Senin, 29 Juni 2009

PKS, SBY, dan Legitimasi Agama


Secara sempurna PKS memberikan landasan-landasan dasar terhadap pilihan politiknya yang mendukung pasangan SBY-Boediono. Landasan dasar itu, berupa kaidah syar’iyah dan siyasah telah diberikan bagi membenarkan segala keputusan politik yang diambil PKS, tujuannya tak lain, ingin mendapatkan dukungan publik atas pilihan yang sudah dilakukannya. Selain itu, PKS mengharapkan pengertian dan pemahaman dari publik atas pilihan yang dilakukannya itu, dan sudah menggunakan dasar kriteria, dan pertimbangan dari berbagi sudut pandang.

Sebelumnya, PKS sudah memberikan delapan alasan, mengapa PKS melakukan koalisi dengan SBY-Boediono, dan salah satu alasannya, bahwa koalisi dengan SBY itu merupakan keputusan Majelis Syuro PKS ke XI, 24-25 April 2009, di mana Majelis Syuro sebagai lembaga tertinggi telah memberikan legitimasi politik yang medukung pasangan SBY-Boediono di pilpres, Juli mendatang. Keputusan Majelis Syuro itu, dikuatkan adanya dukungan dari 70 persen kader, yang juga menghendaki PKS berkoalisi dengan SBY. Artinya, langkah kebijakan yang diambil oleh Majelis Syuro itu, mendapakan dukungan dari kalangan kader PKS.

Keputusan PKS mendukung pasangan SBY-Boediono itu, dilanjutkan dengan adanya 11 Poin Perjanjian Kerjasama antara PKS dan Partai Demokrat. Diantara 11 poin itu, secara eksplisit PKS, di pilpres 2009, memberikan dukungan kepada pemimpin yang visioner, tegas, bersih, dan loyal serta membangun sistem dan budaya yang kondusif bagi kepentingan negara dan bangsa, dan tokoh yang memiliki kriteria seperti di dalam poin pertama, tak lain adalah SBY-Boediono.

Tentu, dalam hal ini, PKS ingin menjelaskan langkah-langkah yang memberikan dasar landasan politik dan syar’i, yang tujuannya menguatkan kebijakan dan politik PKS, agar dapat dipahami publik. Tidak lagi timbul pandangan-pandangan yang ragu-ragu atas pilihan politik yang dilakukan PKS, yang berkaitan dukungannya terhadap pasangan SBY-Boeidono.

Meskipun, belakangan ini muncul berbagai pandangan dari berbagai kalangan yang mengkitisi pasangan SBY-Boediono, menyangkut hal-hal yang pokok, seperti berkaitan dengan kebijakan ekonominya, yang lebih pro kepada pasar (kapitalis), yang ini dicurigai sebagai agenda kaum neo-liberal, yang dampaknya akan mematikan sektor riil, yang selama lima tahun ini pemerintahan SBY, sangat jelas yang tidak memihak terhadap rakyat kecil.

Meskipun, Presiden SBY, selalu menyatakan adanya penurunan angka kemiskinan, dan pengangguran, serta naiknya tingkat pendapatan rakyat, tapi bukti dilapangan menunjukkan sebaliknya. Di mana jumlah orang miskin terus meningkat, angka pengangguran semakin panjang, dan disparitas (kesenjangan) yang kaya dengn miskin meningkat, jumlah utang yang terus bertambah, dan pemberatanasan KKN, mencapai stagnan, dan tetap menempatkan negara yag paling korup di Asia, berdasarkan Transparancy International, yang dikeluarkan bulan April lalu. Belakangan ini masalah agama menjadi isu yang terus berkembang, di mana istri Boediono, Herawati, disebut-sebt beragama Katolik. Berita ini dikutip Tabloit Monitor Indonesia dari pernyataan Habib Husien al-Absyi.

Maka, di tengah-tengah berbagai polemik di masyarakat yang negative terhadap pasangan SBY-Boediono itu, PKS melakukan langkah-langkah konkrit dengan memberikan penjelasan (bayan) bagi masyarakat secara umum, khususnya umat Islam. Belum lama ini, Dewan Syariah Pusat Partai Keadilan Sejahtera (PKS), mengeluarkan 8 butir hasil Mudzakarah Nasional Ulama dan Pimpinan Pesantren, yang berlangsung di Jakarta, 27-28 Juni 2009 M.

Pernyataan dukungan kepada SBY-Boediono itu, diawali dengan mengutip ayat al-Qur’an : “Dengan keyakinan yang kokoh dan kesabaran yang teguh, ulama bertugas membimbing masyarakat dan memberikan ketaladan”. (As-Sajadah :24)

Mudzakarah Ulama itu, diikuti kurang lebih 250 ulama dan Pimpinan Pondok Pesantren dari seluruh Pronpinsi Indonesia, dan hasil mudzakarah itu, antara lain :

1.Memilih pemimpin dalam ajaran Islam merupakan kewajiban setiap muslim. Jika terdapat lebih dari seorang kandidat, wajib memilih kandidat yang lebih memenuhi kriteria (muwashfat) yang menjamin kemaslahatan lebih besar bagi masyarakat. Dengan memperhatikan skala prioritas, kemaslahatan agama atau moral, keamanan diri, kesehatan akal, keturunan dan harta benda, kemaslahatan sosial, lalu individual, kemaslahatan yang bersifat umum lalu yang parsial.

2.Terpenuhinya kriteria kemaslahatan yang lebih besar hendaknya tidak sekedar ikut-ikutan atau berdasarkan jual beli dukungan. Tetapi berdasarkan tanggung jawab setiap orang terhadap amanah Allah dan masa depan bangsa sesuai pengetahuan individualnya. Atau dengan bertanya kepada yang lebih mengerti, istikharah minta petunjuk kepada Allah, dan sebagai hasil musyawarah bagi individu-individu yang tergabung dalam suatu ikatan organisasi baik organisasi massa maupun sokial politik.

3.Hal-hal yang harus dipertimbangkan sebagai kriteria mencakup rekam jejak (track record) yang baik telah bertaubat bagi yang pernah berbuat salah, kedekatan dengan masyarakat, kapasitas untuk memimpin, kredibilitas untuk diteladani, jujur-amanah-cerdas dan akuntabel.

4.Perfoma calon pemimpin nasional juga harus mempertimbangkan pengaruh dan kontribusi para pendukngnya (kroni) terutama dari kalangan partai politiknya.

5.Dengan niat melaksanakan perintah agama dan mengupayakan kemaslahatan yang lebih besar bagi umat dan bangsa, serta melaui cara pemilihan yang benar, maka insya Allah memilih pemimpin nasional merupakan kegiatan ibadah politik yang berskala nasional.

6.Adanya keberagaman pilihan diantara anggota masyarakat merupakan cerminan kebebasan sebagai hak asasi yang harus dihormati.Terlebih keberagaman itu terjadi antar saudara serumah, yaitu Indonesia dan untuk satu tujuan yang sama yaitu kebaikan serta kemajuan bangsa.

7.Semangat ‘Fastabiqul Khairat’ harus diaktualisasikan oleh para kandidat dengan cara berkompetisi dalam kebaikan, yaitu mengemukakan prestasi yang dimiliki serta kebaikan dunia akhirat yang akan diperjuangkan untuk masyarakat. Mereka juga harus bersaing dalam cara kampanye yang santun-bermartabat untuk meraih simpati rakyat. Sehingga, kemenangan yang diraih, insya Allah sebagai bukti dukungan rakyat yang hakikatnya pertolongan dari Allah Swat, bukan kemenangan yang memanipulasi suara rakyat dan karenanya merupakan jebakan (istidraj) dari Allah Swt.

8.Peserta Mudzakarah menyerukan kepada umat Islam agar memberikan dukungan daslam pemilu presiden 2009 kepada calon yang lebih maslahat untuk umat dan bangsa dalam pemilu presiden 2009, kepada calon yang lebih maslahat untuk umat dan bangsa yaitu pasangan SBY-Boediono. Pernyataaan Mudzakarah ulama ini, ditandangani oleh Dr.Surahman Hidayat MA (Ketua Steering Committee), dan Buchori Yusuf, MA (Ketua, Organizing Committee).

Hasil Mudzakarah Ulama itu, sebuah langkah yang dilakukan PKS, yang memberikan dukungan kepada pasangan SBY-Boediono, dan untuk menyakinkan masyarakat dan bangsa Indonesia atas pilihan poliktiknya.

Apakah masyarakat dan kaum muslimin nantinya akan mengikuti arahan Dewan Syariah Pusat PKS? Dan, apakah langkah-langkah politik yang diambil PKS itu, juga mempertimbangkan aspirasi umat Islam, atau hanya mempertimbangkan internal, termasuk ijtihad politik yang dilakukan para pemimpinnya?

Setiap orang yang menjadi anggota masyarakat berhak secara bebas dengan menggunakan akal dan hati nurani serta agama yang menjadi keyakinannya masing-masing dapat menentukan pilihannya. Siapa yang berhak  mendapatkan dukungann rakyat atau umat? Tentu, yang memiliki keterkaitan dengan masa depan umat. Tapi masih adakah diantara mereka, yang memiliki keterkaitan dengan umat? (m)

dari : http://www.eramuslim.com/berita/analisa/pks-sby-dan-legitimasi-agama.htm

10 tahun keberkahan fajar hidayah




Wisuda angkatan ix tq/tb, angkatan vi sd/smp, angkatan ii sma. fotofoto yang sempat masuk ke hp ummi, walaupun kadang tidak bagus tapi lumayanlah untuk dokumentasi.

Kamis, 25 Juni 2009

Aman Damai bersama istri-istri Rasulullah SAW

      Rasulullah merupakan contoh bagi kita semua, dalam aAl-Quran Surat Al Ahzab ayat 21 ( QS 33 : 21) Allah SWT mengatakan bahwa “Sungguh telah ada pada diri Rasulullah telah ada suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dan bayak mengingat Allah”. Rasulullah pernah mempunyai istri 13 orang. Kecuali ini yang banyak ini yang boleh kita contoh poligami Rasulullah hanya beristri 4 orang saja. Namun bukan hal ini yang akan kita bicarakan, kita akan membicarakan bagaimana Rasulullah terhadap istri-istrinya.

     Dari sekian banyak istri Rsulullah, Khadijah binti Khuwailid adalah yang paling dicintai Rasulullah. Hadits Rasulullah ketika Aisyah menyebut2 Khadijah sebagai wanita tua dan seakan-akan tidak ada wanita lain, Rasulullah bersabda :”Khadijah adalah ibu dari anak-anakku, dia membenarkan disaat semua orang mendustainya, dia beriman disaat semua orang kufur dan dialah yang membantuku dengan seluruh hartanya”. Khadijah adalah istri yang paling banyak berkorban, istri yang merupakan kembang kota Makkah, setelah ditinggal mati dua suaminya masih menjadi rebutan, termasuk Abu Jahl dan abu Sufyan. Tapi Khadijah lebih mengharapkan pemuda yang berakhlak mulia. Khadijah juga perempuan yang menjaga kesucian termasuk tidak menyembah berhala walaupun telah lama tdk ada Rasul.    

     Istri yang gadis cuma Aisyah saja, sebelum menikah dengan Aisyah terlebih dulu Rasulullah menikahi Saudah binti Zam`ah, janda Syukron bin Amr. Saudah dan Syukron hijrah ke Habasyah, namun ketika pulang lagi Syukron wafat. Kemudian Khaulah mengajukan Saudah untuk dinikahi Rasulullah dan Rasulullah menerimanya. Dan merupakan kehormatan buat Saudah, sekaligus menghapus kesedihan beliau.

     Demikian cuplikan beberapa pernikahan Rasulullah, sekarang kita melihat kenapa pernikahan itu bisa membahagiakan dunia dan akhirat :

1. Pernikahan itu didasarkan pada keimanan/ din seseorang, Rasulullah bersabda :”Nikahi lah wanita karena 4 syarat, karena kecantikan, harta, keturunan, karena agama (din), karena wanita tidak memiliki semuanya maka pilihlah karena dinnya.Sebagai seorang perempuan/istri kita bercermin kepada hal ini. Melupakan hal ini menyebabkan kehidupan rumah tangga kita tidak sesuai dengan tujuan. Hidup adalah seperti rumus matematika jika kita tidak menetapkan tujuan keimanan maka sama saja dengan mengali dengan 0, maka berapa pun modal hidup maka hasilnya tetap nol.

2. Dalam kehidupan rumah tangga perlu saling toleransi, seperti Rasulullah dengan Saudah. Saudah tahu diri dinikahi Rasulullah yang masih muda dan merupakan tokoh sentral dia pandai membawakan dirinya, anak-anak Rasulullah berkembang baik dibawah asuhan Saudah, dan Rasulullah pun menyayangi Saudah walaupun Saudah sudah tua dan penampilan fisiknya pun jauh dari cantik, tapi Rasulullah menyayangi karena ketabahan.

3. Melengkapi diri dengan keterampilan dan pengetahuan, bukan saja tentang syariat tapi juga tentag keterampilan rumah tangga dan sebagainya. Istri-istri Rasulullah merupakan wanita-wanita yang pandai memasak, ada yang pintar berdagang seperti misalnya Khadijah binti Khuwailid yang merupakan eksportir importir ketika menikah denga Rasulullah dan kekayaannya dijadikan penyokong dakwah Rasulullah. Zainab adalah istri Rasulullah yang pintar menyulam serta Aisyah istri Rasulullah yang cerdas, Beliau meriwayatkan seribu hadist.Saling mempercayai. Rasulullah dipercayai oleh istri-istrinya. Ketika peristiwa hadistul ifd sebenarnya Rasulullah hampir terpengaruh. Manusia sekaliber Rasulullah saja hampir berantakan rumah tangganya ketika kepercayaan kepada istrinya goyah apalagi kita, maka semestinya kita membangun rumah tangga itu atas saling mempercayai.Menjaga aset rumah tangga baik itu anak-anak, harta benda ataupun amanah lain yang ada dalam rumah tangga. Anak-anak kita jauhkan dari hal-hal yang merusak akidahnya, pikirannya ataupun fisiknya. Anak-anak adalah aset utama rumah tangga. Anak-anak Rasulullah dijaga oleh istri-istrinya meskipun mereka sebenarnya adalah anak Khadijah.Berpenampilan menyenangkan bagi suami dan anak-anaknya bukan bagi orang lain. Berapa banyak perempuan yang memiliki penampilan menarik tapi maksud dan tujuan lain, Rasulullah bersabda :”Seorang istri dapat masuk syurga dari pintu mana pun ketika dia shalat, puasa di bulan Ramadhan dan suaminya redho kepadanya”.Kalau seseorang mau bahagia dalam kehidupan rumah tangga maka seharusnya mengikuti sunnah Rasulullah, bagaimana mungkin bisa bahagia kalau tidak mau ikut aturan Allah SWT, padahal Allah SWT telah membuat aturan sesuai dengan ciptaanNya, tidak mungkin akan salah. Demikianlah sedikit kisah istri Rasulullah dalam membangun rumah tangga yang aman dan damai. Wallahu ‘alam bissawab.

Senin, 22 Juni 2009

Kisah Ibu dari 11 Anak Penghafal Al Quran


Mar 26, '08 4:18 PM
for everyone
Kesibukan bukan penghalang bagi Wiwi memberikan pendidikan maksimal. Ia bangga, 11 anaknya kini menjadi penghafal Al Quran.

Entah sudah berapa banyak orang terhenyak mendengar pengakuan Wiwi. Dalam kesederhanaan ia bertutur, terungkap kisah sukses seorang ibu mendidik anak-anaknya.

"Saya mengutamakan pengajaran anak-anak sendiri. Karena, prinsip saya dua pertiga keberhasilan pendidikan itu ada di rumah, bukan di sekolah," ujar Wiwi.

Namun, Wiwi bukan perempuan 'rumahan'. Ia aktivis dengan segudang kegiatan. Kini, selain menjadi Staf Departemen Kaderisasi DPP PKS dan Ketua Aliansi Selamatkan Anak (ASA) Indonesia, ia juga Ketua Umum PP Salimah yang tersebar di 28 profinsi dan lebih 150 daerah seluruh Indonesia.

--- Hafal 30 Juz Al Quran ---

Tiga anak Wiwi yang paling besar, sudah hafal Al Quran di usia yang masih belia. Afza, 21, hafal 30 juz di usia 13 tahun. Faris, 20, hafal Al Quran di usia 10 tahun. Dan Maryam, 18, hafal di usia 16 tahun.

Dan yang membuat Wiwi kian bersyukur pada Allah, anaknya yang kedelapan, Muhammad Saihul, 11 tahun, sudah hafal 25 juz. Bocah cilik ini punya keinginan lulus SD sudah hafal 30 juz.

Enam anak Wiwi lainnya rata-rata sudah hafal Al Quran antara 2 juz hingga 10 juz. Sementara si bungsu, Hasna, meninggal bulan Juli 2006, di usia 3 tahun.

Tentang kesuksesannya, Wiwi tersenyum. Tegas ia berkata, suaminya, Mutammimul 'Ula –anggota legislatif DPR RI- punya peran penting dalam pembentukan karakter anak-anaknya.

"Suami punya kebiasaan i'tikaf di masjid di bulan Ramadhan selalu membawa anaknya bersama-sama, " ujar Wanita kelahiran Jakarta 11 September 1962.

Disanalah justru titik awal suaminya terisnpirasi mendidik anak untuk menghafal Al Quran. Karena, disebuah kesempatan ia mendengar seorang hafifiz Al Quran yang memperdengarkan hafalannya.

Suami Wiwi lantas berkeliling Jawa dan Madura dan singgah di pesantren tahfiz anak-anak di Kudus. Ia sampaikan visi tersebut pada Wiwi agar kelak anak-anaknya bisa menjadi hafidz Al Quran.

"Setelah anak saya yang kedua lahir, setiap hari saya perdengarkan bacaan Al Quran murattal. Satu kali tiba-tiba saja waktu kita main sama-sama, saya mendengar ia mengucapkan, 'wa utuu bihi mutasyaabihaa. .' (potongan surat Al Baqarah). Subhanallah, ternyata anak ini merekam apa yang ia dengar," kenang Wiwi tentang Faris yang saat itu baru balita.

--- Anak Ke Delapan Beli Televisi ---

"Saya tidak mungkin bisa mendidik anak-anak saya sebelas orang, kecuali karunia Allah melalui seorang suami yang memahami tentang pendidikan anak," tegas Wiwi.

Suami, kata Wiwi, yang memiliki visi pendidikan, dan ia bertugas mengisi kerangkanya. Kerjasama yang kompak ini –Wiwi menyebut suami sebagai mitra- telah berlangsung hingga 23 tahun pernikahan.

Di rumahnya, terdapat dua perpustakaan, untuk dirinya dan suami, dan untuk anak-anaknya. Ada 4000 buku disana. Wiwi menyebutnya kekayaan keluarga.

"Sebulan sekali suami mengeluarkan infaq dengan anak-anak untuk beli buku. Mereka dibiarkan dulu mencari apa yang mereka mau, nanti baru di arahkan. Mereka semua gila membaca, sampai dibawa tidur," ujar Wiwi.

Untuk memagari anak dari pengaruh negatif, Wiwi dan suami punya kiat sendiri. Mereka baru membeli TV setelah memiliki 8 anak. Itupun, Wiwi menerapkan aturan yang jelas lengkap dengan hukuman bila dilanggar.

Begitupun dengan.dua waktu yang tidak boleh diganggu gugat, yaitu sesudah subuh dan sesudah maghrib, sebagai waktu untuk interaksi dengan Al Quran.

--- Pola Penanggung Jawab ---

Wiwi sadar dirinya punya kesibukan di luar rumah.
"Makanya saya menerapkan pembagian tugas berupa penanggung jawab (PJ) pada masing-masing anak," katanya.

Pola ini, kata Wiwi, untuk menyambung kedekatan persaudaraan.
"Anak nomor satu bertanggung jawab pada tingkat kesulitan tertinggi. Ketika saya melahirkan anak kedelapan, dia (masih usia 6 tahun) bertanggung jawab pada adik-adiknya termasuk yang baru belajar jalan. Yang nomor dua di Kudus. Jadi yang nomor tiga yang pegang bayi, salah satuny bikin bobo bayi," terang Wiwi.

Anak nomor empat bertanggung jawab pada adik yang masih kecil, membuatkan susu dan mengurus makan.

"Sekarang mereka suka saling ingatkan bagaimana dahulu dirawat dan diasuh oleh kakaknya. Dan itu membuat mereka semakin dekat satu dan yang lainnya," ujar Wiwi.

Wiwi sangat dekat dengan anak-anaknya. Ia mengutip perkataan Imam Ali ra, tentang tiga fase interaksi dengan anak.

"Tujuh tahun pertama perlakukan ia seperti raja. Tujuh tahun kedua perlakukan ia seperti tawanan perang dalam kedisiplinan. Tujuh tahun ketiga dan seterusnya, perlakukan ia seperti sahabt dan teman," kata Wiwi.

Ia juga selalu diingatkan nasihat suaminya, "Bu, kita harus berbeda dengan orang lain dalam hal berbuat kebaikan. Orang lain duduk, kita harus sudah berjalan. Orang jalan, kita harus sudah berlari. Orang lari kita tidur. Orang tidur, kita sudah bangun."

--- Berdakwah Lewat Majelis ---

Wiwi sadar betul pentingnya sebuah keluarga dalam membangun karakter anak.

"Saya ingin sekali menulis buku membangun peradaban dari rumah. Karena memang semua itu dimulai dari rumah. Pendidikan bermula dari rumah. Dasar penentuan karakter ada di rumah. Ibu yang berperan sangat penting sampai anak usia 13 tahun. Kalau ibu tahu tugas-tugas ini, maka akan dihasilkan anak-anak yang berkualitas, " kata Wiwi.

Bersama teman-temannya di PP Salimah (Persaudaraan Muslimah), Wiwi menyentuh akar kekuatan keluarga itu melalui Majelis Ta'lim. Kini ada 4000 lebih Majelis Ta'lim seluruh Indonesia yang berada dalam pengawasan PP Salimah.

"Kekuatan ada di Majelis Ta'lim. Kita melihat ini sangat potensial dan strategis untuk memulai perubahan. Karena di majelis itu kumpul simpul-2 perubahan yaitu ibu-ibu. Dan Majelis Ta'lim dari banyak lapisan masyarakat, dari yang bawah hingga yang atas," ujar Wiwi.

"Logikanya ibu di Majelis Ta'lim dapat pencerahan. Pulang, ia menjadi Ibu. Nah ini sebenarnya sekolah non formal. Jadi, seminggu sekali mereka datang untuk dapat 'pendidikan' ini," Kata Wiwi.

Wiwi berharap, melalui Mejalis Ta'lim, para ibu bisa membentengi keluarganya juga anak-anaknya dari pengaru-pengaruh negatif yang kian marak.

(Aien / Tabloid Wanita Indonesia)/enyindra.multiply.com/journal/item/3

Minggu, 21 Juni 2009

Ujub/kagum

Sebenarnya hari Ahad 21 Juni 2009 ini ada 2 kegiatan, pertama Tabligh Akbar di Mesjid Istiqamah Puri Cikeas oleh Ust Muhammadun MA, baru beberapa menit mulai kegiatan kedua mulai juga, yaitu ta`lim oleh ustadz Dr Ahzami Samiun Jazuli yang judulnya UJUB.

Dalam Surat At Taubah ayat 25 dan hadits Tarmidzi yang haditsnya hasan lighairihi dinyatakan ada 4 dosa yang membahayakan yaitu :

1.    Kekikiran yang dithaati.

2.    Hawa yang nafsu yang diikuti.

3.    Dunia yang mempengaruhi.

4.    Seseorang yang kagum akan pendapatnya.

Kalau ada diantara 4 hal ini pada diri kita maka kita harus waspada, kalau sudah dominan maka kita harus uzlahdari situ walaupun dalam kehidupan biasa tidak boleh uzlah.Itu gambaran berbahayanya ujub. Berbangga terhadap diri sendiri merupakan awal kesalahan akibat ujub. Setelah ujub akan sulit menerima nasehat. Padahal sebaik apa pun manusia sangat mungkin berbuat salah, dan sangat mungkin untuk menerima nasehat. Rasulullah SAW pernah ditegur Allah SWT, dalam rumah tangga ketika mengharamkan minum madu dari Salah satu istrinya, dalam masyarakat ketika mengacuhkan Abdullah bin Ummi Maktum ataupun dalam perang.

Ujub dicarikan solusinya dengan cara membangun tradisi syuro, karena syuro adalah pendapat banyak orang dan mesti mendengar pendapat orang lain. Maka jama`ah atau organisasi ataupun partai yang syuronya berjalan dengan baik Insya Allah akan solid. Rasulullah yang maksum aja menerima pendapat sahabatnya padahal Rasulullah SAW adalah manusia yang paling sempurna. Misalnya dalam Perang Khandaq dia melaksanakan pendapat Salman Al Farisi. Pada perjanjian Hudhaibiyah Rasulullah menerima pendapat istrinya Ummu Salamah ataupun ketika Perang Uhud Rasulullah perlu mendengar pendapat sahabatnya.

Kemudian kita juga perlu sensitivitas keimanan. Amal bisa hancur hanya karena ujub. Ketika kita melihat Asbabun Nuzul Surat Hujurat adalah adanya sensitive iman yang akhirnya menghilangkan ujub. Umar dan Abu Bakar bersuara keras ketika menyikapi masalah Bani Thamim, hampir-hampir sahabat terbaik itu saling meninggikan suara, tapi karena sensitif iman mereka bisa menghilangkan rasa ujub yang sempat muncul pada diri mereka.

Sebab dan solusi ketika ujub muncul :

1.    Tampilan fisik, jika seseorang tampilan fisiknya dianugerahi lebih baik maka biasanya akan timbul ujub/kagum akan diri sendiri. Ini harus disadari dan ketika mengingat mati itulah solusinya. Semua akan mati sebagus apapun tampilan fisik seseorang.

 

2.    Karena ilmu, ujub menimbulkan ghurur atau GR. Ghurur bisa mengenai siapapun saja. Dalam Ihya Ulumiddin dinyatakan ghurur ulama jika ulama itu merasakan tidak akan masuk neraka. Seperti digambarkan sebagai berikut, kalau seorang ulama merasakan dalam hatinya masa saya yang ulama tidak akan masuk syurga?.Itu sudah pertanda ujub karena ilmunya. Ataupun melintas dalam hatinya masak saya tidak masuk syurga, saya kan ulama.

Mabi Musa as ditanya oleh sahabatnya, “Bukankah engkau yang paling alin diantara kita semua?”, Beliau menjawab, “Ya..”, karena jawaban beliau bukan Wallahu `alam, maka Nabi Musa yang Nabi dan Rasul serta disebut banyak dalam Al-Qur`an dan salah satu Ulul Azmi saja ditegur oleh Allah SWT untuk menjadi murid seorang Khidr yang tidak ada disebut namanya dalam Al_qur`an, namun Nabi Musa as bersegera melaksanakan teguran Allah berupa perintah menemui murabbinya Nabi Khidr tsb walaupun perjalanan mencari sang murabbi itu konon berlangsung selama 240 tahun. Sebaiknya dalam pergaulan sehari-hari meninggal kata-kata yang ada indikasi ujubnya seperti anak buah saya, sopir saya, atau pun kata-kata lain yang ada indikasi kita lebih baik dari yang lain. Mari kita pakai kata-kata saudara saya atau sahabat saya, kan tidak salah.

Hal ini kita cari solusinya dengan merenungkan isi Surat Hujurat Ayat 13, bahwa manusia yang paling sempurna adalah manusia yang palin bertaqwa, bukan gelar kesarjanaan ataupun kedudukan dalam masyarakat, ingatlah yang paling mulia adalah yang kadar ketaqwaannya lebih tinggi

 

3.    An Nasab, baik nasab keluarga ataupun nasab struktural. Nasab keluarga adalah nebeng ketenaran pada keluarganya seperti anak jendral,anak mentri dsbnya. Ataupun kedekatan dengan struktural misalnya kan ajudannya pemimpin maka sudah bertindak seperti pemimpin dan juga kagum akan kedekatannya dengan pemimpin. Hasan bin Tsabit dekat sekali dengan Rasulullah, ketika perang dia selalu berada dekat Rasulullah, hampir dia merasakan kekaguman atas dirinya karena dekat sekali dengan Rasul, tapi beliau cepat menyadari hal ini. Dalam Surat At Taubah ayat 105 Allah SWA menyatakan, “Beramallah maka Allah, rasul dan orang yang beriman akan melihat….” Setiap perbuatan akan dilihat bukan kedekatan yang dilihat baik itu kedekatan karena pertalian darah ataupun kedekatan dengan struktur pemerintahan.

Selain ghurur ujub juga menimbulkan kibr atau sombong yang perlu kita ingat adalah kibr ini bisa menyebabkan iblis yang beribadah bertahun-tahun menjadi kafir, akibat merasa kibr atas Adam as. Wallahu`alam bissawab.

Bertaqwalah dan berbuat baiklah

Kajian tematik malam Ahad 20 juni 2009 di Mesjid Darussalam Kota Wisata Cibubur oleh Ust Drs Masdan Sutan Panis.

Surat An Nahl ayat 128 :”Sesungguhnya Allah SWT bersama orang bertaqwa dan berbuat ihsan”.

Ihsan :   Kebaikan yang dilakukan dengan berbakti kepada Allah seakan-akan dia melihat Allah dan kalau  

tidak melihat Allah SWT, sesungguhnya Allah selalu melihatnya. Dia selalu merasa diawasi Allah    SWT. Jadi selalu takut untuk berbuat ma`siyat.

 

Ketika Mu`adz bin Jabal ditugaskan Rasulullah SAW ke Yaman menda`wahkan Islam. Mu`adz pun nampak keberatan menerima amanah, bukan karena tidak mau menerima tugas tetapi karena sedih dan berat menerima perpisahan dengan Rasulullah SAW yang mungkin akan lama atau juga mungkin tidak juga akan bertemu lagi dengan Rasullullah yang sangat dicintainya melebihi cinta pada dirinya sendiri. Maka Rasulullah memberikan nasehat kepada Mu`adz bin Jabal :

 

1.       Janganlah bersedih,  Sabda Rasulullah SAW : “Ya Muadz, janganlah bersedih karena sesungguhnya rasa sedih itu adalah salah satu perbuatan syetan”. Walaupun Muadz sangat mencintai Rasulullah namun ketika datang panggilan tugas sambut tanpa bersedih.

2.       Bertaqwalah,  Sabda Rasulullah SAW : “ Bertaqwalah engkau ya Muadz dimana pun engkau berada”. Jika menjaga ketaqwaan sama dengan menjaga kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Surat 49 ayat 13 menyatakan : “Sesungguhnya orang yang paling mulia disisi  Allah SWT adalah orang yang bertaqwa”. Manusia yang paling mulia adalah orang yang paling bertaqwa. Bertaqwa adalah mengerjakan suruhan Allah SWT dan meninggalkan laranganNya  artinya pandai menjaga dirinya sendiri , takutnya kepada Allah SWT bukan hanya di mesjid, juga bertaqwa di kantor ataupun di tempat rekreasi.

3.        Ikuti perbuatan jahat dengan perbuatan baik, Sabda Rasulullah, :”Ya Muadz hendaklah kejahatan engkau ikuti dengan kebaikan”. Muadz akan menemui berbagai tipikal manusia yang sama sekali berbeda dengan tipikal manusia yang pernah ditemuinya apalagi dia tidak bersama Rasulullah maka nasehat Rasulullah sangat penting sekali diamalkan. Sunatullah perjalan da`wah seorang Muslim yang hidup dalam masyarakat bahkan masyarakat non Muslim akan menemui gesekan . Bahkan setiap generasi selalu ada gesekan hatta itu generasi Rasulullah sekalipun. Kadang apa yang dilakukan selalu saja salah, tidak dilakukan juga salah, maka kejahatan itu jangan dibalas dengan kejahatan juga ikuti dengan perbuatan baik, seperti memberikan hadiah. Insya Allah masyarakat seperti itu ketika dalam suasana genting bukan hanya membantu bahkan membela, jika perbutan jahat diikuti dengan perbuatan baik.

4.       Nasehat ke 4, bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.  Merupakan modal hidup ketika kita selalu berakhlak baik  kepada manusia meskipun itu hanya perbuatan baik yang kecil orang akan selalu mengingat dan akan melakukan pembelaan. Perbedaan dalam masyarakat juga sunatullah tapi jika perbedaan itu membuka hal untuk berakhlak mulia itu akan dihargai masyarakat, akhirnya pesan da`wah yang besar akan diterima oleh masyarakat. Orang yang paling sempurna keimanannya adalah orang yang paling baik akhlaknya dan Allah SWT akan selalu bersama orang yang berbuat baik.

5.       Dan hendaklah engkau ingat kepada Allah di manapun engkau berada (Zikrullah). Zikir berbeda dengan ucapan biasa, tapi zikir adalah perbuatan hati dan diikuti perbuatan fisik.

Demikianlah nasehat Rasulullah SAW kepada Muadz bin Jabal sehingga Muadz bisa berangkat dengan tenang menuju tugas da`wah yang jauh ke negeri Yaman. Wallahu`alam bissawab.

 

Jumat, 19 Juni 2009

Atuk Tua, atuk ummi

           Kalau dirunut atuk ummi ini salah satu cucu Syekh Abdullah dt Jabok, salah satu Syekh pendiri perguruan tertua di Sumatra yaitu Sumatra Thawalib. Beliau sendiri mempunyai 11 anak yang tertua adalah Syekh Muhammad Saleh, yang menjadi Syekh juga di Kiambang Pariaman, dan salah satu muridnya adalah Syekh Burhanuddin Ulakan Pariaman. Yang kecil adalah Syech Mustafa Abdullah dan Syech Abbas Abdullah yang mendirikan Sekolah Darul Funun El Abbasiyah, sekolah putra dan Nahdatun Nisaiyah sekolah putri. Di sekolah inilah Zainuddin Labay El Yunusi pendiri Thawalib Padang Panjang, kakak dari Rahmah El Yunusiyah pendiri Diniyah putri Padang Panjang menempuh pendidikan sebelum mendirikan sekolah di Padang Panjang, jadi dari Padang Japang ke Padang Panjang. Itu yang pernah ummi baca di brosur usang Darul Funun.
          Darul Funun dan Nahdatun Nisaiyah mempunyai banyak murid, bahkan sampai ke Malaysia, Singapura dan Pathani. Sekolahnya merupakan sekolah yang maju di zamannya konon waktu seperti pernah diceritakan Bapak Abbas Hassan dalam majalahnya majalah Harmonis, ada 26 buah bendi yang setiap hari Ahad akan berangkat ke Payakumbuh mengambil bekal siswa-siswa kedua sekolah tsb yang dikirim orang tua mereka dari berbagai tempat di luar daerah. Kemudian ada beberapa ratus yang dari daerah sekitar, dan ada lagi yang dari luar negeri.Atuk ummi adalah cucu dari Syech Muhammad Saleh, beliau sekolah di Darul Funun, namun belajarnya lebih tuntas dari pembelajaran sekarang. Setamat sekolah beliau telah ikut mendirikan dan mengajar di sekolah PPI Padang Japang yang nanti menjadi Sekolah PGA (Pendidikan Guru Agama) yang menghasilkan guru agama di tahun 60 – 70 an, juga dari negara tetangga Malaysia dan Singapura.
            Bersama beliau lah ummi melewatkan masa kecil sampai tamat kuliah dan sampai menikah, bahkan sampai punya anak ke 3 ummi masih di manja oleh beliau. Padahal beliau sendiri sudah sangat sepuh. Ketika ummi melahirkan anak laki-laki satu-satunya beliau sangat bahagia sekali. Ketika pulang kampung beliau menyempatkan menggendong cicitnya dengan tubuh yang renta, namun sutu kebahagian bagi beliau walaupun yang digendongnya berat, besar dan gemuk, abang Miqdad ketika bayi gemuk dan berat.
           Beliau pernah menjadi anggota DPRGRDaerah 1 priode, yang ingat ummi adalah beliau pernah menjadi anggota DPRD tk II Kabupaten 50 Koto dalam masa 3 priode berturut-turut, mulai dari pemilihan tahun 1971 mewakili Parmusi, tahun 1976 dan 1982 mewakili PPP. Ummi tidak paham bagaimana menjadi anggota dewan saat itu.Priode anggota dewanini ummi SD sampai SMA, tapi ummi hanya tahu mereka tidak seperti anggota dewan zaman sekarang,ummi ingat selama menjadi anggota dewan hanya 1 kali kunker yaitu ke Jawa Timur dan ke Bali, dimana tempat terakhir ini sangat disesalinya sekembalinya karena pernah melihat yang tidak pantas dilihat di pantai Kuta.
         Kemudian juga atuk naik haji di tahun 1976, tapi ummi ingat sekali tidak dibiayai oleh negara ataupun dari dewan, beda kali dengan sekarang. Atok sama nenek naik haji dari hasil penjualan cengkeh, yang ummi ingat belum mencukupi tapi dipinjami uang oleh ponakan amak, sepupu atuk Ndut bapak ummi, karena nenek sudah cukup tapi atuk belum maka masih dicari lagi. Sudah dipinjami uang masih belum mencukupi, terakhir dicukupi dengan menjual sapi dan anak-anaknya yang sebenarnya diperuntukan kepada ummi.Sebenarnya atuk masih belum mau naik haji tapi nenek tidak mungkin pergi sendiri, maka semua yang ada diusahakan biar atuk sama berangkat sama nenek.
         Anggota dewan sekarang bisa berkeliling dunia dengan biaya negara. Kalau zaman atuk ummi untuk kunker sekali itu saja dia mesti ada feed backnya bagi rakyak, ketika kembali dari kunker, actionnya yang ummi lihat adalah pemda kabupaten membuat sungai-sungai di rehabilitasi alirannya seperti Aliran Sinamar di buat jaring kawat diisi batu supaya dimusim hujan tidak jebol. Ummi sendiri tidak terlalu ngeh karena msh SD dan lugu lagi.
          Satu lagi, atuk kredit motor yang diambil atas nama DPRD, ketika kreditnya belum lunas masih plat merah, ingat sekali tidak boleh siapapun memakai kecualiuntuk keperluan dewan ummi baru bisa pinjam ketika motornya lunas dan platnya sudah diganti plat hitam. Bandingkan dengan zaman sekarang apapun plat merah boleh dipakai oleh anak dan istri kemana aja kayaknya.
          Selama ummi dibesarkan oleh atuk ummi dianggap anak manja, sekampung orang bilang bahwa ummi dimanjakan. Kalau mana-mana boncengan dengan sepeda ontel. Ummi paling suka kalau atuk ada di warung, ummi bisa minta dibelikan kue apem kesukaan ummi. Minta jajan adalah hal yang sangat ummi ingat terus. Atuk tidak akan ngasih kalau tidak tahu ummi jajan ummi itu apa. Dan akan ngasih cepat kalau untuk keperluan sekolah.Kemudian juga setiap malam Ahaddan pagi Ahad akan diantar Didikan Subuh ke mesjid. Setiap sebelum Maghrib ummi akan pergi ngaji, karena ummi gak mau diajari atuk, karena yang ngaji sama atuk orang-orang dewasa. Kalau anak kecil ngaji sama atuk Muhammad, nah ummi selalu dijemput setiap pukul 20.00. Bahagia sekali karena hanya ummi yang dijemput.
            Tahun 1996 atuk ummi wafat, sebelum wafat beliau sudah lama sakit akibat ditabrak motor lagi bersepeda, sebenarnya sakitnya gak parah2 amat, tapi karena sudah tua tulangnya ada yang retak, maka sembuhnya lama sekali. Kemudian atuk juga ada asmanya, itu yang menurun ke uni Dhila. Yang ummi salut beliau selalu tahajud di sepertiga malam, berdua nenek sampai masih bisa selalu shalat tahajud, hal yang sama belum bisa ummi laksanakan. Semoga dalam waktu yang tidak lama ummi bisa melaksanakannya juga. Wallahu`alam bissawab.

Kamis, 18 Juni 2009

Hampir copot jantung ummi …

           Begitu ummi dipanggil ke ruangan Kadiv jantung sudah berdebar. Ini pasti ada sesuatu tentang uni. Selasa 16 Juni yang lalu, pengumuman kelulusan SMA. Tidak ada perasaan apa-apa sebelumnya, uni pasti lulus sebab selama ini dia sudah rajin belajar dan selalu ranking 1. Insya Allah lulus lah. Masak  ada  anak yang sering bolos dan tidak perhatian belajar akan  lulus, tapi masa  uni tidak lulus, sungguh suatu hal yang mustahil di mata ummi. Tapi itu tidak terjadi, ketika dipanggil ummi betul-betul  berdebar.

            3 tahun yang lalu kami menyeberang ke pulau Jawa dengan harapan uni Fadhilah bisa berkembang dengan baik, kakak Annisa sampai ditarik dari pesantren Ar Risalah Padang, padahal disana juga sangat menyenangkan dan prestasinya baik juga. Abang Miqdad pindah dari SDIT Adzkia padahal perkembangan belajarnya juga bagus. Adek Arina juga begitu. Ummi dan abi memutuskan semua pindah, padahal rencana semula hanya uni,ummi dan adik yang duluan, abi, abang dan kakak nyusul setelah tamat sd di Adzkia dan kakak tamat dari SMP Pesantren Arrisalah Padang. Uni juga sebenarnya sudah diterima di SMA 3 Padang dan MAN 2 Padang, keduanya di Gunung Pangiliun. Rupanya ha; itu cuma angan-angan belaka….

 Pukul 10.00 Ms Rina Wakasek Kurikulum datang ke kantor guru kelas 6 di lantai 3. “Ummi di tunggu kadiv di ruangan yayasan di lantai bawah” kata Ms Rina . “Wah ada apa ya, Uni tidak lulus????”. Dugaan ummi benar, bu Fortin Kepala Sekolah bilang ternyata anak kita Fadhilah belum lulus, dan kami semua tidak menyangka tapi bagaimana pun kami bangga bahwa kita berlaku jujur khusus Uni Dhila kami tahu apa yang ada pada dia itulah hasilnya, tidak ada rekayasa di tengah rekayasa kelulusan. Sampai ada yang bilang, Fajar Hidayah mah sok jujur sehingga begitulah jadinya.Sediiiiiih, sekali sampai ummi yang biasa tegar bisa menitikan air mata dan tidak bisa berkata apa-apa. Mau berteriak ke langit ke tujuh rasanya, tapi bagaimana lagi? Siapa yang salah dalam hal ini. Tidak siapa-siapa, memang inilah yang nasib.

Astaghfirullah…ummi yang semula sangat kecewa, kalau bukan ingat semua ini sudah ditakdirkan Allah SWT di lauhmahfudz ummi sudah kecewa sekali. Kalau berandai-andai, seandainya uni sekolah di Padang mungkin sudah diterima PMDK di PTN bergengsi. Tapi ini dunia nyata, uni tidak lulus karena hanya 1 mata pelajaran. Rasanya usahanya selama tiga tahun sia-sia saja. “Ibu bisa terima kan?” Tanya Bu Fortin. “Belum”. Jawab ummi pendek. Apalagi beliau. Pak Nawawi guru kelas Tajikistan sampai bilang Dhila pasti mampu, tapi waktunya bukan sekarang, ini belum apa-apa, tidak lulus bukan berarti semua hancur. Sulit dan berat sekali menerima kenyataan ini, apalagi tahun depan uni bareng kakak ujian UAN.

Ketika uni dipanggil ngasih tahu bahwa dia tidak lulus dia menangis, ummi justru merasakan sesuatu yang sangat nenyakitkan sekali. Tapi ya sudahlah uni, harus mampu mengambil ibrah, uni harus kuliah juga tahun ini beberapa scenario sudah disusun, Alhamdulillah ijazah sekolah sudah diakui termasuk ke beberapa negara tetangga. Dan Allah SWT pasti telah pilihkan yang lebih baik dari sekedar lulus UAN. Semoga Wallahu `alam bissawab.

Senin, 15 Juni 2009

Teman Ummi Dewi Kurnida,SH

       Bagi Ummi teman Ummi ini bukan hanya sebagai teman,sekaligus partner dalam diskusi ataupun dalam masak walau dia adik tingkat sebenarnya di Fakultas Hukum Universitas Andalas Padang tahun 1983. Tahun 1983-1985 kami sama kost di Jl pancasila no.14 Padang sebelahan Kampus Fakultas Hukum waktu itu. Jadi belum ke Limau Manis.        Sore-sore kami biasa duduk-duduk depan kosan sambil menunggu bakso langganan mas Pur. Juga sering jalan-jalan ke pinggir pantai, karena dekat sekali kira-kira 100 meter lah. Biasa makan atau beli ikan untuk digoreng buat lauk. Sedap sekali dan ikannya segar, memang yang di sini agak mahal karena langsung dari perahu. Pembeli langsung beli ke perahunya, bahkan ikannya masih menggelepar kadang-kadang. Atau sekali sekali kami juga menyaksikan nelayan menghela pukatnya. Juga kadang pak Kandar juga bawa ikan ke kosan kami untuk dibeli ibu kos kami Uni Adek, kami pun ikut beli.       Dewi Kurnida yang biasa kami panggil Inid mempunyai keistimewaan yang banyak, disamping dia smart dia adalah anak yang sabar dan mandiri serta lucu di mata Ummi. Kampungnya di Andaleh Payakumbuh, ayahnya namanya Pak Datuk Kuning, seorang pengrajin rotan yang handal, banyak sekali ketrampilannya, hal ini juga dipelajari Inid, sehingga dia pintar pikin tas, kursi, tikar, vas bunga, berbagai jenis keranjang dll, pokoknya Inid serba bisa.            Satu lagi kelebihan Inid adalah ketegasannya. Ketika memutuskan menerima Abi sebagai Abi kalian juga ikut andil ketegasan teman Ummi ini. Ceritanya agak panjang juga tapi dimulai dari Inid dulu.           Tahun ke tiga Ummi di Fakultas Hukum Inid pindah kos di belakang kosan yang lama, tapi jalannya memutar. Ketika sudah pindah ke belakang yang kebetulan rumahnya bertingkat, dan jalannya tertutup semua, jalan satu-satunya mutar ke pinggir laut atau ke samping kampus. Jadi kami sebenarnya masih dekat tapi jauh, lucu kan?. Ketika bikin gulai kami saling mengirim lewat tali, nanti dia menghulurkan tali dan gulai yang Ummi bikin diikat di tali, Ummi rajin bikin gulai pucuk singkong kalau Tek Win kirim dari kampung, segar dan lezat lah. Dan sebaliknya kalau dia masak istimewa, atau ada oleh-oleh dari kampung Ummi dikirimi lewat tali.         Setelah beberapa tahun berlalu kami sama-sama pindah ke Jl.Ujung Pandan no.10 dekat mesjid dan dekat juga dari terminal Lintas Andalas (sekarang sudah jadi Plaza Andalas). Kami membuat kelompok pengajian yang dinamakan dengan “kelompok sewo” karena masing-masing rumah kosan kami, kelompok putra dan putri ada pohon belimbing yang disebut pohon asam sewo.         Setelah Ummi tamat bulan Maret tahun 1988, ummi pulang ke kampung dan tidak berapa lama Ummi ke Bandung masukkan lamaran kerja ke Unisba, tidak diterima karena belum ada lowongan kemudian ke Jakarta Ummi sangat tertarik jadi diplomat, maka Ummi meninjau-ninjau ke Pejambon, Ummi ketemu kakak tingkat yang sudah masuk Deplu, lagi mengikuti Sesdilu. Ummi gak jadi ikut melamar ke Deplu karena waktu belum boleh pakai kudung, sedang ummi telah pakai sejak tahun 1984, dengan melalui bermacam issu, bahkan pernah dipanggil sama PD III, dibilang kelompok pengajian salah, ataupun OTB, ataupun kelompok garis keras, padahal Ummi rasa biasa-biasa saja tidak ada yang salah dan juga tidak menghujat. Sekali-sekali kumpul di Al Azhar Air Tawar (Grusdia). Maka dikarenakan tidak boleh pakai kerudung ummi jadi mundur saja,batallah jadi diplomat         Singkat cerita Ummi kembali ke kampung setelah 8 bulan di tanah Jawa dan mengajar di Madrasah Tsanawitah dan Darul Funun Abbasiyah/Nahdatun Nisaiyah sekolah yang cikal bakalnya dibangun kakek ummi Syech Abdullah Sumatra Thawalib dulu yang dilanjutkan anak-anak beliau. Rupanya panggilann jiwa lebih sebagai guru. Setelah setahun mengajar datang teman ummi Benny Fitria Noor ke atuk tua, kakek ummi mengasih tahu bahwa ada temannya sepengajian yang siap menikah dan dia memilihkan ummi.        Setelah Ummi di kasih tahu sama Mak Bal (M.Iqbal) adik Ummi bahwa sebenarnya teman Ummi Benni F Noor itu tidak sepengajian dengan Mak Bal, sedang yang siap nikah itu sepengajian dengan Mak Bal, “Gimana Ni, uni siap?” tanya Mak Bal. “Terserah kamu aja Jang,” jawab Ummi. O iya Ummi panggil adik laki-laki Ummi itu dengan Ujang, panggilan kesayangan Ummi dan Atuk Ndut Bapak Ummi.         Dalam hati Ummi sangat bimbang untuk menerima abi, karena sebelumnya Abi ini didatangkan teman sepengajiannya ke teman akrab Ummi sama-sama di Fakultas Hukum. Kebetulan teman abi sepengajian punya adik di sewo, namanya Ahmad, maka Ahmadlah yang menjalankan missi abi ini. Dan disinilah peran Inid, Inid menegaskan ke ummi, “Kalau uni mau nikah, ya terima aja lah apalagi ini ikhwan, kalau datang pinangan dan dinnya baik maka timbul fitnah bila menolaknya”. Inilah satu hal yang tidak bisa dilupakan akan teman Ummi ini, Nid sekarang? Wallahu `alam bissawab

ada apa dengan inbox ku...koq yang keluar cuma "post not found"

Sabtu, 13 Juni 2009

Iman dan produktifitas dalam perspektif Islam

Kajian tafsir malam Ahad 13 Juni 2009 Mesjid Darussalam Kota Wisata

oleh Ustadz Dr.Ahzami Sami`un Jazuli

Tafsir QS Attaubah : 105

 

I.                  Islam adalah agama amal sehingga keimanan seseorang tidak cukup dibuktikan dengan hanya keyakinan secara lisan saa, tapi harus dibuktikan dengan amal.

Beramallah maka Allah SWT, Rasulullah dan orang beriman akan melihat amal/produktifitas sesorang.

Iman bukanlah amal saja, tapi sesuatu yang terpancang dalam hati dan dibuktikan dengan amal.

 

Ayat 105 ini sebelumnya berbicara tentang taubat. Taubat yang benar ditandai dengan amal/kerja.

Setiap orang pasti pernah berbuat salah/dosa tetapi akan menjadi terbaik yang ditandai dengan taubat. Taubat yang benar ditandai dengan amal.

Contoh bukti taubat, orang menjadi rajin shalat jama`ah atau bagi perempuan selalu menutup aurat rapid an benar.

 

Perbedaab produktifitas orang beriman dengan orang kafir adalah berangkatnya, orang beriman berangkatnya dengan keshalehan dunia akhirat sementara kafizr hanya untuk dunia.

Jika taubat benar maka ia akan memproduksi keshalehan.

 

Makna Shaleh :

1.    Produktif secara ekonomis. Amal yang dilahirkan dari keimanan, sebagai bukti orang yang bertaubat, shaleh dunia akhirat. Maka iman tidak membenarkan pengangguran dan tidak produktif.

2.    Produktif secara fisik dan rohani. Bukan hanya produktif secara ekonomis saja.

Ø Secara fisik : Orang yang taubat tidak membinasakan fisiknya seperti merokok/////yang bukan hanya merusak dirinya tapi juga lingkungannya, tidak minum minuman keras sehingga kuat fisikny, nafasnya panjang dan bugar. Yang dimakannya halal dan thayib. Kita lihat Rasulullah yang berjalan saja cepat seakan bumi berlipat saking kencangnya dan pertanda fisiknya kuat.

Ø Shaleh ruhaniyahnya, tidak dendam, tidak ujub, iri dan sombong. Da`wahnya santun, menghargai saudaranya meskipun beda partai atau organisasinya. Tugas Rasulullah dan kita semua adalah membersihkan jiwa. Bahkan pengajian/kuliah bukan untuk pintar-pintaran untuk membersihkan jiwa dari penyakit-penyakit hati. Allah SWT menegur Rasulullah karena Abdullah bin Ummi Maktum karena Rasulullah melecehkan Abdullah. Maka seyogianya sesudah pengajian kita akan mudah mema`afkan ataupun tidak melecehkan.

 

3.    Iman yang benar juga produktif :

Ø Shaleh untuk dirinya karena selalu terpompa dengan amal shaleh termasuk tidak meninggalkan jihad. Tidak membahayakan diri sendiri dan tidak membahayakan orang lain dan tidak menceburkan diri ke dalam ma`siyat.

Ø Shaleh untuk keluarganya, keluarganya jadi tenang dan merasa aman. Orang yang beriman dan tidak mencampuri dengan syiri, akan memberi ketenangan kepada diri dan keluarganya.

Ø Shaleh untuk masyarakatnya. Keimanan yang benar akan melahirkanproduktifitas yang dirasakan oleh dirinya, keluarga dan masyarakat, karena keimanan yang benar akan melahirkan kepedulian social. Tidak beriman seseorang yang yang bisa tidur nyenyak kekenyangan sementara tetangganya kelaparan.

 

II.               Amal seperti apa yang dikehendaki Al-Qur`an?

Ø Amal yang diiringi keimanan yang produktif dan berkwalitas.

Ø Amal yang terbaik, bukanlah amal yang terbanyak. Yang terbaik adalah yang paling ikhlas dan paling benar caranya.Jadi criteria yang terbaik itu adalah ikhlas dan benar. Agar keduanya didapatkan makanya butuh pengajian dan ta`lim. Kalau tidak benar amal semua jadi mungkin salah, misalnya juga salah dalam memilih pemimpin ataupun meamilih menantu.

Ø Dalilnya adalah hadits Rasulullah saw,”Sesungguhnya Allah SWT mencintai seseorang diantara kamu yang bekerja secara itqan/berkwalitas”.

 

Rasulullah bangga dengan ummatnya yang banyak dan berkwalitas. Jadi lebih baik punya anak 15 tapi hafidz qur`an daripada 2 tapi preman.

 

Nukilan dari shalafusshaleh, jihadnya qitalnya berulang-ulang, tetap mencari ma`isyah juga berhasil menjadikan anak-anaknya anak yang shaleh.

Conth Fathurrahman As suyuthi yang banyak menulis buku bahkan pernah berkata, “Kalau seandainya dibolehkan tidak makan maka saya tidak makan karena selama waktu makan bisa menulis 3 halaman.

Disamping itu beliau masih tetap berhasil mencari ma`isyah dan juga bisa beribadah, mendidik anaknya dan juga berda`wah.

Wallahu`alam bissawab.

Kamis, 11 Juni 2009

Pendidikan untuk anak-anak tahun depan???????

  Banyak yang menduga-duga, Perguruan Islam Ar Risalah adalah sekolah mahal, untuk orang kaya, borjuis saja. Namun, dugaan tersebut hanyalah dugaan yang mudah dipatahkan.
Beberapa contoh dugaan:
1. Orangtua siswa kami semuanya bermobil, mereka mengantar atau menjemput rata-rata pakai mobil. Kenyataannya: Mengapa harus memiliki mobil kalau bisa menumpang. Siswa kami memiliki toleransi yang baik, sehingga mereka yang bermobil dengan senang hati akan menumpangkan temannya yang tidak memiliki mobil. Maklum jarak sekolah kami dengan jalan yang dilewati angkutan umum sekitar 2 km
2. Kaya miskin menentukan kelulusan. Fakta: siswa kami sebagiannya adalah mereka yang kurang beruntung secara finansial. Wawancara dengan orang tua memang memasukkan item mengenai berapa tambahan SPP yang sanggup diberikan orang tua, namun tambahan SPP itu dilakukan untuk mensubsidi kekurangan dari siswa kami yang miskin. Silahkan cek ke bagian Keuangan mengenai subsidi silang ini.
3. Fakta lain: SPP kami hanya Rp.560.000,- (kelas I SMP) / Rp. 500.000,- (> kelas I SMP). Ini sudah mencakup SPP+MAKAN+ASRAMA. Kami tidak pernah memungut uang ujian semester kepada anak-anak. Kami jarang melakukan pungutan terhadap siswa. Alhamdulillah, kami selalu dicukupi Allah.
Jadi, masih menganggap PERGURUAN ISLAM AR RISALAH sekolah untuk orang kaya??
Buktikan sendiri!com/comment.g?blogID=7919643513590348910&postID=5172707621016094604" http:="" arrisalah-ibs.blogspot.com="" 2008="" 03="" penerimaan-siswa-baru-special-edition.html="">Penerimaan Siswa Baru Special Edition

Penerimaan Siswa Baru Gelombang I

on Minggu, 2008 Maret 09
PENERIMAAN SISWA BARU
GELOMBANG I

Tingkat SMP:Jadwal Pendaftaran : s.d. 22 Maret 2008
Jadwal Ujian : 23 Maret 2008
Pengumuman Hasil : 1 April Materi Ujian : Matematika, IPA, Agama, Qur'an, Wawancara, Kesehatan
Syarat Pendaftaran :
1. Uang Pendaftaran Rp.100.000,-
2. Fotokopi akte kelahiran 1 lembar
3. Fotokopi rapor kelas I-VI 2 lembar
4. Mengisi formulir dan angket
5. Pasfoto 2x3, 3x4 masing-masing 2 lembar

Pengambilan/Pengembalian Formulir:
  1. Kampus I Perguruan Islam Ar Risalah, Air Dingin, Kel. Balai Gadang, Kec. Koto Tangah, Padang, Telp. 0751-7877114, 7806890
  2. Kampus II PErguruan Islam Ar Risalah, Jorong Pasar Baru, Nagari Cupak, Kec. Gunung Talang, Kab. Solok, Sumatera Barat, 0755-7808329 Al Fushah Ruqyah Center, PAyakumbuh CP: Arbiansyah (085274344723), Irfa L (081363420160), Syatri (0852740617 diambil dari :http://arrisalah-ibs.blogspot.com/

Pengetahuan baruku

Kisah Yu Meilan, Puteri Pejuang China yang Menelusuri Jejak Ayahnya ke Payakumbuh

Fajar R V - Padang Ekspres

”Terharu di Ratapan Ibuh, Merenung di Toko Kumuh”

Namanya Yu Meilan. Usianya, sudah di ambang senja, 64 tahun. Sehari-hari, dia tinggal dan menjadi Chairman Overseas Chinese Association (COCA) di Provinsi Jiangsu, Republik Rakyat China. Minggu ini, dia berkunjung ke Sumatera Barat, untuk mencari jejak sang bapak bernama Yu Dafu, seorang sastrawan sekaligus pejuang nasional China yang tewas dibunuh pasukan kompetei Jepang di Jembatan Ratapan Ibuh Payakumbuh, tahun 1945 lalu. Bagaimana akhir pencariannya?

Memakai baju merah khas China, wajah Yu Meilan nampak terharu. Tokoh sentral di Provinsi Jiangsu, Republik Rakyat China ini mungkin tidak menyangka, dalam usianya yang untuk ukuran Indonesia sudah termasuk di ambang senja, masih bisa berkunjung ke Payakumbuh, Sumatera Barat, demi menelusuri jejak sang bapak bernama Yu Dafu (baca: Yu Tafu), sekaligus menyibak kembali bingkai-bingkai sejarah hidupnya.
Ya, Yu Meilan memang punya cerita tersendiri dengan Payakumbuh. Di kota berpenduduk 104.146 jiwa (data BPS 2007-red) inilah, untuk pertama kali tangisnya sebagai bayi mungil yang cantik pecah. Di kota ini pula, dia merasakan betapa pahitnya arti kelahiran manusia tanpa seorang bapak.

Maklum saja, menurut cerita Yu Meilan, ketika dilahirkan ibunya pada sebuah rumah yang sekarang beralih fungsi menjadi toko di deretan Bofet Pergaulan pasar Payakumbuh, bapaknya Yu Dafu (1896-1945), sudah tewas dihabisi pasukan kompetei Jepang.

“Saat saya lahir, bapak sudah meninggal di bunuh pasukan Jepang,”ucap Yu Meilan, sebagaimana ditafsirkan Susy Ong, wartawati Metro TV yang ikut mendampinginya, sewaktu berbicang dengan Wali Kota Payakumbuh Josrizal Zain, di pendopo rumah dinas Wali Kota, Sabtu (6/6) siang.

Tapi sayang, Yu Meilan, tidak menceritakan panjang lebar, ihwal pembantaian bapaknya oleh pasukan kompetei Jepang. Tapi, perempuan yang memiliki suami dengan jabatan setingkat Wakil Gubernur di Indonesia ini menyebut, bapaknya sampai sekarang diakui sebagai pejuang nasional republik China. Bahkan, buku-buku karangan bapaknya, menjadi bacaan wajib bagi anak sekolah di China.

“Bapak saya, selain pejuang juga merupakan sastrawan yang mengarang banyak buku,”kata Yu Meilan yang datang ke Payakumbuh bersama pimpinan PT Mulia Knitting Factory Jakarta, H. Max Mulyadi Supangkat.

Meskipun Yu Meilan, tidak bercerita panjang lebar tentang ihwal kematian bapaknya Yu Dafu. Namun, menurut Sofian Tamam, 75 tahun, masyarakat etnis Tiong Hoa yang lahir dan besar di Payakumbuh, Yu Dafu dihabisi karena dianggap Jepang telah mengkhianatinya.

Ceritanya begini, Yu Dafu merupakan seorang pejuang China yang fasih berbahasa Jepang. Dia datang ke Payakumbuh melalui Singapura, semasa perang dunia kedua pecah.

Setiba di Payakumbuh, Jepang masih berkuasa di Indonesia. Lalu, Yu Dafu ditunjuk sebagai mata-mata. Tapi, dasar wataknya tidak merima dengan segala bentuk penjajahan di atas dunia, Yu Dafu bermain mata.

Pria yang menyamar sebagai pembuat sofi atau minuman sejenis sake ini, menurut Sofian Tamam, tidak pernah memberi informasi yang valid kepada Jepang. Sebaliknya, Yu Dafu memberi informasi tentang segala niat Jepang kepada masyarakat China dan warga di Payakumbuh.

Akibatnya, diduga karena sakit hati. Apalagi, Indonesia juga memproklamirkan kemerdekaan pada tahun 1945. Maka pasukan kompetei Jepang di Payakumbuh, langsung menghabisi Yu Dafu yang pernah mengecep bangku kuliah di Universitas Tokyo, dengan cara menjemput malam.

“Ketika dijemput malam-malam, Yu Dafu bagaikan seseorang yang tidak bisa diberi ampun. Permintaannnya untuk mengganti piyama, bahkan tidak ditanggapi. Dia langsung di bawa ke atas mobil. Kabarnya dihabisi di jembatan ratapan Ibuah dan jasadnya tidak ditemukan. Tapi ada juga yang menyebut, jasadnya di temukan dan ditanam di Bukittingi,”kata Sofian Tamam yang semasa remajanya sudah kenal dengan Yu Dafu.

Cerita Sofian Tamam tentang Yu Dafu, juga mirip dengan sejumlah literatur yang diunduh Padang Ekspres (grup Padang Today) dari wikepedia dan www.britannica.com. Dalam situs berbahasa Inggris ini tertulis jelas, bahwa Yu Dafu yang merupakan jebolah Fakultas Ekonomi Universitas Tokyo tahun 1919, merupakan seorang pejuang republik China.

Dia bersama sejumlah pejuang meninggalkan China, ketika negeri Tirai Bambu itu dilanda huru-hara akibat perang dunia kedua. Kemudian, Yu Dafu menyeberang ke Singapura, untuk kemudian menetap di Sumatera, tepatnya di Payakumbuh. Selama berada di kota ini, Yu Dafu tidak menghentikan aktifitas sebagai pejuang nasional China, melainkan tetap intens menulis berbagai propaganda dan karya sastra. Hingga akhirnya dibunuh pasukan kompetei Jepang.

Terharu di Ratapan Ibuh

Kembali pada kisah Yu Meilan yang mencari jejak bapaknya Yu Dafu di Payakumbuh. Setiba di kota dengan lima kecamatan ini, Yu Meilan bertemu dulu dengan wali kota Josrizal Zain dan sejumlah petinggi kota. Setelah itu, baru wanita berkacamata dengan ukuran tubuh sedang itu berkunjung ke jembatan Ratapan Ibuah.

Di jembatan yang sejak dibangun Belanda tidak pernah mengalami pemugaran ini, Yu Meilan kemudian menabur bunga ke batang (sungai) Agam.

Sebelumnya, Yu Meilan bersama rombongan juga sempat memberi hormat kepada patung berbentuk ibu-ibu, yang disimbolkan sebagai ratapan perempuan saat melihat suaminya dibunuh penjajah Jepang ataupun Belanda. Patung tersebut berada tak jauh dari jembatan Ratapan Ibuh.

Usai melakukan ritual tabur bunga, Yu Meilan kemudian masuk ke pasar Payakumbuh, hingga sampai di toko dereten Bofet Pergaulan. Di sini, Yu Meilan yang masih gesit, nampak tertegun tegak. Sepertinya, ia tengah membayangkan masa lalu. Masa dimana bapak-ibunya tinggal di toko yang kini sudah kumuh dan kurang terawat itu.

Tapi, Yu Meilan tidak bisa berlama-lama menikmati kenangan masa lalunya. Izin berkunjung yang amat singkat dan tugas besar yang masih harus di hadang di Jiangsu China, memaksanya meninggalkan Payakumbuh hari itu juga.

Walau begitu, rindunya sedikit terobat. Bila nanti, ada orang bertanya tentang ihwal kematian ayahnya yang pejuang nasional China. Setidaknya, Yu Meilan sudah bisa menjawab, datanglah ke Payakumbuh. Karena di kota itu, sejarah Yu Dafu berlalu penuh haru!
diambil dari : http://padang-today.com/index.php?today=feature&id=229

Senin, 08 Juni 2009

Pilpres ayoo......

           Dalam menyikapi masalah pemilu pileg atau pun pilpres sebaiknya kita mencari akar masalahnya, menurut saya akarnya adalah dasar hukum atau perundang-undangan serta bentuk negara dan bentuk pemerintahan Indonesia, dari sini kita lihat bahwa negara kita ini belum sempurna menjadi negara, maka pemerintahan mestinya pemerintahan yang kuat, pemerintahan inilah yang melengkapi kebutuhan akan perundangan.

Coba kita baca tulisan di bawah sebagai bahan renungan bagi kita, yang menurut saya kita mesti belajar banyak. wassalam


Topo Santoso:

Pilpres Masyarakat Harus Ikut memilih

Selasa, 02/06/2009 13:51 WIB Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardani dengan Topo Santoso.
Hari ini dan selanjutnya kita disibukkan dengan pemilihan presiden dan wakil presiden.

Bagaimana Anda melihat hal tersebut karena di samping gegap-gempitanya acara lima tahunan ini sebetulnya kita juga dihadapkan dengan berbagai persoalan yang kalau kita mau menyederhanakannya mungkin pemilihan umum (Pemilu) sekarang yang agak buruk?
Memang kita termasuk yang kurang bisa belajar dari pengalaman dan sejarah. Pemilu 1999 adalah pintu gerbang kita untuk demokrasi dan itu sudah dihargai oleh dunia internasional. Tahun 2004 merupakan fase peningkatan dan semestinya tahun 2009 menjadi pematangan demokrasi. Jadi seharusnya urusan teknis termasuk soal Daftar Pemilih Tetap (DPT) dan segala macamnya sudah tidak menjadi masalah lagi. Artinya, sekarang kita semestinya sudah berbicara mengenai kualitas calon anggota legislatif (Caleg), kualitas calon presiden (Capres) dan wakil presiden (Cawapres) kita. Sayangnya, tampaknya kita justru kembali terjun lagi mengalami kemunduran, bukan hanya soal kualitas tapi juga teknis pelaksaan Pemilu. Itu yang kita sayangkan.

Anda adalah dosen Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) dan pakar pidana Pemilu, sekaligus pernah menjadi Panitia Pengawas Pemilu (Panwanslu) pada 2004. Bagaimana Anda melihat persoalan kita pada Pemilu tahun ini dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena tadi Anda mengatakan seharusnya Pemilu kali ini merupakan pematangan bukan mundur lagi?
Pertama, yang sering dijadikan kambing hitam adalah perubahan sistem. Dulu tahun 2004 memang sistemnya proporsional dengan daftar calon tertutup. Sekarang proporsional dengan daftar calon terbuka sesuai dengan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK). Sebetulnya perubahannya tidak terlalu banyak, tetapi juga ada perubahan lain yang sangat berpengaruh dan tidak atau kurang bisa diantisipasi penyelenggara. Misalnya sistem pendaftaran pemilih, kalau dulu pasif dimana para pemilih didatangi petugas. Selama bertahun-tahun petugas Pemilu selalu mendatangi pemilih. Tampaknya masyarakat kita belum bisa berubah begitu saja menjadi pemilih aktif dimana mereka harus mengecek ke Panitia Pemungutan Suara (PPS) atau ke kelurahan dan sebagainya. Saya kira masyarakat kita belum sampai ke sana.

Apakah Anda melihat ini lebih ke persoalan kebiasaan ketimbang soal teknis?
Kalau untuk DPT antara lain ada soal kultur dan kebiasaan. Namun untuk persoalan yang lain terkait database yang mentah. Persoalan data awal untuk DPT itu bersumber dari data Departemen Dalam Negeri (Depdagri). Data itu sangat mentah dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) selama lebih dari lima bulan gagal memperbaiki daftar itu. Jadi memang ada akumulasi dari masalah.

Data Pemilu legislatif 2009 menunjukkan warga negara yang tidak memilih ada sekitar 30% atau sekitar 40 juta orang lebih. Kalau pemilih sadar tidak mau menggunakan haknya masih mending, tapi banyak juga yang terpaksa karena urusan teknis yang Anda katakan tadi. Apa sebenarnya penyebab kesalahan-kesalahan teknis tersebut?
Sebetulnya sejak awal KPU sudah diingatkan berkali-kali oleh berbagai kelompok masyarakat, para pakar, pengamat, dan sebagainya bahwa harus ada perencanaan teknis. Saya mengutip istilah Ramlan Subakti (mantan Wakil Ketua KPU) bahwa KPU harus mempunyai perencanaan teknis dan skenario A, B, C kalau itu gagal. Hal itu sudah disampaikan jauh-jauh hari beberapa bulan lalu. Kalau itu diperbaiki, misalnya, setelah dipelajari dalam beberapa pekan awal ternyata kultur masyarakat kita belum bisa berubah, maka semestinya KPU sebagai penanggung jawab Pemilu harus segera mengantisipasinya. Mungkin harus ada pola yang diubah menjadi seperti dulu lagi yaitu para petugas harus segera aktif mendatangi pemilih. Ini yang tidak dilakukan.

Apa kira-kira kesulitan yang dialami KPU sehingga terjadi kesalahan yang sepenting ini?
Saya memang bisa memahami kesulitan dari sisi KPU karena saya juga banyak bergaul dengan teman-teman di KPU. Saya bisa memahami beberapa hal. Pertama, waktu itu KPU berbenah secara organisasi dan ternyata sampai pada bulan-bulan krusial menjelang Pemilu belum juga solid. Misalnya, ada perubahan struktur dengan pengurangan beberapa biro.

Pengurangan itu berakibat pada kurangnya soliditas karena ada beberapa petugas atau kepala yang harus tergeser. Kedua, di daerah banyak Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) yang masih harus menyelenggarakan pemilihan kepala daerah (Pilkada). Kalau dulu sebelum 2004 tidak ada Pilkada. Kemudian juga harus bertanggung jawab untuk verifikasi data pemilih dan sebagainya. Jadi ini masalah-masalah teknis yang dihadapi oleh KPU sehingga dari sisi itu sebetulnya kita juga bisa memahami. Namun terus terang kalau KPU bisa lebih tanggap dan lebih cepat menyadari bahwa ini bisa menjadi masalah semestinya tidak separah sekarang.

Kita juga mengetahui hari-hari ini banyak partai politik (Parpol) marah karena melihat cara penghitungan di KPU dan penetapan kursi. Bagaimana Anda melihat persoalan tersebut termasuk DPT dipidanakan dan banyak orang beramai-ramai ke MK?
Ini memang masalah administrasi Pemilu yang tidak benar. Jadi seharusnya kerangka hukum Pemilu yang mengatur mengenai segala macam proses, seperti pendaftaran pemilih, kampanye, penghitungan suara, dan penetapan kursi sudah harus selesai sebelum Pemilu berjalan. Jadi semua pihak menyelenggarakan Pemilu dengan ketenangan. Artinya, semua pihak mengetahui konsekuensi jika melakukan suatu tindakan. Jadi seharusnya peraturan KPU mengenai penetapan kursi tidak boleh berubah tapi yang terjadi, berubah. Artinya, penafsiran KPU terhadap maksud UU bisa berubah. Itu tidak boleh karena mengacaukan sistem. Partai-partai kemudian merasa kursinya dicolong. Kalau perubahan itu dilakukan sekarang ketika Pemilunya sudah berjalan maka orang pantas curiga. “Lho kok berubah sekarang? Pasti ada apa-apanya dengan perubahan itu karena hasilnya sudah diketahui.” Jadi kerangka hukum termasuk UU dan peraturan KPU seharusnya sebelum 9 April 2009 sudah selesai sehingga tidak dicurigai ada maksud tertentu di balik perubahan itu. Saya bisa memahami kalau beberapa partai yang kehilangan kursi menjadi marah dan kecewa.

Bagaimana implikasi hukumnya, dan bagaimana mekanismenya bagi Parpol yang tidak menerima keputusan KPU semacam ini?
Sebetulnya peraturan KPU adalah satu jenis dengan peraturan UU dengan posisinya di bawah UU. Untuk menguji peraturan KPU itu sebetulnya bisa uji materi ke Mahkamah Agung (MA), bukan ke MK. Nah kalau setelah uji materi dinyatakan peraturannya sudah tepat, maka keputusan itu harus diterima.

Tapi hal itu memerlukan waktu, sedangkan pemilihan presiden (Pilpres) jalan terus. Bagaimana mengatasinya?
Memang kita terdesak oleh waktu karena menguji materi di MA dan MK juga membutuhkan waktu, belum tentu selesai sebulan. Sementara menurut UU, gugatan hasil Pemilu di MK harus selesai dalam waktu sebulan dan MK juga sudah menjanjikan akan selesai dalam waktu tiga pekan. Memang kesulitannya di situ. Jadi dugaan saya, kalau peraturan itu diuji materi di MA pun belum tentu mencukupi waktunya, sehingga kemudian diajukan melalui gugatan Pemilu di MK. Cuma problemnya, apakah MK akan juga mempertimbangkan soal perubahan peraturan KPU tadi atau tidak. Sebenarnya tugas MK adalah meneliti apakah penghitungan suara di KPU salah atau tidak, sehingga mempengaruhi pembagian kursi. Namun kalau penafsiran MK luas, mungkin saja MK akan mengambil keputusan terhadap peraturan KPU yang dianggap bermasalah sehingga dianggap mempengaruhi perolehan kursi Parpol.

Apakah hal itu memiliki implikasi terhadap Pilpres mendatang, sehingga akhirnya kita akan berdebat soal ketidak-absahan dan segala macamnya karena protes-protes terkait perolehan kursi?
Keabsahan dari sisi moral, politik, dan sosial mungkin akan selalu dipertanyakan. Sebetulnya sudah dipertanyakan sejak beberapa bulan lalu, sekarang semakin dipertanyakan. Namun dari sisi pengaruh terhadap Pilpres, Parpol yang kehilangan sekian kursi, yang semula akan berkoalisi dengan beberapa partai sudah cukup kursi mengajukan Capres, akhirnya tidak bisa. Saya kira pengaruhnya ke sana.

Selain Parpol-Parpol selalu menjadi perbincangan publik saat ini, menurut saya media massa juga. Kita tahu berbagai pemberitaan media massa justru cenderung membingungkan publik. Bagaimana Anda melihat pemberitaan tentang mekanisme Pemilu dan hal-hal yang seharusnya diketahui publik di media massa? Apakah media hanya mengupas luarnya saja atau sebetulnya ada hal-hal substansial yang justru tidak dikupas media?
Saya melihat sebetulnya kebingungan masyarakat bukan hanya oleh pemberitaan media, tapi juga oleh perilaku Parpol dalam mencari rekan koalisi. Namun itu juga pengaruh dari media dalam memberitakan banyak hal yang menarik untuk diberitakan. Padahal kalau kita teliti lebih jauh, kita ada di dalam pusaran masalah sendiri. Memang banyak masalah yang sangat dalam, yang harus dicari perbaikannya ke depan. Ini saya kira yang belum digarap.

Apa contohnya?
Misalnya dalam soal kaitan antara sistem Pemilu dan partisipasi publik, itu semestinya dipikirkan ke depan: apakah sistem yang sekarang ini sudah tepat. Katakanlah, sistem sekarang membuat semua Caleg berkompetisi antar mereka di dalam partai sendiri, dan mereka mengeluarkan banyak biaya yang tidak terpantau oleh kerangka hukum. Kerangka hukum mengenai dana kampanye tidak membahas audit Caleg. Itu sangat mudah sekali diterobos. Sebetulnya banyak sekali pelanggaran yang memang tidak mungkin terjamah saat ini. Contohnya, UU mengatakan lima hari sebelum KPU mengumumkan hasil Pemilu nasional maka proses pidana Pemilu yang mempengaruhi suara harus sudah selesai. Itu kemudian membuat seluruh polisi di Indonesia menolak kalau ada laporan mengenai pidana Pemilu pada hari-hari yang justru sangat mungkin terjadi banyak penyimpangan. Misalnya, manipulasi suara justru terjadi pada hari-hari itu sehingga itu justru tidak terjamah. Nah, hal-hal seperti ini tidak terlalu banyak dieksplore oleh media.

Apakah justru itu yang paling penting?
Penting, karena itu akan membuat orang-orang berbuat curang, tidak benar, manipulasi dan sebagainya. Dia akan berusaha menyuap penyelenggara sehingga akhirnya bisa duduk di kursi DPR dan tidak terjamah karena waktunya sudah selesai, sudah kadaluarsa. Itulah yang saya kira berbahaya.

Pilpres merupakan pertempuran yang seru juga. Apa yang perlu diantisipasi oleh publik?
Pertama, sekarang di tengah kebingungan masyarakat sebetulnya partai-partai yang akan berkoalisi pun bingung karena partainya mau mendukung calon presiden siapa. Mungkin nanti partisipasi publik di Pilpres akan berkurang ketika pasangan Capres-Cawapres bukan berasal dari partainya. Selain itu, dia tidak memiliki ikatan emosional atau dukungan terhadap partai itu. Tantangan terbesar kita sekarang adalah soal partisipasi publik. Kalau dulu dari legislatif ke presiden turun jumlah partisipasi publik. Dugaan saya sekarang juga ada penurunan semacam itu. Kedua, yang perlu kita antisipasi adalah kerangka hukum Pilpres apakah sebetulnya sudah mengatur banyak hal, termasuk penanganan pelanggaran, penyimpangan, dan sebagainya. Untuk Pilpres karena yang bertarung para tokoh besar, mantan incumbent, mantan menteri, dan sebagainya, saya khawatir penyelenggara dan pengawas Pemilu tidak mempunyai cukup keberanian dan obyektivitas di dalam mengawasi dan menyelenggarakan Pemilu.

Jadi figur tokoh penting, betulkah?
Betul. Contohnya, kita lihat kemarin di Pemilu legislatif banyak pelanggaran yang diproses pengadilan tapi ketika ketemu dengan tokoh atau anak tokoh maka langsung berhenti. Misalnya di Jawa Timur, Edhie Baskoro anak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah diproses oleh Panitia Pengawas (Panwas) Pemilu Jawa Timur. Kepolisian Republik Indonesia (Polri) langsung menyatakan bahwa tidak ada pelanggaran di situ.

Padahal seharusnya itu diproses oleh Panwas, tapi kemudian malah sebaliknya Panwas dan si pelapor yang justru diproses lebih cepat. Ini adalah sinyal bahwa pada Pilpres memang penyelenggara, pengawas dan penegak hukum (polisi) harus kembali mengingat posisi mereka sebagai penyelenggara yang independen. Penegak hukum harus profesional dalam menegakkan hukum. Pertarungan di Pilpres mungkin lebih sedikit secara kuantitas tapi lebih berat implikasinya. Biasanya dalam penegakan hukum kadang-kadang penegak hukum mengambil diskresi, yaitu kalau suatu perkara diproses lebih lanjut ada ancaman bagi stabilitas nasional akhirnya perkara ditutup. Ini justru tantangannya. Di Filipina juga terjadi, Aquino pernah dianggap melanggar ketentuan mengenai kampanye di media, seharusnya semua kampanyenya dihentikan tapi KPU tidak berani menindaknya.

Anda melihat hal tersebut terjadi di hampir semua lini artinya bukan hanya di Pemilu saja urusan stabilitas nasional sering dijadikan alasan, betulkah?
Khusus Pemilu justru lebih tinggi lagi karena kita tahu pada tahun 2004 ada sebagian polisi yang cenderung pada calon presiden tertentu. Sekali lagi saya ingatkan kepada penyelenggara, Panwas, polisi serta jaksa dan penegak hukum yang lain harus komit bahwa mereka akan berdiri di tengah. Pers dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) harus ikut mengontrolnya.

Dari kesalahan yang pernah terjadi di Pemilu legislatif, apa kira-kira yang harus publik ketahui terkait hak-haknya di Pilpres nanti?
Pertama, hak untuk memilih dijamin dalam konstitusi. Secara standar internasional memang hak pilih harus dijaga betul karena bagian dari hak asasi manusia (HAM). Saya melihat semua pihak, baik penyelenggara, pengawas, penegak hukum atau masyarakat pada umumnya cenderung mengaitkan kompetisi dalam Pemilu ini pertarungan antar parpol atau antar kandidat presiden-wakil presiden. Padahal di sana juga ada kepentingan masyarakat. Artinya, kalau ada Parpol curang terhadap partai lain, sehingga kursi partai lain diambil sebetulnya yang rugi bukan hanya partai lain, tapi juga masyarakat yang diwakili oleh orang yang memperoleh kursi dengan cara curang. Nanti pada Pilpres juga seperti itu. Masyarakat memang harus memiliki kesadaran bahwa mereka penerima manfaat terbesar kalau Pemilu berjalan secara free and fair. Mereka akan menjadi pihak yang sangat dirugikan lima tahun ke depan kalau Pemilu tidak dijalankan secara demokratis, jujur dan adil. Publik harus ikut bicara dalam hal ini.

Apa yang harus dilakukan jika nama mereka tidak tercantum di DPT, bagaimana publik harus memposisikan dirinya?
Di sini, publik juga mesti introspeksi. Jangan seperti kemarin, mereka hanya marah-marah di tempat pemungutan suara (TPS) tapi apakah mereka pernah cek kembali bahwa nama mereka tercantum dalam DPS atau DPT

Apakah masih ada waktu?
Sebetulnya selama DPS masih diproses menjadi DPT oleh KPU, masih bisa. Di situ sebetulnya diuji apakah masyarakat yang kemarin marah-marah di TPS itu akan mengecek namanya atau tidak. Rekomendasi saya adalah tidak sampai lima tahun ke depan kita harus stelsel pasif, maksudnya, masyarakat didatangi. Kita banyak sekali kehilangan jutaan suara karena sistem yang sekarang dipakai.

Apa kira-kira yang perlu dibenahi dalam jangka pendek?
Sebetulnya Pilpres secara sistem tidak rumit, apalagi dengan persyaratan yang berhak mengajukan Capres dan Cawapres adalah Parpol peraih 20% kursi DPR atau 25% suara nasional sehingga hanya tiga calon yang muncul. Jadi sangat sedikit dan simpel. Surat suara juga sangat sederhana. Artinya, kalau KPU sekarang gagal lagi dalam ujian ini maka sebaiknya mereka tidak lagi dilanjutkan karena ujian kali ini lebih mudah dibanding dulu.

Problemnya adalah beratnya menjaga independensi mereka, apakah mereka berani atau tidak menegakkan aturan karena yang dihadapi adalah pasangan yang hebat dan tokoh. Sisi lain yang harus dibenahi dalam jangka dekat adalah DPT, karena kalau itu bermasalah lagi akan menjadi dasar bagi pihak lain untuk mengatakan Pemilu ini tidak legitimasi dan sebagainya. Kedua, soal penegakan hukum. Kita tahu Pemilu tahun 2004 lebih dari 1.000 orang yang diproses di pengadilan. Sekarang saya kira jumlahnya di bawah 200 orang padahal kasusnya mungkin lebih banyak.

Artinya, penegakan hukum tidak berjalan dengan baik atau tidak sebaik dulu. Karena itu hal ini juga mesti diperbaiki. Dalam jangka panjang, kerangka hukumnya harus kita tinjau lagi. SBY pernah mengatakan sebaiknya sistem Pemilu jangan banyak berubah, saya sepakat terhadap hal itu sehingga para pihak bisa menyiapkan diri. Namun kerangka hukum secara keseluruhan banyak kekurangannya, sehingga itu mesti diperbaiki ke depan

diambil dari: http://padang-today.com/?today=persona&id=74