apalagi ikan karena pemakaian pupuk buatan dan pestisida. Sekarang Mak Bal berusaha untuk tidak pakai pupuk apalagi pestisida. Semoga langkah Mak Bal diikuti oleh banyak petani lain. Sungguh petani yang tidak ramah terhadap hewan-hewan predator itu, sungguh masih bisa merasakan bahwa setidaknya sawahnya digerayangi tikus.

          Selain memelihara harimau dan katak Mak Bal juga berusaha memelihara ular-ular yang hidup di sawah. Jadi kalau ketemu ular Mak Bal akan mengusir aja dengan baik, bukan memburunya. Beberapa waktu yang lalu banyak yang menangkap ular, biawak dan kodok raksasa di sepanjang aliran Batang Sinamar. Sekarang setidaknya di sekitar sawah kita sudah mulai ada lagi ular, dan kodok serta burung puyuh. Juga seperti burung sikikih yang bewarna biru. Burung yang sudah terlanjur punah adalah burung taguak-taguak, tiang alau dan burung kasawai. Coba kalau ada orang yang paham dari dahulu tentu kakak bisa melihat lagi. Tapi yang bisa kakak saksikan adalah burung puyuh yang tidak punya ekor. Harimau hanya bisa dilihat tahinya saja, tahinya berupa bulu-bulu tikus. Kalau harimaunya tidak bisa dilihat karena keburu sudah siang, dilihat. Juga berhubung sawah Mak Bal luas sekali, jadi sulit mencarinya lagi di pojok mana keluarga harimau itu lagi berburu tikus. Kalau ketemu sih Insya Allah bisa dilihat, harimaunya agak jinak, layaknya seekor kucing saja.

          Memang sih harimaunya disangka kucing, persis kucing dan dipeluhara oleh Mak Bal. Harimau tersebut tidurnya di dangau di tengah sawah Mak Bal. Dulunya anaknya saja, induknya mungkin sudah mati diburu. Harimau buluh makin hari makin sulit dijumpai saat itu. Anaknya dipindahkan Mak Bal ke dangau dan dilihat Mak Bal tiap hari. Alhamdulillah juga masih ada jantannya. Sekarang harimau itu telah merupakan keluarga yang lumayan besar.Semoga bisa bertahan ya Mak Bal . Amin 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar