Minggu, 15 Maret 2020

Uni Dhila dan kak Nisa nginap di rumah sakit

5 hari menginap di rumah sakit dengan anak masih usia 3 tahun bukan hal yang mudah bagi ummi apalagi punya adik yang usianya 10 bulan.Itulah yang terjadi ketika 2 putri ummi itu masih usia batita. Dimulai, dengan uni Dhila, 2 hari kemudian kak Nisa.

          Hari Selasa malam abi tidak pulang ke Padang, tapi tetap di kampung sehabis kerja. Sepertinya dari pagi uni kurang sehat, dan sudah batuk-batuk saja. Menjelang malam sudah sesak nafasnya. Kebetulan Mak Mun datang sehabis Magrib. Si uni bertambah demam diikuti sesak, tanpa pikir panjang Mak Mun menjemput dokter Amrizal M.Nur. Dokternya juga lagi sakit, uni dikasih obat  turun panas dan mengurangi sesak. Oleh dokter besok disuruh ke rumah sakit.

           Setelah minum obat, panasnya tidak turun juga, malahan tambah naik, padahal Mak Mun sudah kembali ke kosannya, karena lagi banyak pekerjaan. Ummi bingung, uni digendong sampai ummi keringatan saking tinggi demamnya. Eh si kakak ikut-ikutan demam, jadilah ummi tambah bingung. Dua-duanya demam tinggi, tapi Alhamdulillah, duanya tidak ada yang menangis tapi bentar-bentar minta minum, dan……..tiba-tiba si uni muntah darah. Diikuti pup juga darah, ummi tambah bingung.

Serasa mau dipotong hari supaya cepat pagi.

          Pagi setelah pukul 6.00 abi sudah datang dari kampung, Lubuk Alung, kata abi tidak tenang, maka sehabis shalat Subuh abi langsung naik bis. Tanpa pikir panjang kami langsung siap-siap ke rumah sakit. Uni langsung ditangani di UGD dan selanjutnya ke RR bangsal anak, ba RSUP M.Jamil Padang.

          Digendong abi uni masuk langsung ditangani dokter dan langsung diinfus, sementara ummi dan kak Nisa ke poli anak. Kak Nisa waktu itu masih ASI. Setelah diinfus sepertinya sesak nafasnya makin menjadi. Tapi syukur abi  tenang sekali. Ummi dan kak Nisa pergi ke tempat kosan kawan ummi di Jl.Abdullah Ahmad no.11 kompleks PGAI. Ummi tinggal kak Nisa dengan etek akhwat yang kos di Wisma Dima Jl Cendrawasih ujung, kosannya Umma Dima teman ummi. Ummi kembali ke rumah sakit masuk ke RR menunggui uni sementara abi bisa pulang mempersiapkan pakaian dan makanan.

Malamnya ummi dan kakak menginap di Wisma Dima dengan pertimbangan kalau keadaan darurat ada telepon di wisma Dima, handphone belum ada, kalaupun ada sangat  terbatas.

          Memasuki hari kedua abi pergi mandi pulang, ummi dan kakak sudah pulang memasak serta mempersiapkan pakaian yang sudah berlumuran darah muntah dan pupnya uni dari rumah sakit, uni di rumah sakit ditunggui umma dan buya. Tiba-tiba ada teman abi yang memanggil abi karena buya telepon suruh secepatnya ke rumah sakit lagi. Uni Fadhilah dalam keadaan kritis badannya membiru, demamnya semakin tinggi dan nafasnya semakin sesak, ummi juga ikut  ke rumah sakit. Kakak dikasih susu formula oleh umma, ummi disuruh menginap di rumah skit saja, tapi ummi tidak tenang sesampai di rumah sakit, ingat kakak dititip mana masih ASI, kembali ke Wisma Dima ingat ke rumah sakit, sungguh suatu pilihan yang sulit.

          Jum`at pagi kakak juga demam tinggi, sampai akhirnya di bawa ke dokter dan nginap juga di rumah sakit, karena sudah kekurangan cairan.Kakak radang tenggorokan “tonsilo paringitis” sehingga sulit untuk minum dan dia tidur saja, disangka umma dan etek-etek wisma dia tidur pulas, ternyata  lemas sampai akhirnya di ketiaknya sudah mengkerut kekurangan cairan, apalagi mendadak saja ASI ummi juga kering, mungkin karena lupa makan menjalani keaadan uni. Cemas sekali rasanya…..Ummi berdo`a "Jangan Kau ambil  titipan Mu ya Rabbi, aku belum sanggup apalagi dua sekaligus. Sembuhkanlah mereka Ya Rabbana, akan kujaga dengan lebih teliti".

          Rupanya abi lebih cemas lagi ceritanya begini, sewaktu masuk Rumah sakit sudah ada pasien lain, seorang anak yang kelainan di otak dan juga infeksi paru-paru, seperti uni juga yang infeksi “broncho pneumonia”. Sudah lama di rumah sakit tapi hanya ditunggui ibunya, bapaknya tidak pernah melihat.

          Hari Kamis masuk juga pasien satu lagi ummi tidak tahu persis anaknya sakit apa. Pagi jum`at masuk lagi pasien anak laki-laki kelas 3 SD, sakitnya juga kurang jelas, ketika masuk RR langsung dipasangi kateter. Hari Jum`at adalah hari yang paling menyedihkan. Sementara uni belum reda demamnya, si kakak makin tinggi panasnya. Anak yang masuk pagi itu meninggal setelah beberapa jam di rumah sakit, orang tuanya meraung-raung. Ummi tidak menyangka anak itu menemui ajalnya, sebab baru masuk dia masih sempat bercerita sama orang tuanya. Jumat sore meninggal lagi yang masuk hari Kamis, Ummi semakin sedih dan bingung, jangan-jangan Allah SWT juga mengambil yang masuk hari Rabu, Ya Rabbana janganlah dulu ya Rabbi……

          Alhamdulillah Jum`at malam uni turun demamnya, Alhamdulillah juga abi dan ummi tenang menghadapi anak-anak yang sakit. Walaupun dalam hati berkecamuk berbagai perasaan menyaksikan dengan mudahnya Allah SWT mengambil titipannya. Sungguh tarbiyah yang berharga sekali. Penderitaan uni tidak berlangsung sampai disitu, sehabis infeksi “cabang bronchus”, ummi kurang jelas artinya apa yang jelas mungkin TB anak.

          Sabtu pagi uni sudah semakin baik, tidak muntah darah lagi dn pupnya sudah normal, tapi anak yang disebelahnya hilang dri rumah sakit, rupanya ibunya stress dan bingung. Selagi abi bersiap-siap memindahkan uni ke bangsal anak bersebelahan dengan kakak, terlihat slang infus, slang oksigen berserakan di boks anak itu. Rupanya ibunya membuka begitu saja dan menghilang begitu saja disaat pergantian perawat.

          Satu lagi ibrah, kepedulian seorang bapak sangat diperlukan disaat anak sakit. Ummi sangat terbantu sekali mereka tidak pada menangis, karena abi siang malam mengusap-usap uni dan menggendong kakak dikala ummi memijit-mijit uni.Syukur….syukur sekali mereka tidak meraung-raung kesakitan padahal sakitnya parah.

          Kemudian lagi pelayanan rumah sakit sudah "terkenal", tapi ummi dan abi mendahulukan “husnudzhon” maka pertolongan Allah SWT akan datang. Kebetulan waktu KKN tahun 1986 ummi kenal anak SMA 1 Batusangkar namanya Meidi Astantia dipanggil Sutan, eh dia yang lagi jaga di bangsal anak karena lagi ngambil spesialis anak atau apa yang jelas dia dokter jaganya, kepala bangsal anak adalah dr Riri adiknya dr Joserizal Jurnalis Mer C, di kemudian hari dr Riri menjadi orang tua  Didi kawannya Miqdad pokoknya uni dan kakak Insya Allah diperhatikan sama dokter-dokter, dokter muda dan perawatnya. Sekali lagi Alhamdulillah. Wassalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar