Boleh jadi UAN sekarang lebih baik dari yang dulu saya ikuti di tahun 1975, atau yang diikuti bapak saya di tahun 1948, atau sekolah yang diikuti kakek nenek saya ditahuan 30 an semasa zaman penjajahan. Boleh jadi lebih baik, lebih baik tapi tolong simak kondisi-kondisi berikut......
1. Pengawas membantu siswa menjawab soal-soal, dengan dikoordinir oleh ep....maaf bagi yang tidak berbuat tidak usah tersinggung. Jawaban soal telah ditulis dimana gitu ...yang jelas siswa tingal beli atau tinggal jawab dengan menyalahkan 2 atau 3 soal . Artinya koordinator ,yang biasanya yang berkepentingan sudah mengatu persentase kelulusan. Barangkali maksudnya supaya kinerjanya dinilai bagus oleh atasannya mungkin...mungkin yah terserah deh.
2. Setelah test berlangsung, biasanya di sekolah swasta ada guru dari sekolah lain yang mengawas ujian dan pengawas harus di kasih ongkos sebesar 10 kali lipat atau lebih dari ongkos yang sebenarnya namanya uang transpor....o dana ya dana.....kali ya.
3. Ketika hasil tes akan dikirim ke yang berkepentingan biasanya hasil test itu langsung dimasukan kedalam amplop dan dilakban supaya tidak ada yang ngintip atau meniup sehingga ada perubahan. Tapi pernah terjadi di suatu sekolah, ketika semua sudah sesuai prosedur pengawas malah bertanya ,.... gimana nih guru-guru disini (di sekolah penyelenggara) apa sudah yakin dengan hasil tes ini nanti? Kok langsung dilakban?............maksudnya???
4. Dan banyak kejadian lain yang mungkin bisa disebut dengan "kecurangan". Ada yang menggunakan high technologi....ah saya tidak paham caranya bagaimana yang jelas ada siswa tanpa belajar bisa dapat jawaban dan nanti lulus.
Lalu apa namanya ini kalau bukan pembodohan, bukan untuk membuat masyarakat melek pendidikan. Kemudian kultur apa yang akan muncul dalam situasi yang seperti ini. Kemudian apa bisa tanpa belajar yang benar dapat ilmu, kemudian bagaimana mentalitas bangsa, kemudian kapan Indonesia akan sejajar denagan bangsa lain , kemudian....banyak akibat yang terbayang di benak saya ketika memikirkan hal ini.
Sayangnya saya tidak terpikir bagaimana mengurai masalah ini, dan menghapus satu persatu sehingga bangsa ini menjadi bangsa yang bisa diandalkan ....Apakah para pembuat kebijakan tahu di lapangan kejadian hal-hal seperti ini? Kalau tahu kenapa tidak membuat kebijakan yang ringkas, dan dimengerti oleh setiap level pelaksana pendidikan?.
Banyak perilaku lain baik itu dari guru, setiap level diknas , siswa dan orang tua siswa yang tidak berfikir jauh, fikirannya cuma sampai anaknya lulus, siswanya lulus, atau bawahannya bekerja dengan baik, Ah sudahlah..... untuk tahap pertama saya hanya bisa berbuat dengan tidak melakukannya terhadap anak didik, walaupun orang tua ada indikasi ke arah itu. Dan juga saya tidak akan berbuat yang sama ketika saya menjadi orang tua. Saya juga menuliskan uneg-uneg saya di kesempatan ini supaya yang membaca tidak ikut-ikutan prilaku tidak terpuji tersebut, Semoga Allah membuka pintu hati saya dan membuat pembaca paham yang saya maksud Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar