Senin, 15 Juni 2009
Teman Ummi Dewi Kurnida,SH
Bagi Ummi teman Ummi ini bukan hanya sebagai teman,sekaligus partner dalam diskusi ataupun dalam masak walau dia adik tingkat sebenarnya di Fakultas Hukum Universitas Andalas Padang tahun 1983. Tahun 1983-1985 kami sama kost di Jl pancasila no.14 Padang sebelahan Kampus Fakultas Hukum waktu itu. Jadi belum ke Limau Manis. Sore-sore kami biasa duduk-duduk depan kosan sambil menunggu bakso langganan mas Pur. Juga sering jalan-jalan ke pinggir pantai, karena dekat sekali kira-kira 100 meter lah. Biasa makan atau beli ikan untuk digoreng buat lauk. Sedap sekali dan ikannya segar, memang yang di sini agak mahal karena langsung dari perahu. Pembeli langsung beli ke perahunya, bahkan ikannya masih menggelepar kadang-kadang. Atau sekali sekali kami juga menyaksikan nelayan menghela pukatnya. Juga kadang pak Kandar juga bawa ikan ke kosan kami untuk dibeli ibu kos kami Uni Adek, kami pun ikut beli. Dewi Kurnida yang biasa kami panggil Inid mempunyai keistimewaan yang banyak, disamping dia smart dia adalah anak yang sabar dan mandiri serta lucu di mata Ummi. Kampungnya di Andaleh Payakumbuh, ayahnya namanya Pak Datuk Kuning, seorang pengrajin rotan yang handal, banyak sekali ketrampilannya, hal ini juga dipelajari Inid, sehingga dia pintar pikin tas, kursi, tikar, vas bunga, berbagai jenis keranjang dll, pokoknya Inid serba bisa. Satu lagi kelebihan Inid adalah ketegasannya. Ketika memutuskan menerima Abi sebagai Abi kalian juga ikut andil ketegasan teman Ummi ini. Ceritanya agak panjang juga tapi dimulai dari Inid dulu. Tahun ke tiga Ummi di Fakultas Hukum Inid pindah kos di belakang kosan yang lama, tapi jalannya memutar. Ketika sudah pindah ke belakang yang kebetulan rumahnya bertingkat, dan jalannya tertutup semua, jalan satu-satunya mutar ke pinggir laut atau ke samping kampus. Jadi kami sebenarnya masih dekat tapi jauh, lucu kan?. Ketika bikin gulai kami saling mengirim lewat tali, nanti dia menghulurkan tali dan gulai yang Ummi bikin diikat di tali, Ummi rajin bikin gulai pucuk singkong kalau Tek Win kirim dari kampung, segar dan lezat lah. Dan sebaliknya kalau dia masak istimewa, atau ada oleh-oleh dari kampung Ummi dikirimi lewat tali. Setelah beberapa tahun berlalu kami sama-sama pindah ke Jl.Ujung Pandan no.10 dekat mesjid dan dekat juga dari terminal Lintas Andalas (sekarang sudah jadi Plaza Andalas). Kami membuat kelompok pengajian yang dinamakan dengan “kelompok sewo” karena masing-masing rumah kosan kami, kelompok putra dan putri ada pohon belimbing yang disebut pohon asam sewo. Setelah Ummi tamat bulan Maret tahun 1988, ummi pulang ke kampung dan tidak berapa lama Ummi ke Bandung masukkan lamaran kerja ke Unisba, tidak diterima karena belum ada lowongan kemudian ke Jakarta Ummi sangat tertarik jadi diplomat, maka Ummi meninjau-ninjau ke Pejambon, Ummi ketemu kakak tingkat yang sudah masuk Deplu, lagi mengikuti Sesdilu. Ummi gak jadi ikut melamar ke Deplu karena waktu belum boleh pakai kudung, sedang ummi telah pakai sejak tahun 1984, dengan melalui bermacam issu, bahkan pernah dipanggil sama PD III, dibilang kelompok pengajian salah, ataupun OTB, ataupun kelompok garis keras, padahal Ummi rasa biasa-biasa saja tidak ada yang salah dan juga tidak menghujat. Sekali-sekali kumpul di Al Azhar Air Tawar (Grusdia). Maka dikarenakan tidak boleh pakai kerudung ummi jadi mundur saja,batallah jadi diplomat Singkat cerita Ummi kembali ke kampung setelah 8 bulan di tanah Jawa dan mengajar di Madrasah Tsanawitah dan Darul Funun Abbasiyah/Nahdatun Nisaiyah sekolah yang cikal bakalnya dibangun kakek ummi Syech Abdullah Sumatra Thawalib dulu yang dilanjutkan anak-anak beliau. Rupanya panggilann jiwa lebih sebagai guru. Setelah setahun mengajar datang teman ummi Benny Fitria Noor ke atuk tua, kakek ummi mengasih tahu bahwa ada temannya sepengajian yang siap menikah dan dia memilihkan ummi. Setelah Ummi di kasih tahu sama Mak Bal (M.Iqbal) adik Ummi bahwa sebenarnya teman Ummi Benni F Noor itu tidak sepengajian dengan Mak Bal, sedang yang siap nikah itu sepengajian dengan Mak Bal, “Gimana Ni, uni siap?” tanya Mak Bal. “Terserah kamu aja Jang,” jawab Ummi. O iya Ummi panggil adik laki-laki Ummi itu dengan Ujang, panggilan kesayangan Ummi dan Atuk Ndut Bapak Ummi. Dalam hati Ummi sangat bimbang untuk menerima abi, karena sebelumnya Abi ini didatangkan teman sepengajiannya ke teman akrab Ummi sama-sama di Fakultas Hukum. Kebetulan teman abi sepengajian punya adik di sewo, namanya Ahmad, maka Ahmadlah yang menjalankan missi abi ini. Dan disinilah peran Inid, Inid menegaskan ke ummi, “Kalau uni mau nikah, ya terima aja lah apalagi ini ikhwan, kalau datang pinangan dan dinnya baik maka timbul fitnah bila menolaknya”. Inilah satu hal yang tidak bisa dilupakan akan teman Ummi ini, Nid sekarang? Wallahu `alam bissawab
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Wah hebat yah temennya
BalasHapus