Minggu, 15 Maret 2020

Uni Dhila dan kak Nisa nginap di rumah sakit

5 hari menginap di rumah sakit dengan anak masih usia 3 tahun bukan hal yang mudah bagi ummi apalagi punya adik yang usianya 10 bulan.Itulah yang terjadi ketika 2 putri ummi itu masih usia batita. Dimulai, dengan uni Dhila, 2 hari kemudian kak Nisa.

          Hari Selasa malam abi tidak pulang ke Padang, tapi tetap di kampung sehabis kerja. Sepertinya dari pagi uni kurang sehat, dan sudah batuk-batuk saja. Menjelang malam sudah sesak nafasnya. Kebetulan Mak Mun datang sehabis Magrib. Si uni bertambah demam diikuti sesak, tanpa pikir panjang Mak Mun menjemput dokter Amrizal M.Nur. Dokternya juga lagi sakit, uni dikasih obat  turun panas dan mengurangi sesak. Oleh dokter besok disuruh ke rumah sakit.

           Setelah minum obat, panasnya tidak turun juga, malahan tambah naik, padahal Mak Mun sudah kembali ke kosannya, karena lagi banyak pekerjaan. Ummi bingung, uni digendong sampai ummi keringatan saking tinggi demamnya. Eh si kakak ikut-ikutan demam, jadilah ummi tambah bingung. Dua-duanya demam tinggi, tapi Alhamdulillah, duanya tidak ada yang menangis tapi bentar-bentar minta minum, dan……..tiba-tiba si uni muntah darah. Diikuti pup juga darah, ummi tambah bingung.

Serasa mau dipotong hari supaya cepat pagi.

          Pagi setelah pukul 6.00 abi sudah datang dari kampung, Lubuk Alung, kata abi tidak tenang, maka sehabis shalat Subuh abi langsung naik bis. Tanpa pikir panjang kami langsung siap-siap ke rumah sakit. Uni langsung ditangani di UGD dan selanjutnya ke RR bangsal anak, ba RSUP M.Jamil Padang.

          Digendong abi uni masuk langsung ditangani dokter dan langsung diinfus, sementara ummi dan kak Nisa ke poli anak. Kak Nisa waktu itu masih ASI. Setelah diinfus sepertinya sesak nafasnya makin menjadi. Tapi syukur abi  tenang sekali. Ummi dan kak Nisa pergi ke tempat kosan kawan ummi di Jl.Abdullah Ahmad no.11 kompleks PGAI. Ummi tinggal kak Nisa dengan etek akhwat yang kos di Wisma Dima Jl Cendrawasih ujung, kosannya Umma Dima teman ummi. Ummi kembali ke rumah sakit masuk ke RR menunggui uni sementara abi bisa pulang mempersiapkan pakaian dan makanan.

Malamnya ummi dan kakak menginap di Wisma Dima dengan pertimbangan kalau keadaan darurat ada telepon di wisma Dima, handphone belum ada, kalaupun ada sangat  terbatas.

          Memasuki hari kedua abi pergi mandi pulang, ummi dan kakak sudah pulang memasak serta mempersiapkan pakaian yang sudah berlumuran darah muntah dan pupnya uni dari rumah sakit, uni di rumah sakit ditunggui umma dan buya. Tiba-tiba ada teman abi yang memanggil abi karena buya telepon suruh secepatnya ke rumah sakit lagi. Uni Fadhilah dalam keadaan kritis badannya membiru, demamnya semakin tinggi dan nafasnya semakin sesak, ummi juga ikut  ke rumah sakit. Kakak dikasih susu formula oleh umma, ummi disuruh menginap di rumah skit saja, tapi ummi tidak tenang sesampai di rumah sakit, ingat kakak dititip mana masih ASI, kembali ke Wisma Dima ingat ke rumah sakit, sungguh suatu pilihan yang sulit.

          Jum`at pagi kakak juga demam tinggi, sampai akhirnya di bawa ke dokter dan nginap juga di rumah sakit, karena sudah kekurangan cairan.Kakak radang tenggorokan “tonsilo paringitis” sehingga sulit untuk minum dan dia tidur saja, disangka umma dan etek-etek wisma dia tidur pulas, ternyata  lemas sampai akhirnya di ketiaknya sudah mengkerut kekurangan cairan, apalagi mendadak saja ASI ummi juga kering, mungkin karena lupa makan menjalani keaadan uni. Cemas sekali rasanya…..Ummi berdo`a "Jangan Kau ambil  titipan Mu ya Rabbi, aku belum sanggup apalagi dua sekaligus. Sembuhkanlah mereka Ya Rabbana, akan kujaga dengan lebih teliti".

          Rupanya abi lebih cemas lagi ceritanya begini, sewaktu masuk Rumah sakit sudah ada pasien lain, seorang anak yang kelainan di otak dan juga infeksi paru-paru, seperti uni juga yang infeksi “broncho pneumonia”. Sudah lama di rumah sakit tapi hanya ditunggui ibunya, bapaknya tidak pernah melihat.

          Hari Kamis masuk juga pasien satu lagi ummi tidak tahu persis anaknya sakit apa. Pagi jum`at masuk lagi pasien anak laki-laki kelas 3 SD, sakitnya juga kurang jelas, ketika masuk RR langsung dipasangi kateter. Hari Jum`at adalah hari yang paling menyedihkan. Sementara uni belum reda demamnya, si kakak makin tinggi panasnya. Anak yang masuk pagi itu meninggal setelah beberapa jam di rumah sakit, orang tuanya meraung-raung. Ummi tidak menyangka anak itu menemui ajalnya, sebab baru masuk dia masih sempat bercerita sama orang tuanya. Jumat sore meninggal lagi yang masuk hari Kamis, Ummi semakin sedih dan bingung, jangan-jangan Allah SWT juga mengambil yang masuk hari Rabu, Ya Rabbana janganlah dulu ya Rabbi……

          Alhamdulillah Jum`at malam uni turun demamnya, Alhamdulillah juga abi dan ummi tenang menghadapi anak-anak yang sakit. Walaupun dalam hati berkecamuk berbagai perasaan menyaksikan dengan mudahnya Allah SWT mengambil titipannya. Sungguh tarbiyah yang berharga sekali. Penderitaan uni tidak berlangsung sampai disitu, sehabis infeksi “cabang bronchus”, ummi kurang jelas artinya apa yang jelas mungkin TB anak.

          Sabtu pagi uni sudah semakin baik, tidak muntah darah lagi dn pupnya sudah normal, tapi anak yang disebelahnya hilang dri rumah sakit, rupanya ibunya stress dan bingung. Selagi abi bersiap-siap memindahkan uni ke bangsal anak bersebelahan dengan kakak, terlihat slang infus, slang oksigen berserakan di boks anak itu. Rupanya ibunya membuka begitu saja dan menghilang begitu saja disaat pergantian perawat.

          Satu lagi ibrah, kepedulian seorang bapak sangat diperlukan disaat anak sakit. Ummi sangat terbantu sekali mereka tidak pada menangis, karena abi siang malam mengusap-usap uni dan menggendong kakak dikala ummi memijit-mijit uni.Syukur….syukur sekali mereka tidak meraung-raung kesakitan padahal sakitnya parah.

          Kemudian lagi pelayanan rumah sakit sudah "terkenal", tapi ummi dan abi mendahulukan “husnudzhon” maka pertolongan Allah SWT akan datang. Kebetulan waktu KKN tahun 1986 ummi kenal anak SMA 1 Batusangkar namanya Meidi Astantia dipanggil Sutan, eh dia yang lagi jaga di bangsal anak karena lagi ngambil spesialis anak atau apa yang jelas dia dokter jaganya, kepala bangsal anak adalah dr Riri adiknya dr Joserizal Jurnalis Mer C, di kemudian hari dr Riri menjadi orang tua  Didi kawannya Miqdad pokoknya uni dan kakak Insya Allah diperhatikan sama dokter-dokter, dokter muda dan perawatnya. Sekali lagi Alhamdulillah. Wassalam

Kamis, 07 September 2017

KELUARGAKU




                          Bagi ummi keluarga bukanlah keluarga besar sebab saya sendiri bersaudara 5 orang, abi juga 5 orang bahkan adik-adik ummi tidak ada yang mempunyai anak 4 orang semuanya diatas 5, Tek Win anaknya 8 orang meninggal satu orang yaitu adik Marwan Hadid dalam usia 4 bulan kalau tidak salah di tahun 1996 karena kebocoran jantung dan bibir sumbing. Kemudian baru tahun 1997 baru lahir Abdul Latif, berturut-turut Ali Muzakkir, Nida ul Khair, Ahmad Azhari, Aida Fitri, Wazna, dan adik Afif.
          Mak Bal mempunyai 6 anak, si bungsu kembar laki dan perempuan lahir meninggal, diatasnya Farid, Faim, Sabila dan Dini. Dari ke 4 anak Mak Bal  2 pasang sudah kuliah dua orang lulus SNMPTN tapi jangan sombong ya. Kenapa? Dini pernah bilang waktu lebaran 2017 mengunjunginya di Kurai Taji “Dini kan kuliah jadi tidak sempat untuk rapi-rapi”. Memang kak Arina belum kuliah untuk saat ini.
          Mak Mun mempunyai 7 anak, Haris, Fairus, Azizah, Assyifa, Ibrahim, bungsu tidak jadi Luqman dan adik lucu Muthia. 7 orang memang sekarang kebanyakan tapi kalau sudah besar-besar terasa juga kesepian. Jangan pernah merasa punya anak banyak ya Mak mun, pasti semuanya akan membahagiakan kalau semua kita didik dengan benar, sabar dan mari sama-sama memikirkan dan saling mengasih masukan.
          Terakhir adik bungsu ummi Mak Man mempunyai 6 orang anak dan hanya satu perempuan, Diah. Pesan Mak Dang hati-hati menempuh dunia ini, engkau baru akan memasuki dunia maka perlu ketenangan. Sesudah Diah, adiknya Hamzah, Abbas, Ja`far, Khalid, Umair.
          Bani Husni Rivai ini selain yang meninggal adalah 28 orang dan ummi arus terlibat membesarkan mereka setidaknya mengasih masukan kepada adik-adik ummi sebagai orang tua mereka ini. Dari 28 orang ini ada beberapa yang menonjol yang harus mempunyai perhatian ekstra yakni Azhari dan Ja`far. Sepertinya dua anak ini cerdas sekali dan idenya bermacam-macam terutama untuk berbuat usil. Dan Abbas merupakan anak yang tenang tapi sensitive dan juga penurut. Ke 3 anak ini di mata 

ummi sangat istimewa kalian sebagai kakak harus punya perhatian lebih kepada mereka. 

                                                             

          Sekarang ummi membahas kalian satu persatu. Mulai dari Miqdad Ramadhan. Kenapa? Diantara 28 orang itu antum laki-laki tertua. Walaupun ada 2 kakak namun agama meletakan beban yang cukup berat kepada anak laki-laki. Banyak persolan di keluarga kita yang mau tidak mau antum harus terlibat, mencarikan pemecahan masalah, di samping masalah ummat juga harus antum pecahkan.
                                               
          Ummi tahu berat beban antum, namun ummi abi tetap akan berbagi dengan antum mulai dari masalah perjodohan kakak-kakak dan adik antum, masalah sepupu antum dan juga masalah ummat. Allah SWT memilih antum sebagai kader dakwah, memilih antum menjadi Presma yang sebenarnya ummi tidak berharap sama sekali tapi Allah SWT telah memilih antum berarti antum sanggup. Masukan ummi kepada antum, antum arus lebih kuat maknawinya dengan demikian interaksi antum dengan Allah harus semakin erat. Kemudian tidak kalah pentingnya adalah berkaitan dengan masalah komunikasi. Rasulullah saw kalau bicara dia akan putar badannya kea rah lawan bicara, supaya memperhatikan lawan bicara, Ini sikap yang harus antum pegang. Selain itu antum harus mengembalikan kelumbutan hati antum sebagimana di masa anak-anak.
Berbeda dengan anak ketiga ummi lahir hari Ahad tanggal 5 Ramadhan 1415 H pukul 12.45 bertepatan dengan 5 Februari 1995. Dengan bantuan Lili di Srigunting, sama beratnya dengan kakak, 3200 gram panjang 50 cm. Kelahiran disaksikan kakaknya di balik jendela yang lupa ditutup karena sudah keburu lahir.
          Anak laki-laki satu-satunya disebut adik “puta” oleh kakak mungkin maksudnya adik putra. Di tahun 1995 ini sungguh suatu perjuangan hidup yang berat. Abi bekerja serabutan tapi di tahun 1996 masuk ke Adzkia sebagai OB. Alhamdulillah dengan bekerja di 3 tempat pagi sebelum Subuh di SAGA uda Syafruddin Karimi dan di SMK.
          Abang Miqdad ini disebut atuk tua mirip sekali dengan atua ndut ketika masih bayinya. Sayang tahun 1996 tepat 1 tahun umur abang atuk tua wafat, dalam usia 83 tahun.
          Tk dan SD sampai kelas 6 di Adzkia, sebenarnya semua bakat dan keterampilan Miqdad tidak terlalu berkembang setelah pindah. Tadinya prestasi akademis anak-anak berkembang baik tapi menjadi mundur di Fajar Hidayah mungkin penyesuaian ataupun mungkin lingkungan yang berbeda. Teman-teman di Padang terseleksi tapi sesampai di Jakarta seperti masuk hutan sempat tersasar.
          Akhirnya abang tamat SMA dengan mulus dan dengan mengambil bidik missi kuliah di Teknik Mesin UNJ. Alhamdulillah sekarang sudah tahun-tahun akhir dan baru saja terpilih jadi Ketua BEM UNJ.
          Kemudian Fadhilah, anak tertua ummi yang bagi ummi punya keberatan khusus untuk ummi untuk berjauhan denganmu. Bagi ummi antum ditunjuk Allah SWT sebagai pembuka jalan “tarbiyah” buat adik-adikmu, Sedikit banyak karena antumlah tarbiyah berjalan itu berjalan. Harus diingat itu maka kelembutan hatimu harus dijaga dan di samping itu harus lebih lincah dari biasa karena beban lebih banyak dari waktu yang tersedia.


        Anak pertama Fadhilatunnisa lahir tanggal 9 Rajab 1411 H bertepatan dengan 24 Februari 1991 pukul 02.40. 50 hari sebelum Ramadhan.Lahir di rumah andung di Singguling bersama bidan Tek Yen. Tengah malam hari Kamis ummi merasa sakit yang teramat sangat tapi masih lama. Besok siangnya semua bersiap-siap andung dana bi sudah mempersiapkan semua bakal persalinan. Jumat malam sudah semakin sering sakitnya.
          Jauh sebelum subuh hari Ahad lahirlah anak ummi pertama diberi nama Fadhilatunnisa. Kelahiran yang menurut orang-orang sangat mulus. Walaupun menurut ummi kesakitan yang amat sangat dan lama. Tek Yen bilang anaknya cantik kulitnya mulus dengan mata lebar dan bulat. Sangat cantik memang waktu itu dengan berat 320 gram dan panjang 49 cm sungguh membahagiakan semua yang hadir.
          Diberi nama Fadhilah karena waktu itu sedang berlangsung kasus jilbab beracun yang didugakan kepada ibu Fadhilah sampai ke pengadilan dan ummi tidak terlalu mengikuti beritanya. Yang jelas kalau berpakaian muslimah di masa itu sungguh perjuangan yang berat. Melaksanakan syariat yang satu ini menimbulkan kegegeran di seantero Indonesia.
Kakak Fadhilah ini orangnya sensitif suka menangis. Kalau dimarahi ummi pasti menangis kencang. Dia penyayang dan momong mungkin karena anak tertua. Punya 3 adik dan sepupu yang banyaknya sekarang sudah 27 orang dari pihak ummi. Jadi kepala dari sekian banyak cucu atuk Ndut (Husni Riva`i).
          Waktu anak-anaknya Fadhilah adalah anak yang tegas tapi suka pakai minimalis d rumah karena memang sudah besar badannya. Tidak suka panas, sering sakit-sakitan dan setiap bulan sering ke rumah sakit.
          TK di Adzkia selama setahun, sampai akhirnya pindah ke Belimbing. Di Belimbing TK di Qurrata `Ayun. Gurunya bu Evi Sastri dan sebagian sudah lupa.
          Masuk SD di SDN 03 Belimbing, pernah dicubit gurunya yang kebetulan tetangga kami tapi berbekas sekali. Dibilang suka main lagi belajar mungkin sama dengan ummi memasuki SD itu belum terlalu memperhatikan pelajaran.
          Kelas 2 pindah ke Adzkia, bersama Annisa. Tetap di kelas 2 juga dan Annisa di kelas 1. Mulailah ummi memikirkan sekolah untuk anak-anak ke depan dengan ekonomi yang boleh dibilang jauh dari cukup ummi menebalkan telinga untuk tetap bersekolah di SDIT yang dipelesetkan “Sekolah Dasar Islam Termahal”  bagaimana lagi ingin yang terbaik untuk anak-anak. Walaupun dengan memaksakan diri sering disindir tapi ummi cuek saja, yang jelas pendidikan dasar yang terbaik lah, justru karena tidak mampu. Akhirnya Fadhilah tamat SD Adzkia di tahun 2003.
          Pendidikan selanjutnya di MTSn Gunung Pangilun, selama 3 tahun, tamat di tahun 2006. Mau melanjutkan SMA sudah lulus di MAN Gunung Pangilun dan SMA 3 Padang sebagai cadangan tinggal menyediakan uang masuk. Di MAN Rp 1,5 jt dan di SMA Rp 3 jt. Ke mana akan kami cari?
          Akhirnya nasib membawa kami ke Kota Wisata Fadhilah masuk SMA Fajar Hidayah setelah 2 bulan tidak sekolah 24 Agustus 2006 kami baru resmi jadi warga Fajar Hidayah setelah 20 hari belum tahu nasibnya bagaimana. Sekarang Fadhilah sudah tamat menjadi Sarjana Sastra UNJ Rawamangun.
          Sempat tidak lulus UN akhirnya kak Fadhilah kuliah di UNJ di tahun ke 3. Walaupun tidak lulus kakak masih menyempatkan diri untuk coba tes dan keterima di Teknik Elektro tapi tidak jadi diambil karena memakai ijazah paket C.
          Tentang ijazah paket C ketahuan sekali bahwa ijazah itu tidak membawa izzah bagi penerimanya. Ujiannya kebetulan bareng dengan siswa IPS dan dikasih jawaban oleh pengawas, apa itu tidak gila?
          Banyak catatan ummi dalam perjalanan hidup kakak Fadhilah. Entah kenapa kakak Fadhilah ini hemat sekali dalam jajan. Waktu SD dikasih jajan tiap hari Rp 4000.00 sekalian ongkos yang waktu itu. Dia tidak suka jajan sekali-kali dia jajan Rp 1000,00 dan bisa dapat keripik singkong pedas Rp 250, 00 lumayan dapat 4 bungkus.
          Suatu kali dia pulang sekolah cerita ke ummi bahwa dia dicurigai mengambil uang temannya. Karena itu pasalnya beli keripik sekalian 4 buah dan makan sedikit-sedikit sehingga lama maka dikira banyak jajan. Berkali-kali ustadzah menanyakan jajan sampai ke ummi juga ditanyakan kenapa Fadhilah jajannya banyak. Belakangan diketahui Fadhilah tahu temannya yang laki-laki yang mengambil uang tersebut, tapi kakak Fadhilah sudah kadung mencatat hal itu jauh di lubuk hatinya.
          Hal yang sama terjadi waktu di SMA. Berkali-kali teman dan bu Kepala Sekolah menanyakan hal sama. Yang hilang adalah uang hasil “business day” besar juga kira-kira Rp.300.000, 00 lebih. Belakangan juga diketahui adalah temannya yang anak orang bea cukai cukup berada anaknya yang mengambil, di sini kita harus berhati-hati orang yang tidak punya tidak semuanya yang hijau matanya melihat uang. Bagi ummi ini merupakan catatan tersendiri.

Description: C:\Users\HP 14-am013TU\Pictures\IMG-20170112-WA0005.jpg
          Anak kedua ummi Annisa, sifat keras kepalanya arus ummi akui itu ummi banget, Seperti itulah ummi di masa remaja keras kepala dan keras hati,  sedikit tertutup namun kita harus menyesuaikan keadaan, Nak, bagaimana pun kalian anak ummi, ummi sangat mengharapkan do`a-doa dari kalian. Maka rancanglah masa depat yang luar biasa. Ummi dulu sering mendapat hinaan dari orang-orang dekat ummi dan kalian diharapkan bisa menjawab tantangan zaman itu dengan keberhasilan dunia dan akhirat. Jadilah shalihah yang membahgiakan dunia dan akirat.
Anak kedua ummi lahir setelah tengah malam ummi sakit. Kata abi tahanlah dulu sampai subuh. Tapi sebelum subuh hampir-hampir sudah tertahankan lagi. Akhirnya abi menjemput andung yang kebetulan menginap di rumah andung abi rumah ibunya andung yaitu Mak Po. Maksud hati abi langsung membawa Tek Yen bidan. Tapi ternyata Tek Yen tidak di mudik. Abi berlari ke Koto Buruk menjemput Tek Yen tapi Tek Yen lagi membantu persalinan juga di tempat prakteknya di Koto Buruk.
          Dengan dipapah abi ummi berjalan ke Koto Buruk setelah menitip kakak Fadhilah sama andung. Kakak Fadhilah baru berusia 2 tahun tapi sudah pintar berkata-kata dan berlari. Di dunia Internasional Bosnia lagi bergolak. Abi bilang coba bagaimana keadaan saudara kita di Bosnia, hal ini menguatkan ummi walaupun keadaan gelap karena tidak ada penerangan jalan tidak ada. Jalannya pun berlubang sungguh dirasakan sebagai perjuangan yang berat. Kebetulan lewat truk yang mengambil batu di Batang Anai. Alhamdulillah ada penerangandari truk tersebut.
          Begitu sampai di tempat bidan ternyata ada baru saja lahiran. Terpaksa ummi nunggu dibereskan sebentar. Tidak sampai 5 menit tapi rasanya lama sekali begitu naik ke bad bersalin langsung terdengar tangisan anak kedua ummi yaitu Annisa. Kelahiran yang menurut orang yang melahirkan sebelumnya kalau seperti lahir punya anak 10 juga tidak apa-apa padahal melahirkan bukan hal yang gampang saja. Siapa ya yang lahirnya berbarengan dengan Annisa? Ingat ummi anaknya laki-laki. Hari itu Sabtu, pukul 06.00 masih gelap di Lubuk Alung 10 Rajab 1413 H bertepatan dengan 23 Januari 1993. Annisa lahir dengan berat 4000 gram panjang 50 cm.
          Melalui tahun 1993 merupakan hal yang berat. Pekerjaan abi masih belum punya pekerjaan yang tetap. Mak Po sakit-sakitan, Annisa  umur beberapa bulan Mak Po meninggal. Semoga mendapat tempat yang layak di sisiNya.Amin.
          Annisa TK di Qurrata `Ayun. Keunikan Annisa adalah dia tidak akan ngomong apa-apa kalua sesuatu terjadi. Pernah sepulang sekolah TK di Jl Jeruk, lama sekali pulangnya setelah ummi cari waauu ada sesuatu di balik pempersnya, rupanya sudah tidak tahan buang air besar maka dia berdiri saja di persimpangan jalan.
          Annisa ini keras hati dan jarang menangis, tapi kemauannya kuat serta ngambekan. Sulit untuk berbalik lagi setelah ngambek. Selain itu orangnya juga suka senyum bahkan oleh Era disebut Annisa matanya sudah senyum dulu sebelum senyum yang sebenarnya
          Setelah TK, ummi masukan kakak ke SD Adzkia dengan proses yang berbelit-belit. Sepertinya ada keberatan menerima anak-anak ummi tapi ummi menahan saja seperti tidak ada masalah.
 Lulus SD di tahun 2004 Annisa ummi masukan ke Perguruan Ar-Risalah di Solok. Sama dengan di Adzkia ummi acuh saja mengenai masalah biaya. Ternyata ust Irsyad mencarikan orang tua asuh yaitu Bapak dari Atlantis ummi lupa namanya semoga diberkahi oleh Allah SWT. Sebelumnya untuk masuk ke Arrisalah dibantu oleh seorang dokter yang rumahnya di Padang Baru atas koneksi teacher Wel. Alhamdulillah bisa masuk Arrisalah. Setelah tahun ke dua abi meminta untuk merubah jalan hidup, sehingga kami sekeluarga hijrah dan terdampar di Fajar Hidayah.
Ummi pernah dipanggil ust karena dibilang Annisa mengambil uang temannya, setelah ummi tanya hal itu tidak terjadi. Masalahnya adalah Annisa memakai kerudung temannya ternyata temannya yang mengasih sendiri hal ini ummi tanya teman tersebut ke teman yang bersangkutan. Kenapa ya anak-anak ummi menemui masalah yang sama.
Sebelum berangkat ke Jakarta Annisa dijemput ke Arrisalah yang sudah pindah ke Air Dingin Lubuk Minturun. Lama baru bisa diambil ada perpisahan dengan teman-teman dan ustadzah semua sampai bengkak mata semua. Dan kita pulang ke Belimbing naik becak motor abi dengan perasaan berkecamuk. Berat sekali meninggalkan rumah dan kota Padang.
Kakak masuk ke kelas 9 di SMP Fajar Hidayah rasanya ada penyesalan membawa kakak ke Jakarta tapi bagaimana lagi kalua tidak dibawa mungkin kami tidak bisa menjenguk dan tidak bisa mengasih belanja juga.
Tamat SMA berbarengan dengan kakak Fadhilah yang mengulang lagi UNnya. Annisa mendapat plakat siswa teladan. Karena tidak langsung ditulis akhirnya yang tertulis adalah nama siswa lain. Sempat menganggur dulu baru ikut tes SNMPTN hal ini karena rencana kakak akan ke Al Azhar dan sudah dibuat paspor dan sudah persiapan kesehatan, dan sebagainya tapi tidak pernah dipanggil oleh kedutaan Mesir. Akhirnya setelah Arab Spring Mesir juga tidak aman, akhirnya kakak diputuskan tidak usah ke Mesir.
Menunggu ke Malaysia tapi juga tidak nasib, bareng kak Fadhilah sama-sama tes di UNJ kak Fadhilah lulus di sastra Indonesia dan kak Annisa lulus di Tekhnik Elektronika. Tapi karena tidak cukup dana tahun depannya kakak tes lagi dan lulus di FPBS jurusan Pendidikan Bahasa Jepang dan sekarang dalam tahap penyelesaian,

Description: C:\Users\HP 14-am013TU\Pictures\WhatsApp Images\IMG-20170829-WA0018.jpg
Anak ke 4 lahir hari Jum`at sore pukul 16.30 tanggal 1 Ramadhan 1417 H bertepatan dengan 10 Januari 1997. Dibantu Lili di Belimbing dekat pasar rumah ust Syofwan alm. Kelahiran Arina mulus tanpa hambatan apa-apa. Alhamdulillah
          TK di dan SD di Buah Hati Air Tawar sampai kelas 4. Pindah ke Fajar Hidayah di kelas 4 Damascus dengan bu Endang Indriyani. Pada awalnya merupakan masa-masa yang sulit bagi Arina, di Padang baru merasakan punya teman. Temannya Izzah, Qotrinnada, Rif`ati dan Na`imah yang masih teringat.
          SD, SMP, dan SMA Fajar Hidayah sekarang Arina mempersiapkan diri untuk kuliah masih belum lulus. Mudah-mudahan tahun depan bisa mendapatkan kuliah yang diminati.
          Arina walaupun kelihatannya merupakan anak yang pemarah sebenarnya dia penyayang. Selalu dia yang mengingatkan dan mengatur belanja sepupunya yang bersama kita. Dia yang menyiapkan makan Haris dan Abdul Latif selama bersama kita. Dia tegas dan perhitungan keuangannya jelimet sekali. Mudah-mudahan cita-citanya menjadi pengusaha berhasil
          Kemudian bungsu ummi, yang juga keras hati. Sangat sedih hati ummi ketika kelulusan di PTN ditunda oleh Allah SWT, walaupun untuk kuliah hanya abang yang mulus masuknya, semua kakak juga kuliah tahun ke-3 setelah SMA, namun untuk bungsu ini sepertinya mendebarkan sekali. Ummi takut kalau sampai antum tidak kuliah. Takut tidak bisa membekali kehidupan kelak yang semakin hari semakin sulit. Namun hal itu antum lalui dengan tekad, ummi abi salut. Bahkan ummi sudah sangat pasrah hanya bisa mengantarmu untuk menjalani kehidupan hanya sampai tamat SMA. Hal itu berakhir ketika antum bisa melalui dengan tekad kuat. Alhamdulillah sekarang harapan ummi untu sekuat daya mengantarkan kalian ke jenjang pendidikan tertinggi. Berjuanglah anak-anakku, Insyaa Allah ummi abi selalu berdo`a.
Arina merupakan anak yang trampil tangannya, membuat kerajinan dia bisa, melukis juga. Memasak juga dan selalu bereksperimen. Namun agak moody sehingga kalu minta tolong membuatkan sesuatu kadang dia suka marah tapi kalau ummi tidak mengacuhkan hal tersebut. Nanti juga akan selesai sendiri.
          Keempat anak itu mempunyai karakter yang berbeda kalua mereka bareng di rumah pasti heboh. Tapi kalau lagi tidak kumpul akan sepi sekali. Anak-anakku sholeh dan sholehah bawa ummi abi ke syorga ya. Amin
 Wassalam