Senin, 31 Agustus 2009

Hakekat Puasa

Shafwan Nawawi*:

Hakekat Puasa

Mesjid -
klik untuk melihat foto
Shafwan Nawawi*
Definisi al-shiyâm (puasa) menurut para ulama adalah al-Imsak (menahan) diri supaya tidak makan dan minum serta tidak melakukan permainan seksual atau semua yang membatalkan puasa sejak dari terbit fajar dan terbenam matahari. Namun pada umumnya puasa disikapi tidak (boleh) makan dan minum dan seterusnya sehingga begitu waktu berbuka, syahwat makan minumnya disalurkan sedemikian rupa, yang kadang-kadang melebih dari porsi di luar bulan puasa.

Untuk mengerti hakekat puasa ada tiga pokok normatif yang perlu dijelaskan di sini, sesuai dengan tuntunan Quran dan hadis yang berkaitan dengan maksud puasa tersebut. Pertama, bahwa kata kunci puasa ini terletak pada nilai ”imsak” (menahan) dirinya  itu. Dalam diri manusia terdapat naluri selera makan dan dorongan senang pada seks (QS. 3: 14) yang memiliki daya dorong yang kuat agar kebutuhannya terpenuhi atau tersalurkan.

Dorongan nafsu ibarat mesin mobil yang tahunya hanyalah bergerak maju. Dorongan majunya inilah yang ditahan, persis seperti mengeremkan mesin kenderaan. Yang mengeremnya itu adalah iman yang eksis dalam jiwa manusia.

Dari term yang diangkat oleh Al Quran dan sunah tersebut terdapat tiga syahwat yang perlu perlakuan imsak padanya, supaya tetap terpelihara dan sekaligus terkonrol, yaitu syahwat buthán (nafsu yang berurusan dengan masalah perut), syahwat kalam (nafsu bicara) dan syahwat jinsiyah (nafsu seksual)

Ketiga shahwat tersebut, bila tidak dipelihara dan dikontrol dengan baik, dapat menggiring manusia melakukan apa saja yang melanggar norma-norma kemanusiaan dan agama (khususnya Islam). Karena syahwat perut orang bukan hanya terdorong untuk mencari makan secara pantas dan halal, tapi bila sudah tidak dipelihara dan tidak terkontrol, orang bisa mengambil yang bukan haknya bahkan lebih jauh dari itu orang bisa jual diri. Adapun syahwat bicara, kalau sudah di luar porsinya, orang bisa memfitnah, ghibah, berdusta, berkata kotor dan sebagainya. Begitu juga dengan syahwat seksual, yang tidak terkendali, orang bisa menggoda anak orang lain, tapi  lebih jauh justru ada yang sampai memperkosa anak kandung sendiri. Di sinilah konsep imsak menjadi sangat urgen dalam kehidupan manusia dan inilah yang disyariatkan Islam.

Dalam menjelaskan syahwat perut terdapat hadis Nabi yang mengatakan: andai manusia ini memiliki dua bukit dari emas, maka niscaya ia akan menuntut yang ketiganya. Tuntutan  itu tidak akan berhenti kecuali jika sudah mati. Dalam menjelaskan ini syahwat seks dipahami dari hadis nabi riwayat Bukhari tentang arahan beliau supaya para pemuda yang mampu (termasuk secara material), segera menikah agar mata dan organ seksnya terjaga dari dosa.

Kedua, ialah bahwa menahan diri atau menahan hawa nafsu yang dimaksud adalah menahan diri terhadap hal-hal yang selama ini di luar Ramadhan, halal dilakukan siang hari. Hal inilah yang mejadi kemuliaan tersendiri di sisi Allah. Allah minta apa yang selama ini dihalalkan, mohon ditahan demi ketaatan pada-Nya. Makna ini dijelaskan pada ayat 187 surah Al Baqarah:

Dihalalkan untuk pada malam hari melakukan permainan seksual dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagi kamu dan kamu adalah pakaian bagi mereka Allah mengetahui bahwa kamu pernah tidak mampu menahan dirimu kemudian Allah mengampuni dan memaafkan kamu...

 Kesimpulan lain dari ini semua ialah bahwa untuk yang halal saja sudah dilarang, apalagi yang jelas haramnya. Di sinilah ketidaksadaran sebagian umat ini dalam beribadah puasa.

Karena faktanya justru pada bulan Ramadhan pula munculnya selingan kegiatan yang jauh dari nilai-nilai imsak atau menahan tersebut, seperti mereka yang menghabiskan waktu di kantor dengan main domino, ibu-ibu yang sukanya ngerumpi, anak-anak muda yang pacaran saat Shalat Tarawih atau Subuh, mereka yang berbuka dengan merokok setelah ijma’ ulama mengharamkannya, atau mereka yang berbuka dengan jamuan berbuka yang melimpah, atau apalagi mereka yang puasa masih saja korupsi, berzina, atau minum minuman keras arau berjudi.

Ketiga, ialah bahwa imsak, menahan, yang dimaksud adalah imsak yang ikhlas karena Allah atas dasar keimanan pada Allah, sesuai dasar pemanggilan Allah surat Al Baqarah 183, karena keislaman seseorang saja tidak cukup merespons ibadah puasa dengan benar dan sungguh-sungguh. Dalam Al Quran memang ada klasifikasi muslim dan mukmin tersebut. Perhatikan QS. Al Hujurat ayat 14. 

 Di ayat 14 surat Al Hujurat ini terlihat jelas orang-orang tersebut diakui keislamannya tapi belum diakui keimanannya. Esensi masalahnya ialah bahwa yang Muslim saja ini memiliki hati yang belum terisi oleh iman. Imannya baru di tataran konsep dan pemikiran, atau baru sebatas pengakuan dan keinginan, namun belum sampai ke hatinya. Hatinya masih ragu atau masih terisi dengan persepsi persepsi kemauannya. Karena itu belum terefleksikan keluar dirinya dalam bentuk sikap yang tegas, tindakan nyata dengan berjuang dan berkorban di jalan Allah. Karena itu yang mampu melaksanakan puasa ini dengan baik hanyalah orang-orang yang benar keimanannya. Wallahu’’Alam.

Hal inilah yang justru menjadi indikasi kemukminan seseorang yang dimaksud Allah yang dijelaskan pada ayat 15 surat yang sama. Orang-orang beriman hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasulnya, kemudian mereka tidak memiliki keraguan, mereka berjihad di jalan Allah dengan harta dan nyawa mereka. Itulah mereka yang keimanannya sudah benar.

Profil orang beriman tersebut telah dijabarkan dalam banyak ayat Al Quran antara dia memiliki ketaatan dan sikap monoloyalitas pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka memiliki hati yang gemetaran jika disebut nama Allah, apalagi ayat Allah dibacakan kepada mereka.

Mereka selalu tawakkal hanya pada Allah, mendirikan shalat dan menunaikan zakat (lihat QS. 8: 2-5.) Orang-orang beriman memiliki keyakinan dan ketaatan penuh dengan hukum Allah yaitu  ketaatan militeristik pada Allah (QS.34: 59)  Apabila sudah ada ketentuan hukum dari-Nya mereka langsung patuh dan tanpa ada rasa keberatan sedikitpun (QS. 2: 165). (*)

*Penulis adalah Ketua IKADI Sumbar dan Dosen IAIN Iman Bonjol Padang
sumber : http://www.padang-today.com/?today=tausiah&id=31

Rabu, 26 Agustus 2009

Pemilu tidak Ada Kalah Menang

Jumat, 26/06/2009 09:54 WIB

Pemilu tidak Ada Kalah Menang

Oleh: Ismet Rum*

MENARIK juga membaca polemik atau perdebatan melalui tulisan di Padang Ekspres, terutama tulisan Irsyad Syafar yang berjudul, Etika Orang Salah (Sabtu 23/5/09), yang menanggapi tulisan Awis Karni yang berjudul Etika Orang Kalah ( 15/5/09).

Tulisan Awis Karni menyatakan tentang etika orang kalah dalam pemilu, yang menurut persepsinya dianalogikan dengan sikap malaikat yang sujud kepada Adam. ”Tulisan Irsyad Syafar menanggapi bahwa sikap malaikat sujud kepada Adam sebagai pernyataan mengaku kalah terhadap Adam adalah interpretasi yang tidak tepat.

Kedua tulisan dengan segala argumen kedua penulisnya adalah dalam rangka membangun pemikiran kreatif positif, bukan pemikiran kreatif destruktif. Kedua tulisan juga seperti yang diniatkan kedua penulisnya, untuk meyebarkan manfaat dan kebaikan dalam kehidupan, dalam rangka saling mengingatkan sesama saudara, terutama bagaimana bersikap idealis sewajarnya terhadap pemilu.

Pemilu di mana saja, juga di Indonesia adalah peristiwa berkala yang berskala, pesta demokrasi rakyat katanya. Meskipun rakyat Indonesia seharusnya bergembira pada hari pemilu, namun ada juga orang yang bersedih hati bahkan sampai bunuh diri setelah selesai pemilu. Fenomena merusak bahkan sampai bunuh diri sendiri atau membunuh orang lain merupakan perbuatan kebodohan yang tidak sesuai dengan dasar negara Indonesia yang cerdas yang beragama. Agama mencerdaskan pemeluknya dengan melarang merusak apa saja bentuknya, apalagi bunuh diri.

Sikap yang salah memahami pemilu dan hasilnya adalah sebab utama merusak diri. Pemilu dan terutama hasil pemilu itu, sebaiknya tidak disikapi dengan merasa kalah atau menang, merasa tersingkir atau terhormat. Proses pemilu adanya yang memilih dan yang dipilih. Mereka yang memilih dan dipilih adalah sama-sama rakyat. Orang yang terpilih dan akhimya duduk di kantor DPRD, DPR misalnya, bahkan yang duduk di kantor presiden, adalah sama dengan orang yang belum atau tidak terpilih, yaitu sama—sama melaksanakan amanah dalam segala aspeknya.

Mereka yang duduk di kantor legislatif (DPR dan lain-lain) dan yang duduk di kantor eksekutif ( presiden dan para pembantunya) adalah pelaksana amanah, yaitu amanah mengurusi rakyat agar rakyat hidup teratur dan baik. Dan sebaliknya, mereka yang tidak berkedudukan di kantor tersebut adalah pelaksana amanah juga yaitu amanah siap diurus dengan baik.
Idealnya sesama rakyat saling mengingatkan dalam kerangka saling menghormati Wakil rakyat yang di legislatif maupun eksekutf siap mengingatkan dan diingatkan. Demikian juga rakyat yang tidak duduk di legislatif dan eksekutif, siap diingatkan dan mengingatkan. Semua orang siap mengingatkan dan diingatkan. Tidak tepat sikap seseorang hanya.siap mengingatkan menasihati tetapi tidak mau dinasihati atau diingatkan. Prinsipnya, manusia tidak ada yang suci, dan semua manusia berpotensi untuk salah.

Rakyat Indonesia dan juga di negara lain, semuanya melaksanakan amanah dalam segala aspek kehidupan. Orang yang terpilih dalam pemilu tidaklah identik dengan orang yang menang atau terhormat. Sebagaimana orang yang tidak terpilih dalam pemilu bukanlah orang yang kalah. Bolehlah dikatakan menang atau terhormat kepada orang yang terpilih, setelah selesai tugas melaksanakankan amanah. Di Indonesia tugas di legislatif dan eksekutif selama lima tahun.

Para anggota legislatif dan eksekutif yang terpilih dalam pemilu, boleh dikatakan terhomat atau menang setelah berakhir jabatan, setelah lima tahun bertugas. Dengan catatan bahwa mereka selama bertugas atau menjabat jabatan adalah benar mengurus rakyat atau benar melaksanakan amanah. Namun sebaliknya, jika selama menjabat mereka tidak benar mengurus rakyat, bahkan lebih banyak menguras rakyat saja, maka mereka bukan orang-orang yang menang atau terhormat, tetapi orang-orang yang kalah dan terlaknat.

Jadi pemilu adalah proses orang memposisikan diri untuk mengemban amanah, sedangkan nilai orang tersebut, nanti diketahui di akhir masa pelaksanaan amanah tersebut. Setelah selesai amanah, mereka mungkin kelompok orang yang menang atau terhormat atau sebaliknya, kelompok orang terlaknat atau kalah. Hidup adalah amanah. Kehidupan dengan segala posisi atau kedudukan seperti posisi yang dihasilkan setelah pemilu, adalah seni melaksanakan amanah.

Tentang nilai atau posisi seseorang dalam melaksanakan amanah, Al-Quran surat Ali Imran ayat 185 menyatakan :”Setiap orang merasakan kematian Dan hanya pada hari kiamat (akhirat) sajalah ditepatkan dengan sempurna balasanmu (nilai akhir beramanah). Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dialah orang yang menang. Kehidupan dunia hanya kesenangan yang memperdaya”.

Orang yang terpilih di hari pemilu dan orang yang belum atau tidak terpilih silih berganti. Demikianlah seni kehidupan habitat alam yang menjadi pelajaran. Al Quran surat Ali Imran ayat 140 menyatakan : ”hari-hari itu itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).” Yang terpilih di hari pemilu siap belajar mengurus dan belajar memimpin rakyat dengan baik. Dan, rakyat pun siap diurus dan dipimpin, selama kepengurusan dan kepemimpinan itu baik. Parameter kebaikan mengurus dan memimpin ditentukan seberapa siap untuk mengingatkan dan diingatkan.Wallahu’alam. (*)

*Penulis adalah Dosen Fakultas Dakwah LAIN Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat
sumber : http://www.padang-today.com/index.php?today=article&j=1&id=806




Ramadhan, Madrasah yang Agung dan Paripurna

Irsyad Syafar Lc MA*:

Ramadhan, Madrasah yang Agung dan Paripurna

Mesjid
klik untuk melihat foto
Irsyad Syafar Lc MA*
Dalam dunia pendidikan sebuah sarana pendidikan haruslah mempunyai sebuah kurikulum atau disebut juga dalam bahasa arab dengan manhaj. Menurut para pakar pendidikan modern baik dari barat maupun dari timur (negara-negara arab) manhaj yang baik harus memiliki sekurang-kurangnya empat unsur. Keempat unsur tersebut adalah ; hadaf (target), muhtawa dan tanzhim (isi dan aturan), wasail (sarana) dan taqwim (evaluasi).

Keempat unsur ini merupakan unsur yang asasi (terpenting) dalam sebuah manhaj. Ketiadaan satu unsur saja dalam sebuah manhaj maka dapat dikatakan manhaj tersebut manhaj yang fasyil (gagal), yang tidak dapat mengantarkan para peserta pendidikan yang mengikutinya kepada kesuksesan yang diharapkan.

Kalau kita ambil contoh dari unsur manhaj tersebut maka sebuah pendidikan dasar memiliki manhaj sebagai berikut :
Targetnya adalah membentuk anak didiknya (murid) mejadi orang yang memiliki pengetahuan-pengetahuan dasar seperti membaca, menulis, berhitung, dan ilmu-ilmu dasar lainnya.
Isinya adalah belajar membaca, menulis, berhitung dan mempelajari ilmu-ilmu dasar. Sedangkan aturannya antara lain; belajar membaca 5 jam dalam sepekan, belajar menulis 7 jam dalam sepekan, belajar berhitung 4 jam dalam sepekan dan seterusnya. Aturan lain adalah adanya pembagian jadwal dan waktu untuk mempelajari sebuah ilmu. Misalnya ilmu menulis dan menbaca harus dipelajari semenjak awal pendidikan, sedangkan berhitung dan ilmu-ilmu dasar lainnya dipelajari pada tahun kedua dan seterusnya.

Sarananya (wasail) adalah alat-alat tulis, buku, alat peraga, televisi, video, proyektor, komputer, alat-alat permainan, tenaga pengajar (guru), tenaga manajerial (direktur degan segala perangkatnya) dan lain sebagainya yang mendukung proses pendidikan.
Adapun evaluasi (taqwim) dapat berupa ujian bulanan, ujian semester dan ujian akhir.

Dapat juga berupa tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh para murid di rumah mereka masing-masing. Di samping itu hadiah dan motivasi yang diberikan oleh seorang guru kepada anak didiknya yang baik dan berhasil merupakan bagian dari evaluasi.

Apabila sebuah madrasah (sekolah) telah memiliki manhaj dengan segenap unsurnya yang lengkap dan baik yang sudah teruji dan telah membuahkan hasil yang memuaskan, namun tiba-tiba di suatu waktu anak didik yang dihasilkan oleh madrasah tersebut banyak yang gagal dan mutunya sangat rendah, maka dapat dipastikan kegagalan tersebut bukan disebabkan oleh manhajnya. Tetapi besar kemungkinan kegagalan tersebut berangkat dari anak didik (murid) itu sendiri. Karena manhaj sudah baik dan teruji. Bisa jadi muridnya yang tidak mau belajar, atau tidak mau mengikuti aturan yang digariskan oleh madrasah, atau tidak mempergunakan sarana yang ada, atau barangkali karena memang murid tersebut memiliki kemampuan yang lemah. Semua sebab tersebut sangat besar andilnya dalam kegagalan seorang murid. Dan ironis sekali kalau murid tersebut mencela atau menyalahkan madrasahnya sementara penyebab kegagalannya adalah dirinya sendiri.

***

Ramadhan adalah sebuah madrasah yang agung dan paripurna. Manhajnya langsung diletakkan oleh Allah SWT, Sang Pencipta Yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Segala ajaran-Nya adalah kebenaran. Selain ajaran-Nya adalah kesesatan. Allah berfirman :
Artinya : “Maka itulah Allah Tuhanmu yang sebenarnya, maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)”. (QS Yunus : 32)

Maka manhaj Allah adalah manhaj yang benar yang tidak seorangpun dapat menyainginya, apalagi menyalahkannya. Madrasah Ramadhan telah Allah jadikan sebagai madrasah yang memiliki manhaj yang jelas dan teruji, khusus bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Targetnya adalah terwujudnya insan-insan yang bertaqwa.(QS Al Baqarah : 183)
Isi dan aturannya adalah menahan haus dan lapar mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Di samping itu setiap peserta madrasah ini (orang-orang yang shaum) dilarang untuk melakukan hal-hal yang akan membatalkan shaum mereka, seperti makan, minum, berhubungan suami isteri, muntah dengan sengaja dan lain sebagainya. Bahkan lebih dari itu mereka juga dianjurkan untuk meninggalkan segala yang merusak pahala ibadah mereka tersebut, seperti ghibah, mengumpat dan mencaci, melihat dan mendengar yang diharamkan Allah, berkata kotor dan sebagainya.

Adapun sarana untuk mencapai target shaum tersebut (taqwa) sangat banyak dan bervariasi. Semuanya adalah amalan-amalan sunnah yang akan menambah nilai shaum itu sendiri. Antara lain, melambatkan makan sahur dan menyegerakan berbuka, berbuka dengan rutab (korma muda) atau korma atau beberpa teguk air, memperbanyak do’a selama shaum karena do’a orang yang shaum mustajabah sampai ia berbuka, memperbanyak dzikir dan tilawah Al Quran karena Ramadhan adalah syahrul Quran, banyak bersedekah dan memberi demi mentauladani Baginda Nabi yang merupakan orang yang dermawan, dan beliau sangat dermawan di bulan Ramadhan, mengisi malam-malamnya dengan tarawih dan qiyam, meningkatkan aktivitas dan etos kerja karena Ramadhan adalah bulan jihad dan kemenangan Islam (syahrul jihad wal futuhat), mengisi 10 malam terakhir dengan segala bentuk ibadah sambil mengharapkan dapatnya malam yang mulia Lailatul Qadr dan banyak lagi sarana-sarana lain yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Untuk evaluasi, selama Ramadhan setiap hamba sebenarnya telah diperintahkan untuk melakukan istighfar dan taubat setiap hari. Bahkan Rasulullah melakukannya lebih dari 75 kali setiap harinya. Di samping itu Allah SWT telah memberikan bonus dan hadiah tambahan pada bulan Ramadhan sebagai motivasi bagi hamba-Nya untuk memperbanyak ibadah mereka. Ibadah sunah di Ramadhan menyamai ibadah wajib di bulan-bulan yang lain. Sedangkan ibadah wajibnya menyamai 70 kali ibadah wajib di bulan yang lain. Awal bulan Allah jadikan rahmah (rahmat), pertengahannya maghfirah (ampunan) dan diakhirnya ‘itqun minan nar (selamat dari neraka). Semua itu bagian dari evaluasi sekaligus sebagai bahan bagi setiap hamba yang melakukan shaum apakah mereka merasakan dan menikmati kelebihan-kelebihan tersebut.

Itulah manhaj madrasah Ramadhan. Manhaj yang telah melahirkan generasi-generasi terbaik ummat ini, mulai dari sahabat, tabi’in dan pengikut-pengikut mereka yang setia sampai generasi zaman ini. Dengan manhaj ini mereka ditempa dan dilatih serta ditarbiyah. Sehingga di tangan mereka kejayaan dan kemenangan Islam dapat terwujudkan.

Sekarang madrasah itu telah usai dan berlalu. Semua anak didiknya pun telah berhasil dikeluarkan. Tinggal kini mengevaluasi para alumninya. Apakah mereka telah menjadi insan-insan yang bertaqwa sesuai dengan target dari manhajnya? Ataukah kebanyakan mereka yang telah ikut dalam madrasah ini ternyata masih seperti sebelum Ramadhan -tidak berobah sedikitpun, tidak bertambah ketaatan dan kecintaanya kepada Allah dan Rasul-Nya-?

Kalau kenyataannya seperti itu maka yang salah bukan manhajnya. Tetapi muridnyalah yang tidak mau mengikuti isi dan aturan madrasah, enggan menggunakan sarana yang disediakan, serta jarang atau tidak pernah melakukan evaluasi terhadap ibadahnya. Maka wajarlah mereka belum mencapai derajat taqwa.

Bagi setiap muslim hari-hari ke depan ini adalah waktu untuk membuktikan janji Allah yang telah ditetapkan untuk orang-orang yang melakukan shaum dan qiyam dengan penuh keimanan dan perhitungan, yaitu pengampunan segala dosa yang telah berlalu. Artinya ia telah kembali kepada fitrah. Dan fitrah manusia adalah menyembah Allah semata, melakukan segala syariat-Nya dan meninggalkan segala aturan yang tidak berasal dari Allah SWT. Allah berfirman :
Artinya : “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertaqwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah”. (QS Ar Rum : 30-31)

Semoga Allah menerima segala ketaatan kita selama Ramadhan dan menjadikan kita orang-orang yang kembali kepada fitrah, amien.

* Penulis adalah Ketua Dewan Syariah Wilayah PKS Sumbar.
shttp://www.padang-toumber : day.com/index.php?today=tausiah&id=3

Hak Fakir Miskin dalam Harta Kita

Faridansyah*:

Hak Fakir Miskin dalam Harta Kita

Mesjid
klik untuk melihat foto
Faridansyah*
Jauh sebelum berhasil membangun pemerintahan Islam di Madinah, Rasulullah SAW sudah mengajarkan kepada para sahabatnya agar gemar melakukan sedekah. Sebelum ada perintah zakat yang ketentuannya dibeberkan secara resmi, infak dan sedekah sudah menjadi kegiatan yang sangat dianjurkan. Bahkan nilai sedekah mereka jauh melebihi ketentuan zakat itu sendiri.

Ketika Bilal mendapatkan kesulitan karena disiksa oleh majikannya, maka Bilal yang masih berstatus budak itu dibeli oleh Abu Bakar, dan sesaat kemudian dimerdekakannya. Tak terkirakan lagi betapa banyak sedekah yang dikeluarkan oleh shabat Utsman bin Affan, misalnya ketika melihat saudara seaqidahnya menghadapi kesulitan ekonomi.
Menyadari betul bahwa rezeki yang berada dalam kekuasaannya itu berasal dari Allah dan merupakan titipan dariNya, maka kaum muslimin dengan ringan hati mengeluarkannya sebagian untuk membantu saudaranya. Inilah awal sebuah kesadaran bersedekah. Lebih jauh, kesadaran yang lebih tinggi harus ditumbuhkan dalam jiwa kita, bahwa dalam harta benda yang kini berada dalam kekuasaan kita sesungguhnya terdapat hak bagi fakir miskin.
Artinya, jika tidak disisihkan dan dikeluarkan sebagai zakat dan infak, maka para fakir miskin berhak untuk menuntutnya. Jika di dunia tidak dipenuhi, mereka akan menuntutnya di hari kemudian. Bagi pelanggarnya, mereka bisa dikenai sanksi dunia, dan lebih berat lagi sanksi si akhirat.

Siapakah yang berhak atas kekayaan orang-orang kaya? Alquran menegaskan dalam sebuah ayat: “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orag yang sedang alam perjaanan, sebagai suatu keketapan yang diwajibkan Allah; Dan Allah mengetahui lagi Maha bijaksana.” (QS at”Taubah: 60).

Para ahli fiqih bersepakat bahwa di antara delapan asnaf yang berhak atas zakat itu yang diprioritaskan adalah dua yang pertama, yaitu fakir dan miskin. Ahli hukum Islam berselisih pendapat mengenai perbedaan fakir dan miskin. Sebagian ahli mengatakan bahwa fuqara adalah orang-orang yang membutuhkan bantuan tapi tidak mencari bantuan tersebut, sementara masakin adalah mereka yang membutuhkan bantuan dan mencarinya.
Sebagian ahli yang lain berpendapat bahwa fuqara adalah mereka yang sama sekali tidak berpenghasilan, sedangkan masakin adalah orang yang berpenghasilan akan tetapi penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan minimalnya.

Fuqara dan masakin, baik dalam definisi yang pertama maupun yang kedua sama”sama berhak atas harta yang dikuasai orang-orang kaya. Artinya, jika hak mereka tidak disalurkan, maka orang-orang kaya itu bisa dikatakan merampas hak mereka, alias mencuri. Pantas jika Allah menyebut mereka sebagai pendusta agama. Allah berfirman: “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS al”Maa’un: 1-3)

Terhadap orang-orang miskin yang meminta-minta barangkali kita dengan mudah menjumpainya, tapi kepada fuqara yang merasa malu mencari bantuan, padahal dirinya sangat membutuhkan, maka kita harus mencarinya. Harus ada upaya dari kita untuk aktif melacak keberadaan mereka. Sebab, boleh jadi mereka ini lebih membutuhkan daripada fakir miskin yang meminta-minta. Menemukan dan memberikan bantuan secukupnya kepada fuqara yang tidak meminta-minta itu adalah tugas kewajiban kita. Jika mereka sampai kelaparan atau mati karena tidak mendapatkan bantuan dasariahnya, maka kita semua menjadi berdosa. Dosa kifayah atau dosa jamaah.

Syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT, karena kita masih memiliki bulan Ramadan yang mengajak kita untuk menyadari adanya orang-orang lemah yang berhak untuk memperoleh zakat, infak dan sedekah. Bulan yang merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepadaNya serta menghiasi diri kita dengan sifat”sifat mulia yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Sangat tepat jika ibadah puasa dalam bulan ini mempunyai andil besar dalam pembentukan rasa solidaritas tinggi kepada sesama makhluk.Tidak diragukan lagi bahwasanya harta yang kita keluarkan di jalan Allah akan memberi manfaat kepada diri kita sendiri bukan orang lain. Bukankah Allah SWT adalah sebaik-baik pemberi rezeki? Mari, selain zakat, kita keluarkan juga infak dan sedekah untuk mereka yang kurang mampu. Salurkan melalui Lembaga Pengelola Zakat (LPZ).

Penceramah adalah Kepala Cabang PKPU Sumbar
sumber :http://www.padang-today.com/index.php?today=tausiah&id=16

Selasa, 25 Agustus 2009

Bersyukur Atas Nikmat Allah

Siti Zakiah SP*:

Bersyukur Atas Nikmat Allah

Mesjid -
klik untuk melihat foto
Siti Zakiah SP*
Adalah hadiah terindah dari Allah SWT bagi semua orang-orang yang beriman, tahun ini dipertemukan kembali dengan Bulan Ramadhan. Hadiah Rabbaniyah agar derajat kemanusiaan kita meningkat menjadi orang yang bertaqwa. Sudah sepatutnya, kita bersyukur atas segala nikmat Allah sehingga dapat menjalani ibadah Ramadhan yang di dalamnya penuh keberkahan, rahmat dan maghfirah.

Allah SWT berfirman, yang artinya "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim :7)

Dengan berpuasa, kita diajarkan untuk merasakan langsung akan besarnya nikmat Allah kepada kita. Di saat makanan dan minuman halal tersedia, nafsu untuk menikmati ditahan tidak sekedar lahir tetapi juga batin. Sehingga ketika tiba waktu berbuka, walaupun yang terhidang alakadarnya, tapi menyantap makanan menjadi begitu nikmat. Kita pun terdidik untuk ikut merasakan penderitaan orang lain yang tidak mampu dengan menumbuhkan kepedulian untuk memberi perbukaan pada orang yang berpuasa. Dimana ganjaran pahalanya langsung disamakan Allah dengan pahala orang yang berpuasa tadi tanpa mengurangi pahala puasa yang menerima perbukaan itu.

Sungguh, sebenarnya hidup ini dilimpahi beragam kenikmatan dari Allah, namun banyak yang tidak menyadari sehingga tidak pernah mensyukuri. Ada yang kecewa terlahir sebagai orang miskin, buruk rupa pula. Ada yang frustasi, putus cinta, lalu menjadi gila. Tidak sedikit yang dililit utang, gagal dalam pemilihan kepala daerah, mencoba bunuh diri. Hidupnya terasa susah, batinnya terasa sempit, sehingga hatinya tertutup melihat bahwa di balik setiap kesusahan itu disediakan kemudahan oleh Allah.

Bacalah Al Qur'an Surat Alam Nasyrah (94) 1 sampai 8. ”Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan darimu bebanmu, Yang memberatkan punggungmu. Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhan-mulah hendaknya kamu berharap."

Menurut Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam bukunya Fawa’idul Fawa’id, bangunan agama Islam didirikan pada dua landasan yaitu dzikir dan syukur. Artinya dengan dzikir mengharuskan kita mengingat nikmat, karunia dan kemurahan-Nya terhadap makhluk kemudian mengingat perintah dan larangan-Nya. Sedangkan syukur ialah ta’at kepada-Nya dan taqarrub dengan berbagai hal yang dicintai-Nya, zhahir dan batin.

Jika Allah ingin menyempurnakan nikmat terhadap hamba-Nya, maka Dia memperlihatkan nikmat yang datang itu, lalu memasang syukurnya sebagai pengikat nikmat itu agar tidak lepas. Karena nikmat akan lepas karena kedurhakaan dan diikat dengan rasa syukur. Allah juga memberinya taufik untuk mengerjakan amal, agar datang nikmat berikutnya yang ditunggu-tunggu, kemudian memperlihatkan jalan yang bisa menghambat datangnya nikmat itu atau memutuskannya.

Salah seorang ulama bernama Syaqiq bin Ibrahim mengatakan bahwa pintu taufik dari Allah akan ditutup bagi seseorang karena enam perkara :
1.Menyibukkan diri dengan nikmat tanpa mau mensyukurinya.
2.Suka mencari ilmu tanpa mau mengamalkannya
3.Cepat dalam melakukan dosa dan menangguhkan taubat
4.Terpedaya karena bergaul dengan orang-orang shalih namun tidak mengikuti perbuatan mereka
5.Keduniawian berpaling dari mereka namun mereka mengejarnya.
6.Akhirat akan mendatangi mereka namun mereka berpaling darinya.

Sebagai manusia,kita sering lalai mensyukuri betapa besar nikmat Allah pada penciptaan diri yang lengkap dengan fungsi dari setiap anggota tubuh. Diciptakan-Nya mata untuk dapat melihat, diciptakan-Nya telinga untuk dapat mendengar, hidung untuk dapat mencium, tangan untuk dapat memegang, kaki untuk dapat melangkah, dan semua yang ada di tubuh kita pasti berfungsi melengkapi aktivitas hidup itu sendiri. Pentingnya nikmat itu disyukuri baru muncul jika ada bagian tubuh yang sakit dan tidak berfungsi. Tetapi kebanyakan manusia tidak siap dan menyalahkan takdirnya, jika terlahir cacat atau ditimpa musibah yang membuat salah satu nikmat Allah tersebut tercabut darinya. Karena itu mayoritas manusia menjadi musuh bagi nikmat Allah yang dilimpahkan kepadanya, tidak merasakan bahwa Allah telah membukakan nikmat untuknya dan mereka berusaha untuk menolaknya karena kebodohan dan kezhaliman.

Pernahkah kita belajar dari salah satu nama Allah dalam Asmaul Husna yakni As-Syakur. Allah SWT. Yang Maha Bersyukur, memberikan pahala kepada hamba-hamba-nya yang beriman yang mau berbuat kebajikan. Walaupun untuk seseorang yang hidup dalam kemaksiatan. Ini dikisahkan oleh Rasulullah SAW,bahwa dulu ada seorang pelacur yang melihat seekor anjing yang kehausan dan lidahnya terjulur keluar, lalu dibukanya sepatu, diambilnya air memakai sepatu itu dan diberikannya pada si anjing. Kebajikan si pelacur terhadap anjing tadi, dibalas Allah-As Syakur dengan ampunan terhadap dosanya dan ia dimasukkan kedalam syurga. Subhanallah.

Untuk itulah dalam momentum Ramadhan ini, kita berpuasa,tidak sekedar menahan diri dari lapar dan dahaga tetapi juga menahan diri dari ingkar nikmat Allah. Seperti Firman-Nya, ”Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” (QS.Al Baqarah : 152).

Agar tidak termasuk orang yang mengingkari nikmat, lalu diazab Allah, maka marilah senantiasa bersyukur dengan apa yang telah dikaruniakan Allah pada diri dan keluarga kita. Bukti kesyukuran itu diperlihatkan tidak hanya dalam lafadz Alhamdulillah tetapi juga dengan banyak berbuat kebajikan sambil memanfaatkan nikmat Allah. Walaupun hidup susah tapi yakinlah bahwa jika kita mau berusaha dengan gigih dan berdoa memohon kemudahan dari Allah, insya Allah akan diberi-Nya jalan keluar atas semua permasalahan. Amin. Wallahu a’lam bishowab.

* Penulis adalah anggota F-PKS DPRD Padang
http://www.padang-today.com/index.php?today=tausiah&id=19

Ramadhan dan Etos Kerja Muslim

Trinda Farhan S*:

Ramadhan dan Etos Kerja Muslim

Mesjid
klik untuk melihat foto
Trinda Farhan S*
Kalau diperhatikan aktivitas kaum muslimin di siang hari pada bulan Ramadhan, tersebar imej kurang baik di kalangan sebagian orang, bahwa Ramadhan adalah bulan istirahat dan bulan bermalas-malasan. Memang sering terjadi suatu fenomena kurang Islami, tatkala umat islam melewati bulan suci Ramadhan. Diberbagai kantor para karyawan seakan-akan kurang bersemangat dalam bekerja dengan alasan sedang puasa. Masjid dan mushala dipenuhi orang-orang yang bergeletakan untuk tiduran sambil bermalas-malasan.

Kampus-kampus di berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta memotong jam perkuliahannya, 1 SKS yang biasanya setara dengan 50 menit tatap muka dipotong menjadi 40 atau 30 menit, dengan pertimbangan dosen dan mahasiswanya sedang berpuasa. Sehingga muncul kesan Ramadhan menurunkan produktivitas. Gejala negatif seperti ini terjadi karena sebagian umat Islam kurang memahami esensi bulan Ramadhan sebagai bulan Jihad. Kalau kita buka lembaran-lembaran sejarah Rasulullah dan kaum muslimin, banyak peristiwa besar jihad Rasulullah, sahabat dan umat Islam terjadi di bulan Ramadhan, di antaranya adalah: Perang Badar yang terjadi pada tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijrah.

Perang Badar yang dianggap sebagai perang terbesar dan kemenangan terbesar yang diraih umat Islam yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dakwah Rasulullah pada fase berikutnya. Kemudian Fathu Makkah (ditaklukkannya kota Makkah) terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke 8 Hijrah. Dan pada bulan Ramadhan tahun 584 H, Sholahuddin Al-Ayyubi mulai menyerang tentara salib di Siria dan berhasil mengusirnya, dan sangat banyak jihad-jihad penting umat Islam lain yang terjadi di bulan Ramadhan, bahkan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pun dilaksanakan di bulan Ramadhan.

Lalu kenapa terjadi ketimpangan fenomena antar generasi ini? Salah satu penyebab utamanya adalah lemahnya ‘etos’ kerja umat Islam saat ini. Kata etos ini berasal dari bahasa Yunani, dapat diartikan sebagai sesuatu yang diyakini, cara berbuat, sikap serta persepsi terhadap nilai bekerja. Atau etos dapat juga diartikan sebagai pandangan hidup (value, nilai) yang khas dari suatu golongan sosial. Sehingga ada yang mengartikan etos kerja sebagai semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok. Orang Jepang dikenal dengan orang yang maniak kerja, karena punya etos kerja yang dibayangi oleh budaya ajaran Shinto dan Zen Budha yang melahirkan semangat kerja Bushido dan Makoto yang artinya bersungguh-sungguh.

Sehingga dengan semangat ini mereka siap kerja keras mengeluarkan seluruh potensinya demi kesuksesan tugas yang diberikan padanya, bahkan siap mengundurkan diri (tanpa diminta) ketika merasa gagal dalam tugasnya. Lalu kenapa umat Islam harus ragu untuk mengakui bahwa jihad yang bersumber dari nilai-nilai iman adalah bagian dari etos kerja muslim? Iman yang tidak dapat dipisahkan dari jihad sesuai dengan firman Allah SWT, “sesungguhnya orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman dengan Allah dan Rasul-Nya. Kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah.

Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. Al Hujurat: 15). Dan barang siapa berjihad, maka sesunguhnya jihadnya itu untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah Maha Kaya dari seluruh alam. (QS. Al Ankabut: 6) Jihad yang bermakna sungguh-sunguh dengan mengeluarkan seluruh potensi yang dimiliki untuk mencapai cita-cita. Jihad sebagai etos kerja muslim karena bekerja merupakan kewajiban agama dalam rangka menjalankan perintah Allah dan menggapai ridha Allah SWT, sehingga kesadaran bekerja seperti inilah yang disebut jihad fi sabilillah.

Banyak ayat Al Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW yang menyampaikan arti penting amal/aktivitas/kerja dalam kaca mata Islam. Pertama, pengakuan yang diberikan Allah, Rasul-Nya dan orang mukmin terhadap amal/kerja orang beriman. Kedua, orang yang giat dan bekerja keras dalam mencari kehidupannya disamakan dengan orang yang jihad fii sabilillah. Ketiga, pengampunan dosa hari itu karena kelelahan bekerja seharian. Keempat, orang yang menuntut ilmu adalah fii sabilillah. Kelima, orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia mendapat shalawat dari seluruh penghuni langit dan seluruh penghuni bumi.

Dengan menjadikan jihad sebagai etos kerja muslim, maka Ramadhan tidak akan menurunkan produktivitas muslim. Bahkan sebaliknya, akan melipat gandakan produktivitas muslim karena Ramadhan adalah syahrul jihad,, bulan jihad. Dengan etos kerja jihad ini hari demi hari, jam demi jam bahkan detik demi detik para shoimin (orang yang puasa) akan disibukkan dengan aktivitas yang produktif. Kaum muslimin menjadi semakin bersemangat dalam beribadah kepada Allah, semakin bersemangat dalam bekerja mencari nafkah, semakin bersemangat dalam menuntut ilmu dan semakin bersemangat dalam mengajarkan ilmu dan kebaikan kepada orang lain. Wallahu a’lam bisshawwab.

Penceramah adalah Ketua DPW PKS Sumbar
sumber : http://www.padang-today.com/index.php?today=tausiah&id=20

Ramadhan Tazkirah Bagi Para Caleg

Nurfirmanwansyah*:

Ramadhan Tazkirah Bagi Para Caleg

Mesjid
klik untuk melihat foto
Nurfirmanwansyah*
”Ramadhan adalah bulan mulia yang diturunkan Allah SWT khusus untuk umat muslim dengan tujuan agar menjadi umat yang bertakwa” (Al Baqarah: 183).

Ramadhan juga merupakan bulan terbaik di antara 12 bulan yang ada. Bahkan secara khusus dalam surat Al Qadr Allah SWT menyebutkan, Ramadhan lebih baik dari seribu bulan. Di dalamnya ibadah sunat dinilai sebagai ibadah fardhu.

Sementara ibadah fardhu, dilipatgandakan kebaikkannya di sisi Allah SWT.Kewjiban melaksanakan shaumu Ramadhan adalah untuk melatih diri kita meningkatkan ibadah dan taqarrbu ilallah, serta menahan (imsyak) dari segala yang membatalkan.

Siang hari dilarang untuk memakan makanan dan melakukan pekerjaan yang merusak puasa, walaupun semua itu merupakan sesuatu yang halal bagi. Malam hari disyariatkan untuk meningkatkan ibadah, tilawah Al Qur’an, qiyamullail, tarawih dan lainnya. Sehingga tidak salah apabila kita mengatakan bahwa Ramadhan adalah syahrut tarbiyah (bulan latihan/pendidikan)

Ada yang menarik dari Ramadhan tahun ini, dilihat dari perspektif kehidupan pemerintahan atau politik Indonesia. Bulan puasa 1429 H dilakukan oleh umat muslim di Indonesia adalah dalam masa kampanye menjelang Pemilu 9 April 2009.

Artinya ini adalah momentum yang seharusnya bisa memanfaatkan semua lapisan masyarakat untuk berlomba-lomba meningkatkan kualitas keimanan kepada Allah SWT (fastabiqul khairaat), sembari berdoa kepada Allah SWT agar diberikan petunjuk. Hingga, bangsa ini keluar dari segala keterpurukan yang ada dan mendapatkan wakil rakyat yang betul-betul memperjuangkan nasib bangsa ini, menuju masyarakat yang sejahtera dan madani di bawah lindungan-Nya.

Lebih dari pada itu, bulan ini merupakan tazkirah (peringatan) kepada para calon anggota legislatif (caleg) periode 2009-2014. Apakah sudah betul-betul siap mengemban amanah ini? Atau, apa sebenarnya yang dicari menjadi anggota legislatif nantinya? Pertanyaan di atas sebenarnya dapat dijawab apabila dalam Ramadhan ini, kita betul-betul melaksanakan ibadah dengan penuh kekhusyu’an, dan keikhlasan.

Paling tidak ada dua hal yang mesti menjadi perhatian kita, pertama, tentunya hari ini kita semua merasakan bagaimana tidak enaknya lapar dan dahaga. Artinya kita harus menggelorakan gerakan politik kemanusiaan dan daya sensitivitas sebagai pemimpin harus diasah pada bulan ini. Bahwa ternyata bangsa ini masih dihuni oleh anak bangsa yang masih lapar, hidup di pemukiman kumuh, tidak punya biaya sekolahm dan lainnya.

Para caleg harus siap bekerja penuh waktu untuk melayani dan mengayomi masyarakat, karena sesuai dengan pendapat Hasan al Banna bahwa kerja kita sebenarnya lebih banyak dari waktu yang tersedia. Kondisi masyarakat sekarang menuntut para wakilnya untuk lebih banyak memikirkan dan mencari solusi dari persoalan-persoalan yang ada.

Apalagi para caleg telah membuat pernyataan dan perjanjian untuk siap bekerja penuh waktu sebagai anggota legislatif sesuai dengan formulir BB5 yang sudah diserahkan ke KPUD. Kemudian juga telah disyari’atkan kepada yang memiliki kemampuan untuk segera membayarkan zakat dan menyisihkan sebagian hartanya untuk diberikan kepada anak yatim, fakir miskin dan yang berhak lainnya. Hendaknya juga amal ibadah kita jangan dicampurbaurkan dengan politik, sehingga mengurangi nilai keilkhlasan dalam diri kita.

Kedua, kualitas kedekatan kita dengan Allah SWT. Bulan ini kita dibina untuk merasakan kehadiran Allah dalam setiap detik kehidupan kita. Walaupun laparnya sangat melilit perut, namun karena merasakan kehadiran Allah SWT, kita tidak akan memakan makanan yang ada.

Inilah sebuah ilustrasi yang mengisyaratkan kepada kita, apabila kita betul-betul merasakan kedekatan dengan Allah SWT, maka berbagai kasus amoral yang pernah menimpa anggota dewan selama ini, insya Allah tidak akan lagi. Dan sebagai caleg kita sudah menandatangani pernyataan untuk bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha esa (formulir BB-1).

Harapan ke depan setelah terpilih nantinya, para caleg hari ini tidak menjadi bagian dari pembawa petaka terhadap bangsa ini. Karena fakta dan realitas kehidupan anggota dewan belakangan ini, telah memberi gambaran negatif yang sangat jelas.

Kasus korupsi, pelecehan seksual, selingkuh dan lain sebagainya adalah bagian dari disintegritas moral pembawa amanah rakyat, serta telah mencoreng nama anggota dewan terhormat sebagai pengemban amanat anak bangsa. Ramadhan ini harus bisa mengubah visi dan misi kita untuk menjadi anggota dewan agar benar-benar berjuang demi terciptanya kesejahteraan dan kemakmuran bangsa ini.

*Penceramah adalah Wakil Bupati Solse,
  sumber :      http://www.padang-today.com/?today=tausiah&id=26

Menelusuri Jejak Dua Ulama Bersaudara dari Padangjapang

Menelusuri Jejak Dua Ulama Bersaudara dari Padangjapang

Fajar Rillah Veski - Padang Ekspres

Tempat Bung Karno Minta Petunjuk.

Mereka dua saudara, jago urusan agama, punya pemikiran luas untuk Indonesia. Sama-sama murid dari Syekh Ahmad Chatib, anak Minang yang menjadi Imam Masjidil Harram Mekkah. Sama-sama pula mendirikan Perguruan Islam yang terkenal. Tak heran, bila Bung Karno minta petunjuk kepada mereka, dan Buya Hamka menaruh hormat tak terhingga.

BILA masih ada pertanyaan, siapakah mereka? Itulah Syekh Mustafa Abdullah dan Syekh Abbas Abdullah, dua ulama kesohor Minangkabau asal Luhak Limopuluah. Keduanya, terkubur di Nagari VII Koto Talago, Kecamatan Guguk, Kabupaten Limapuluh Kota. Tepatnya di Padangjapang, yang terletak sekitar 17 kilometer sebelah utara Kota Payakumbuh.

Untuk menuju lokasi ini bisa menggunakan angkutan umum atau kendaraan pribadi. Dari Payakumbuh menuju arah utara. Setelah melewati jembatan Lampasi, anda akan menemui persimpangan. Kedua simpang, dapat anda pilih.

Bila memilih jalan ke kiri, berarti Anda akan melewati Nagari Koto Baru Simalanggang dan Nagari Guguak VIII Koto. Setelah sampai di Dangung-dangung, anda dapat melanjutkan perjalanan arah ke Limbanang. Tapi, sesampai di kawasan bernama Talago, anda harus belok ke kanan. Maka sekitar tiga kilometer saja, anda akan sampai di Padangjapang.

Tapi bila memilih jalan yang kanan, maka anda akan melewati nagari Simalanggang, Koto Tangah Simalanggang, Taehbaruah, Mungka, Jopangmangganti, dan barulah sampailah di Padangjapang.
sumber : http://www.padang-today.com/?today=feature&id=258
Pejuang Islam

Syekh Mustafa Abdullah atau biasa dipanggil Inyiak Padangjapang dan adiknya Syekh Abbas Abdullah, merupakan pejuang Islam di Sumatera. Sepak terjang mereka sebagai penyebar dan penegak ajaran Islam di Minangkabau, sangat banyak dicatat dalam berbagai buku dan majalah yang terbit masa itu.

Bahkan, anggota Masyarakat Sejarahwan Indonesia (MSI) Luhak Limopuluah Yulfian Azrial, menyebut perjuangan kedua Syekh ini amat terkait dengan perjuangan pendidikan Islam Sumatera Tawalib, ataupun pergerakan Tuanku Jamil Jaho di Padangpanjang.

Meskipun demikian, satu hal yang membuat Syekh bersaudara ini amat terkenal adalah upaya mereka dalam mendirikan Perguruan Darul Funun di Puncakbakuang, Tanjungrongik, Padangjapang.

Pada masa keemasannya, Darul Funun tidak hanya memiliki murid dari berbagai pelosok Sumatera Barat, melainkan juga dari berbagai provinsi sekitar, termasuk dari negeri Jiran Malaysia. Hebatnya lagi, para murid rata-rata adalah orang besar.

”Sebagai perguruan besar, Darul Funun memang banyak banyak melahirkan tokoh besar. Kebesaran kedua Syekh ini bahkan membuat Presiden Soekarno merasa perlu ke Padangjapang, setelah bebas dari masa pembuangannya di Bengkulu,” kata Yulfian Azrial.

Disebutkan pula, Bung Karno sering melakukan diskusi dan minta petunjuk tentang berbagai masalah politik dan keagamaan. Bahkan tentang konsep menuju kemerdekaan Indonesia. Hal itu setidaknya bisa dibuktikan, dengan masih adanya dokumentasi Bung Karno semasa di Padangjapang.

Begitu juga setelah zaman kemerdekaan. Para pejuang Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), merasa sangat perlu untuk menemui Syekh Mustafa Abdullah dan Syekh Abbas Abdullah. Mereka sangat banyak mendapat masukan dari kedua Syekh kakak beradik ini.

”Mohammad Natsir yang diutus Soekarno untuk menemui tokoh PDRI di Sumatera, akhirnya juga harus menemui kedua tokoh ini,” kata Yulfian.

Buya Hamka juga Menaruh Hormat

Sebenarnya, tidak hanya Bung Karno, Natsir, dan tokoh bangsa lain yang menjadikan kedua Syeik ini sebagai kawan tempat berdiskusi. Ulama sekaligus sastrawan legendaris Haji Abdul Malik Karim Amarullah alias Hamka, juga amat hormat kepada Syekh Mustafa dan Abbas Abdullah.

Bahkan menurut wartawan senior (alm) Kamardi Rais Datuk Panjang Simulie, semasa Agresi Militer II Belanda, Hamka sengaja datang ke Padangjapang, hanya untuk memberitahu khabar kematian Kapten Thantowi (putra kandung Syekh Abbas Abdullah) dalam Peristiwa Situjuah 15 Januari 1949.

Namun ketika itu, Inyiak Padangjapang ternyata sudah tahu soal kematian putra mereka. Hanya saja, dia sempat bertanya kepada Hamka, sebelah mana Kapten Thantowi tertembak Belanda? Dijawablah oleh Hamka, dekat keningnya Inyiak?

Mendengar hal tersebut, Inyiak Padangjapang langsung menyebut, ”Syahid-Syahid. Thantowi meninggal dalam keadaan Syahid Malik!”

Begitulah cerita Hamka yang sangat menghormati kedua Syekh dari Padangjapang, kepada Kamardi Rais Datuk Panjang Simulie, puluhan tahun nan lampau. (***)

Feature lainnya

Minggu, 23 Agustus 2009

Safari da`wah ajang silaturrahim dengan masyarakat

Aktifitas Da’wah bukanlah kerja monoton, yang hanya da’wah lewat mimbar-mimbar masjid tapi lebih luas dari pada itu. Inilah yang melatar belakangi dai Ikadi Payakumbuh-Liamapuluh Kota untuk selalu menghidupkan sebuah sunnah Rasulullah dalam Da’wah, yaitu Silaturrahim…
p5010132

Agenda rutin yang dijalankan Ikadi Payakumbuh-Limapuluh Kota adalah Silaturrahim yang dikemas dalam bentuk kegiatan Safari Da’wah ke Daerah-daerah yang jarang didatangi para da’i dan muballigh, karena letak geografis yang jauh, atau pertimbang materi…
Safari Da’wah dimulai dengan kegiatan Riadhoh (Olah Raga) Bola Kaki antara Ikadi FC dengan tim bola Kaki dsaerah setempat, dan juga dilanjutkan dengan kegiatan dan taushiah di mesjid setempat dalam bentuk da’wah multimedia…

sumber : http://ikadipyk.wordpress.com/


adik bungsu ummi

H. Arman Husni, Lc. MA, Lahir di Padang Japang Lima Puluh Kota Sumatera Barat, Pendidikan Strata Satu (S1) di Fakultas Tarbiyah Jurusan Studi Islam Internasional University of Africa (Sudan), Pendidikan Magister Hukum (S2) ditempuhnya di Institut Pengajaran Bahasa Arab Liga Arab Sudan. Tulisan ilmiah yang pernah dipublikasikan antara lain Metode Pengajaran Bahasa Arab di Pesantren Klasik dan Modern 


sumber : http://www.stainbukittinggi.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=49%3Adosen-stain&catid=35%3Adosen&Itemid=50&limitstart=3

Sabtu, 22 Agustus 2009

Manfaat dan target yang ingin dicapai di bulan Ramadahan.

Kajian Subuh 1 Ramadhan 1430 H di mesjid Darussalam Kota Wisata-Cibubur oleh Ust.Mirdas Eka Yora,Lc.MSi.
    Para sahabat dua bulan sebelum Ramadhan sudah sibuk berdo`a ,untuk mencapai dan menghadirkan pembaruan dan semangat/azimah untuk beribadah.
"Sesungguhnya Allah tidak memberikan rahmat kepada manusia kecuali kalau manusia itu sendiri membuat dosa". Dimulai dengan niat, niat itu adalah 1/3 dari amal.

Puasa juga tergantung niat dan keimanan kita, apa sekedar menjalankan kewajiban atau lebih dari itu untuk mencari yang lebih baik keRidhoan Allah SWT, maka

selesaikan Ramadhan dengan amal yang semakin baik sampai akhir Ramadhan, bukan malah sebaliknya di awal Ramadhan mesjid ramai tapi semakin berakhir semakin

sepi, ibadah semakin berkurang.
    Ramadhan adalah bulan latihan, melatih kesabaran. Rasulullah bersabda, "Ramadhan ni`mat bagi orang yang sabar". Bulan Ramadhan 1 bulan penuh sanggup

 menghilangkan hawa panas di dada.Kesabaran itu terdiri dari beberapa hal :
1. Sabar untuk menjadi hamba Allah yang tha`at. Udkhulu fi silmi kaaffah, sabar menerima Islam secara keseluruhan buka malah sesak dada dengan aturan Islam. Umar

bin Abdul Aziz mampu membersihkan negara Islam yang amburadul dengan penuh kesabaran dalam waktu hanya 23 bulan, dengan kesabaran yang tinggi tentunya. Dari

Arab, Baghdad dan Benua Afrika yang menjadi negara Islam sangat luas sekali waktu itu tapi beliau mampu untuk memotong seluruh korupsi. Beliau memualai dengan

menanyakan kepada istrinya, pilih Umar atau pilih harta, kalau harta silakan tinggalkan Umar, tapi Fatimah istrinya justru memilih suaminya daripada bergelimang harta.

hal yang pertama dilakukan Umar adalah menginfaqkan seluruh hartanya, begitu beliau memulai jabatannya. hal ini tidak disenangi oleh sebagian rakyatnya sehingg beliau

wafat diracun.
2. Sabar melatih jiwa supaya bersih, melakukan tazkiyatunnafs, bukan hal yang mudah, tapi dengan kesabaran bisa mencapai kebersihan jiwa yang prima.
3. Sabar dari musibah termasuk musibah dal kema`siatan. Ibnul Qayyim :"Dosa dapat menghasilkan kecanduan, apabila berbuat dosa akan ketagihan".Maka sabar bisa

mengobati kecanduan itu tahan diri untuk tidak berbuat dosa. Rasululullah bersabda :"Siapa yang tidak sanggup menahan syahwat menikahlah jika belum mampu maka

berpuasalah". Puasa adalah obat hati yang luar biasa.
    Luqmanulhakim berkata :"Ketika perut penuh maka hilanglah kemampuan berfikir yang bermanfaat, tidak bisa menjadi orang yang bijak ditambah dengan

pangkat yang berlebihan maka anggota tubuh berat untuk beribadah tapi ringan untuk yang lain misalnya mengejar dunia saja". Do`sahabat :"Allahu ya Rabbanan jadikan

dunia dalam genggaman tangan kami tapi jangan jadikan dunia menggenggam hati kami". Syetan suka menakut-nakuti manusia dengan ketakutan menjadi faqir sehingga

dunia dikejar dengan segala daya upaya. Kalau kita bandingkan dengan Abdurrahman bin Auf yang langsung menginfaqkan seluruh perdagangannya yaitu muatan 50

ekor unta, ketika Rasullah saw menanyakan itu dagangan siapa.
    Jika Allah SWT telah mencintai maka pendengaran hanya mendengar yang dicintai Allah, penglihatan juga yang dicintai Allah serta perbuata juga yang

dicintai Allah.. Mudah-mudahan dengan puasa semakin kuat tekad kita untuk menjadi hamba yang dicintai Allah SWT. amin. Wallahu `alam bissawab

Jumat, 21 Agustus 2009

Ramadhan I

Ceramah Ramadhan hari I Mesjid Darussalam Kota Wisata-Cibubur oleh Ust Asep Aounuddin.
    InsyaAllah kita satu perasaan dan sefikiran malam ini untuk bersyukur, karena Allah SWT telah mengabulkan do`a kita tahun lalu, semoga bertemu dengan

Ramadhan tahun ini, semoga juga mengabulkan do`a kita tahun ini untuk bertemu Ramadhan tahun depan. Sampainya kita pada malam I ramadhan ini dan dikabulkan

do`a kita "Allahumma bariklana fii Rajaba wa Sya`ban wa balghna Ramadhan". Semoga Allah SWT juga memberikan semua kebaikan yang tersedia di bulan Ramadhan

kepada kita. Amin.
    Mengingatkan kembali akan ayat "Hai orang-orang yang beriman diwajibkan kepada kamu berpuasa ...". Perintah ini diterima oleh orang yang beriman

dengan ikhlas. Kalau Allah SWT telah menjanjikan bahwa orang yang berpuasa akan menjadikan kita sebagai orang yang bertaqwa maka jangan khawatir , dalam

berpuasa "sertifikasi taqwa" akan menjadi milik orang yang beriman dan Allah SWT akan menjadikan kemudahan/jalan keluar dalam hidup kita dan diberikan rezki dari

sisi yang tidak terduga baik direncanakan ataupun tidak direncanakan.
    Mudah-mudahan puasa yang direncanakan akan membawa kita menjadi orang yang bertaqwa. kalau ada orang muslim yang tidak tertarik dengan puasa itu

"keterlaluan", karena Rasulullah saw dengan gamblang telah menyatakan "Barangsiapa yang berpuasa dan tujuannya memperoleh keRidhoan Allah SWT maka diampuni

dosa-dosanya yang telah lewat".Rasulullah saw juga bersabda :"Orang yang berpuasa akan masuk syurga melalui pintu Ar_Raiyan". Puasa adalah perisai dari dosa.

Demikianlah pengantar memasuki bulan Ramadhan. Wallahu `alam bissawab.

Rabu, 19 Agustus 2009

Ada Apa Dengan Hijau?

Saturday, June 13, 2009
Ada Apa Dengan Hijau?
         Salah seorang pakar psikologi, Ardatsham, mengatakan"Sesungguhnya pengaruh warna terhadap manusia sangat besar, dan saya pernah melakukan sejumlah penelitian dan menjelaskan bahwa warna berpengaruh terhadap kejiwaan dan semangat serta vitalitas kita; merasa panas; atau dingin; atau nyaman; atau bahagia; bahkanbisa berpengaruh terhadap kepribadian seseorang dan berpengaruh terhadap menyikapi kehidupan.Dan warna bias menjadi sebab relung jiwa yang dalam terpengaruh dengannya.
          Sebuah rumah sakit pernah mengundang sejumlah pakar untuk memberikan saran bagi warna dinding ruang pasien atau warna dinding rumah sakit, sehingga bisa banyak membantu dalam mengobati mereka. Rumah sakit juga meminta saran tentang warna yang terbaik untuk pakaian pasien. Sejumlah percobaan telah membuktikan bahwa warna kuning bisa membangkitkan semangat di syaraf pusat. Adapun warna ungu bisa membangkitkan ketenangan.Adapun warna biru, maka orang yang melihatnya akan merasa dingin. Sebaliknya, warna merah maka orang akan merasa panas atau gersang. Dan para pakar tersebut mengatakan bahwa warna yang bisa membangkitkan kebahagiaan, gembira, bersemangat hidup (bergairah) adalah warna hijau.Oleh karena itu, warna yang utama dan sesuai untuk kamar atau ruang operasi, pakaian para ahli bedah dan pakaian pasien adalah warna hijau.
         Sebuah pengalaman unik akankami kemukakan di sini bahwa ada sebuah pengalaman yang terjadi di London, Inggris, di kawasan Black Fryer yang dikenal dengan "kawasan bunuh diri" karena mayoritas kejadian bunuh diri banyak terjadi di kawasan ini. Kemudian diadakan perubahan warna dari warna gelap gurun ke warna hijau metalik. Denganhal ini ternyata terjadi penurunan jumlah kejadian bunuh diri dengan sangat signifikan. Warna hijau jugabisa menjadikan pandangan mata nyaman.Sumber:Kitab: Ma'a Al-Thib fii Al-Qur'an Al-Karim,dari. Abdul Hamid Diyab, dari. Ahmad Qarquz, Mu'assasah Ulum Al-Qur'an, Dimasyq."Ada banyak kata "hijau" di dalam ayat-ayat Al-Qur'an dan menjelaskan akan keadaan penghuni jannah ataupun segala yang ada di sekelilingnya, serupa kenikmatan, suasana, kesenangan, ketenangan jiwa. Kita mendapati di dalam surat Al-Rahman :"Mereka bertelekan (bertelekan: tiduran menyamping, tubuh lurus, dengan salah satu tangannya dilipat dan telapak tangannya menyangga kepala -pent) di atas bantal-bantal yang hijau dan permadani yang indah"(QS. Al-Rahman: 76)"Mereka mengenakan pakaian sutra halus yang hijau,dan sutra tebal, serta dipakaikan gelang dari perak kepada mereka. Dan Rabb mereka memberi minum mereka dengan minuman yang suci"(Q.S. Al-Insan: 21)Posted by Kisah7900 at 3:11 PMLabels: Senyum Sebuah Bicara
sumber : http://kisah7900.blogspot.com/2009/06/ada-apa-dengan-hijau.html

Senin, 17 Agustus 2009

GLOBALISASI ISLAM: MENUJU PERADABAN BARU DUNIA

Written by Syamsudin Kadir   
Thursday, 09 July 2009 17:29

Oleh: Syamsudin Kadir
(Kaderisasi KAMMI)<crescentPerkembangan peran-peran gerakan islam dalam perbaikan masyarakat, negara bahkan dunia semakin menuai hasil, terutama dalam pembentukan pandangan publik yang islami. Tesis ini memang seakan tidak populer, terlebih jika tidak ditopang oleh contoh nyata dalam realita kebangsaan dan dunia secara global. Atau dalam istilah lain, tesis ini hanyalah mimpi yang tidak realistis, tepatnya belum realistis. 

          Pembahasan ini tidak bermaksud merumitkan diri kita dalam berdialog dan mendiskusikan defenisi gerakan islam, tapi ingin mencoba memahami sebuah tema penting yang kini sering didialogkan oleh banyak kalangan, yaitu globalisasi. Berbicara tentang globalisasi dan gerakan islam, yang terlintas dalam benak kita adalah pertama bisa jadi kesan pertentangan dan pertarungan, ada hitam dan ada putih. Tidak ada wilayah abu-abu. Untuk itu, globalisasi dan varian-variannya masih menjadi tema yang terus didialogkan oleh berbagai kalangan. Karena itu juga, pembahasan berikut bisa menjadi ide sekaligus sebagai prespektif dialog yang mesti kita lanjutkan.

          Dalam konteks peradaban Barat, bisa dikatakan bahwa globalisasi merupakan lanjutan dari Perang Dingin, atau globalisasi bisa dianggap sebagai sebuah periode sejarah. Selanjutnya dari sisi globalisasi sebagai fenomena ekonomi. Di mana globalisasi disifati sebagai rangkaian fenomena ekonomi. Ia mencakup liberalisasi, privatisasi dan lain-lain. Lalu apa yang salah dengan globalisasi? Cara terbaik untuk memahami defenisi Globalisasi –dalam hal ini konteksnya Kapitalisme- ialah dengan menelaah buku karya Frances Fukuyama, The End of History and The Last Man The End of History and The Last Man, yang terjemahan Bahasa Indonesianya sudah diterbitkan oleh Penerbit Qolam.

          Akhir Perang Dingin merepresentasikan hasil dari pertarungan ideologis yang dimulai sejak usainya Perang Dunia II. Hal itu menandai difusi dan asimilasi kemampuan teknologi, finansial dan institusi Barat, khususnya Amerika. Dalam defenisi ini, globalisasi secara normatif adalah sesuatu yang baik, yang mempresentasikan kemenangan modernisasi dan demokrasi yang didefenisikan sebagai ‘pembangunan ekonomi industri yang melibatkan karakteristik keterlibatan aparat negara yang terbatas, konsep perwakilan dalam pemerintahan dan konsep kebebasan dalam kehidupan.’ Dalam hal ini orientalis, tokoh dan ilmuwan ‘Barat’ menyebutnya dengan istilah Universalitas Barat.

          Pada perbincangan global, globalisasi sering diidentikkan dengan sebuah pemikiran ideologi kapitaslisme yang komprehenship dan meliputi segenap aspek kehidupan, meskipun aspek yang menonjol adalah ekonomi. Globalisasi sering dipahami sebagai serangan total peradaban kapitalisme yang melanda seluruh pelosok dunia –termasuk dunia islam– dan merupakan serangan yang sangat ganas dan mematikan dengan senjata kapitalisme untuk melumpuhkan seluruh bangsa di dunia, termasuk kaum muslimin.

          Sebagai ideologi, kapitalisme memiliki azas dan metode. Azas atau bisa disebut juga sebagai landasan dari kapitalisme adalah sekulerisme, yaitu sebuah pemahaman yang memisahkan antara agama dari kehidupan, tepatnya kehidupan publik. Artinya, kapitalisme percaya bahwa Tuhan itu ada dan menciptakan dan menurunkan wahyu, tetapi itu hanya untuk mengurusi agenda-agenda keagamaan. Dan karenanya, ia tidak bisa dibawa ke dalam kehidupan politik, ekonomi, sosial, budaya atau aspek-aspek publik lainnya. Ini juga bermakna bahwa agama hanya mengatur urusan antara manusia dengan Tuhannya, cukup di situ dan ‘haram’ untuk mengurusi yang lain. Jika pemaknaan globalisasi dipahami seperti ini, maka berdasarkan pandangan dan doktrin-doktrin islamnya sebagian besar umat islam sepakat bahwa ini mesti tidak dijadikan sebagai paradigma atau identitas umat.

          Terlepas dari adanya dinamika diskusi dan keragaman pendapat seputar globalisasi, dalam konteks diskusi dan dialog, sebenarnya sangat sulit untuk menempatkan globalisasi dalam satu kerangka intelektual yang homogen, sebab ia didiskusikan dan didialogkan oleh banyak orang dengan latar belakang yang heterogen.

 

Obsesi Islam Merebut Identitas Global 

          Islam adalah agama global dan universal. Tujuannya adalah menghadirkan risalah peradaban islam yang sempurna dan menyeluruh, baik secara spirit, akhlak maupun materi. Di dalamnya, ada aspek duniawi dan ukhrowi yang saling melengkapi. Keduanya adalah satu kesatuan yang utuh dan integral. Universalitas atau globalitas islam menyeru semua manusia, tanpa memandang bangsa, suku bangsa, warna kulit dan deferensiasi lainnya. Hal ini dijelaskan Allah SWT. dalam al-Qur’an,

”Al-Qur’an itu hanyalah peringatan bagi seluruh alam”. (Qs. at Takwir:27)

          Semenjak abad VII H., nabi Muhamad SAW. sudah menerapkan konsep globalisasi dalam berbagai aspek kehidupan. Misalnya ketika beliau mengirim utusannya membawa surat-surat beliau kepada para raja dan para pemimpin di berbagai negara tetangga. Di antara para raja dan pemimpin itu adalah Raja Romawi dan Kisra Persia. Dengan demikian, ketika beliau wafat maka seluruh bangsa Arab sudah mampu meneruskan globalisasi yang telah dirintis oleh beliau. Perlu dipahami bahwa globalisasi islam berangkat dari kesatuan antara tataran konseptual dan tataran aktual, dan ini merupakan salah satu keistimewaan islam. Bahkan menurut Fathi Yakan, globalisasi islam memiliki keistimewaaan-keistimewaan, yaitu: 

  • Memiliki keseimbangan antara hak dan kewajiban
  • Membangun suatu masyarakat yang adil dan memiliki kekuatan
  • Memiliki landasan atau konsep kesetaraan manusia tanpa diskriminasi, baik status sosial, etnis, kekayaan, warna kulit dan sejenisnya
  • Menjadikan musyawarah sebagai landasan sistem politik
  • Menjadikan ilmu sebagai kewajiban bagi masyarakat untuk mengembangkan bakat-bakat kemanusiaan dan lain-lain

          Demi kepentingan cita dan kreasi-kreasi jangka panjang yang lebih substansial, umat islam harus memahami globalisasi tidak dalam kerangka kekuasaan yang berpusat pada satu pihak.  Sebagaimana globalisasi tidak harus diapahmi sebagai hegemoni ekonomi dan kekuatan militer semata. Adalah terlalu optimis jika umat islam melihat dunia sebagai satu kesatuan. Atas nama masa depan yang lebih baik dan pemaknaan secara substansial atas nilai-nilai islam dalam cita idealis menyusun peta baru dunia, kita sebagai umat islam juga punya alasan untuk bisa menikmati globalisasi, tentu sesuai dengan defenisi yang tidak bertabrakan dengan framework  kita. 

 

Globalisasi Islam: Sebuah Kesadaran Sejarah

          Globalisasi yang kita pahami adalah globalisasi islam. Dalam kerangka filosofis keumatan, kita harus memahami bahwa islam adalah aturan universal yang bisa menjangkau dunia. Ia bisa melampaui ruang dan waktu, dan tak terbatasi. Globalisasi islam adalah proses mengglobalkan nilai-nilai universalitas, seperti toleransi, kebersamaan, keadilan, kesatuan, musyawarah dan lain-lain. Yang terpenting untuk dipahami bahwa bagi umat islam standarnya bukanlah berpijak pada pemenuhan kebutuhan ekonomi, politik dan keserakahan budaya. Karena pijakannya yaitu wahyu, dan orientasinya adalah sebuah upaya totalitas dalam kebaikan, ketegasan untuk menegasikan kemungkaran demi cita-cita luhur penghambaan kepada Allah semata. Inilah yang kita istilahkan dengan cita-cita peradaban. Dalam hal ini teori Kuntowijoyo berada pada posisinya yang tepat. Kuntowijoyo mengistilahkannya dengan liberasi dan humanisasi yang dibingkai oleh nilai-nilai transendensi. Hal ini bisa dicermati pada isyarat Allah dalam Qs. Ali Imran ayat 110,

”’kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah...”.

          Ayat tersebut memberi isyarat kepada kita mengenai arti kesadaran sejarah bagi umat islam, yaitu yang diistilahkan oleh Kuntowijoyo sebagai aktivisme sejarah. Artinya, umat islam mesti terlibat dalam pergulatan sejarah.

          Jadi, pelakunya adalah ’umat’, dan tingkah lakunya adalah ’menyuruh kepada yang ma’ruf’, ’mencegah dari yang mungkar’, dan ’beriman kepada Allah’. Menurut Kuntowijoyo, dalam konteks masa kini, ’menyuruh kepada yang ma’ruf’ akan berarti humanisasi dalam budaya, mobilitas dalam kehidupan sosial, pembangunan dalam ekonomi dan rekulturasi dalam politik.

          ’Mencegah dari yang mungkar’ berarti berusaha memberantas kejahatan. Misalnya, pelarangan penjualan narkotika, pemberantasan korupsi dan lain-lain. Itu juga berarti liberasi dalam kehidupan sosial, ekonomi dan politik. Theology of Liberation dalam islam dapat diambil dari ayat ini. Liberasi adalah pendekatan revolusioner, yang dalam konteks Indonesia masa kini biaya sosialnya terlalu mahal, sehingga jalan ini sulit ditempuh. Karena itu, umat islam hanya mengambil substansinya, yaitu usaha yang sungguh-sungguh. Revolusi biasanya berarti kekerasan, pembunuhan dan perusakkan. Dalam islam ada larangan berbuat kerusakan, sehingga revolusi negatif mesti dihindari.

          ’Beriman kepada Allah’ berarti transendensi. Dalam dunia yang penuh kejolak materialisme, sekularisme, liberalisme dan pluralisme seperti saat ini, kedudukan transendensi menjadi penting. Umat islam mempunyai kepentingan untuk memasukkan kesadaran spiritual dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam level nasional bahkan sampai pada level global.

          Kesadaran sejarah seperti ini berarti keterlibatan secara aktif dalam rekayasa sosial global, berarti juga kesadaran kenabian atau kesadaran profetik.

          Kemudian, apa yang mesti difokuskan oleh umat islam khususnya gerakan pemuda islam dalam menjemput impian itu? Kita mesti menyadari sebuah realita bahwa ada jarak yang terbentang jauh antara wacana pemikiran bahkan nilai islam dengan realitas umatnya, termasuk generasi mudanya. Sehingga semakin jauh jarak dan masih panjang waktu yang ditempuh umat ini sampai kepada takdir kejayaannya. Artinya, tesis yang mengatakan bahwa kemenangan merupakan hadiah yang pasti datang, akan terlambat bahkan tidak akan datang jika syarat takdirnya tidak dipenuhi secara matang.

          Untuk itu, sebelum melakukan langkah-langkah strategis lain, yang mesti dilakukan oleh generasi muda islam adalah tertuju kepada realitas itu, bahwa harus ada pemetaan yang jelas dan akurat tentang realitas umat, baik realitas historisnya maupun realitas kekiniannya, dan dengan melakukan perbandingan-perbandingan  sejarah, (yang kemudian) dari situlah kita bisa merumuskan agenda-agenda kebangkitan yang mesti kita tunaikan.

          Dalam konteks itu, beberapa hal berikut menjadi layak untuk dijadikan sebagai agenda mendesak yang mesti kita fokuskan.

Pertama; Penguasaan atas referensi keislaman

          Jika membaca kisah kenabian Muhamad Saw. dan generasi utama setelah beliau ternyata banyak pesan historis yang sangat luar biasa. Sehingga sampai saat ini kita bisa melihat dan merasakan bagaimana islam itu berkembang pesat, bahkan kita juga bisa menikmatinya secara tulus. Dan yang menjadi energi tangguh sekaligus sebagai tolak ukur kemajuan pada masa itu adalah penguasaan atas referensi utama keislaman. Coba kita bayangkan bagaimana cerdasnya ‘Aisyah ra. yang bisa menjadi referensi para sahabat yang lain ketika Rasulullah Saw. meninggal. ‘Aisyah ra menjadi referensi ilmu yang sangat luar biasa pada umur belasan tahun. ‘Aisyah ra. tentu tidak begitu saja menjadi referensi. Karena itu, ’Aisyah ra. pasti memiliki kapasitas pengetahuan yang sangat luar biasa. Demikian juga sahabat Abu Bakar ra., Umar ra., Utsman dan Ali ra.

          Kisah berikut akan mengingtkan kita mengenai sebuah kekuatan yang menunjang ketangguhan peradaban islam pada zaman sahabat. Suatu saat Ali bin Abi Tholib ra. didatangi beberapa orang dan menanyakan mana yang lebih mulia antara ilmu dan harta. Ali ra. menjawab: ’Lebih mulia ilmu. Ilmu menjagamu, harta kamu harus menjaganya. Ilmu bila kamu berikan bertambah, harta berkurang. Ilmu warisan para Nabi, harta warisan Fir’aun dan Qarun. Ilmu menjadikan kamu bersatu, harta bisa membuat kamu berpecah belah....’. Dalam sejarah hidupnya Ali ra. –juga Abu Bakar ra., Umar ra., Ibnu Abbas ra. dan para sahabat yang lain—lebih menyibukkan diri mencari ilmu, berdakwah dan berjihad daripada sekedar mengumpulkan berkarung-karung uang atau emas. Utsman bin Affan ra. dan Abdurrahman bin ’Auf ra. yang terkenal dengan kekayaannya pun selalu ingin mendengar ilmu dari Rasulullah saw., meskipun mereka adalah milyarder yang sukses dalam berbisnis.

          Generasi yang berilmu atau tradisi membangun masyarakat berilmu ini telah diproklamirkan Rasulullah Saw. semenjak ayat al-Quran yang pertama turun. Ayat Iqra’, bacalah, telah mengubah sahabat-sahabat Rasulullah Saw. dari orang-orang jahiliyah yang suka mabuk-mabukan, main perempuan, berleha-leha, menipu, egois dengan harta kekayaan menjadi orang-orang yang senang dengan ilmu pengetahuan dan berakhlak mulia. Mengubah generasi-generasi Arab jahiliyah yang tidak diperhitungkan dalam pergolakan dunia, menjadi pemimpin-pemimpin dunia yang disegani di seluruh kawasan dunia saat itu.

          Tradisi baca, tulis-menulis dan diskusi begitu hidup saat itu. Tiap ayat al-Quran turun, Rasulullah Saw. memerintahkan kepada sahabat dekatnya untuk menulis, Zaid bin Tsabit ra., Ali bin Abi Thalib ra. dan lain-lain. Bahkan tradisi membaca dan menulis ini menjadi simbol kemuliaan seseorang. Rasulullah SAW. bahkan menugaskan Abdullah bin Said bin al-Ash ra. untuk mengajarkan tulis menulis di Madinah. Juga memberi mandat Ubadah bin as Shamit ra. mengajarkan tulis menulis ketika itu. Kata Ubadah ra., bahwa ia pernah diberi hadiah panah dari salah seorang muridnya, setelah mengajarkan tulis menulis kepada Ahli Shuffah. Sa’ad bin Jubair ra. berkata: “Dalam kuliah-kuliah Ibn Abbas, aku biasa mencatat di lembaran. Bila telah penuh, aku menuliskannya di kulit sepatuku, dan kemudian di tanganku. Ayahku sering berkata:” Hapalkanlah, tetapi terutama sekali tulislah. Bila telah sampai di rumah, tuliskanlah. Dan jika kau memerlukan atau kau tak ingat lagi, bukumu akan membantumu.” (lihat Prof. Mustafa Azami, 2000)

          Semangat mereka dalam memburu ilmu pengetahuan makin tinggi, berkat pemahaman terhadap al-Quran yang banyak ayat-ayatnya mendorong agar umat islam senantiasa menggunakan akalnya. Ibnu Taimiyah rohimallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa banyak sahabat yang tinggal di asrama untuk mengikuti madrasah Rasulullah SAW. Menurut Ibnu Taimiyyah, jumlah orang yang tinggal di dalam Suffah (asrama tempat belajar), mencapai 400 orang.

          Menurut Prof. Azami, Rasulullah Saw. mempunyai sekitar 65 sekretaris yang bertugas menulis berbagai hal khusus. Khusus menulis al-Quran: Ali bin Abi Thalib ra., Zaid bin Tsabit ra., Utsman bin Affan ra. dan Ubay bin Ka’ab ra. Khusus mencatat harta-harta sedekah: Zubair bin Awwam ra. dan Jahm bin al Shalit ra. Masalah hutang dan perjanjian lain-lain: Abdullah bin al Arqam ra. dan al Ala’ bin Uqbah ra. Bertugas mempelajari dan menerjemahkan bahasa asing (Suryani): Zaid bin Tsabit ra. Sekretaris cadangan dan selalu membawa stempel Nabi: Handhalah ra. (Lihat “Kuttabun Nabi”, Prof. Mustafa Azami)

          Generasi selanjutnya, seperti Jabir ibn Abdullah ra. menempuh perjalanan sebulan penuh dari kota Madinah ke kota ‘Arisy di Mesir hanya demi mencari satu Hadits. Ibnu al-Jauzi ra. menulis lebih dari seribu judul. Imam Ahmad ra. pernah menempuh perjalanan ribuan kilomater untuk mencari satu hadits, bertani untuk mencari rezeki dan masih membawa-bawa tempat tinta pada usia 70 tahun. Imam al-Bukhari ra. menulis kitab Shahih-nya selama 16 tahun dan selalu sholat dua raka’at setiap kali menulis satu hadits, serta berdo’a meminta petunjuk Allah SWT. Sehingga karyanya menjadi contoh teladan, tujuan para ulama dan pemuncak cita-cita. Imam Nawawi ra. (wafat 676 H), penulis Kitab Riyadhush Shalihin, al-Majmu’, dan Syarah Shahih Muslim, disebutkan bahwa beliau setiap hari belajar 8 cabang ilmu dari subuh sampai larut malam.

          Dalam masalah tradisi ilmu ini, Prof. Wan Daud menyatakan bahwa kejayaan atau kejatuhan suatu bangsa tergantung pada kuat atau tidaknya budaya ilmu pada bangsa itu. “Pembinaan budaya ilmu yang terpadu dan jitu merupakan prasyarat awal dan terpenting bagi kesuksesan, kekuatan dan kebahagiaan seseorang dan suatu bangsa. Suatu individu atau suatu bangsa yang mempunyai kekuasaan atau kekayaan tidak bisa mempertahankan miliknya, atau mengembangkannya tanpa budaya ilmu yang baik. Malah dia akan bergantung kepada orang atau bangsa lain yang lebih berilmu. Kita telah melihat sendiri betapa beberapa negara minyak yang kaya-raya terpaksa bergantung hampir dalam semua aspek penting kehidupan negaranya kepada negara lain yang lebih maju dari segi keilmuan dan kepakaran. Sedangkan unsur lain, yaitu harta dan tahta, bersifat eksternal dan sementara. Keduanya bukanlah ciri yang sejalan dengan diri seseorang atau suatu bangsa tanpa ilmu yang menjadi dasarnya. Sebaliknya jika ilmu terbudaya dalam diri pribadi dan masyarakat dengan baik, maka bukan saja bisa mempertahankan dan meningkatkan lagi keberhasilan yang ada, malah bisa memberikan kemampuan untuk memulihkan diri dalam menghadapi segala kerumitan dan tantangan,” papar Guru Besar ISTAC Malaysia ini.

          Hanya orang-orang yang rabun pemikirannya yang menyatakan bahwa kejayaan atau kemunduran suatu individu atau bangsa karena harta atau kekayaan materi semata. Bangsa Brunei, Kuwait dan Arab Saudi yang kaya raya, kenyataannya tidak menjadi bangsa yang hebat, maju atau disegani dunia. Orang-orang ‘Barat’ dengan pengetahuannyalah, yang ‘menyetir’, mengeksplorasi sumber-sumber daya alam yang kaya di Saudi, Kuwait dan lain-lain. Bahkan juga bisa dibilang ekonomi dan politiknya.

          Tentu, kejayaan ilmu sekuler, meski bisa menguasai teknologi dan peradaban manusia, ia tidak dapat memberikan kebahagiaan jiwa manusia. Karena landasan keilmuan mereka memang dibangun dari kegelisahan jiwa, keragu-raguan dan tidak pernah mengalami keyakinan. Sehingga kita lihat meski telah mengalami kemajuan teknologi, ‘Barat’ tidak dapat mengobati penyakit jiwa manusia. Banyak orang ‘Barat’ yang pintar tapi jahat atau pintar tapi curang, culas dan lain-lain. Seperti sistem ekonomi dan politik dunia yang bekerja saat ini pun yang dibangun dengan penjajahan atas Iraq, Palestina, Afghan dan pemiskinan negara-negara berkembang melalui World Bank, PBB, IMF dan lain-lain.

          Penguasaan individu atau masyarakat kepada ilmu pengetahuanlah yang akan mengantarkan kejayaan sebuah bangsa. Teori Kuntowijoyo, pengilmuan islam, berada pada posisinya yang tepat. Peradaban Islam yang berdiri ribuan tahun telah membuktikan semuanya. Dan kini kita meninggalkan jejak, sejarah dan budaya kita sendiri, meniru-niru jejak ‘Barat’ yang mengagung-agungkan materi dan keduniaan.

          Padahal al-Quran mengingatkan bahwa persatuan atau kemajuan bangsa yang sejati adalah dengan aqidah Islam, bukan dengan harta benda semata. Allah SWT. berfirman,

“Walaupun kamu membelanjakan (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. al-Anfal: 63)

          Dalam kancah modern, tepatnya abad 20, kita bisa membaca sejarah perkembangan gerakan dakwah Ikhwanul Muslimin. Salah satu keunggulan gerakan ini pada awal-awal pendiriannya adalah kontribusi tokohnya, Hasan al-Banna. Kontribusi beliau adalah mengubah wacana menjadi sebuah gerakan. Yang beliau lakukan adalah mengkaji ulang referensi utama islam: al-Qur’an dan as-Sunnah, untuk kemudian mencoba menemukan ruh islam dari kedua sumber tersebut. Setelah itu beliau mengkaji ulang  sejarah kaum muslimin dan kemudian membandingkannya dengan sejarah-sejarah umat lain. Dari referensi normatif (al-Qur’an dan as-Sunnah) dan referensi emperis (sejarah peradaban islam dan peradaban lainnya serta realitas kekinian umat islam dan umat lainnya), beliau kemudian menyusun ulang sebuah anasir (semacam proposal) yang diperlukan oleh umat islam untuk bangkit kembali.

          Pelajaran penting dari fenomena-fenomena tersebut adalah bahwa dalam dunia yang penuh dengan kreasi ini, penuh dengan tantangan yang mengglobal seperti saat ini, yang harus kita lakukan adalah merasionalisasikan pemahaman yang kita yakini secara terbuka yang dilandasai oleh ‘penguasaan’ atas ilmu pengetahuan atau kemampuan ‘mendialogkan islam’ secara global dengan bahasa zamannya. Sehingga ketika melangkah itu dengan kepastian, ketika bersikap itu dengan ketegasan tanpa ragu sedikitpun. Dan peran ‘berani tampil’ ini merupakan langkah cerdas yang lebih kontekstual dengan kondisi manusia saat ini. Karena tampilannya adalah tampilan yang mengedepankan kewarasan intelektual dan bukan emosional semata. Untuk selanjutnya, biarlah dunia menonton dan segera menjadikan islam sebagai referensi utama peradabannya.

          Kita berharap, suatu saat dunia akan mencatat bahwa sebuah fenomena luar biasa yang terjadi di abad 21, pada saat globalisasi kapitalisme mulai runtuh, akan tumbuh sebuah peradaban yang diawali oleh membudayanya tradisi intelektual di kalangan umat islam, khusunya generasi mudanya. Suatu saat sejarah akan mencatat, ‘Barat’ takut dan bahkan bertekuk lutut di hadapan peradaban islam. Manusia dalam sejarah masa depan juga akan bertanya, apa penyebabnya? Maka sejarah akan memberikan jawaban dengan mengatakan ‘salah satu penyebabnya adalah ketegasan umat islam dalam bersikap. Ketegasan sikap ini dibentuk oleh kultur intelektual yang ‘menjelajahi’ ruang-ruang pikiran umat islam terutama mahasiswanya; generasi mudanya. Sehingga ketika mereka mengeluarkan sikap keumatan dalam konteks peradaban, itu dilakukan dengan mengambil intisari teori-teori keilmuan yang realistis dengan kebutuhan zamannya.’

          Yang jelas, kebangkitan umat islam akan menjadi catatan sejarah dengan berbagai dinamika yang memiliki syarat-syaratnya tersendiri; yang tanpa itu kebangkitan hanya sekedar menjadi wacana dan tidak akan pernah ada dalam realitas kehidupan dan sejarah. Untuk itu, yang kita lakukan adalah merumuskan syarat-syarat itu, agar proposal kepemimpinan umat yang sering didengungkan bisa diwujudkan sesegera mungkin.

Kedua; Penyiapan cadang kepemimpinan

          Penyiapan cadang kepemimpinan tentu mengarah kepada kaderisasi atau regenerasi dan penyolidan simpul-simpul umat dan anak bangsa. Mengenai kaderisasi kepemimpian cukup banyak hal yang mesti difokuskan. Tetapi sebagai gagasan awal penjelasan pertama bisa dijadikan sebagai rujukan; terutama sebagai  upaya mengubah wacana menjadi gerakan. 

          Yang jelas, generasi muda mesti menceburkan diri dalam realitas umat. Generasi muda harus membawa diri ke ruang-ruang komunitas umat secara langsung. Hidup bersama mereka, memberikan pengarahan atas apa yang mereka bingungkan, memberikan jawaban atas apa yang mereka tanyakan. Sehingga yang terjadi adalah pembentukan pola pikir, pola tingkah, pola sikap dan seterusnya; dan tidak berhenti pada komunikasi dan hubungan berdasarkan kepentingan sesaat.

          Adapun mengenai, penyolidan simpul-simpul umat, ada banyak hal yang mesti kita pikirkan bersama. Kita perlu bersyukur bahwa selain sebagai negeri yang bermayoritas muslim terbesar, Indonesia juga memiliki banyak keunikan lain. Kita memiliki banyak komunitas, lembaga atau organisasi kemasyarakat islam, baik yang fokus dalam masalah-masalah sosial, pendidikan, kesehatan maupun yang lainnya. Baik yang berada di ruang lingkup masyarakat secara langsung maupun di ruang lingkup pelajar dan mahasiswa. Ini semua adalah kekayaan sekaligus sebagai khazanah yang sangat luar biasa. Kita tentu berharap semua elemen-elemen umat bersatu padu dalam bingkai yang sama yaitu ukhuwah islamiyah, dengan agenda bersama membangun peradaban baru dunia dengan islam, yang diawali dari penyatuan seluruh elemen umat dalam merekayasa kebangkitan negeri ini.

          Artinya, Indonesia harus menjadi inisiator sekaligus pelaku utama kebangkitan islam dalam merekayasa peta baru peradaban dunia. Jika ini yang menjadi titik tolak obsesinya, maka dalam waktu yang tidak lama kebangkitan islam akan menjadi kenyataan, dan itu berawal dari Indonesia. Negeri ini adalah sebuah negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia. Karena itu, negeri ini idealnya mesti menjadi pelaku utama dalam meretas peran-peran besarnya sebagai juru bicara kebaikan-kebaikan Islam di belahan dunia.

Ketiga; Penguatan diplomasi dan jaringan

          Kalau kita membaca sejarah kenabian Muhamad Saw., maka kita akan mendapatkan catatan penting bahwa kekuatan jaringan dan masifikasi diplomasi adalah dua hal yang menyatu dan tak terpisahkan dalam agenda perjalanan dakwahnya. Dengan dua kekuatan ini Rasulullah SAW. dan para sahabatnya mampu membangun sebuah peradaban besar sampai Madinah. Beliau dan para sahabatnya menjalin hubungan politis, ekonomis bahkan lintas budaya dengan berbagai suku dan tokoh-tokoh yang ada. Dari sini bisa kita pahami bahwa awal penyebaran islam diskenario oleh manusia-manusia yang sangat unggul dalam diplomasi untuk membumikan islam. Selain itu, tentu mereka juga memiliki keluasan jaringan. Sehingga sampai saat ini kita bisa melihat bagaimana islam itu berkembang dan diakui bahkan diyakini oleh banyak manusia sebagai satu-satunya ‘dien’ yang mampu menyeting peradaban untuk waktu yang cukup lama.

          Dalam konteks ke-kini-an, terutama terkait dengan bacaan kita terhadap realitas dalam cita-cita merebut identitas global dengan Islam, maka hal ini menjadi penting dan harus menjadi pikiran seluruh elemen umat dan bangsa ini. Bangsa Indonesia, khususnya umat islam harus memulai dan lebih serius merambah ke ranah-ranah ini. Untuk itu jugalah, kemampuan berbahasa asing menjadi penting. Kita mesti terharu dan perlu bangga dengan diadakannya Lomba Debat Bahasa Arab se-Asean pada pertengahan Juli 2007 lalu di Malaysia yang diselenggarakan oleh Universitas Sains Islam Malaysia dengan tema “Menjadikan Bahasa Arab sebagai Bahasa Ilmu Pengetahuan dan Diplomasi”. Waktu itu Indonesia diwakili oleh Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Islam Negeri Malang dengan prestasi juara III, setelah diungguli oleh ‘utusan’ kawakan intelektual muslim dari Universitas Islam Antara Bangsa yang sudah biasa dengan belasan bahasa Asing seperti Bahasa Arab, Inggris, dan Mandarin. Selain itu, kita juga mesti bangga dengan kunjungan aktivis mahasiswa muslim yang tergabung dalam Gabungan Mahasiswa Islam Se-Malaysia (GAMIS) ke KAMMI Daerah Bandung Jawa Barat, 3-5 Juli 2008 yang lalu. Walaupun pertemuannya sederhana, namun banyak hal yang dibicarakan, termasuk masalah pengkaderan dan obsesi gerakan pemuda islam dalam menata peta baru dunia. Ini merupakan awalan bagi pemuda dan mahasiswa muslim Asia Tenggara dalam menunjukkan identitas peradaban yang telah lama dilupakan. Ini juga menunjukkan bahwa ke depan aktivis gerakan pemuda dan mahasiswa muslim, harus mau melakukan komunikasi terbuka dengan gerakan pemuda dan mahasiswa muslim di tingkat dunia.

          Yang jelas, saat ini islam sudah mulai berkembang dan mengambil posisi strstegis dalam kancah dialog global. Islam sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari identitas peradaban politik global yang sangat kental. Kita berharap fenomena semaraknya umat islam kembali kepada islam benar-benar menjadi kecemasan kolektif ’Barat’, setidaknya dengan kecemasan Lord Cambell di Inggris pada tahun 1902 tentang akan terbitnya matahari islam atau ketika Samuel P. Huntington mengingatkan masyarakat Barat akan ancaman konflik peradaban dalam skala masif antara ’Barat’ dengan Islam dan antara ’Barat’ dengan aliansi Islam-China, sebagaimana yang dijelaskan dalam bukunya The Clash of Civilization.

          Untuk mempertajam pemahaman kita mengenai beberapa hal di atas, alangkah baiknya jika kita merenungi pesan gerakan di balik keunikan firman Allah dalam  Qs. al-Hasyr:13,

“Sungguh eksistensi kalian sangat ditakuti di dalam sanubari mereka ketimbang (takut) pada Allah. Hal itu (tiada lain) karena mereka adalah kaum yang tidak faqih.”

          Ayat ini menurut Rijalul Imam (2008:5-6), menjelaskan bahwa ’eksistensi ummat yang disegani tersebut tiada lain karena ketidakfaqihan (ketidakmengertian) musuh-musuhnya. Musuh yang tidak memahami lawannya akan merasa takut pada lawannya. Dalam konteks peradaban -bisa dikatakan- bahwa peradaban yang tidak menguasai lawan peradabannya akan merasa takut pada lawannya yang menguasai peradabannya secara utuh.’

          Melalui ayat tersebut juga bisa dipahami bahwa rahasia kekuatan umat islam terletak pada mafhum mukhalafah (pemahaman kebalikan) dari akhir ayat tersebut, yakni kefaqihan ummat pada agamanya. Kuncinya ada pada al-fiqh. Yang dimaksud al-fiqh di sini bukanlah fiqih dalam terminologi ilmu hukum Islam semata. Lebih dari itu, al-fiqh  sesuai dengan makna dasarnya adalah al-fahmud-daqiq atau pemahaman yang mendalam mengenai substansi dan berbagai sisi agama dan peradabannya. Jadi mengetahui (al-‘ilm) saja tidak cukup, perlu ditingkatkan ke level memahami (al-fahm). Tapi memahami juga tidak cukup, perlu pendalaman hingga pada tingkat pemahaman yang mendalam (al-fiqh) atau al-fahmud-daqiq.Renungan Akhir; Setiap masyarakat dan peradaban memiliki nilai-nilai yang diyakini. Kedudukan nilai dalam sebuah sebuah komunitas atau dalam tatanan global sekalipun bukan sekedar sebagai pemandu tetapi juga sebagai pemberi arti bagi kreativitas yang dilakukan. Nilai yang mengahrmonisasikan keragaman yang terdapat dalam sebuah tatanan seharusnya menjadi sebuah panorama kehidupan yang indah. Posisi nilai yang begitu penting, maka ia selalu melekat kuat dalam kehidupan. Ia menjadi tradisi yang tidak dapat dipisahkan dari totalitas hidup pengusungnya. Nilai yang sudah tertanam dalam jiwa dan mentradisi itu menjadi energi yang mendorong seseorang atau sebuah komunitas untuk selalu bertekad dalam menegakkan dan bahkan membelanya.; Dalam konteks cita merebut identitas global, identitas nilai yang dimaksud adalah nilai ke-universalitas-an islam. Kemampuan untuk menyukseskan agenda ini adalah ujian sekaligus (seharusnya) menjadi fokus setiap elemen umat islam yang harus memilih jalan ini. Sehingga dengan demikian proposal meretas jalan kebangkitan Islam sebagaimana yang ditawarkan oleh Hasan al-Banna seperti  yang disampaikan oleh Dr. Abdul Hamid al-Ghozali dalam bukunya ’Haula Asasiyat al Masyru’ al Islami Li Nahdhoh al-Ummah’ segera kita tunaikan. Untuk selanjutnya, biarkanlah sejarah yang akan bercerita, bahwa umat islam telah memberi hadiah peradaban gemilang kepada seluruh umat manusia di atas kemuliyaan islam yang sempurna; Allahu Akbar!le="text-align: justify;"sumber. http.www.kammi.jabar.com

Sabtu, 15 Agustus 2009

display qatar




ketika mendisplay kelas dengan nuansa kemerdekaan anak-anak kelas qatar bikin semacam mading di diepan pintu kelas. apa isinya coba. ternyata anak-anak sangat tidak suka dengan teroris, bahkan rani nulis : sby dalam bahaya cibubur terancam.....apa iya ya terserah yang penting kita semua ingin kemerdekaan yang SESUNGGUHNYA.........

Minggu, 09 Agustus 2009

Tarhib Ramadhan

Tarhib Ramadhan ETR PKS Ciangsana 9 Agustus `09 oleh Ust Andi Ihsan LC di Mesjid Sobarrahamah Ciangsana
    Rasulullah adalah qudwah yang semestinya akhlak dan perbuatannya dituruti. Beliau telah mentarbiyahi sahabat-sahabatnya dengan tarbiyah yang luar biasa

beliau bersabda  :"Sebaik-baik zaman adalah zamanku kemudian setelahnya,kemudian setelahnya....". Hal ini disebabkan apapun aktifitas semuanya bersumber dari

Rasulullah dan para sahabat selalu sami`na wa atha`na terhadap apa yang dilaksanakan Rasulullah, begitu Rasulullah berbuat, memerintantahkan dan berkata mereka

selalu mengikuti tanpa fikir panjang.
    Rasulullah bersabda "Allahumna bariklana fi Rajaba wa Sya`ban wa balighna Ramadhan". Rasulullah mengkondisikan para sahabatnya untuk bersuka cita

dan antusias menghadapi Ramadhan dan beliau menagngis ketika Ramadhan berakir mengingat apa Ramadhan tahun depan masih ada umur. Para sahabat juga begitu,

mereka begitu siap lahir bthin menymbut Ramadhan.
    Peristiwa-peristiwa yang terjadi di bulan Rajab:
a. Ditinggal wafat oleh paman dan istrinya, apalagi pamannya tidak sempat mengucapkan syahadah, ini menambah kesedihan Rasulullah. Dengan wafatnya Khadijah juga

    bukan problem yang ringan bagi Rasulullah terlebih terhadap tarbiyah para wanita. Khadijah sangat besar kontribusinya terhadap da`wah. Rasulullah berpesan khusus  

   mengenai tarbiyah wanita.
b. Isra` mi`raj, setelah masuk ke Sidhratul Muntaha, yng mana malaikat pun tidak bisa masuk ke sana.

    Ketika Baduy kencing di mesjid , Rsulullah membersihkan saja dulu padhal shabat telah marah. Itulah tarbiyah berbeda perlakuan terhadap sahabat yang

telah jadi kader. Baduy tersebut dibiarkan sampai selesai hajatnya, perlakuan ini menyentuh hati Baduy tersebut sehingga dia berkata :"Ya Rasulullah mintakan rahmat

kepada Allah untukmu dan aku saja".Jadi berbeda perlakuan terhadap kader dan yang belum kader, Rasul bisa saja keras kepada kader yang melakukan kesalahan tapi

tidak demikian bagi yang belum tahu.Hadits di atas adalah hadits berkenaan dengan tarbiyah, mempersiapkana diri kita. Ketika kita sudah tarbiyah maka langkah

selanjutnya juga melebarkan tarbiyah mulai dari tetangga terdekat atau saudara terdekat.
 
Keutamaan orang yang berpuasa, berarti mengikuti trbiyah Ramadhan dengan sungguh-sungguh :
a. Allah bergembira menatap orang yang gembira menyambut Ramadhan.
b. Orang yang berpuasa lebih harum bau mulutnya di sisi Allah, walaupun pada realitasnya terjadi sebaliknya, kosongnya perut bisa saja menimbulkan bau.
c. Malaikat memohonkan ampun kepada Allah untuk orang yang berpuasa.
d. Allah SWT memberikan syurga kepada orang yang berpuasa. Firman Allah :"Hai syurga Ku berdandanlah karena sebenatar lagi hambaKu yang berpuasa akan    

masuk".
e. Bila tiba akhir Ramadhan Allah menjauhkan orang yang berpuasa dari dosa-dosa dan Allah memberikan upah kepada orang yang berpuasa. Sahabat bertanya "Apa   

 itu lailatul qadar, jawab Rasul, Bukan tapi seperti pekerja yang mendapat upah".

Umar bin Khatab berkata :"Ada 6 perkara yang disembunyikan Allah SWT yaitu :
1. Allah menyembunyikan RedhaNya dalam kethaatan kepada AllahSWT, maka orang yang thaat ujian datang bertubi-tubi, dengan demikian dia semakin dekat kepada

    Allah SWT.
2. Allah menyembunyikan murkaNya di dalam kema`siyatan seorang hamba, tiba masanya baru tahu rasanya, sungguh murka Allah sangat keras.
3. Allah menyembunyikan malam lailatul qadar diantara malam-malam bulan Ramadhan, maka carilah diantara awal dan akhir Ramadhan tanpa berbeda antara malam-   

malamnya dengan cara mengontrol diri, banyak baca Qur`an, menangis mohon ampunan Allah dsb.
4. Allah menyembunyikan para waliNya/kekasih-kekasihNya di antara manusia-manusia lainnya.Maka jangan hina seseorang barangkali dia lebih baik atau barangkali   

dia waliNya.
   Suatu ketika seseorang berdo`a ketika itu sedang musim kering. Dalam do`anya dia berkata :"Ya Allah aku tidak akan mengangkat kepalaku sampai  Engkau   

menurunkan hujan...", sampai akhirnya Allah menurunkan hujan. Orang itu pun berlalu, Sofyan AsTsauri melihat kepergiannya dan membuntuti ternyata orang itu  dalah   

budak yang akan diperjulbelikan. Melihat hal itu Sofyan AsTsauri mau memerdekakanya. Seketika majikannya ditanyakan apa ada budak yang mau dijual, budak-    

budak di perlihatkan satu persatu diceritakan kelebihan dan kekuatanya. Sofyan As Tsauri bertanya lagi :"Apa tidak lagi?". Jawab majika tersebut :"Ada, tapi kurus   

dan sakit-sakitan harganya pun lebih murah". Tapi ulama salaf tersebut malahan membeli dengan harga lebih mahal. Jadi Allah telah menyembunyikan kekasihNya   

diantara para gembel yang bahkan dipandang sebelah mata.
5. Allah menyembunyikan kematian dalam umur manusia, maka selalulah mawas diri, orang yang mulia selalu bersiap-siap terhadap detik demi detik kematian.
6. Allah menyembunyikan shalatulwustha diantara shalat 5 waktu maka jaga shalat 5 waktu jama`ah mesjid.
Allah mendatangkan Ramadha sebagai Sharuttarbiyah. mari ambil ibroh dari sirh diatas untuk lebih  MENGOKOHKAN TARBIYAH kita. Wallahu`alam bissawab