Senin, 28 Desember 2009

Perjalanan lanjutan

Tahapan lanjutan perjalanan, abi beli tiket gumarang jaya karena penumpang banyak k sumatra barat ya terpaksa dapat bagian belakang. D bis penuh sampah dan asap rokok, dalam pikiran ummi terlintas , apakah petinggi negeri ini pernah tahu kondisi ini, dimana sebagian bsr rkyt tdk tahu aturan? Atau sama aja sama2 tdk melek tata tertib, mikir diri sendiri, org lain terserah?!.??

Sabtu, 26 Desember 2009

Perjalanan

Tdk selamanya perjalanan menyenangkan, naik kapal dari merak - bakauheni terasa sangat hiruk pikuk dg musik dangdut bahkan dlm wkt shalat zuhur pun dangdut ttp jalan

Rabu, 23 Desember 2009

Syahid?

Mahasiswa IAIN: Sebelum Kejadian, Ridho Shalat Tahajut

Ilham Safutra - Padang Ekspres


Tidak pernah ada seorang pun di atas muka bumi dapat mengira, kapan ajal menjemput. Semua itu rahasia illahi. Sungguh pun begitu, sebelum janji Maha Kuasa itu jatuh pada waktunya, janganlah kita selaku hamba untuk meninggalkan perintah-Nya. Ridho Akhyar salah seorang dari tiga mahasiswa IAIN Imam Bonjol yang korban tertimpa bangunan di Wisma Alkahfi, Tigoruang, Kelurahan Lubuklintah, Kecamatan Kuranji, Senin (14/12) dini hari dimakamkan di kampung halaman, Jorong Aiebatumbuk, Nagari Paninjauan, Kecamatan X Koto Di Atas, Kabupaten Solok.

Selasa (15/12) siang itu, wakhtu zuhur telah masuk beberapa menit. Padang Ekspres pun tiba di rumah panggung berwarna cat putih hijau. Rumah tersebut masih ramai dengan pelayat. Umumnya pelayat yang datang itu kerabat jauh dan teman-teman sanak saudara almarhum Ridho Akhyar. Di rumah itulah, mahasiswa semester tiga Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Adab, IAIN Imam Bonjol, Padang itu lahir dan dibesarkan.

Kawasan tempat tinggal almarhum berjarak 30 km-an dari Arosuka, ibukota Kabupaten Solok. Perjalanan mencapai rumah itu, koran ini terpaksa melintasi Kota Solok, kemudian berlanjut menyisiri pinggir bukit yan bertebing tinggi dan jurang cukup dalam. Jalan menuju rumah almarhum pun penuh dengan tikungan tajam dan pendakian dan penurunan curam. semua itu memerlukan waktu sekitar 45 menitan.

Di ruang tengah rumah itu, tampak dua orang berusia senja, Yuhanis, 66 dan ibunya Nurside, 58 namanya. Mereka tak lain adalah orang tua Ridho. Mukenah putih yang digunakan Nurside saat shalat zuhur masih terpasang di badannya. Dia duduk di salah satu bagian dinding arah bagian depan, sambil melayani pelayat yang bertakziah atas meninggal anak bungsu tercintanya.

Dengan sabar dia terus menjawab pertanyaan tentang bagaimana kronologi kejadian terus dilontarkan pelayat kepada istri Yohanis itu. Tak sadar, sesekali dalam menjelaskan kejadian kepada pelayat, air muka Nurside berkaca-kaca. Bahkan air mata yang membasahi pipinya yang mulai keriput itu sampai menetes hingga ke mukenahnya.

Kedua orang tua itu menceritakan prosesi pemakaman anak bungsunya itu. Jenazah almarhum Ridho Akhyar telah dikuburkan di pemakaman keluarga di Surau Kajang, Jorong Aiebatumbuk, Nagari Paninjauan, Kecamatan X Koto Di Atas, Kabupaten Solok, Senin sore. Jenazahnya tiba di kampung halaman, sekitar pukul 17.00 WIB. Sebelum dimakamkan, jenazah almarhum sempat disemayamkan di rumah duka yang disambut penuh dengan rasa duka mendalam.

"Sejak berita buruk itu sampai ke kampung disampaikan kakaknya Yuhendri (kakak Ridho) seluruh warga kampung ini terkejut. Kami menunggu jenazah sampai di rumah hingga sore," ujarnya mengawali cerita.

Kejadian tersebut tidak pernah dikira Nurside. Bahkan sehari sebelum kejadian pun, Nurside tidak pernah mersakan firasat buruk sekalipun. Nurside hanya mengalami telinga kirinya bergerak-gerik minggu lalu. "Hal itu mungkin salah satu petanda kejadian yang akan menimpa Ridho," lirihnya seraya menyeka air mata yang membasahi pipinya.

Lantas, Nurside hanya mendapat cerita dari teman satu kos dengan Ridho. Bahwasannya, sebelum kejadian, Ridho sempat melaksanakan shalat tahajud. "Dia shalat sekitar pukul 03.00 WIB dini hari. Setelah itu, Ridho tidur lagi. Anehnya, Ridho tidak tidur di kamarnya. Dia pindah ke kamar sebelah," lanjut Nurside.

Sementara itu, Yuhanis yang duduk di sebelah Nurside tak henti-hentinya menahan isak tangisnya. Bayangannya terhadap anak bungsu dari lima bersaudara terus menyelimuti lamunannya. Sehingga bapak yang sehar-hari sebagai petani itu tak kuasa memandangi foto Ridho kecil yang terpajang di dinding. "Indak manyangko awak doh (Tidak menyangka saya, red)," ungkap Yuhanis pendek.

Rasa kehilangan  tidak hanya dialami kedua orang tua itu, tapi kakak almarhum pun tak kalah sedih. Betapa tidak, Yuhandri yang selalu memonitor tentang kegiatan adiknya yang lulusan SMA Negeri 1 Solok, sebelum kejadian masih mendapat informasi, bahwa adiknya masih sempat memimpin sidang salah satu forum di BEM IAIN.

Diakui Yuhendri, adik bungsunya kelahiran 20 tahun, memang aktif disejumlah organisasi kampus. Mulai sebagai ketua Kosma hingga tingkat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Jiwa aktivis Ridho itu mulai terlihat sejak dia menjadi pengurus OSIS di SMA Negeri 1 Solok, dua tahun silam.

Selain keluarga, orang kampung sekitar Aiebatumbuak pun tidak pernah menyangka laki-laki yang suka ke surau itu pergi begitu cepat. Sebab, jika Ridho pulang ke kampung, dia selalu menghabiskan harinya di rumah, sawah dan surau. "Usai membantu kami di sawah, Ridho lebih lama berada di rumah untuk beristirahat. Sedangkan saat waktu shalat, dia selalu menyempatkan shalat berjamaah di surau," kenang Nurside.

Putra kelahiran  15 Juli 1987 itu, selain rajin mengasah jiwa organisatornya, ternyata tidak tertinggal dalam hal akademis. Buktinya, indeks prestasi (IP) terkahir Ridho 3,45. Dalam akhir ceritanya, Yuhendri hanya berharap tidak ada korban lagi di rumah bekas gempa. [***]

sumber : http://www.padang-today.com/?today=feature&id=296

PDRI dan sejarahnya

Kampung PDRI Ibu Republik yang Dilupakan

Fajar Rillah Veski - Padang Ekspres


SEPERTI Jakarta dan Jogyakarta. Kampung-kampung kecil di Sumatera Barat ini, pernah menjadi ibu republik yang paling nyaman untuk bangsa bernama Indonesia. Celaka, sejarah melupakannya.

HARI merangkak senja. Sisa hujan siang masih membekas di atas tanah, ketika media ini berjalan kaki sepanjang satu kilometer, dari Jalan Raya Payakumbuh-Lintau, menuju kawasan Tadah yang berada di Jorong Lambuak, Nagari Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota (115 kilometer dari Kota Padang), Kamis (17/12).

Perjalanan ke dataran tinggi ini, terasa menentramkan hati. Apalagi sepanjang jalan, terlihat pohon-pohon karet tegak menjulang. Daunnya yang rimbun memberi kesejukan bukan kepalang.

"Jika kita berjalan terus ke arah atas. Maka akan ditemukan perkebunan teh membentang luas,"kata mantan Wali Nagari Halaban Masrizal Said, yang menemani perjalanan kami.

Namun, saya memutuskan tidak menyisir ke perkebunan karet yang tidak lagi dikelolah dengan baik tersebut. Melainkan, melanjutkan perjalanan dengan  berbelok ke arah kanan, tepatnya ke sebuah kebun yang sekarang dikelolah kaum Datuk Gomok.

Kebun itu sendiri cukup luas. Di dalamnya, selain didominasi tanaman karet, juga tumbuh tanaman damar dan tanaman tua lain. Sedangkan di samping, terdapat dua rumah warga yang sebenarnya lebih cocok disebut sebagai dangau.

Kedua dangau tersebut,masing-masing dihuni oleh keluarga Kalinin, 65, dan warga bernama  Jawa, 75, yang hidup sebatang kara."Hanya saya dan Pak Jawa yang tinggal di tempat ini,"ucap Kalinin ketika bertemu.

Kembali pada kebun Datuk Gomok tadi. Di tempat itu, sekitar tahun 1945 sampai 1960-an pernah berdiri sebuah surau dan dangau yang dihuni keluarga (Alm) Yaya. Sehingga sampai sekarang, warga Halaban. masih menyebut kebun tersebut dengan nama 'Dangau Yaya'.

"Di dangau Yaya itulah, Menteri Kemakmuran Republik Indonesia Mr Syafrudin Prawiranegara, bersama dengan sejumlah pejuang tanah air, memproklamirkan lahirnya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), tanggal 22 Desember 1948, "kata Rasawin, 89, bekas pejuang/anggota BPNK di Halaban, ketika ditemui di kediamannya.

Waktu itu menurut Rasawin, Jogyakarta yang merupakan Ibu Kota Republik Indonesia, baru tiga hari dibombardir Belanda. Dua founding father Republik, yakni Soekarno-Hatta ditangkap, lalu dibuang ke Brastagi dan Pulau Bangka.

Sebelum ditangkap, Soekarno-Hatta, sebagaimana juga ditulis Indonesianis Audrey Kahin dalam "Perjuangan Sumatera Barat Dalam Revolusi Nasional Indonesia 1945-1950" yang diterjemahkan sejarawan Universitas Negeri Padang Dr Mestika Zed dkk, sempat memberi mandat kepada Mr Syafrudin Prawiranegara yang berada di Sumatera.

Dalam mandatnya, Soekarno-Hatta meminta Mr Syafrudin Prawiranegara membentuk Pemerintahan Drurat  Republik Indonesia. Jika mandat tersebut tak dapat dijalankan, maka kepada Soedarsono, Palar, dan Mr Maramis diminta membentuk Exile Government di India. Meski mandat tersebut, tak pernah sampai kepada Mr Syafrudin Prawiranegara. Namun, dengan keyakinan yang besar (bisa jadi juga karena sudah mendapat rambu-rambu dari Bung Hatta), Syafrudin berhasil membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).

PDRI dideklarasikan Mr Syafrudin, bersama para pejuang lainnya, di dangau Yaya, kawasan Tadah, Nagari Halaban, yang kami kunjungi pada Kamis (17/12) sore itu. Namun sayangnya, tidak adalagi tanda-tanda, kalau tempat nan sejuk dan jauh dari keramaian tersebut. Pernah menjadi ibukota republik ini, walaupun hanya beberapa hari saja. Sebab setelah dideklarasikan, PDRI berjalan dari satu kampung ke kampung lain di Sumatera Tengah.

"Memang tidak ada tanda-tanda PDRI pernah dideklarasikan di sini. Sebab, orang-orang sudah  melupakan dan memplesetkan sejarah,"kata Rasawin, yang pernah menjadi Wali Nagari Halaban periode 1965-1969.

"Ya. PDRI memang dilupakan. Kalaupun  belakangan, ada peringatan PDRI di  Halaban. Banyak orang lebih memilih ke kawasan tetangga, yakni Jorong Tegal Rejo atau Parak Lubang. Padahal, tempat itu bukan lokasi PDRI. Melainkan lokasi pemancar radio Auri,"ujar Masrijal Said, mantan Wali Nagari Halaban periode 2003-2008.

Abai Juga Diabaikan.
Rupanya, tidak hanya lokasi deklarasi PDRI di Halaban yang tidak mendapat perhatian. Ratusan kilometer dari kawasan tersebut. Tepatnya di Abai Sangir, Kecamatan Sangir Jujuan, Kabupaten Solok Selatan (sekitar 215 KM dari Kota Padang), kondisinya justru lebih menggemaskan lagi.

Di kampung tersebut, berdiri sebuah rumah kayu milik warga bernama Sa'diyah. Rumah inilah yang dihuni Mr Syafrudin Prawiranegara bersama rombongan PDRI, termasuk Menteri Kesehatan Dr Sambiyono selama 14 hari.

Waktu itu, Mr Syafrudin bersama rombongan PDRI, baru saja melakukan perjalanan panjang dengan melewati sejumlah kampung. Mulai dari Halaban (Kabupaten Limapuluh Kota), menuju Bangkinang (Kampar, Riau), terus ke Teluk Kuantan (Kuansing, Riau), Sungai Dareh (Dharmasraya, Sumbar), sampai menyebrang di Abai Sangir.

"Beliau datang dari Sungai Dareh, dengan menaiki sampan yang didayung masyarakat Abai Sangir. Setelah sampai di Abai, rombongan tinggal di rumah Sa'diyah. Istri dari Angku Palo Buncik, Wali Nagari Abai Sangir semasa itu,"kenang Hasan Bagindo Patiah, 85, saksi sejarah yang ditemui Padang Ekspres di Abai Sangir, Selasa (15/12) sore.

Namun sama nasibnya dengan tempat deklarasi PDRI di Halaban. Di rumah Sa'diah yang masih berdiri kokoh, juga tidak ada tanda-tanda, bahwa tempat tersebut pernah menjadi daerah basis perjuangan sekaligus ibu republik. "Rumah ini memang tidak lagi diperhatikan. Kalaupun ada orang luar atau pejabat pemerintah yang datang ke sini. Biasanya hanya sekedar berfoto-foto saja. Setelah itu mereka pergi tanpa kabar berita,"ujar Darlian, 41, cucu Sa'diah yang kini dipercaya mengurus rumah tersebut.

Darlian bersama sang suami, sempat tidak welcome dengan kedatangan Padang Ekspres ke rumah Sa'diyah, yang berada persis di samping rumahnya. "Maaf. Kami agak risih dengan kedatangan orang-orang ke sini. Sebab, biasanya mereka hanya menjadikan rumah ini sebagai objek. Sebagai proyek. Sedangkan perhatian atau perawatan terhadap rumah, tak pernah kami terima,"ujar Darlian sedikit ketus.

Setelah dijelaskan kepadanya, bahwa wartawan datang untuk menelusuri daerah-daerah basis PDRI yang terlupakan. Barulah Darlian membuka pintu rumah Sa'diyah. Bahkan, perempuan itu juga memperlihatkan foto Angku Palo Buncik, tokoh yang memfasilitasi Mr Syafrudin Prawiranegara selama berada di Abai Sangir.

Di dalam rumah Sa'diyah, terdapat 6 ruangan. Terdiri dari satu ruangan utama, satu ruang makan, dan empat kamar tidur. Sedangkan di bagian belakang, selain terdapat dapur berikut kamar mandi, juga ada bekas kandang kuda. "Menurut cerita orang tua saya.  Dalam kandang kuda itu, rombongan PDRI pernah mencetak Oeang Republik Indonesia,"ujar Mahyunar Khatib Ipie, 54, tokoh masyarakat Abai Sangir yang mula-mula menunjukkan lokasi rumah Sa'diyah kepada wartawan.

Benar apa tidak soal lokasi percetakan uang tersebut, Khatib Ipie menyebut, tentu perlu dilakukan kajian lebih dalam. Namun pastinya, kampung kecil di Solok Selatan, bernama Abai Sangir memang pernah menjadi ibu republik. Andil masyarakatnya semasa PDRI
sangat besar.

"Itulah yang kita minta kepada pemerintah, agar diingat dan diperhatikan. Jangan seperti sekarang, sepanjang udara merdeka kita hirup, Abai Sangir seperti dilupakan dalam sejarah. Bahkan di bidang pembangunan kami tertinggal. Lihat jalan ke sini, buruk dan berlubang-lubang,"ujar Mahyunar Khatib Ipie.

Bidar Alam.

Sekitar dari 12 kilometer sebelum memasuki Nagari Abai Sangir. Padang Ekspres juga menyambangi nagari lain di Solok Selatan yang pernah menjadi ibu republik, yakni Bidar Alam. Di kampung yang paling lama menjadi tempat tinggal Mr Syafrudin Prawiranegara bersama rombongan PDRI ini (tercatat hampir 3,5 bulan). Kondisi yang didapat sedikit agak baik.

Bangunan-bangunan peninggalan PDRI, nampak masih terawat. Misalnya saja, rumah warga bernama Jama yang dijadikan sebagai markas Mr Syafrudin Prawiranegara, sekaligus tempat berlangsungnya sidang kabinet PDRI. Rumah gadang tersebut, bahkan sekarang direnovasi oleh Pemerintah Kabupaten Solok Selatan. Cuma sayang, beberapa bagian bangunan nampak dirubah dari bentuk aslinya.

Perawatan juga terlihat terhadap Surau Bulian, tempat yang dijadikan sebagai stasiun pemancar radio Auri, alat komunikasi PDRI di Bidar Alam. Begitupula pada sejumlah rumah penduduk yang menjadi hunian pejuang PDRI, seperti rumah Lamisa, rumah Sicah, rumah Biah, rumah Sawida, ataupun rumah Siti Rapek.

"Dibandingkan beberapa tahun lampau, Bidar Alam sekarang mungkin sudah bisa disebut mendapat perhatian dari pemerintah,"kata Haji Djamaan Ismail alias Khatib Djamaan, 84. Pejuang yang menjemput Syafrudin Prawiranegara dari Abai Sangai ke Bidar Alam pada 23 Januari 1949.

Duka di Silantai.
Namun, bagaikan siang dengan malam. Kondisi yang sedikit mengembirakan di Bidar Alam tadi, justru tidak begitu terlihat di Nagari Silantai, Kecamatan Sumpur, Kabupaten Sijunjung (sekitar 170 Kilometer dari Kota Padang). Di kampung yang dalam buku "Sejarah Perjuangan Kemerdekaan RI di Minangkabau Jilid II", karangan Ahmad Husin dkk, disebut sebagai tempat Musyarawah Besar PDRI. Kondisi justru tidak obahnya dengan di Halaban dan Sangir.

"Nagari ini jarang dikunjungi pejabat. Peringatan-peringatan PDRI, juga tak pernah dilangsungkan di sini,"ujar Intan Sari Dt Magek Kerajaan, 85, bekas Ketua Panitia Penyambutan dan Perbekalan Perjuangan PDRI di Silantai, kepada Padang Ekspres, Rabu (16/12). Padahal, menurut Intan Sari Dt Magek Kerajaan, setelah berangkat meninggalkan Nagari Bidar Alam. Rombongan PDRI pimpinan Mr Syafrudin Prawiranegara, tinggal dan bertemu dengan rombongan Gubernur Sumatera Tengah di Silantai, Sumpur Kudus.

"Mr Syafrudin Prawiranegara, tinggal di sini 40 hari. Dia kadang tinggal di Surau Tobiang. Kadang-kadang menginap di rumah pasangan suami-istri Hasan Basri-Nursani. Hasan Basri sendiri, semasa itu menjabat sebagai wali perang,"kenang Intan Sari Dt Magek Kerajaan.

Selepas bertemu Intan Sari, Padang Ekspres juga mengunjungi Surau Tobiang dan rumah Hasan Basri-Nursani. "Surau ini bentuknya sudah dirubah. Sekarang juga sudah jarang dipakai. Paling-paling untuk sholat Jum'at saja," kata Cap, anggota Linmas Sumpur Kudus yang menemani perjalan kami ke Silantai. Adapun rumah Hasan Basri-Nursani, masih kokoh menjulang. Tak ada bentuk rumah yang di rubah. Masih seperti dulu. Seperti zaman darurat.

"Kalaupun ada tambahan, di depannya sekarang sudah ada tugu PDRI yang dibangun semasa kepemimpinan bupati Syahrul Anwar di Sijunjung. Setelah itu tak ada lagi perubahannya,"jelas Intan Sari Dt Magek Kerajaan.


Padang Japang & Koto Tinggi.
Terabaikannya daerah-daerah yang pernah menjadi ibu republik Indonesia, semasa PDRI 1948-1949 berlangsung di Sumatera Tengah. Tidak hanya terlihat di Halaban, Abai Sangir, dan Silantai. Di Padang Jopang, Kecamatan Guguak, Kabupaten Limapuluh Kota (135 Kilometer dari Kota Padang), sejarah perjuangan bangsa, juga terkesan dilupakan.

"Padahal, di kampung ini dulunya, pernah digelar pertemuan terkait penyerahan kembali PDRI kepada pemerintah pusat. Waktu itu yang bertemu adalah Delegasi Bangka utusan Wapres Mohammad Hatta yang terdiri dari Muhammad Natsir dan Dr Leimena, dengan kabinet PDRI pimpinan Mr Syafrudin Prawiranegara,"kata Putra Satria Veri, aktifis pemuda di Kecamatan Guguak, Sabt (19/11).

Menurut Putra Satria Veri, baru dalam beberapa tahun belakangan, pemerintah daerah memperingati PDRI di Padangjopang ataupun Koto Kociak. "Tapi ya baru sebatas peringatan atau ceremonial belaka. Aksi nyata untuk warga yang membantu perjuangan PDRI belum terasa,"ujarnya. Hal tidak jauh berbeda juga terlihat di Pua Data, Koto Tinggi, Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota (170 Kilometer dari Kota Padang).

Di tempat yang pernah dijadikan sebagai lokasi pemancar radio PDRI ini, sejarah perjuangan juga cenderung dilupakan. Bahkan, beberapa tahun lalu, Koto Tinggi juga seperti daerah yang terisolir. "Baru belakangan, jalan ke sini di aspal hotmix. Sebelumnya, justru darurat seperti Agresi II Belanda dulu,"kata Man Tolak, warga di Pua Data kepada wartawan, Sabtu (19/11).

Harus Ada "Kompensasi"

Menyimak kondisi daerah-daerah basis PDRI yang cenderung terabaikan tadi. Aktifis Yayasan Peduli Perjuangan PDRI Ferizal Ridwan, menyerukan kepada pemerintah pusat dan pemerintah daerah, agar dapat mengakomodir dan memobilasi pembangunan ke daerah tersebut.

"Harus ada semacam kompensasi, untuk ibu republik yang cendrung dilupakan itu,"kata Ferizal Ridwan, ketika dihubungi Sabtu (19/12) malam.

Kompensasi tersebut, menurut Ferizal Ridwan, tentu bukanlah sesuatu yang susah untuk diwujudkan. Apalagi, dari aspek sejarah, peristiwa PDRI di Sumatera Tengah yang berlangsung antar atahun 1948-1949 sudah diakui oleh pemerintah pusat. Menyusul lahirnya Keputusan Presiden Nomor 28 tahun 2006, tentang PDRI sebagai Hari Bela Negara.

"Dengan adanya pengakuan PDRI dari aspek sejarah. Maka keberadaan daerah-daerah PDRI, sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman, juga harus ditinjau dari aspek  masyarakat,"kata Ferizal Ridwan.

Karena itupula, dia menyarankan, kepada pemerintah daerah yang daerahnya pernah menjadi basis PDRI. Untuk dapat mendukung, dengan mepersiapkan 'perangkat lunak' semacam aturan tingkat daerah, yang menyentuh masalah PDRI. (***)
 
sumber : http://www.padang-today.com/?today=feature&id=299

Senin, 30 November 2009

Display dan special event fajar hidayah




Sunda day dalam rangka mengenalkan budaya sunda

Kunjed arrisalah padang ke jakarta




Siswi arrisalah padang mengadakan kunjed ke jakarta, dalam kesempatan yang sangat terbatas ka dila dan kak nisa berusaha menemui teman2nya. kak nisa sempat 2 tahun di arrisalah sebelum pindah ke fajar hidayah, dan melewatkan kelas 3 smp dan sma di fajar hidayah

Kunjed paralel kelas 6 SIT Fajar Hidayah Kota Wisata ke RCTI dan Metro TV/Media Indonesia




Tanggall 28 Oktober 2009 Parelel 6, mengadakan kunjed ke RCTI dan Metro TV/Media Indonesia. Kelompok putri ke Media Indonesia dan putra ke Metro TV

baksos forum muslimah ciangsana




menyambut idul fitri forum muslimah ciangsana mengadakan baksos untuk masyarakat sekitar kampung pabuaran kulon dekat kompleks tni al ciangsana

Amaliyah Ramadhan


tarhib ramadhan

Selama ramadhan boleh dikatakan diisi dengan amaliyah ramadhan, lomba, display dll. Sebagian kegiatan di paralel kelas 6.

tamu iedul fitri




setelah beberapa tahun tidak bertemu, iedul fitri yang lalu dikunjungi oleh pak zainuddin paru dan keluarga, istrinya dr feni lovita dewi, putra mereka abdul aziz dan abdul malik

Kamis, 26 November 2009

Kemampuan haji

Khutbah iedul adha di msjd darussalam kota wisata cibubur 27 nov '09 oleh ust.drs.israr nawawi.

Kemampuan haji umat mns brmacam2 ada yg mampu melaksanakan haji dia brngkt dg sgr memenuhi pnggilan allah, ada yg mampu dana dan daya tapi blm memenuhi panggilan allah, tapi malah sanggup berkeliling dunia, namun ada yg mau tapi tdk punya dana, maka semestinya yg punya dana dapat segera memenuhi panggilan allah sblm daya kita tiada. Dg bermacam kemampuan itu sgr penuhi panggilan allah itu telah sampai tidak ada alasan utk mengatakan "tdk/blm tahu. Seruan illahi seyogianya membuat kita merenungkan sgl kesalahan. Ada yg telah mengeluarkan suara sekeras mungkin tapi blm ada yg mendengar , ada yg sikut kanan dan kiri demi kedudukan namun blm juga mendapat kddkan, ada yg sdh pontang panting mencari kekayaan namun tetap miskin, ada yg tiada berhenti mencari kemasyhuran namun blm sprti apa yg dicarinya. Marilah kita memohonkan ampun utk sgl onggokan kekalahan yg didapat dan kesalahan yg telah kita perbuat, utk segala panggilan yg diabaika. Intinya untuk memenuhi panggilan allah swt perlu pengorbanan, bukan hanya pengorbanan harta tapi juga jiwa dan raga. Pengorbanan ini lah yang telah dilaksanakan oleh nabi ibrahim as, mulai dari menikah dengan hajar, begitu hajar punya anak sudah dibawa dengan perjalanan yang jauh, hati bapak mana yang tidak sedih meninggalkan bayi dan ibunya di tengah padang tandus, tanpa manusia, tapi nabi ibrahim as melakukan pengorbanan yang diperintahkan allah swt, dengan segera dan penuh ketabahan.

demikianlah intisari khutbah idul adha yang disampaikan oleh ust.israr nawawi.

Assalamu'alaikum selamat iedul adha mubarak 1430 h, semoga allah swt menurunkan berkahnya kpd kita semua dan menjadikan kita hamba2nya yg bersyukur serta mengumpulkan kita d syurga kelak.amin ws

Jumat, 20 November 2009

Kurban...

Idul Adha 1430 H
PKPU Salurkan 200 Sapi Kurban
Irwan Suwandi - Padang Today


Ilustrasi: Sapi Kurban

Pos Keadilan Peduli Ummat (PKPU) Cabang Sumatera Barat akan menyebarkan sekitar 200 ekor sapi menyambut Idul Qurban 1430 H. Daerah bencana akan mendapatkan porsi lebih.

" Pada prinsipnya kita menyebarkannya keseluruh daerah di Sumbar, akan tetapi daerah bencana seperti Padangpariaman, Padang, Agam akan mendapat porsi lebih," ungkap Humas PKPU Sumbar, Ja'far, S.Hi, siang ini.

Dijelaskan Ja'far, harga satu ekor sapi kurban senilai Rp 7 juta.

PKPU tercatat sebagai lembaga yang cukup aktif membantu korban gempa Sumatera lalu. Sebelumnya mereka telah membangun sekitar 1000 senyum sebagai hunian sementara (Huntara).(*)

sumber :

http://padang-today.com/?today=news&d=0&id=11291

Minggu, 15 November 2009

Guru, lagi-lagi guru

Ketika terjadi sesuatu dg murid, guru serba salah atau serba (disalahkan)??? Murid melakukan "bulying",guru juga salah, sebab guru digugu dan ditiru, oke itu benar, tapi tidak sepenuhnya benar, tanggung jawab pendidikan moral anak terletak di tangan orang tua, jadi kalau bermasalah dg anak, apa hrs minta pertanggungjawaban pada guru lebih dari tanggung jawab akademis? Tidak adil sekali. Tapi ada kejadian ketika murid bermasalah guru sdh menyelesaikan sesuai dg kapasitasnya. Di luar itu sprt mrd melakukan"bulying" d situs sosial apakah hrs dibebankan ke guru juga???tidak adil dong, terus siapa yang bisa berbaik sangka kepada guru?. Guru yg msh punya hati nurani tidak akan membiarkan muridnya melakukan sesuatu yg diluar kewajaran. Namun guru juga manusia semestinya kalau disalahkan melulu juga menyedihkan, kasihan mentang-mentang guru. Allahu rabbi, hambaMu memang tidak sempurna wallahu'alam bissawab wassalam

Selasa, 03 November 2009

atok - atok/kakek-kakek ummi

       Nak, dari pihak bapak ummi mempunyai dua atok, satu atok tua yaitu riva`i syarbaini dan zubair syarbaini. atok tua mempunyai 4 orang anak, atok ndut yaitu bapak ummi namanya husni riva`i, atok medan atau musywari riva`i, nenek kelinci atau nenek suryati riva`i, dan atok bungsu namanya sufri riva`i. kalau dari atok zubair ummi punya pak etek yus,pak etek zul, etek supiak/yusmarni, dan pak etek buyung. jadi nak, kalian punya banyak atok dan 2 nenek. karena usia ummi hanya terpaut beberapa tahun sama etek supiak (bibi ummi) bahkan atok buyuang lebih kecil usianya dari ummi,maka kalian tetap panggil atok, dan ummi tetap menyebut mereka pak etek.

      Atok tua dan atuk zubair telah meninggal dunia, atok tua meninggal th 1996 dan atok zubair th 1998. kalian punya kewajiban tetap menjalin silaturahim sama anak cucu mereka, yang sekarang di pekanbaru - riau. mereka dulu sangat menyayangi ummi. ketika di sma ummi bareng sekolahnya dengan nenek kalian itu. kemudian juga atok tua juga berpesan ke ummi untuk tetap menjalin silaturahim dengan sepupu beliau dari kiambang yaitu atok nazaruddin rahmat, tapi sampai sekarang ummi belum punya kesempatan untuk mengenali keluarga beliau di kiambang ataupun keluarga istri beliau di bukittinggi. mudah-mudahan suatu sa`at allah swt memberi kelapangan waktu sehingga amanah itu bisa ummi jalankan. kalian pun jangan sampai memutuskan silaturahim dengan saudara kita di payakumbuh dan keluarga besar abi di pariaman.

       Selain dari atok ndut/bapak ummi dari ibu ummi yaitu nenek juairiyah juga punya adik namanya atok haji syarbaini. beliau mempunyai beberapa orang istri, di kampung ada 3 istri tapi anaknya hanya 2 yaitu halimi dan halimun. kemudian atok halimun dibawa merantau ke malaysia dan sudah beranak cucu di sana. atok haji syarbaini menikah juga di mlaysia dengan haji mastura dan mempunyai anak namanya rowena binti syarbaini. jadi nak, kalau kalian ke malaysia kita juga punya keluarga besar di situ,apapun yang terjadinya seyogianya silaturahim tetap berjalan.walau indonesia dan malaysia sering tidak akur namun ada tali darah kita di sana, wallahu `alam.  wassalam 

Senin, 02 November 2009

aids haraki

Aids Haraki
Fiqih Dakwah
4/2/2008 | 25 Muharram 1429 H | Hits: 3.333
Oleh: Tim dakwatuna.com


dakwatuna.com – Aku gemakan sebuah gaung kewaspadaan terhadap kerusakan yang melingkupi dan bahaya yang mengancam. Itulah wabah Aids Haraki yang menggerogoti bangunan harakah dan tanzhim serta menghacurkannya menjadi puing. Sebuah wabah yang diingatkan Al-Qur’an dengan tegas: “…dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatan…”

Maka adakah yang menyambut gema ini? Saya berharap demikian. Allah sajalah yang memberi pertolongan dan kepada-Nya lah kita bertawakkal.

1 Ramadhan 1409 H
Fathi Yakan

Aids Haraki. Ya, demikianlah Ustadz Fathi Yakan – seorang ulama dan mujahid dakwah tingkat dunia – mengistilahkan suatu fenomena yang telah dan sedang terjadi di sebagian harakah (gerakan) Islam. Ini adalah sebuah peringatan keras dari beliau kepada para aktivis dakwah, lebih dari delapan belas tahun lalu. Fa dzakkir inna adz-dzikra tanfa’ul mu’miniin.

Aids adalah kondisi ketika seseorang mengalami kehilangan daya kekebalan tubuh, sehingga menjadi sangat rentan terhadap berbagai penyakit. Dan karena virus HIV yang menyebabkan penyakit AIDS ini belum ditemukan obatnya hingga saat ini, para pengidap HIV/AIDS pada umumnya akan segera mengalami kematian secara mengenaskan.

Dalam bukunya yang berjudul Ihdzaruu Al-Aids Al-Haraky (1989), Ustadz Fathi Yakan secara khusus menyoroti kasus kehancuran harakah (gerakan) dan tanzhim (organisasi) dakwah di Libanon. Pada saat yang sama beliau juga menemukan fenomena yang sama sedang terjadi di sebagian negeri-negeri muslim lainnya.

Menurut pendapat beliau, kasus-kasus kehancuran organisasi dakwah yang berawal dari melemahnya daya tahan internal organisasi mereka, seringkali terjadi di saat mereka berada pada mihwar siyasi (orbit politik), yaitu saat gerakan Islamiyah memasuki wilayah politik untuk menyempurnakan wilayah amal dan pencapaian sasaran dakwahnya.

Mengapa begitu? Apakah masuknya gerakan dakwah Islam ke dalam wilayah politik adalah suatu kekeliruan? Tentu saja tidak! Karena syumuliyatul-Islam (sifat kemenyeluruhan ajaran Islam) mengharuskan politik sebagai bagian tak terpisahkan dari Islam. Dan syumuliyatud-da’wah menuntut kita untuk memasuki wilayah politik.

Lalu bagaimana suatu gerakan dakwah bisa terjangkiti penyakit aids dan kemudian mengalami kehancuran? Dalam analisisnya, Ustadz Fathi Yakan menyebutkan tujuh faktor yang menyebabkan semua ini.

Faktor penyebab pertama, hilangnya manna’ah i’tiqadiyah (imunitas keyakinan) dan tidak tegaknya bangunan dakwah di atas pondasi fikrah dan mabda’ yang benar dan kokoh. Dampak yang timbul dari faktor ini di antaranya adalah tidak tegaknya organisasi dakwah di atas fikrah yang benar dan kokoh.

Adakalanya sebuah organisasi hanya berwujud tanzhim ziami, yaitu bangun organisasi yang tegak di atas landasan loyalitas kepada seorang pemimpin yang diagungkan. Ada lagi yang berupa tanzhim syakhshi, yaitu bangun organisasi yang dibangun di atas bayangan figur seseorang. Yang lain berupa tanzhim mashlahi naf’i yaitu bangun organisasi yang berorientasi mewujudkan tujuan materi semata.

Dengan begitu, jadilah bangunan organisasi dakwah tadi begitu lemah dan rapuh. Tidak mampu menghadapi kesulitan dan tantangan. Akhirnya goncanglah ia dan bercerai-berailah barisannya, sehingga muncul berbagai tragedi yang menimpanya.

Faktor penyebab kedua, rekruting berdasarkan kuantitas, dimana bilangan dan jumlah personil menjadi demikian menyibukkan dan menguras perhatian qiyadah (pemimpin) dakwah. Dengan anggapan bahwa jumlah yang banyak itu menjadi penentu kemenangan dan kejayaan. Kondisi ini memang seringkali mendapatkan pembenarannya ketika sebuah gerakan dakwah tampil secara formal sebagai partai politik.

Orientasi kepada rekruting kuantitas – pada sisi lain – akan memudahkan pihak-pihak tertentu menciptakan qaidah sya’biyah atau basis dukungan sosial untuk kepentingan realisasi tujuan-tujuannya. Dalam situasi tertentu bisa muncul figur atau tokoh-tokoh tertentu dalam gerakan dakwah yang memperjuangkan kepentingannya dengan memanfaatkan qaidah sya’biyah yang dibangunnya. Pada saat seperti inilah, qaidah sya’biyah ini bisa berdiri sebagai musuh bagi gerakan dakwah.

Faktor penyebab ketiga, bangunan organisasi dakwah tergadai oleh pihak luar. Baik tergadai oleh sesama organisasi dakwah, organisasi politik, maupun negara. Boleh jadi juga tergadai oleh basis-basis kekuatan yang ada di sekelilingnya; baik secara politis, ekonomi, keamanan, atau keseluruhan dari unsur-unsur ini.

Akibatnya, bangun organisasi dakwah tadi kehilangan potensi cengkeram, kabur orientasi, dan arah politiknya. Jadilah ia sebuah organisasi yang diperalat bagi kepentingan pihak lain, meskipun terkadang ia sendiri bisa mendapatkan kepentingannya dengan cara itu.

Faktor penyebab keempat, tergesa-gesa ingin meraih kemenangan meskipun tidak diimbangi dengan sarana yang memadai, dalam kondisi minimal sekalipun. Wilayah politik identik dengan pos-pos kekuasaan. Ada semangat pencarian dan pencapaian pos-pos kekuasaan yang pasti dilakukan oleh setiap pelaku politik. Dan semua itu akan berlangsung seperti tidak ada ujung akhirnya.

Kekuasaan, di manapun – menurut Ustadz Fathi Yakan – kemampuannya membagi ghanimah (harta) kepada aparat sebanding dengan potensinya menderita kerugian. Bahkan ghanimah yang telah diperoleh itu terkadang justru melahirkan cobaan dan bencana bagi gerakan dakwah. Pemicunya adalah sengketa dalam pembagiannya; antar personil, personil dengan pemimpin serta penguasa yang berambisi mendapatkan bagian terbanyak.

Sesungguhnya, kajian yang jernih terhadap faktor-faktor yang mengantarkan beberapa hizb (partai) meraih kekuasaannya atas berbagai wilayah di dunia, mampu mengungkap sejauh-mana dampak negatif bahkan bahaya yang dihadapi oleh hizb tadi.

Dampak negatif tadi antara lain berupa keruntuhan dan kehancurannya, serta terpecah-belahnya hizb itu menjadi kepingan, kehilangan prinsip dan orientasi, yang akhirnya mengantarkannya menjadi sebuah kelompok yang mengejar kepentingan hawa nafsu dan materi duniawi semata.

Faktor penyebab kelima, munculnya sentra-sentra kekuatan, aliran, dan sayap-sayap gerakan dalam tubuh gerakan dakwah. Kebanyakan bangunan organisasi dakwah yang mengalami pertikaian dan perselisihan berpotensi melahirkan hal-hal di atas.

Sebuah gerakan dakwah, apa saja namanya, apabila memiliki ta’addudul wala’ (multi loyalitas) dan dikendalikan oleh beragam kekuatan, tidak tunduk kepada qiyadah (kepemimpinan) tunggal, di mana hati para personil dan para mas’ul-nya tidak terhimpun pada seseorang yang dipercaya, maka ia menjadi gerakan dakwah yang potensial melahirkan pertikaian, berebut pengaruh dan kekuasaan untuk meraih ambisi-ambisi pribadi.

Faktor penyebab keenam, campur-tangan pihak luar. Di zaman sekarang, faktor-faktor ini telah begitu dominan mempengaruhi dunia. Kekuatan siyasiyah (politik), fikriyah (pemikiran), asykariyah (militer), dan jasusiyah (intelejen) yang beraneka ragam dikerahkan untuk memukul seterunya dengan target kehancuran bangunan organisasi dakwah.

Hal ini dilakukan melalui deteksi cermat terhadap titik lemah, kemudian menawarkan “dukungan”, setelah itu dipukul hancur. Pintu masuk menuju ke sana memang sangat banyak. Adakalanya melalui pintu siyasah, yaitu dengan menawarkan berbagai kemaslahatan politik. Terkadang melalui pintu maliyah, dengan jalan menutup kebutuhan finansial. Lain kali melalui pintu amniyah, yaitu dengan menjanjikan perlindungan keamanan. Hal-hal itu dilakukan satu per satu atau secara bersama-sama.

Kapankah kekuatan eksternal bisa masuk ke dalam tubuh organisasi dakwah? Yaitu ketika bangunan organisasi dakwah secara umum mengalami kelemahan; keringnya ruh akidah, baik di tingkat personil anggota maupun level pemimpinnya, dan beratnya beban maddiyah (materi) maupun ma’nawiyah (moril) yang harus dipikul. Jadilah ia sebuah bangunan organisasi rapuh yang pintu-pintunya terkuak. Orang pun dengan leluasa masuk ke dalamnya untuk mewujudkan ambisi mereka dengan seribu satu cara.

Faktor penyebab ketujuh, lemah atau bahkan tidak adanya wa’yu siyasi (kesadaran politik). Sebuah gerakan dakwah Islam – di mana saja – apabila tidak memiliki wa’yu siyasi yang tinggi dan baik, tidak akan bisa hidup mengimbangi zaman; tidak memahami kejadian yang ada di sekelilingnya, terkecoh oleh fenomena permukaan, lupa mengkaji apa di balik peristiwa, tidak mampu merumuskan kesimpulan-kesimpulan dari berbagai peristiwa global, tidak bisa membuat footnote setelah membaca teks, tidak mampu meletakkan kebijakan politik lokal berdasarkan kondisi-kondisi politik internasional, dan lain-lain kepekaan.

Apabila sebuah gerakan dakwah memiliki kelemahan seperti itu, di saat mana arah politik demikian tumpang-tindih dan keserakahan demikian merajalela, yang tampak di permukaan tidak lagi sebagaimana isinya, maka ia akan menjadi organisasi gerakan dakwah yang langkahnya terseok-seok, sikap-sikapnya kontradiktif, dan mudah terbawa arus. Apabila sudah demikian, datanglah sang penghancur untuk memutuskan hukuman mati atasnya.

Ada hal penting dan mendasar dari analisis lanjutan Ustadz Fathi Yakan yaitu, semua faktor yang dipaparkan di atas adalah buah dari pohon “politik mendominasi tarbiyah”. Iklim atau munakh dalam gerakan dakwah lebih kental politik, yang bahkan sangat mempengaruhi bangunan sikap-perilaku jajaran kader dan para pemimpinnya.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dan manfaat dari taushiyah yang disampaikan lebih dari delapan belas tahun silam untuk kebaikan dan kemajuan gerakan dakwah di Indonesia. Amin. []

sumber :http://www.dakwatuna.com/2008/aids-haraki/

silaturahim

Rahasia Silaturahmi
Dipublikasi pada Rabu, 02 November 2005 oleh abufaiz97
Artikel ini telah dibaca 8441 kali.
Topik: Hikmah



Silaturahmi adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan Allah SWT. Dengan terhubungnya silaturahmi, maka ukhuwah Islamiyah akan terjalin dengan baik. Bagaimana pun besarnya umat Islam secara kuantitatif, sama sekali tidak ada artinya bila di dalamnya tidak ada persatuan dan kerja sama untuk taat kepada Allah....

----------

Tahukah kalian tentang sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan ataupun keburukan? "Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan adalah pahala orang yang berbuat kebaikan dan menghubungkan tali silaturahmi, sedangkan yang paling cepat mendatangkan keburukan ialah siksaan bagi orang yang berbuat jahat dan yang memutuskan tali persaudaraan" (HR. Ibnu
Majah).

Silaturahmi tidak sekedar bersentuhan tangan atau memohon maaf belaka. Ada sesuatu yang lebih hakiki dari itu semua, yaitu aspek mental dan keluasan hati. Hal ini sesuai dengan asal kata dari silaturahmi itu sendiri, yaitu shilat atau washl, yang berarti menyambungkan atau menghimpun, dan ar-rahiim yang berarti kasih sayang. Makna menyambungkan menunjukkan sebuah proses aktif dari sesuatu yang asalnya tidak tersambung. Menghimpun biasanya mengandung makna sesuatu yang tercerai-berai dan berantakan, menjadi sesuatu yang bersatu dan utuh kembali. Tentang hal ini Rasulullah SAW bersabda, "Yang disebut bersilaturahmi itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahmi itu ialah menyambungkan apa yang telah putus" (HR. Bukhari).

Kalau orang lain mengunjungi kita dan kita balas mengunjunginya, ini tidak memerlukan kekuatan mental yang tinggi. Boleh jadi kita melakukannya karena merasa malu atau berhutang budi kepada orang tersebut. Namun, bila ada orang yang tidak pernah bersilaturahmi kepada kita, lalu dengan sengaja kita mengunjunginya walau harus menempuh jarak yang jauh dan melelahkan, maka
inilah yang disebut silaturahmi. Apalagi kalau kita bersilaturahmi kepada orang yang membenci kita, seseorang yang sangat menghindari pertemuan dengan kita, lalu kita mengupayakan diri untuk bertemu dengannya. Inilah silaturahmi yang sebenarnya.

Rasulullah SAW pernah memberikan nasihat kepada para sahabat, "Hendaklah kalian mengharapkan kemuliaan dari Allah". Para sahabat pun bertanya, "Apakah yang dimaksud itu, ya Rasulullah?" Beliau kemudian bersabda lagi, "Hendaklah kalian suka menghubungkan tali silaturahmi kepada orang yang telah memutuskannya, memberi sesuatu (hadiah) kepada orang yang tidak
pernah memberi sesuatu kepada kalian, dan hendaklah kalian bersabar (jangan lekas marah) kepada orang yang menganggap kalian bodoh" (HR. Hakim).

Dalam hadis lain dikisahkan pula, "Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada shalat dan shaum?" tanya Rasulullah SAW kepada para sahabat. "Tentu saja," jawab mereka. Beliau kemudian menjelaskan, "Engkau damaikan yang bertengkar, menyembungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan tali persaudaraan di antara mereka adalah amal shalih yang besar pahalanya.
Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali silaturahmi" (HR. Bukhari Muslim).

* * *

Sahabat, bagaimana mungkin hidup kita akan tenang kalau di dalam hati masih tersimpan kebenciaan dan rasa permusuhan kepada sesama muslim. Perhatikan keluarga kita, kaum yang paling kecil di masyarakat. Bila di dalamnya ada beberapa orang saja yang sudah tidak saling tegur sapa, saling menjauhi, apalagi kalau di belakang sudah saling menohok, menggunjing, dan memfitnah,
maka rahmat Allah akan dijauhkan dari rumah tersebut. Dalam skala yang lebih luas, dalam lingkup sebuah negara, bila di dalamnya sudah ada kelompok yang saling jegal, saling fitnah, atau saling menjatuhkan, maka dikhawatirkan bahwa bangsa dan negara tersebut akan terputus dari rahmat dan pertolongan Allah SWT.

Silaturahmi adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan Allah SWT. Dengan terhubungnya silaturahmi, maka ukhuwah Islamiyah akan terjalin dengan baik. Bagaimana pun besarnya umat Islam secara kuantitatif, sama sekali tidak ada artinya bila di dalamnya tidak ada persatuan dan kerja sama untuk taat kepada Allah. Sebagai umat yang besar, kaum muslim memang diwajibkan ada yang terjun di bidang politik, ekonomi, hukum, dsb, karena tanpa itu kita akan dipermainkan dan kepentingan kita tidak ternaungi secara legal di dalam kehidupan bermasyarakat. Namun demikian, berbagai kelompok yang ada harus dijadikan sarana berkompetisi untuk mencapai satu tujuan mulia, tidak saling menghancurkan dan berperang, bahkan lebih senang berkoalisi dengan pihak lain. Sebagai umat yang taat, kita berkewajiban untuk mendukung segala kegiatan yang menyatukan langkah berbagai kelompok kaum muslimin dan mempererat tali persaudaraan diantara kita semua. Wallahu 'alam...
sumber :Rahasia Silaturahmi
Dipublikasi pada Rabu, 02 November 2005 oleh abufaiz97
Artikel ini telah dibaca 8441 kali.
Topik: Hikmah



Silaturahmi adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan Allah SWT. Dengan terhubungnya silaturahmi, maka ukhuwah Islamiyah akan terjalin dengan baik. Bagaimana pun besarnya umat Islam secara kuantitatif, sama sekali tidak ada artinya bila di dalamnya tidak ada persatuan dan kerja sama untuk taat kepada Allah....

----------

Tahukah kalian tentang sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan ataupun keburukan? "Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan adalah pahala orang yang berbuat kebaikan dan menghubungkan tali silaturahmi, sedangkan yang paling cepat mendatangkan keburukan ialah siksaan bagi orang yang berbuat jahat dan yang memutuskan tali persaudaraan" (HR. Ibnu
Majah).

Silaturahmi tidak sekedar bersentuhan tangan atau memohon maaf belaka. Ada sesuatu yang lebih hakiki dari itu semua, yaitu aspek mental dan keluasan hati. Hal ini sesuai dengan asal kata dari silaturahmi itu sendiri, yaitu shilat atau washl, yang berarti menyambungkan atau menghimpun, dan ar-rahiim yang berarti kasih sayang. Makna menyambungkan menunjukkan sebuah proses aktif dari sesuatu yang asalnya tidak tersambung. Menghimpun biasanya mengandung makna sesuatu yang tercerai-berai dan berantakan, menjadi sesuatu yang bersatu dan utuh kembali. Tentang hal ini Rasulullah SAW bersabda, "Yang disebut bersilaturahmi itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahmi itu ialah menyambungkan apa yang telah putus" (HR. Bukhari).

Kalau orang lain mengunjungi kita dan kita balas mengunjunginya, ini tidak memerlukan kekuatan mental yang tinggi. Boleh jadi kita melakukannya karena merasa malu atau berhutang budi kepada orang tersebut. Namun, bila ada orang yang tidak pernah bersilaturahmi kepada kita, lalu dengan sengaja kita mengunjunginya walau harus menempuh jarak yang jauh dan melelahkan, maka
inilah yang disebut silaturahmi. Apalagi kalau kita bersilaturahmi kepada orang yang membenci kita, seseorang yang sangat menghindari pertemuan dengan kita, lalu kita mengupayakan diri untuk bertemu dengannya. Inilah silaturahmi yang sebenarnya.

Rasulullah SAW pernah memberikan nasihat kepada para sahabat, "Hendaklah kalian mengharapkan kemuliaan dari Allah". Para sahabat pun bertanya, "Apakah yang dimaksud itu, ya Rasulullah?" Beliau kemudian bersabda lagi, "Hendaklah kalian suka menghubungkan tali silaturahmi kepada orang yang telah memutuskannya, memberi sesuatu (hadiah) kepada orang yang tidak
pernah memberi sesuatu kepada kalian, dan hendaklah kalian bersabar (jangan lekas marah) kepada orang yang menganggap kalian bodoh" (HR. Hakim).

Dalam hadis lain dikisahkan pula, "Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada shalat dan shaum?" tanya Rasulullah SAW kepada para sahabat. "Tentu saja," jawab mereka. Beliau kemudian menjelaskan, "Engkau damaikan yang bertengkar, menyembungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan tali persaudaraan di antara mereka adalah amal shalih yang besar pahalanya.
Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali silaturahmi" (HR. Bukhari Muslim).

* * *

Sahabat, bagaimana mungkin hidup kita akan tenang kalau di dalam hati masih tersimpan kebenciaan dan rasa permusuhan kepada sesama muslim. Perhatikan keluarga kita, kaum yang paling kecil di masyarakat. Bila di dalamnya ada beberapa orang saja yang sudah tidak saling tegur sapa, saling menjauhi, apalagi kalau di belakang sudah saling menohok, menggunjing, dan memfitnah,
maka rahmat Allah akan dijauhkan dari rumah tersebut. Dalam skala yang lebih luas, dalam lingkup sebuah negara, bila di dalamnya sudah ada kelompok yang saling jegal, saling fitnah, atau saling menjatuhkan, maka dikhawatirkan bahwa bangsa dan negara tersebut akan terputus dari rahmat dan pertolongan Allah SWT.

Silaturahmi adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan Allah SWT. Dengan terhubungnya silaturahmi, maka ukhuwah Islamiyah akan terjalin dengan baik. Bagaimana pun besarnya umat Islam secara kuantitatif, sama sekali tidak ada artinya bila di dalamnya tidak ada persatuan dan kerja sama untuk taat kepada Allah. Sebagai umat yang besar, kaum muslim memang diwajibkan ada yang terjun di bidang politik, ekonomi, hukum, dsb, karena tanpa itu kita akan dipermainkan dan kepentingan kita tidak ternaungi secara legal di dalam kehidupan bermasyarakat. Namun demikian, berbagai kelompok yang ada harus dijadikan sarana berkompetisi untuk mencapai satu tujuan mulia, tidak saling menghancurkan dan berperang, bahkan lebih senang berkoalisi dengan pihak lain. Sebagai umat yang taat, kita berkewajiban untuk mendukung segala kegiatan yang menyatukan langkah berbagai kelompok kaum muslimin dan mempererat tali persaudaraan diantara kita semua. Wallahu 'alam...

(diambil dari tausiah Aa Gym, www.republika.co.id

Jumat, 30 Oktober 2009

Da`wah cerdas

DR. Amir Faishol Fath

Langkah-Langkah Cerdas Dalam Berdakwah

16/5/2007 | 01 Jumadil Awal 1428 H | Hits: 7.434
Oleh: DR. Amir Faishol Fath
Kirim Print

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An-Nahl: 125)

Ayat ini berisi panduan khusus mengenai bagaimana berdakwah yang cerdas. Sekalipun dakwah kepada Allah merupakan amal shalih, tetapi seorang aktivis dakwah dalam mengerjakan tugasnya tidak boleh asal-asalan. Sekadar bermodal keyakinan bahwa Allah pasti menolongnya. Tidak, tidak demikian seharusnya seorang aktivis dakwah. Aktivis dakwah harus cerdas dalam menjalankan tugasnya. Sebab, kerja dakwah bukan pekerjaan biasa. Ia pekerjaan yang sangat mulia, menuntut perhatian khusus dan cara-cara penyampaian yang kreatif. Jika tidak, dakwah akan berjalan di tempat. Namanya saja disebut dakwah, sementara pengaruhnya sangat tumpul.

Benar, berdakwah kepada Allah merupakan pekerjaan yang sangat mulia. Sebab, yang memerintahkannya adalah Allah yang Maha Agung. Perhatikan kata ud’u ilaa sabiili rabbika (serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu), ini menunjukkan bahwa tugas dakwah datang langsung dari Allah swt. sebagai bukti pentingnya tugas tersebut. Rasulullah saw. yang menerima tugas ini telah melaksanakannya dengan sungguh-sungguh. Seluruh hidupnya bila kita pelajari secara mendalam, tidak lebih dari cerminan dakwah kepada Allah. Setelah Rasulullah wafat tugas dakwah ini secara otomatis dioper alih kepada umatnya. Karenanya Allah berfirman, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Ali Imran:110)

Tidak bisa dipungkiri bahwa berdakwah di jalan Allah pasti akan berhadapan dengan tantangan yang sangat berat. Renungkan kata ilaa sabiili rabbika, di sini Anda akan mendapatkan kesan bahwa tugas utama manusia sebenarnya adalah mengikuti jalan Allah swt. Tetapi karena setan bekerja keras untuk membuat manusia tergelincir, akhirnya banyak dari manusia yang keluar dari jalan Allah. Seorang aktivis dakwah yang cerdas hendaknya senantiasa berusaha untuk mengembalikan mereka ke jalan yang benar. Tentu saja di sini maksudnya bukan hanya orang kafir, melainkan banyak juga orang-orang Islam yang lemah iman ikut juga tergelincir. Karenanya, fokus utama dakwah selain mengislamkan orang-orang kafir, juga mengembalikan orang-orang Islam ke porosnya yang benar. Untuk ini sangat dibutuhkan langkah-langkah cerdas. Al-Qur’an –sebagaimana pada ayat di atas– mengajarkan tiga langkah, dengannya dakwah akan menjadi efektif di manapun disampaikan:

Berdakwah Dengan Hikmah

Hikmah menurut banyak ahli tafsir adalah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil. Di dalam kata hikmah terkandung makna kokoh. Allah berfirman: kitaabun uhkimat aayaatuhu. Dikatakan kepada sebuah bangunan yang kokoh: al binaa’ul muhkam. Bila kata hikmah digandengkan dengan dakwah maksudnya di sini adalah bahwa dakwah tersebut dilakukan dengan sungguh-sungguh, tidak pernah kandas di tengah jalan. Ia terus berjalan dalam kondisi apapun. Aktivisnya tidak pernah kenal lelah. Segala kemungkinan yang bisa diterobos demi tegaknya kebenaran ditempuhnya dengan lapang dada.

Di dalam kata hikmah juga terkandung makna bijak (wisdom). Dakwah yang bijak menurut Ustadz Sayyid Quthub adalah yang memperhatikan situasi dan kondisi dari para mad’u (objek dakwah). Sejauh mana kemampuan daya serap yang mereka miliki. Jangan sampai tugas-tugas yang diberikan di luar kemampuan si mad’u. Sebab, kesiapan jiwa masing-masing mad’u berbeda. Diupayakan setiap satuan tugas yang diberikan sejalan dengan kapasitas intelektual dan spiritual mereka (lihat fii dzilaalil Qur’an, Sayyid Quthub vol.4, hal.2202). Perhatikan bagaimana Allah menurunkan Al-Qur’an tidak sekaligus, melainkan secara bertahap dalam berbagai situasi dan kondisi: pertama kali mengenai ayat-ayat keimanan. Karenanya surat-surat periode Makkah lebih terkonsentrasi kepada masalah keimanan. Baru setelah hijrah ke Madinah, di mana iman para sahabat telah kokoh, Allah turunkan ayat-ayat tentang syariat.

Siti A’isyah r.a. pernah mengomentari masalah ini dengan sangat mengagumkan, bahwa sesungguhnya yang pertama kali Allah turunkan adalah ayat-ayat mengenai iman kepada Allah swt. Baru setelah iman para sahabat kuat, diturunkan ayat-ayat tentang halal-haram. Lalu Aisyah berkata: Seandainya yang pertama kali Allah turunkan adalah larangan: jangan kau minum khamer, niscaya mereka akan menjawab: kami tidak akan meninggalkan khamer selamanya. Dan seandainya yang pertama kali Allah turunkan adalah larangan: jangan kau berzina, niscaya mereka akan menjawab: kami tidak akan meninggalkan zina selamanya (HR. Bukhari, no. 4609).

Dalam rangka ini pula ayat-ayat mengenai larangan minum khamer tidak langsung sekaligus, melainkan melalui empat tahap: Tahap pertama Allah memberikan isyarat bahwa barang-barang yang memabukkan itu bukan rezki yang baik: “Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezki yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.” (An-Nahl: 67). Pada tahap kedua, Allah berfirman: Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir. (Al-Baqarah: 219) Di sini Allah menerangkan bahwa khamer itu sebenarnya berbahaya besar. Kalaupun ada manfaatnya, itu hanya dari segi perdagangan saja, sementara bagi kesehatan ia sangat membahayakan.

Tahap Ketiga, Allah melarang seseorang yang mabuk karena khamer untuk melakukan shalat, tetapi minum khamernya masih belum dilarang. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.” (An-Nisa’: 43). Di dalam ayat ini secara tidak langsung terkandung pengharaman minum khamer. Tetapi masih belum ditegaskan. Baru setelah tahapan itu semua, pada tahap keempat, Allah menegaskan bahwa khamer haram hukumnya: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (Al-Maidah: 90-91)

Jelas sekali bahwa metodologi Al-Qur’an dalam mengembalikan manusia ke titik fitrahnya sungguh sangat bijak. Demikian juga seorang aktivis dakwah yang cerdas, dia selalu berjalan sebagaimana tuntunan Al-Qur’an. Maka ia tidak memaksakan kehendak dengan cara mencaci-maki dan menjelek-jelekkan orang lain yang tidak mau bergerak dalam satu fikrah (baca: visi dan misi perjuangan). Dia selalu tenang, sekalipun dicaci-maki atau dijelek-jelekan. Baginya berdakwah di jalan Allah adalah kemuliaan. Tetapi dengan syarat ilmu yang ia dakwahkan harus benar (baca: bashirah), bukan asal dakwah. Sebab di antara makna hikmah –menurut Ibn Abbas– adalah ilmu tentang Al-Qur’an (lihat mufradat alfadzil Qur’an, Ar Raghib Al Ashfahani, h.250). Jadi, tidak cukup jika hanya bermodal semangat, sementara pemikiran yang dianutnya salah. Karenanya Allah berfirman: “Katakanlah: Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf: 108). Jadi, tidak disebut hikmah –sekalipun ia tenang dan bijak– jika ia mengajak kepada kesesatan dan permusuhan terhadap umat Islam yang lain.

Berdakwah Dengan Mau’idzah Hasanah

Kata wa’dz lebih dekat pengertiannya kepada makna memberikan nasihat atau pelajaran. Imam Al-Asfahani menerangkan bahwa wa’dz bermakna zajrun muqatrinun bit takhawiif (peringatan digabung dengan kabar penakut). Pengertian lain menjelaskan bahwa wa’dz juga bermakna peringatan dengan kebaikan yang bisa menyentuh hati. Dalam Al-Qur’an banyak ayat-ayat yang menggunakan kata wa’zd untuk makna tersebut, di antaranya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu (ya’idzukum) agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (An-Nahl: 90). Dalam surat Yunus 57: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran (mau’idzah) dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” Dalam surat Ali Imran 138: (Al-Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran (mau’idzah) bagi orang-orang yang bertakwa.

Ketika digabung dengan sifat hasanah, maka makna mau’idzah hasanah menjadi pelajaran atau nasihat yang baik. Nasihat yang menyentuh hati dan melembutkannya. Seorang aktivis dakwah yang cerdas selalu menyampaikan apa yang di hatinya. Tidak dibuat-buat, dan tidak pula membuat orang-orang semakin bingung dan ketakutan. Banyak sekali contoh-contoh yang menunjukkan bahwa berdakwah dari hati ke hati sangat besar pengaruhnya terhadap orang lain. Sebuah ungkapan terkenal menarik untuk dikutip di sini bahwa: “apa yang datang dari hati akan sampai ke hati” (maa jaa’a minal qalbi yashilu ilal qalbi).

Bila kita telusuri secara mendalam, Al-Qur’an selalu menggunakan cara ini dalam menyampaikan kebenaran. Hal yang sangat jelas adalah kisah-kisah yang disampaikan Al-Qur’an mengenai umat terdahulu selalu memberikan pelajaran yang sangat mahal bagi umat manusia. Allah swt. tidak pernah bosan mengulang-ulang kisah kaum ‘Aad, Tsamud, dan Fir’un, supaya manusia yang hidup sesudahnya tidak mengikuti perbuatan mereka. Tidak hanya itu, mengenai hari kiamat, surga, dan neraka, selalu Allah ulang-ulang dalam setiap surat-surat Al-Qur’an. Itu tidak lain agar manusia terketuk hatinya lalu bergerak mengisi usianya dengan amal shalih. Perhatikan bagaimana cara ini telah demikian jauh menukik ke dalam hati manusia dari masa ke masa, sehingga banyak dari mereka yang tersadarkan lalu bertaubat dan kembali ke jalan yang benar.

Silakan baca hadits-hadits Rasulullah saw., Anda akan mendapatkan banyak contoh mengenai mau’idzah hasanah yang beliau sampaikan. Bahkan, bisa dikatakan bahwa semua hadits-hadits Rasulullah saw. adalah mau’idzah hasanah. Rasulullah saw. tidak pernah berpesan kecuali kebaikan dan kebenaran yang mengajak kepada keimanan kepada Allah dan ketaatan kepadaNya, menjauhi segala laranganNya dan senantiasa menegakkan akhlak mulia dalam kehidupan bermasyarakat “wamaa yanthiqu ‘anal hawaa in huwa illaa wahyun yuuhaa (dan tiadalah yang diucapkannya itu –Al-Qur’an– menurut kemauan hawa nafsunya) (An-Najm: 3).

Berdialog Dengan Cara Yang Lebih Baik

Langkah berikutnya adalah wajaadilhum billatii hiya ahsan. Kata wajadilhum (bantahlah) menunjukkan agar seorang aktivis dakwah senantiasa meluruskan pandangan yang salah, dan menolak setiap pendapat yang tidak sejalan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tetapi cara menolaknya harus dengan cara yang cerdas, dalam arti lebih baik dari cara mereka billatii hiya ahsan. Sebab jika tidak, penolakan itu akan menjadi tidak berguna. Bahkan, tidak mustahil akan menyebabkan mereka semakin kokoh dengan kebatilan yang mereka tawarkan.

Simaklah perintah Allah swt. kepada Nabi Musa dan Nabi Harun, ketika hendak menghadapi Fir’aun. Di sini Allah swt mengajarkan sebuah cara yang sangat baik. Allah berfirman: “Pergilah kamu berdua kepada Fir`aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Thaha: 42-43). Di sini nampak bahwa di antara cara efektif untuk meluruskan pemahaman orang lain, adalah tidak cukup dengan hanya hujjah-hujjah yang kuat, melainkan lebih dari itu harus ditopang dengan cara penyampaian yang lembut, tidak menghina dan mencerca. Bahkan tidak sedikit kebenaran yang ditolak hanya karena penyampaiannya tidak menarik. Dan berapa banyak kebatilan yang diterima hanya karena disampaikan dengan tenang, memukau, meyakinkan, dan menarik hati.

Di antara makna billatii hiya ahsan adalah ia menjauhi pembicaraan yang merendahkan orang lain. Sebab baginya maksud utama bukan menjatuhkan atau mengalahkan lawan, melainkan mengantarkannya kepada kebenaran. Perhatikan Rasulullah saw. ketika suatu hari datang seorang anak muda berkata: “Wahai Nabi izinkan aku berzina?” (orang-orang ketika itu berteriak. Tetapi Rasulullah saw. minta agar anak muda tersebut mendekat, sampai duduk di sampingnya). Lalu Rasulullah bertanya, “Jika ada orang mau berzina dengan ibumu, kamu terima?” “Tidak, bahkan aku siap mati karenanya,” jawab anak muda. Rasulullah menjawab, “Demikian juga orang lain. Tidak ada yang rela jika ibunya dizinai. Bagaimana jika ada orang mau berzina dengan saudarimu, kamu terima?” “Tidak, bahkan aku siap mati karenanya,” jawab anak muda. Rasulullah menjawab, “Demikian juga orang lain. Tidak ada yang rela jika saudarinya dizinai.” Lalu Rasulullah meletakkan tangannya ke dada anak muda itu, dan berdo’a, “Ya Allah, sucikanlah hatinya, ampunilah dosanya, jagalah kemaluannya.” Maka sejak itu tidak ada yang lebih dibenci oleh anak muda tersebut selain perzinaan.

Supaya para aktivis dakwah selalu tenang dan tidak emosional dalam menghadapi berbagai tantangan, Allah swt. menutup ayat di atas dengan penegasan: “Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” Maksudnya, Allah sebenarnya mengetahui siapa yang sesat dan siapa yang mendapatkan petunjuk, adapun berdialog dengan mereka itu hanyalah sebuah usaha manusiawi, siapa tahu cara tersebut beirama dengan ketentuan-Nya. Toh kalaupun ternyata segala cara yang paling cerdas kita tempuh secara maksimal, tetapi ternyata masih juga belum tercapai target yang diinginkan, segeralah kembali kepada ayat: “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Al-Qashash: 56). Dalam surat Al-Baqarah ayat 272: Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya.

sumber :http://www.dakwatuna.com/2007/langkah-langkah-cerdas-dalam-berdakwah/#comments

Senin, 14 September 2009

Ponakan ummi sudah 26 oramg

Tidak terasa usia merangkak terus. Sepanjang kehidupan ini ada yang datang dan pergi. Dalam keluarga kita dengan meninggalnya atuak tua, disusul oleh amak tua berarti generasi nenek ummi sdh habis. Sekarang tinggal generasi kedua yaitu atuak ndut, tapi tanpa ibu krn ibu sdh meninggal juga pas pilpres 2004. Hari ahad kemaren 23 Ramadhan ada yg lahir dalam keluarga kita yaitu putra mak man ke 6 di payakumbuh. Jadi diah, hamzah, ja'far, abbas dan khalid punya adik laki2 lagi. Alhamdulillah kalian telah punya banyak saudara sepupu. Tapi juga ada kesedihan karena dengan pindahnya kita ke cibubur kita belum bisa ketemu sama sepupu yang lahir antara 2007 sampai sekarang yaitu si kembar mak bal yang meninggal, afif anak tek win, luqman anak mak mun, khalid anak mak man dan sekarang adiknya khalid sudah lahir lagi. Jadi dari pihak ummi kita adalah keluarga besar. Ditambah kalian 4 orang, cucu atuak ndut sudah 30
orang. Kalian pemimpin mereka, uni fadhilah yg tertua dan abang miqdad pimpinan tertinggi mereka dan kalian juga qudwah bagi mereka, maka segala tindakan kalian akan menjadi contoh bagi mereka. Semoga kalian semua menjadi gerbong anak shaleh dan shalehah yang akan membawa kami orang tua ke syurganya kelak. Amin ya rabbal 'alamin. Ws

Sabtu, 05 September 2009

Buya HAMKA

Sumber :ttp://www.lambah.net/index.php?option=com_fireboard&Itemid=1&func=view&catid=2&id=647
Seabad HAMKA
1 Year, 6 Months ago
Karma: 1  
udah bosen ngomongin Tan Malaka? ada Alternatif agar nggak mengkultuskannya, coba deh baca tulisan tentang hamka ini...

HAMKA, Berprinsip Tapi Lembut

Inilah salah satu tokoh Indonesia yang langka. Kok langka? Pasalnya nih, tokoh yang satu ini cukup kompleks. Seandainya masih hidup, pasti diajak omong apa aja nyambung. Diajak omong masalah agama, okey! Karena

HAMKA emang seorang ulama. Sastra? Oh...dia juga jagonya.

Bahkan masalah sosial budaya dan politik juga pernah digelutinya.
Tapi ada satu dari Buya HAMKA ini, yaitu keteguhannya memegang prinsip yang diyakini. Inilah yang bikin semua orang menyeganinya. Sikap independennya itu sungguh bukan hal yang baru bagi HAMKA. Pada jamam pemerintah Soekarno, HAMKA berani mengeluarkan fatwa haram menikah lagi bagi Presiden Soekarno. Otomatis fatwa itu bikin sang Presiden berang.

Gak berhenti di situ, HAMKA juga terus-terusan mengkritik kedekatan pemerintah dengan PKI waktu itu. So, wajar aja kalau akhirnya dia dikirim ke penjara oleh Soekarno.

Bahkan majalah yang dibentuknya 'Panji Masyarat', pernah dibredel Soekarno karena menerbitkan tulisan Bung Hatta yang berjudul 'Demokrasi Kita' yang terkenal itu. Tulisan itu berisi kritikan tajam terhadap konsep Demokrasi Terpimpin yang dijalankan Bung Karno.

Namun dia tidak pernah menyimpan dendam pada Bung Karno. Buktinya, ketika Bung Karno wafat, HAMKA-lah yang menjadi imam saat sholat jenazahnya. Sikap yang berpedang pada prinsip dan hati ini tidak luput dari tempaan perjalanan hidupnya.

Simbol legitimasi umat
HAMKA dilahirkan di Maninjau, Sumatra Barat, 16 Februari 1908. Ayahnya bernama H Abdul Karim Amrullah, seorang tokoh gerakan Islam kaum muda Minangkabau. Setelah menunaikan ibadah haji, gelar religius itu disimpan di depan nama aslinya. Jadilah ia bernama HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah).

Sejak muda, HAMKA dikenal sebagai seorang pengelana. Bahkan ayahnya, memberi gelar Si Bujang Jauh. Pada usia 16 tahun ia merantau ke Jawa untuk menimba ilmu tentang gerakan Islam modern kepada HOS Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo, RM Soerjopranoto, dan KH Fakhrudin. Saat itu, HAMKA mengikuti berbagai diskusi dan training pergerakan Islam di Abdi Dharmo Pakualaman, Yogyakarta.
Selain dikenal sebagai ulama kharismatik, Hamka juga dikenal sebagai pujangga termashur.

Sejak usia 17 tahun, ia sudah menulis roman berjudul Siti Rabiah. Aktivitas tulis menulis itu ditentang oleh keluarganya. Namun Hamka jalan terus untuk mencari jati dirinya dan berusaha keluar dari bayangan nama besar ayahnya.

Pada usia 30-an, ia tak langsung memilih menjadi ulama, meski ia sendiri termasuk muballig muda Muhammadiyah di kota Medan. Ia lebih suka bergelut di bidang jurnalistik. Bersama Abdullah Puar, pada tahun 1936 ia mendirikan majalah Pedoman Masyarakat di kota Medan. Di majalah inilah ia menulis tulisan bersambung yang di kemudian hari menjadi buku Tasawuf Modern yang terkenal itu. Meski tulisan itu syarat dengan nilai-nilai keislaman, ia tetap saja dikenal sebagai pujangga daripada ulama.

Pada 1950, ia mendapat kesempatan untuk melawat ke berbagai negara daratan Arab. Kesempatan ini dipergunakannya untuk bertemu dengan tokoh dan pengarang Mesir yang sudah lama dikenalnya. Sepulang dari lawatan itu, HAMKA menulis beberapa roman. Antara lain Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah. Sebelum menyelesaikan roman-roman di atas, ia telah membuat roman yang lainnya. Seperti Di Bawah Lindungan Ka'bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Merantau ke Deli, dan Di Dalam Lembah Kehidupan.

Sejak perjanjian Roem-Royen 1949, ia pindah ke Jakarta dan memulai kariernya sebagai pegawai di Departemen Agama pada masa KH Abdul Wahid Hasyim. Waktu itu HAMKA sering memberikan kuliah di berbagai perguruan tinggi Islam di Tanah Air.
Sebagai seorang intelektual yang hidup pada jaman itu, Hamka pada tahun 1955 terlibat dalam dunia politik. Ia masuk Konstituante melalui partai Masyumi. Namun, perjalanan politiknya bisa dikatakan berakhir ketika Konstituante dibubarkan melalui Dekrit Presiden Soekarno pada 1959. Setahun kemudian nasib serupa menimpa Masyumi, dibubarkan Soekarno.

Setelah itu Hamka kembali kepada dunianya, menulis. Kali ini ia hadir dengan majalah baru Panji Masyarakat yang sempat terkenal karena menerbitkan tulisan Bung Hatta berjudul Demokrasi Kita.
Pada periode ini, tulisan Hamka yang mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al Azhar Mesir tahun 1958 ini sudah lebih banyak berupa kajian-kajian keIslaman yang mencakup seluruh bidang.
Setelah peristiwa 1965 dan berdirinya pemerintahan Orde Baru, Hamka secara total berperan sebagai ulama. Ia meninggalkan dunia politik dan sastra. Tulisan-tulisannya di Panji Masyarakat sudah merefleksikannya sebagai seorang ulama, dan ini bisa dibaca pada rubrik Dari Hati Ke Hati yang sangat bagus penuturannya. Keulamaan Hamka lebih menonjol lagi ketika dia menjadi ketua MUI pertama tahun 1975.

Hamka dikenal sebagai seorang moderat. Paling tidak bisa dilihat dari cara dia menyampaikan sesuatu yang selalu menempatkan hati dan pikiran dalam satu posisi yang sama berharganya. Tidak pernah dia mengeluarkan kata-kata keras, apalagi kasar dalam komunikasinya. Hal ini sudah ia tunjukkan dari sejak muda. Ia lebih suka memilih menulis roman atau cerpen dalam menyampaikan pesan-pesan moral Islam. Hamka yang bergelar Datuk In Domo ini mengakui bahwa memang dia menjadi lebih moderat ketika usianya bertambah.
"Ketika buku yang saya baca baru lima buah, saya cepat sekali menyimpulkan satu hal mengenai agama dan emosi, tapi ketika buku yang saya baca sudah lima puluh, saya menjadi lebih paham, dan tidak merasa perlu bersikap seperti itu," katanya suatu ketika.

Hamka meninggalkan karya tulis segudang, diantaranya, yang dibukukan tercatat lebih kurang 118 buah, belum termasuk karangan-karangan panjang dan pendek yang dimuat di berbagai media massa. Tulisan-tulisannya meliputi banyak bidang kajian: politik, sejarah, budaya, ahlak, dan ilmu-ilmu keislaman.

Sumber: dari Sahabat Untuk Sahabat
 

“Mahligai Minang” Masjid Raya Minangkabau

“Mahligai Minang” Masjid Raya Minangkabau

mesjidrayapadangPemerintah Propinsi Sumatera Barat ingin mewujudkan land mark selain yang ada di Sumbar yaitu Jam Gadang di Kota Bukittinggi, maka dalam satu-dua tahun ke depan akan ada land mark baru bernama “Mahligai Minang”. Ini adalah hasil karya arsitektur pemenang sayembara yang diikuti 323 arsitek dari sejumlah negara.

Mahligai Minang tidak semata-mata sebuah masjid, tetapi sebuah identitas yang akan menjadi pusat peradaban, di mana salah satu bangunan utamanya adalah bangunan masjid. Di situlah perpaduan antara Islam dan Minangkabau, dengan melengkapi bangunan atau ruangan antara lain; ruangan atau bangungunan lembaga pendidikan seperti perpustakaan, tempat rekreasi keluarga sakinah, ruang serba guna yang menampung 3.000 orang yang bisa digunakan untuk seminar, pertunjukan kesenian, dan sebagainya.

Masyarakat Minangkabau yang sebagian besar adalah penduduk wilayah Propinsi Sumatera Barat dalam menjalankan kehidupan sosial budayanya tetap berpegang teguh pada adagium adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah (ABS-SBK). Oleh karena itu sejak dulu sampai sekarang, masjid sebagai representasi kehidupan merupakan salah satu ikon budaya yang penting.

Masjid tidak saja dapat dijadikan ukuran dari keberhasilan masyarakat suatu wilayah/nagari, tetapi sekali gus menjadi sebuah kebanggaan masyarakat di nagari tersebut. Itulah sebabnya sampai sekarang, setiap orang Minangkabau baik yang di kampung maupun yang di rantau selalu bergairah dan berlomba-lomba membangun dan memakmurkan masjid. Dengan demikian, masjid menjadi sentra kegiatan sosial kemasyarakatan. Di dalam adatnya disebutkan, sebagai salah satu syarat bagi sebuah nagari antara lain adalah babalai bamusajik. Adanya balai tempat bermusyawarah ninik mamak dan adanya masjid untuk aktivitas keagamaan dan ilmu pengetahuan.

Masjid merupakan bangunan utama Mahligai Minang mengambil dan mengaktulisasikan kembali seni dan arsitektur bangunan “Minangkabau pada masa peradaban kebudayaan awal”.

Seperti diketahui dalam sejarah Kerajaan Pagaruyung bahwa ada tiga fase atau gelombang peradaban kebudyaan yaitu :

1). Fase atau gelombang peradaban kebudayaan Pagaruyung yang menganut agama Hindu Budha.

2) Fase atau gelombang peradaban kebudayaan Pagaruyung yang menganut agama Islam. dan

3) Fase atau gelombang peradaban kebudayaan Pagaruyung atau Minangkabau saat ini.

Jajaran masjid nan indah ini membuktikan kejayaan Islam di masa lampau. (muslimdaily.net: far/ks)  

 sumber :   http://www.muslimdaily.net/artikel/ringan/2901/deretan-masjid-nan-eksotik                        

Jumat, 04 September 2009

Sepuluh Hari Pertama

Rahayu Purwanti. Sp:

Sepuluh Hari Pertama

Mesjid -
klik untuk melihat foto
Rahayu Purwanti. Sp
Memasuki hari ke -10 bulan Ramadhan ini saya masih mendapati diri saya tidak maksimal menjalankan ibadah puasa ini. Saya sengajat idak membicarakan orang lain. Pertama, karena itu tidak baik. Kedua, karena saya sedang mencobauntuk tidak terfokus pada masalah orang lain sehingga melupakan masalah saya sendiri. Ketiga, karena memang saya tidak memilikidata-datanya.
Apa yang saya rencanakan sejak bulan Rajab yang lalu, baik untuk diri saya sendiri maupun keluarga, dan lingkungan saya banyak yang belum terlaksana. Bacaan Al-Quran saya misalnya baru separuh dari target 1,5 juz per hari, shalat Dhuha saya tidak bisa setiap hari, dan seterusnya.

Kalau ditanya kenapa, saya bisa saja mengemukakan tidak hanya satu jawaban -atau lebih tepatnya alasan. Namun saya mencoba untuk jujur bahwa jawabannya hanya satu: malas! kalau menyalahkan syaithan mungkin kurang tepat. Bukankah pada bulan Ramadhan ini para syaithan telah di belenggu oleh Allah SWT.

Malas, itulah penyakit yang menyerang saya kali ini. Bicara mengenai penyakit tentulah ada obatnya untuk menyembuhkannya dan sebelum penyakit ini menyerang saya lebih kuat lagi saya harus segera menelan obat itu. Seperti jamaknya mengobati penyakit haruslah bedasarkan diagnosa yang tepat agar pengobatan yang akan dilakukan menjadi efektif. Tidak hanya menghilangkan gejalanya, tapi menghilangkan sumber penyakitnya.
Untuk kasus saya - setelah saya renungkan dalam-dalam ( saya sedang mencoba self healing nih ) kemalasan ini muncul karena beberapa sebab : ( 1 ) saya menganggap waktu saya masih sangat luang, nanti juga masih sempat membaca Al-Quran,(2) itulah saya jadi suka menunda pekerjaan,(3) mengangap diri saya orang yang paling sibuk sehingga tidak ada salahnya dong kalau saya membutuhkan santai sejenak,atau (4) jangan jangan saya menganggap membaca Al Quran itu tidak begitu penting. Astaghfirullahalazhim 3X.

Herannya saya tidak malas untuk jalan jalan sore( dengan alasan mencari pabukoan ) belanja belanja di supermarket...Astaghfirullahalazhim.....sedemikian
parahnya penyakit malas ini menyerang saya.walaupun masih untung pada hari ini saya menyadari ( tetap rugi sebenarnya ). Yaa Allah, dengan segenap asma mu hamba memohon perlindungan dari penyakit ini.

Segera saya membuka kembali buku kecil,tipis,yang selalu terselip didopet saya. Ada doa di dalamnya yang beberapa hari ini memang tidak saya lafazkan. Doa yang akan memotivasi diri saya untuk sembuh dari penyakit malas ini. Bahkan Al Ustadz Abu Ridho menjelaskan bahwa doa ini adalah obat untuk krisis yang tengah melanda bangsa kita. saya membaca dan merenungkannya.

Allahumma inni audzubika minal hammi wal hazn, wa audzubika minal ajri wal kasl, wa audzubika minal jubni wal bukhl, wa audzubika min gholabatid-daini wa qohrir-rijal.

Ya Allah, aku berlindung pada-mu dari rasa sesak dan dada gelisah, dan aku berlindung pada-mu dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung pada-mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung pada-mu dari dilingkupi hutang dan dominasi manusia. (*)
sumber : http://www.padang-today.com/?today=tausiah&id=37

Kamis, 03 September 2009

Menghapus Ujian Masuk Perguruan Tinggi, Mungkinkah?

Kamis, 30/04/2009 15:08 WIB

Menghapus Ujian Masuk Perguruan Tinggi, Mungkinkah?

Oleh: Afrianto Daud

Sudah menjadi tradisi yang sistemik dalam dunia pendidikan nasional kita bahwa setiap siswa SLTA yang telah dinyatakan lulus dari jenjang sekolah menengah harus mengikuti seperangkat ujian lagi untuk bisa duduk di bangku perguruan tinggi yang mereka inginkan, baik Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Sejak zaman Orde Baru sampai era reformasi, ujian seperti ini masih terus berlangsung, walaupun dengan nama dan format yang sedikit berbeda dari masa ke masa.

Untuk PTN, pada awalnya ujian ini disebut SKALU (Sekretariat Kerjasama Antar Lima Universitas) yang pertama sekali dilaksanakan secara serentak oleh lima perguruan tinggi negeri pada tahun 1976. Kemudian tahun 1979 sistem ini dikembangkan dengan melibatkan lebih banyak perguruan tinggi negeri, yang dibagi ke dalam beberapa Proyek Perintis. Pada tahun 1983, Depdikbud memutuskan sistem ujian baru baru yang melibatkan semua PTN di tanah air. Sistem baru itu dikenal dengan nama SIPENMARU (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru).

Berikutnya pada pada tahun 1989 SIPENMARU dihapus dan berubah nama menjadi UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri), dan berubah lagi menjadi SPMB (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru) pada tahun 2001 menyusul keluarnya SK Mendiknas No. 173/U/2001. Dan sejak tahun 2008, ujian ini kembali berganti nama dan (juga) sedikit perubahan format. Istilah SNM-PTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) kemudian diperkenalkan, menyusul Keputusan Mendiknas No. 006 Tahun 2008 tentang Pedoman Penerimaan Calon Mahasiswa Baru.

Perlu juga dicatat bahwa disamping SNM-PTN, pada saat ini juga ada ujian sejenis yang dilaksanakan beberapa PTN dalam menjaring mahasiswa baru mereka, seperti Ujian Masuk Bersama (UMB) yang dilaksanakan oleh gabungan beberapa universitas di regional tertentu, atau ujian masuk yang diselenggarakan sendiri oleh perguruan tinggi tertentu untuk menjaring calon mahasiswanya dengan jadwal ujian biasanya lebih awal dari SNM-PTN, seperti Seleksi Masuk Universitas Indonesia (SIMAK UI), Ujian Saringan Masuk (USM) ITB, dan Ujian Masuk Universitas Gajah Mada (UM UGM).

Ujian Masuk PT Tidak Diperlukan?
Minimal ada tiga alasan utama bagi kita untuk memunculkan wacana penghapusan pelaksanaan ujian masuk PT, semisal SNM-PTN. Yang paling mendasar adalah karena pada jenjang pendidikan menengah (SLTA), pemerintah telah melaksanakan Ujian Nasional (UN) untuk semua siswa yang duduk di bangku terakhir Sekolah Menengah Atas (Kelas XII). Kalau UN dimaksudkan untuk mengukur tingkat keberhasilan pembelajaran siswa selama duduk di bangku SLTA, sebagaimana tersebut dalam Pasal 2 Permendiknas No. 77 Tahun 2008 tentang UN SMA/MA Tahun 2009, maka seharusnya hasil UN ini telah menggambarkan kemampuan seorang siswa untuk layak atau tidak diterima di perguruan tertinggi tertentu.

Kalau selama ini ada masalah dengan pelaksanaan UN, misalnya banyaknya kasus kecurangan yang terjadi saat pelaksanaan UN sehingga berpengaruh pada berkurangnya keyakinan PT terhadap aspek predictive validity UN (penggunaan nilai UN dalam memprediksi kemungkinan siswa yang bersangkutan bisa sukses atau tidak di jenjang pendidikan berikutnya), maka yang harus dilakukan adalah bagaimana PT bersama pihak terkait memastikan bahwa UN ini bisa berlangsung sesuai aturan yang berlaku; jujur, transparan, dan akuntabel pelaksanaannya. Dan kalau masalahnya terkait soal-soal UN yang dianggap oleh PT belum cukup representatif mengukur kompetensi yang diperlukan oleh perguruan tinggi, kenapa pemerintah (BNSP sebagai pihak pelaksana UN dan dirjen Dikti) tidak bekerjasama memperbaiki kualitas isi soal UN ini.

Alasan berikutnya adalah terkait efisensi dan niat baik membantu calon mahasiswa. Penghapusan SNM-PTN sangat jelas akan lebih mambantu para calon mahasiswa untuk menekan anggaran pengeluaran mereka. Potensi pengeluaran biaya yang totalnya bisa miliaran rupiah yang dikeluarkan oleh ratusan ribu tamatan SLTA dalam memperebutkan satu kursi di PTN melalui SNM-PTN barangkali mereka bisa gunakan untuk kebutuhan lainnya kelak ketika mereka menjadi mahasiswa baru. Pada saat yang sama, peniadaan SNM-PTN akan mengakhiri kesan selama ini bahwa nilai UN seakan tidak ada gunanya ketika seorang siswa masuk PT. Pelaksanaan UN yang menghabisakan anggaran lebih satu triliun rupiah ini akan terasa ’sia-sia’ jika nilai UN sama sekali ’tidak dianggap’ dalam menentukan diterima atau tidaknya seorang calon mahasiswa di PT.

Terakhir yang tak kalah penting adalah dengan ditiadakannya ujian masuk PTakan mengakhiri kritikan dari beberapa pengamat pendidikan selama ini tentang kesan (baca: kenyataan) tidak seiramanya pengelolalan pendidikan menegah dan perguruan tinggi kita. Bahwa seakan ada missing link dalam sistem pendidikan menengah kita dengan perguruan tinggi. Dunia pendidikan tinggi berjalan dengan logikanya sendiri, dan pengelola pendidikan menengah juga berjalan dengan caranya sendiri. Penghapusan ujian masuk PT dan penguatan penggunaan nilai UN sebagai dasar pertimbangan diterima atau tidaknya seorang siswa di PT akan menegaskan bahwa sistem pendidikan dasar dan menengah kita berada dalam satu kesatuan dengan sistem PT dalam melaksanaan pembangunan di bidang pendidikan nasional.

Belajar dari VCE di Victoria
Dalam konteks urgensi dan pentingnya penghapusan ujian masuk PT ini, tidak salah kalau kita melihat bagaimana Australia mengatur sistem (evaluasi) pendidikan mereka. Di negara bagian Victoria, misalnya, seorang siswa yang duduk di pendidikan menengah (secondary education) harus mengikuti dan lulus pada separangkat ujian berstandar untuk mendapatkan sebuah sertifikat kelulusan yang dikenal dengan Victoria Certificate of Education (VCE).

Kebijakan ini sepintas agak mirip dengan UN yang kita miliki. Namun sesungguhnya ada banyak perbedaan antara UN dan VCE. Selain berbeda dalam skala ujian, yang tidak berlaku secara nasional, ujian ini juga berbeda dalam hal waktu pelaksanaan. Tidak seperti halnya UN yang diperuntukkan hanya untuk siswa yang duduk di Kelas XII, VCE sudah boleh diikuti oleh siswa kelas XI dan atau kelas XII. Mereka yang sudah mencapai standar nilai tertentu pada ujian di kelas XI, tidak harus mengikuti kembali pada kelas XII, kecuali bagi mereka yang ingin memperbaiki nilai.

Beda yang paling penting adalah bahwa nilai VCE otomatis bisa digunaka para tamatan High Schools untuk masuk perguruan tinggi yang mereka inginkan, termasuk juga untuk memasuki dunia kerja dan pelatihan. Biasanya nilai VCE dan nilai keseluruhan seorang siswa selama di high school dirangking oleh satu badan yang dikenal dengan Victorian Tertiary Admission Centre (VTAC). Badan ini bertugas membantu perguruan tinggi menseleksi mahasiswa, VTAC membuat pengukuran menyeluruh atas prestasi setiap siswa selama ia belajar di Kelas 12. Ukuran menyeluruh ini disebut Equivalent National Tertiary Entrance Rank (ENTER).

Perguruan tinggi kemudian menjadikan perangkingan ini sebagai dasar penerimaan seorang calon mahasiswa di perguruan tinggi. Dengan kata lain, universitas tidak lagi mengadakan ujian sendiri untuk menselekasi tamatan high school itu. Perguran tinggi terbaik di Victoria, seperti Melbourne University, Monash University, dan Victoria University biasanya mensyaratkan siswa dengan nilai tinggi pada VCE. Maka, siswa yang memperoleh nilai terbaik, hampir bisa dipastikan akan bisa diterima di universitas yang mereka inginkan.

Epilog
Mengingat telah semakin kuatnya posisi UN dalam sistem evaluasi pendidikan menengah kita, dan untuk mengakhiri kesan tidak sejalannya pengelolaan sekolah menengah dengan perguruan tinggi, dipandang perlu bagi kita untuk memikirkan penghapusan kebijakan Ujian Masuk Perguruan Tingggi di negeri ini. Sangat penting dicarikan jalan agar hasil UN bisa menjadi pertimbangan diterima tidaknya seorang calon mahasiswa di perguruan tinggi. Sistem VCE di Victoria barangkali bisa dijadikan satu alternatif yang baik. Dengan kebijakan seperti ini, kita berharap agar pengorbanan setiap insan pendidikan di tingkat SLTA ketika menghadapi UN semakin terapresisasi. Agar sistem pendidikan nasional kita semakin rasional dan semakin memudahkan setiap anak bangsa dalam mengecap pendidikan yang lebih baik. Wallahu a’lam.

*Penulis adalah Direktur Genius Centre Batusangkar, alumnus Fakultas Pendidikan Monash Universty Australia
sumber : http://www.padang-today.com/index.php?today=article&j=4&id=665

Rabu, 02 September 2009

Puasa, Nafsu dan Ambisi

klik untuk melihat foto
irwan Prayitno*
Setiap datangnya puasa, setiap kali pula, manusia diingatkan tentang pentingnya menahan hawa nafsu, bahkan lebih penting dan diutamakan ketimbang perang fisik yang kolosal sekalipun. Begitu banyak dalil menyatakan demikian, bagi mereka yang mampu menahan nafsu maka surgalah tempatnya. Seperti yang ditegaskan Allah SWT, dalam surat An Nazi’at: 40-41; Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).

Juga dikisahkan dalam sebuah riwayat, bahwa ada seorang wanita pada bulan Ramadhan sedang mencaci-maki pembantunya. Rasulullah SAW mendengarnya, lalu beliau menyuruh seseorang untuk menyediakan makanan dan memanggil perempuan itu. Kata beliau, ”Makanlah makanan ini!” Perempuan itu menjawab, ”Saya sedang berpuasa ya Rasulullah”. Rasulullah SAW bersabda, “Bagaimana mungkin kamu berpuasa sementara kamu pun mencaci-maki pembantumu. Sesungguhnya puasa adalah sebagai penghalang bagi manusia untuk tidak berbuat hal-hal yang tercela. Betapa sedikitnya orang yang berpuasa dan betapa banyaknya orang yang kelaparan.”

Hadits ini memberi pelajaran berharga, bahwa puasa tidaklah sekadar menahan makan dan minum, di samping mengandung ketentuan­ketentuan fiqih, puasa juga mengandung pesan yang mendalam tentang akhlak, etika dan aspek sosial. Ketika seseorang hanya mampu menahan lapar dan dahaga, tetapi masih melakukan perbuatan tercela, maka tak lebih sekadar orang-orang yang merasakan lapar saja. Itulah yang disinyalir Nabi SAW, “betapa sedikitnya orang yang berpuasa, namun di sisi lain betapa banyaknya orang yang kelaparan”.

Menahan Hawa Nafsu

Hidup ini adalah perjuangan melawan hawa nafsu. Kadangkala kita menang dan kadangkala kita kalah melawan hawa nafsu.

Hawa nafsu ada pada diri setiap manusia. Hawa nafsu identik dengan keinginan-keinginan atau ambisi (hasrat), di mana untuk memenuhi kehidupannya manusia memerlukan keinginan-keinginan tersebut baik berdimensi vertikal (habluminallah), maupun dimensi horizontal (habluminannas). Dalam dimensi vertikal (habluminallah) dimaksudkan, bahwa umat Islam berlomba-lomba menjalankan berbagai ritualitas ibadah demi mendapat pahala sebesar-besarnya dari Allah SWT, Sang Pencipta. Sedangkan dalam dimensi horizontal (habluminannas), manusia lebih mengutamakan tumbuhnya rasa bertoleransi, etika berkelompok (politik) dan solidaritas kemanusiaan dalam konteks kehidupan bersama di muka bumi.

Ambisi adalah sesuatu hal yang wajar bagi manusia. Ambisi bisa disebut sebuah cita-cita atau harapan-harapan optimisme untuk masa depan yang lebih baik. Menjadi tidak wajar, jika ambisi itu melampaui batas-batas kewajaran dan kepatutan. Maka, ambisi itu menjadi sesuatu yang ‘utopis’. Anehnya, sesuatu ‘utopis’ tersebut seringkali kemudian dipaksakan untuk menjadi kenyataan, berkat ‘pengerahan segala daya upaya’, termasuk jika perlu dengan menghalalkan segala cara, dan dengan menzalimi pihak lain.

Sebagai contoh, pada masa lalu, tercatat bagaimana Islam melahirkan manusia-manusia yang menaklukkan dunia, tetapi sekaligus juga sebagai seorang ahli ibadah (’abid) yang luar biasa. Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, adalah penguasa-penguasa negara yang tidak tunduk oleh hawa nafsunya dan godaan dunia. Mereka tetap menjadi ahli ibadah yang luar biasa ketika menggenggam kekuasaan dunia yang begitu besar.

Ambisi atau hasrat yang ada dalam diri manusia, menurut psikolog David Mc Clelland (1998) terdapat 3 kategori, yakni : hasrat berprestasi (N Ach), hasrat berafiliasi (N Aff), dan hasrat kekuasaan (N Pow).

Ambisi yang Dikendalikan

Dari Ka’b bin Malik ra, Rasulullah SAW bersabda;”Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepas di tengah sekawanan kambing lebih merusak daripada merusaknya seseorang terhadap agamanya karena ambisinya untuk mendapatkan harta dan kedudukan”.

Imam Ghazali membagi puasa ke dalam tiga tingkatan; puasa orang awam, puasa orang khusus, dan puasa khususnya orang khusus (shaumul khawwash al-khawwash). Tingkatan yang ketiga adalah orang-orang berpuasa yang ditandai dengan tidak adanya kecenderungan hati untuk melakukan hal-hal yang tidak baik, bahkan apa saja yang dilakukannya selalu dilandasi keikhlasan dan ketaatan kepada Allah SWT. Jika dikaitkan dengan tindak pidana korupsi, maka orang-orang yang puasanya sudah sampai pada tingkatan ini tidak akan pernah terlintas dalam hati dan pikirannya untuk melakukan korupsi. Puasa sebagai sebuah terapi iman telah mencetak dirinya menjadi seseorang yang selalu merasakan adanya pengawasan dari Allah SWT.

Puasalah dari eksploitasi semena-mena. Puasalah dari berbohong, artinya tidak perlu bermain curang, tidak perlu memanipulasi data, dan main rekayasa.

Puasa dari dorongan nafsu seksual. Artinya jangan melakukan hubungan suami istri sebelum dilakukan akad pernikahan. Atau ketika siang hari pada bulan Ramadhan. Tidak perlu main seks bebas. Jangan demi ambisi seksual, lalu dihalalkan segala cara pemuasannya. Puasalah...
Puasa dari perbuatan tercela. Artinya jangan gadaikan idealisme demi segepok suap kolusi. Jangan korupsi jika dirasa belum mampu beli BMW atau Mercy. Puasalah dari korupsi. Tahan ambisi untuk mempengaruhi kebijakan dengan cara ”damai-suap” atau “damai-kolusi’”

Puasalah agar tidak melakukan suap dan kolusi. Puasa dari ambisi-ambisi kekuasaan yang memperkokoh status quo. Puasalah dari ambisi yang menkarut-marutkan masyarakat dengan isu yang tidak benar dan intrik-intrik. Puasalah dari ambisi kekuasaan yang sebenarnya bukan menjadi ‘hak’ kita. Puasalah...

Pada akhirnya, perlu mengingat apa yang disampaikan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ra; “Medan pertama yang harus dihadapi manusia adalah nafsunya sendiri. Jika menang atasnya maka terhadap yang lainnya akan lebih mudah dimenangkan. Dan jika kalah dengannya maka terhadap yang lainnya akan lebih mudah mendapatkan kekalahan. Karena itu, cobalah berjuang melawannya dahulu”.

Dan kisah seseorang yang meminta nasihat kepada orang saleh, ”Berilah aku nasihat”. Orang saleh menjawab, “Nafsumu ! Jika kamu tidak menyibukkannya dengan yang positif pasti dia akan menyibukkan kamu dengan yang negatif”. Wallahu’alam bishawab... (*)

*Penulis adalah Anggota DPR RI, Ketua Komisi X DPR RI
sumber : http://www.padang-today.com/?today=tausiah&id=36

Senin, 31 Agustus 2009

Hakekat Puasa

Shafwan Nawawi*:

Hakekat Puasa

Mesjid -
klik untuk melihat foto
Shafwan Nawawi*
Definisi al-shiyâm (puasa) menurut para ulama adalah al-Imsak (menahan) diri supaya tidak makan dan minum serta tidak melakukan permainan seksual atau semua yang membatalkan puasa sejak dari terbit fajar dan terbenam matahari. Namun pada umumnya puasa disikapi tidak (boleh) makan dan minum dan seterusnya sehingga begitu waktu berbuka, syahwat makan minumnya disalurkan sedemikian rupa, yang kadang-kadang melebih dari porsi di luar bulan puasa.

Untuk mengerti hakekat puasa ada tiga pokok normatif yang perlu dijelaskan di sini, sesuai dengan tuntunan Quran dan hadis yang berkaitan dengan maksud puasa tersebut. Pertama, bahwa kata kunci puasa ini terletak pada nilai ”imsak” (menahan) dirinya  itu. Dalam diri manusia terdapat naluri selera makan dan dorongan senang pada seks (QS. 3: 14) yang memiliki daya dorong yang kuat agar kebutuhannya terpenuhi atau tersalurkan.

Dorongan nafsu ibarat mesin mobil yang tahunya hanyalah bergerak maju. Dorongan majunya inilah yang ditahan, persis seperti mengeremkan mesin kenderaan. Yang mengeremnya itu adalah iman yang eksis dalam jiwa manusia.

Dari term yang diangkat oleh Al Quran dan sunah tersebut terdapat tiga syahwat yang perlu perlakuan imsak padanya, supaya tetap terpelihara dan sekaligus terkonrol, yaitu syahwat buthán (nafsu yang berurusan dengan masalah perut), syahwat kalam (nafsu bicara) dan syahwat jinsiyah (nafsu seksual)

Ketiga shahwat tersebut, bila tidak dipelihara dan dikontrol dengan baik, dapat menggiring manusia melakukan apa saja yang melanggar norma-norma kemanusiaan dan agama (khususnya Islam). Karena syahwat perut orang bukan hanya terdorong untuk mencari makan secara pantas dan halal, tapi bila sudah tidak dipelihara dan tidak terkontrol, orang bisa mengambil yang bukan haknya bahkan lebih jauh dari itu orang bisa jual diri. Adapun syahwat bicara, kalau sudah di luar porsinya, orang bisa memfitnah, ghibah, berdusta, berkata kotor dan sebagainya. Begitu juga dengan syahwat seksual, yang tidak terkendali, orang bisa menggoda anak orang lain, tapi  lebih jauh justru ada yang sampai memperkosa anak kandung sendiri. Di sinilah konsep imsak menjadi sangat urgen dalam kehidupan manusia dan inilah yang disyariatkan Islam.

Dalam menjelaskan syahwat perut terdapat hadis Nabi yang mengatakan: andai manusia ini memiliki dua bukit dari emas, maka niscaya ia akan menuntut yang ketiganya. Tuntutan  itu tidak akan berhenti kecuali jika sudah mati. Dalam menjelaskan ini syahwat seks dipahami dari hadis nabi riwayat Bukhari tentang arahan beliau supaya para pemuda yang mampu (termasuk secara material), segera menikah agar mata dan organ seksnya terjaga dari dosa.

Kedua, ialah bahwa menahan diri atau menahan hawa nafsu yang dimaksud adalah menahan diri terhadap hal-hal yang selama ini di luar Ramadhan, halal dilakukan siang hari. Hal inilah yang mejadi kemuliaan tersendiri di sisi Allah. Allah minta apa yang selama ini dihalalkan, mohon ditahan demi ketaatan pada-Nya. Makna ini dijelaskan pada ayat 187 surah Al Baqarah:

Dihalalkan untuk pada malam hari melakukan permainan seksual dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagi kamu dan kamu adalah pakaian bagi mereka Allah mengetahui bahwa kamu pernah tidak mampu menahan dirimu kemudian Allah mengampuni dan memaafkan kamu...

 Kesimpulan lain dari ini semua ialah bahwa untuk yang halal saja sudah dilarang, apalagi yang jelas haramnya. Di sinilah ketidaksadaran sebagian umat ini dalam beribadah puasa.

Karena faktanya justru pada bulan Ramadhan pula munculnya selingan kegiatan yang jauh dari nilai-nilai imsak atau menahan tersebut, seperti mereka yang menghabiskan waktu di kantor dengan main domino, ibu-ibu yang sukanya ngerumpi, anak-anak muda yang pacaran saat Shalat Tarawih atau Subuh, mereka yang berbuka dengan merokok setelah ijma’ ulama mengharamkannya, atau mereka yang berbuka dengan jamuan berbuka yang melimpah, atau apalagi mereka yang puasa masih saja korupsi, berzina, atau minum minuman keras arau berjudi.

Ketiga, ialah bahwa imsak, menahan, yang dimaksud adalah imsak yang ikhlas karena Allah atas dasar keimanan pada Allah, sesuai dasar pemanggilan Allah surat Al Baqarah 183, karena keislaman seseorang saja tidak cukup merespons ibadah puasa dengan benar dan sungguh-sungguh. Dalam Al Quran memang ada klasifikasi muslim dan mukmin tersebut. Perhatikan QS. Al Hujurat ayat 14. 

 Di ayat 14 surat Al Hujurat ini terlihat jelas orang-orang tersebut diakui keislamannya tapi belum diakui keimanannya. Esensi masalahnya ialah bahwa yang Muslim saja ini memiliki hati yang belum terisi oleh iman. Imannya baru di tataran konsep dan pemikiran, atau baru sebatas pengakuan dan keinginan, namun belum sampai ke hatinya. Hatinya masih ragu atau masih terisi dengan persepsi persepsi kemauannya. Karena itu belum terefleksikan keluar dirinya dalam bentuk sikap yang tegas, tindakan nyata dengan berjuang dan berkorban di jalan Allah. Karena itu yang mampu melaksanakan puasa ini dengan baik hanyalah orang-orang yang benar keimanannya. Wallahu’’Alam.

Hal inilah yang justru menjadi indikasi kemukminan seseorang yang dimaksud Allah yang dijelaskan pada ayat 15 surat yang sama. Orang-orang beriman hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasulnya, kemudian mereka tidak memiliki keraguan, mereka berjihad di jalan Allah dengan harta dan nyawa mereka. Itulah mereka yang keimanannya sudah benar.

Profil orang beriman tersebut telah dijabarkan dalam banyak ayat Al Quran antara dia memiliki ketaatan dan sikap monoloyalitas pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka memiliki hati yang gemetaran jika disebut nama Allah, apalagi ayat Allah dibacakan kepada mereka.

Mereka selalu tawakkal hanya pada Allah, mendirikan shalat dan menunaikan zakat (lihat QS. 8: 2-5.) Orang-orang beriman memiliki keyakinan dan ketaatan penuh dengan hukum Allah yaitu  ketaatan militeristik pada Allah (QS.34: 59)  Apabila sudah ada ketentuan hukum dari-Nya mereka langsung patuh dan tanpa ada rasa keberatan sedikitpun (QS. 2: 165). (*)

*Penulis adalah Ketua IKADI Sumbar dan Dosen IAIN Iman Bonjol Padang
sumber : http://www.padang-today.com/?today=tausiah&id=31