Senin, 27 April 2009

Darimana korupsi?

      Pertanyaan sederhana ini datang dari muridku, tiba-tiba muncul inspirasi aku menjawab, korupsi itu datangnya dari kebiasaan mencontek. Tidak belajar tapi ingin mendapat nilai yang baik tanpa ada usaha yang memadai dari kalian anak-anak ibu sekalian itu sama saja dengan memupuk bibit korupsi, bagaimana tidak dengan mudahnya mendapatkan hasil yang dimaui. Begitulah orang korupsi dimulai dari pilaku tidak jujur lama-lama mengambil punya orang.

      Prilaku itu anak-anak ibu sekalian yang dinamakan mencuri, anak-anak ibu tahu kan mencuri, tapi mencuri yang dinamakan korupsi itu lebih sadis dan orangnya disebut koruptor, bukan maling. Kalau maling mah masih punya perasaan, kalau koruptor sudah tidak punya perasaan lagi. Koruptor itu tidak pandang bulu mengambil apa saja yang dapat diambil, punya kita semua, punya rakyat miskin yang untuk hidup menyelesaikan hari ini belum pasti, karena mereka itu kadang-kadang sudah beberapa hari belakangan ada yang tidak bisa mengisi perut untuk sekedar bertahan hidup. Bahkan mereka ada yang sakit tidak mampu untuk berobat.

      Nah punya orang seperti ini masih diambil oleh orang yang disebut koruptor ituTernyata tidak ada diantara anak-anak iu yang menjadi koruptor, berarti masih punya perasaan. Kalau koruptor sangat sadis, mereka mengasih makan keluarganya dari hasil mengambil punya orang yang menyedihkan keadaannya itu.

      Tapi anak-anak, siswa-siswaku itu heran kenapa ya, korupsi itu jalan terus, darimana mau menghapusnya? Bagaimana cara menghapusnya kalau kalian masih mencontek dalam test. Kita tidak akan melakukan itu lagi bu, kita tidak mau digelari koruptor.

      Setelah siswa-siswa ini tumbuh kesadaran, tidak ada niat untuk mencontek lagi, tapi pelajaran mencontek didapat lagi di pendidikan yang lebih tinggi. Niat yang semula sudah tidak ada datang lagi dengan pertambahan usia dan bertambahnya jenjang pendidikan.

      Ketika menamatkan SMA untuk mendapatkan PT sudah sangat kompleks pelajaran yang mengikis kejujuran, dari bocornya soal ujian, membeli soal ujian, kongkalingkong dengan pihak penyelenggara ujian dsb,dsb. Yah pusing juga untuk sekedar menuntaskan jawaban sederhana tadi. Akhirnya masih belum bisa diuraikan darimana datangnya korupsi, sebab setiapini kehidupan itu sudah ada korupsi,......Semua berawal dari kata menipisnya KEJUJURAN ....Wallahu`alam bissawab.

Jumat, 24 April 2009

Alam takambang jadi guru

    Alam takambang jadi guru, sunnah kauniyah. Bercermin pada sunnah kauniyah dan mengambil pelajaran dari alam, dari ciptaan Allah SWT,itulah kira-kira maksud judul diatas.
Berasal dari filosofi Minangkabau dan menurutku ini cukup mengakomodir perintah Allah SWT dan RasulNya untuk mengeksplorasi alam, tapi Allah juga mengingatkan untuk tidak membuat kerusakan di muka bumi. 
     Ketika banjir datang, tanah longsor, terjadi dimana-mana, apa yang salah? Seandainya kita berguru kepada alam yang terkembang dan berfikir seperti apa yang dicontohkan Rasullah maka tidak akan terjadi musibah seperti apa yang terjadi di Situ Gintung, Galodo di Sumatra Barat, dll. Tapi kita manusia kadang suka egois, kita hanya memikirkan diri kita sendiri, istilah Minangnya, asal karung sendiri penuh, karung orang lain tidak peduli. Mau karung orang lain kosong, mau tumpah ...ya terserah dia, yang penting sendiri selamat. 
     Kalau difikir-fikir hal itu selama masih hidup di bumi Allah ini prinsip yang demikian tidak bisa dipakai. disebabkan azas manfaat pada bumi ini saling berkaitan maka prinsip diatas atau yang mirip-mirip diatas tidak kita sah... lah gitu. Yuk selamatkan bumi. Selamat Hari Bumi, Mari menanam pohon, juga kalau perlu buat rumah secukupnya, bumi ini cukup untuk semua orang, tapi tidak cukup untuk orang yang serakah, maka kalau sudah punya rumah mbok ya mikir untuk membuat villa-villa mewah apalagi di daerah resapan seperti di Puncak ya kan.... mudah-mudahan tidak ada yang tersinggung, saya hanya bermakud mari kita mulai memikirkan nasib bumi yang akan datang sesuai denga perintah Allah SWT dan contoh dari Rasulullah . Allahu Akbar 

Senin, 20 April 2009

Murid-muridku tersayang

     Menjadi guru sejujurnya bukan cita-cita pertamaku. Dari SD aku bercita-cita menjadi diplomat, maka selesai SMA di tahun 1982 aku langsung memilih Fakultas Hukum Universitas Andalas Padang, di tahun 1984 ketika penjurusan dapat di tata negara, berkaitan dengan cita-cita maka aku mengajukan pindah ke jurusan HI, yang pada waktu itu adalah jurusan sepi peminat dan dianggap anak bawang.
     Namun nasib menentukan lain begitu selesai kuliah, aku merasa nikmat menjadi seorang guru madrasah tsanawiyah di kampung kelahiranku desa Padang Jopang nagari VII Koto Talago Kecamatan Guguk Kabupaten 50 Kota. Semenjak itu menjadi guru membawa kenikmatan tersendiri bagiku. Berhadapan dengan bermacam type murid, wah... bisa awet muda.
Sekarang takdir Allah menempatkan aku menjadi guru di sebuah sekolah swasta, sama seperti sekolah-sekolah sebelumnya. Murid-murid mempunyai karakter yang beragam. Yang jelas yang kurasakan seperti guru-guru lain rasakan adalah kebahagiaan disaat seorang murid berhasil menyelesaikan setiap tahap pendidikannya. Tahun ini aku masih ditempatkan di kelas 6 SD di Sekolah islam terpadu Fajar Hidayah Kota Wisata Cibubur.
Bersama murid aku jadi kaya ide, ada muridku yang cerdas secara akademis, ada yang tidak maju akademis tapi spertinya berbakat menjadi diplomat, wah serasa cita-citaku dilanjutkan oleh mereka.
       Diantara muridku yang banyak itu murid kesayangan selalu saja yang berprilaku soleh, mudah diajak untuk beribadah. Mungkin ini yang digambarkan oleh Rasullullah dengan anak-anak yang sholeh, yang sering mengingatkan orang tuanya untuk beribadah, mengingatkan gurunya dikala lupam mencubit gurunya dikala lalai. 
      Aku jadi terfikirkan apa yang sudah aku bekali mereaka jika suatu saat mereka menginjak usia dewasa. Apakah aku bisa memberi mereka ilmu yang bermanfaat atau hanya mengasih mereka ilmu yang tidak ada manfaatnya baik oleh mereka sendiri atau oleh agama dan bangsa. Amin semoga lulus murid-muridku tersayang dan raihlah cita-citamu.....

Minggu, 19 April 2009

UAN

       Setiap tahun sudah lumrah siswa-siswa setiap jenjang pendidikan akan mengikuti ujian, UAN begitu istilahnya sekarang. Kalau dulu lain lagi istilahnya. Biasa setiap berganti mentri berganti kebijakan namun sebenarnya sama saja yaitu ujian akhir sekolah . Ketika saya sekolah, nilai ijazah sama saja, tidak ada istilah nilai nem atau yang lainnya pokoknya nilai yang diperoleh adalah nilai hasil belajar selama 6 tahun di SD. Beda dengan sekarang disamping nilai sekolah ada nilai diknas, atau nilai apalagi namanya..... 
       Boleh jadi UAN sekarang lebih baik dari yang dulu saya ikuti di tahun 1975, atau yang diikuti bapak saya di tahun 1948, atau sekolah yang diikuti kakek nenek saya ditahuan 30 an semasa zaman penjajahan. Boleh jadi lebih baik, lebih baik tapi tolong simak kondisi-kondisi berikut......
       1. Pengawas membantu siswa menjawab soal-soal, dengan dikoordinir oleh ep....maaf bagi yang tidak berbuat tidak usah tersinggung. Jawaban soal telah ditulis dimana gitu ...yang jelas siswa tingal beli atau tinggal jawab dengan menyalahkan 2 atau 3 soal . Artinya koordinator ,yang biasanya yang berkepentingan sudah mengatu persentase kelulusan. Barangkali maksudnya supaya kinerjanya dinilai bagus oleh atasannya mungkin...mungkin yah terserah deh.
      2. Setelah test berlangsung, biasanya di sekolah swasta ada guru dari sekolah lain yang mengawas ujian dan pengawas harus di kasih ongkos sebesar 10 kali lipat atau lebih dari ongkos yang sebenarnya namanya uang transpor....o dana ya dana.....kali ya.
      3. Ketika hasil tes akan dikirim ke yang berkepentingan biasanya hasil test itu langsung dimasukan kedalam amplop dan dilakban supaya tidak ada yang ngintip atau meniup sehingga ada perubahan. Tapi pernah terjadi di suatu sekolah, ketika semua sudah sesuai prosedur pengawas malah bertanya ,.... gimana nih guru-guru disini (di sekolah penyelenggara) apa sudah yakin dengan hasil tes ini nanti? Kok langsung dilakban?............maksudnya???
      4. Dan banyak kejadian lain yang mungkin bisa disebut dengan "kecurangan". Ada yang menggunakan high technologi....ah saya tidak paham caranya bagaimana yang jelas ada siswa tanpa belajar bisa dapat jawaban dan nanti lulus.
     Lalu apa namanya ini kalau bukan pembodohan, bukan untuk membuat masyarakat melek pendidikan. Kemudian kultur apa yang akan muncul dalam situasi yang seperti ini. Kemudian apa bisa tanpa belajar yang benar dapat ilmu, kemudian bagaimana mentalitas bangsa, kemudian kapan Indonesia akan sejajar denagan bangsa lain , kemudian....banyak akibat yang terbayang di benak saya ketika memikirkan hal ini.
     Sayangnya saya tidak terpikir bagaimana mengurai masalah ini, dan menghapus satu persatu sehingga bangsa ini menjadi bangsa yang bisa diandalkan ....Apakah para pembuat kebijakan tahu di lapangan kejadian hal-hal seperti ini? Kalau tahu kenapa tidak membuat kebijakan yang ringkas, dan dimengerti oleh setiap level pelaksana pendidikan?.
Banyak perilaku lain baik itu dari guru, setiap level diknas , siswa dan orang tua siswa yang tidak berfikir jauh, fikirannya cuma sampai anaknya lulus, siswanya lulus, atau bawahannya bekerja dengan baik, Ah sudahlah..... untuk tahap pertama saya hanya bisa berbuat dengan tidak melakukannya terhadap anak didik, walaupun orang tua ada indikasi ke arah itu. Dan juga saya tidak akan berbuat yang sama ketika saya menjadi orang tua. Saya juga menuliskan uneg-uneg saya di kesempatan ini supaya yang membaca tidak ikut-ikutan prilaku tidak terpuji tersebut, Semoga Allah membuka pintu hati saya dan membuat pembaca paham yang saya maksud Amin.

Kamis, 16 April 2009

PDRI

 

PDRI 59 Tahun






"Apa jadinya Republik, jika PDRI tidak ada.

Apa jadinya Republik , jika Sjafrudin tidak mau kembali ke Jogya, apa jadinya negara kita ini ? " ungkap Halim dalam pertemuan malam hari di rumah Kak Jawa di Padang Japang malam tanggal 6 Juli 1949 tersebut ( Ismail " Hasan Hari Terakhir PDRI"26- 2002)


Malam tanggal 6/7 Juli 1949 di rumah isteri H. Mahmud Yunus bernama Jawahir, di kampuang suku Sikumbang Padang Japang berlangsung perundingan yang sangat serius, tegang, harap dan cemas (alot) antara Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia ( Presiden PDRI ) Sjafruddin Prawiranegara dengan utusan Presiden RI Soekarno; yakni Moh. Natsir, dr J.leimena, dr.Halim dan Agus Yaman dan kawan-kawan dari Yogyakarta ( bukan delegasi Bangka).
Yang dibicarakan adalah tentang pengembalian "mandat Pemerintah RI" dari PDRI ke Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh.Hatta yang sudah kembali ke Yogyakarta setelah dibebaskan dari tawanan Belanda di Pulau Bangka.
Rombongan dari Yogya ini disambut di bata garis tempur Belanda dan PDRI di nagari Guguak , yang datang menjemput antara lain Suska, Djir Muhammad, Kol.Adam dan Kol Sujono.
Ketegangan adalah perbedaan pandangan antara kelompok PDRI yang diketuai Sjafruddin dengan utusan Soekarno Hatta dari Yogyakarta;Yang berunding ke kapal Renvile adalah orang-orang tawanan Belanda di pulau Bangka yang dipimpin Moh.Roem, sedangkan kekuasaan sah Republik Indonesia dipegang Sjafrudin di dalam daerah republik sendiri di Sumatera Tengah.Kedua mandat yang akan dikembalikan ke Yogyakarta itu tidak pernah sampai ke tangan Sajafrudin. Tidak ada yang akan dipulangkan.
PDRI adalah pemerintahan Republik Indonesia yang sah dan nyata ada, dalam mempertahankan kemerdekaan.Tiap tahun peristiwa ini diperingati, monumennya didirikan di Padang Japang dan juga beberapa prasasti lain di VII Koto Talago yang merupakan basis utama PDRI di Sumatera, seperti di Tobek Godang dan lapangan bolakaki Koto Kociak.
Sjafruddin Prawiranegara menyesalkan kenapa yang diajak berunding orang tawanan, tidak pemegang kekuasaan yang nyata ada PDRI. Natsir pun juga menyesalkan hal perundingan dengan Belanda yang menghasilkan " Roem- Royen Statement " tersebut.

Namun akhirnya Sjafruddin dapat juga menerima alasan-alasan Natsir yang juga menentang "Roem-Royen Statetent" tersebut, setelah Natsir Dt. Sinaro Panjang mengungkap syair; " Tidaklah semua keinginan manusia dapat tercapai, karena angin di lautan tidak selamanya mengikuti kehendak kapal yang sedang berlayar"

Pada tanggal 7 Juli dilakukan rapat umum perpisahan PDRI dengan masyarakat pendukunganya di lapangan sepak bola Koto Kociak, Tujuah Koto Kec. Guguguak, Lima Puluh Kota.
" Waktu mendirikan PDRI kita bukan untuk merebut pangkat dan korsi, karena kita sering duduk di atas lantai saja. Kita tidak mpuas dengan persetujuan Roem-Royen, persetujuan yang dibuat Presiden dan Wakil presiden dengan se akan-akan memandang sepi PDRI. Tetapi buat kita semuanya itu tidak kita persoalkan, karena yang penting ialah kejujuran dan keselamatan rakyat. Siapa yang jujur kepada rakyat dan pada Tuhan , perjuangannya akan selamat. kata Sjafrudin dalam pidato perpisahannya dengan rakyat pendukung PDRI dan para pejuang Perang Kemerdekaan RI ke II.
Natsir berkata pula dalam pidato perpisahannya berupa pantun ; Mendaki ke Gunung alang, Menurun ke Batu Banyak, Nampak nan dari Saruaso, Lah duo kali dilanggar pasang ( Belanda , Jepang ), Namun Tapian indak baranjak, Disinan lataknya Tanago Bangso.;
Mendaki ke gunung Merapi, Menurun ke Tabek Patah, kelihatan dari Koto Tuo; Sudah Tiga kali musim berganti ( Belanda, Jepang, Republik), sudah kita yang memerintah, namun nasib kami tidak berubah.
Tanggal 8 Juli 1949, Sjafrudin bersama Natsir serta rombongannya dilepas resmi masyarakat di Padang Japang dan diantarkan sampai ke garis demarkasi di Guguak Dangung oleh anggota pengaman yang dikomandokan Mayor A. Tahlib.
 Diambil dari blog uda yan abdullah

Sabtu, 11 April 2009

15 jam di tps

     Tanggal 9 april 2009 benar-benar surprise. Pukul 7.00 pagi mencontreng di tps 24 desa Ciangsana, desa yang bertetangga dengan desa Cikeas tempat tinggal presiden SBY Kec Gunungputri Kab Bogor. Sekali2 jangan bayangkan bhw penduduknya berpendidikan tinggi walaupun sebelahan dg Kota Wisata dan dekat sekali dg org no 1 negeri ini. Kpps sungguh sibuk karena kebanyakan penduduk tdk mengerti bgmn mencontreng, jgnkan mencontreng pegang ballpen aja msh susah. Melihat keadaan ini tdk terasa berlinang airmata saya, betapa tdk ...jgnkan utk mengerti utk apa pemilu, untuk membaca saja mereka tidak mampu dan.... ternyata mereka muslim. 

     Setelah antri kurang lebih 1/2 jam, pindah ke tps 6 untuk melaksanakan tugas sebagai saksi. Kejadian serupa berulang. Dengan susah payah kpps menerangkan bagimana cara mencontreng.....mudah? tidak saudara-saudara, bagaimana bisa nenek-nenek dan aki-aki yang tidak melek aksara tiba-tiba diajak untuk pegang ballpoin. Tentu aja hal yang sulit bukan? Terbersit dalam pikiran apakah ini dipikirkan oleh yang berkompeten dalam masalah pencontrengan?. Ini kejadian dekat sekali dengan pusat kekuasaan, bagaimana lagi yang jauh ke desa-desa.

     Menurut saya sangat tidak mungkin kita berdebat tentang pro kontra golput padahal harus banyak yang diperbuat untuk rakyat. Kenapa ya kita tidak berbuat? Rakyat tidak memikirkan pemilu untuk apa . Kita yang sudah "melek" ini berfikir juga dengan cara berfikir mereka., sederhana dan tidak perlu polemik. Dan ingat........ mereka memrlukan payung hukum untuk banyak berbuat mengenai nasib mereka , bukan sekedar menjejali mereka dengan pemahaman aqidah, syariat dsb.

     Memasuki Magrib penghitungan suara masih belum selesai, kpps dengan segenap perangkatnya berkutat terus menyelesaikan penghitungan suara. Dan berakhir pkl 21 WIB..... Untuk saudara-saudara ketahui kecuali saya seluruh yang hadir disitu tidak ada yang melaksanakan kewajiban sebagai umat Islam, tiga shalat bablas..... Silakan da`wahi yang begini dengan meningkatkan aqidah, saya pikir ampe ubanan InsyaAllah mereka tidak paham.

     Menurut saya tugas kita sekarang bagaimana menggiring mereka ke tps dan memilih caleg yang jelas komitmen keislamannya untuk kemudian perlahan sesuai dengan Sunatullah melahirkan UU yang sejalan dengan Islam tanpa gembar gembor penegakan syariat Islam, yang jelas substansi harus Islam . Mereka tidak mengerti maka setiap sudut kehidupan diislamkan tanpa hanya berkoar-koar, sebab mereka juga takut dengan Islam serta mereka tidak paham dengan dosa. Yang mereka paham bagaimana bisa menghidupi keluarga saat ini.

     Ya kan sodara nah, sekarang mari kerja bukan memprovokatori supaya golput ....okey sodara banyaklah berjalan, banyak melihat dan banyak memahami. ini mah saya di sms melulu ama pro golput, untuk ikut mereka padahal saya sudah bilang jelas2 supaya jangan diajak untuk golput, sya punya pandangan sendiri tentang hal ini. Silakan anda golput okey ,saya tidak akan golput .ws

 

Selasa, 07 April 2009

Pendidikan kewarganegaraan

Ketika pemilu dilaksanakan sekali 5 tahun di Indonesia banyak hal dan banyak kemungkinan yang bisa terjadi.
1. Pemilu berjalan lancar tapi hak-hak rakyat dikebiri.
2. Pemilu kacau balau tapi mngkin rakyat puas, semua bisa berpendapat, mau golput, mau mendirikan partai sampai 100 juga tdk masalah.
3. Berjalan lancar dan hak-hak rakyat bisa dipenuhi, setidaknya sudah menuju sempurna.
4. Tdk brjalan lancar dan hak rakyat dikebiri.
Boleh jadi Indonesia masih dalam katagori ke 4 ini. Kenapa saya katakan begitu? Ini faktanya, sampai h-1, logistik masih belum lengkap saya lihat di tipi pagi ini beberapa kpps mengundurkan diri. Angka golput tinggi baik karena idealismenya ataupun karena terpaksa golput. Contohnya saya dan kalau dikalkulasi ada 50 orang teman guru, ada lagi tetangga saya, wah pokoknya jadi banyak angka 500 jadi sangat mungkin bagi saya dan tetangga. Kontrakan2 yg rata2 penghuni 20-40 klrg tdk msk Dps apalagi dpt, tdk didata dsb. Yah repot mau dibicarakan pokoknya kecewaaa sekali. Nah ba'da 9 april ini saya mesti perjuangkan lagi ke kantor desa, syukur2 tdk ada alasan. Yah ini urusan bps lah, kita tdk tahu lah,urusan ini atau anu lah dsb. Lebih syukur lagi 5 tahun lagi sdh online real time, yg artinya rakyat sudah lebih tahu. Utk sekarang jgn katakan rakyat sdh cerdas lah, itu baru di kota2. Semoga ya ws

Jumat, 03 April 2009

Kampuang nan jauah di mato

PADANG JOPANG "PEMBARUAN"

Padang Japang ; adalah nama sebuah jorong di Kenagarian Tujuah Koto Kecamatan Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat. Berada di bagian Utara Kab. Lima Puluh Kota, atau sekitar 13 Km dari Ibukota Kabupaten " Sarilomak".
Saya dilahirkan dan dibesarkan orang tua saya di desa (jorong) ini. Sebelum meneruskan pendidikan ke Payakumbuh dan Padang. Masa kecil saya banyak habis di daerah ini bersama--teman- teman sebaya. Banyak kenangan di daerah pedesaan yang damai dan ramah ini. Air hitam dan Tanjuang Mambua terletak di bagian hilir ( Timur ) jorong Padang Japang, Tujuah Koto, Kecamatan Guguak, Kab.Lima Puluh Kota.
Kawasan rumah orang tua saya berada di "Pokan Kalilawea" ( pasar kampret), karena diramaikan di sore hari menjelang magrib. Di Pokan Kalilawea ini, bukan pasar "klewer Yogya " ada Parik Godang, benteng pertahanan Tuanku nan Biru semasa perang Paderi. Benteng berupa parit tanah yang ditinggikan sekitar 4 Meter ini, membentang dari Mambua sampai ke Ketinggian melewati "Padang Toruang Asam dan Solok Datuak Panjang Lidah.
Disinilah saya dilahirkan bulan Januari tahun 1952. Sampai menamatkan SD Negeri di Padang Japang dan SMP Negeri di Dangung-Dangung, saya tinggal bersama orang tua saya, ayah Abdullah, Ibu Lawiyah; Kakak tertua Hayati- suaminya tentara Lettu TNI Mansyur dan kakak saya laki-laki bernama Muchlis. Isterinya bernama Dalwina tinggal di jorong Ampang Godang, masih dalam Kenagarian Tujuah Koto. Setelah tamat SMP saya melanjutkan ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG ) di Payakumbuh dan Kemudian melanjutkan ke Sekolah Tinggi Olah Raga (STO) negeri di Padang. Di jorong Padang Japang ini masyarakatnya berada dalam komunitas pendidikan. Banyak sekolah di Jorong Padang ini. Mulai dari Sekolah Taman Kanak-kanak ( STK), Tsnawiyah, Aliyah negeri, satu pagar dengan rumah orang tua saya. Malah tanah tempat sekolah ini berdiri, berasal dari persukuan ( clan ) saya " Bendang ". Disamping masih ada lembaga Pendidikan Agama yang seudah terkenal sejak zaman Belanda ; "Darul Funun El Abasyiah "; lokasinaya di baruah ( lembah ) Puncak Bakuang.
Di Tebing Puncak Bakuang juga ada lembaga pendidikan khusus untuk perempuan " Nahdatun Nisaiyah " , masih bagian dari manajemen pendidikan Darul Funun. Masih dalam jorong Padang Japang berdekatan dengan SD Negeri No.2 Talago di Padang Japang adalagi lembaga Pendidikan Guru Agama ( PGA ) di kawasan Pokan Sinoyan, kini berganti nama dengan "Aliman Syolihah ".
Dulu semasa Pra Kemerdekaan gedung sekolah PGA tersebut menjadi pusat kegiatan pemuda BPPI, seterusnya menjadi pusat pengkaderan PSII. Pernah dikunjungi oleh Aruji Kartawinata semasa perjuangan kemerdekaan.
Ke Selatan dari Pokan Sinoyan, ada pula lokasi sekolah di Tobek Godang, masih dalam jorong Padang terdapat kompleks pendidikan bernama " Tarbiyah Islamiyah ".
Pada zaman Belanda hingga terjadinya peristiwa PRRI, tahun 1959-1960; kedua perguruan agama yang memberikan pendidikan agama islam tersebut banyak didatangi murid dari luar daerah Sumatera Barat; seperti Kerinci, Bengkulu, Jambi, Siak, Tapanuli dan malah ada yang datang belajar dari Malaka. Namun setelah tahun 1960-an murid-murid dari luar daerah, seiring denngan meninggalnya beberapa guru yang potensial, dan kekurangan biaya pendidikan sempat sekolah itu tidak melakukan kegiatan apa-apa.
Namun seaja lima tahun terakkhir, baik Darul Funun maupun Tarbiyah sudah giat kembali setelah menerima bantuan dari para donatur.
Sementara itu di Pokan Kalilawea, Tsanawiyah dan Aliyah negeri sudah sangat lancar melaksanakan pendidikan dengan bantuan penuh dari Departemen Agama.
Makam Syech Abbas Abdullah dan Syech Mustapa Abdullah
Syech Abbas Abdullah, salah seorang pelaku pembaruan pendidikan di Sumatera Barat. Ia membawa perubahan pola pendidikan surau " Halaqah " ke sistem pendidikan "Klasikal". Setelah pulang dari menunaikan haji di Mekah, ia melakukan study banding ke Universitas Al Azhar di Mesir dan sesampai di Indonesia ia mengunjungi beberapa pesantren di pulau Jawa. Setelah sampai di Padang Japang kembali Abbas Abdullah, ia melakukan perobahan dan pembaruan manajemen sekolah sesuai dengan konsep pembaruan sistem pendidikan dan kurikulum yang dilhatnya Universitas Al Azhar tersebut untuk diterapkan di Darul Funun dan Nahdatun Nisaiyah.
Sewaktu perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI Abbas Abdullah diangkat menjadi " Imam Jihad " di Sumatera Tengah. Dalam pergerakan ia melepas anak didik ( santri) dan keluarganya untuk ikut berperang dan maju ke medan tempur melawan Belanda sekitar 1948-49, malah fasilitasnya sekolah Darul Funun dan Nahdah sering digunakan para pejuang RI yang bermarkas di Pokan Sinoyan Padang Jopang.
Salah seorang ankanya yang aktif sebagai militer hingga kemderakaan diperoleh dan bergabung aktif sebagai militer adalah Letnan Azhari Abbas, lulusan pendidikan perwira (Kadet) KDMST di Bukitinggi. Pangkat terakhir adalay Mayor TNI.

Bangunan Gedung sekolah (Pesantren )

" DARUL FUNUN EL ABBASYIYAH"

yang terbengkalai di Baruah Puncak Bakuang Padang Jopang.

Menunggu Bantuan Donatur


nb:di copy dari ;tulisan yanuar abdullah
     putra nagari padang jopang