Trinda Farhan S*:
Ramadhan dan Etos Kerja Muslim
Mesjid
Kalau diperhatikan aktivitas kaum muslimin di siang hari pada bulan Ramadhan, tersebar imej kurang baik di kalangan sebagian orang, bahwa Ramadhan adalah bulan istirahat dan bulan bermalas-malasan. Memang sering terjadi suatu fenomena kurang Islami, tatkala umat islam melewati bulan suci Ramadhan. Diberbagai kantor para karyawan seakan-akan kurang bersemangat dalam bekerja dengan alasan sedang puasa. Masjid dan mushala dipenuhi orang-orang yang bergeletakan untuk tiduran sambil bermalas-malasan.Kampus-kampus di berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta memotong jam perkuliahannya, 1 SKS yang biasanya setara dengan 50 menit tatap muka dipotong menjadi 40 atau 30 menit, dengan pertimbangan dosen dan mahasiswanya sedang berpuasa. Sehingga muncul kesan Ramadhan menurunkan produktivitas. Gejala negatif seperti ini terjadi karena sebagian umat Islam kurang memahami esensi bulan Ramadhan sebagai bulan Jihad. Kalau kita buka lembaran-lembaran sejarah Rasulullah dan kaum muslimin, banyak peristiwa besar jihad Rasulullah, sahabat dan umat Islam terjadi di bulan Ramadhan, di antaranya adalah: Perang Badar yang terjadi pada tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijrah.
Perang Badar yang dianggap sebagai perang terbesar dan kemenangan terbesar yang diraih umat Islam yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dakwah Rasulullah pada fase berikutnya. Kemudian Fathu Makkah (ditaklukkannya kota Makkah) terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke 8 Hijrah. Dan pada bulan Ramadhan tahun 584 H, Sholahuddin Al-Ayyubi mulai menyerang tentara salib di Siria dan berhasil mengusirnya, dan sangat banyak jihad-jihad penting umat Islam lain yang terjadi di bulan Ramadhan, bahkan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pun dilaksanakan di bulan Ramadhan.
Lalu kenapa terjadi ketimpangan fenomena antar generasi ini? Salah satu penyebab utamanya adalah lemahnya ‘etos’ kerja umat Islam saat ini. Kata etos ini berasal dari bahasa Yunani, dapat diartikan sebagai sesuatu yang diyakini, cara berbuat, sikap serta persepsi terhadap nilai bekerja. Atau etos dapat juga diartikan sebagai pandangan hidup (value, nilai) yang khas dari suatu golongan sosial. Sehingga ada yang mengartikan etos kerja sebagai semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok. Orang Jepang dikenal dengan orang yang maniak kerja, karena punya etos kerja yang dibayangi oleh budaya ajaran Shinto dan Zen Budha yang melahirkan semangat kerja Bushido dan Makoto yang artinya bersungguh-sungguh.
Sehingga dengan semangat ini mereka siap kerja keras mengeluarkan seluruh potensinya demi kesuksesan tugas yang diberikan padanya, bahkan siap mengundurkan diri (tanpa diminta) ketika merasa gagal dalam tugasnya. Lalu kenapa umat Islam harus ragu untuk mengakui bahwa jihad yang bersumber dari nilai-nilai iman adalah bagian dari etos kerja muslim? Iman yang tidak dapat dipisahkan dari jihad sesuai dengan firman Allah SWT, “sesungguhnya orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman dengan Allah dan Rasul-Nya. Kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah.
Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. Al Hujurat: 15). Dan barang siapa berjihad, maka sesunguhnya jihadnya itu untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah Maha Kaya dari seluruh alam. (QS. Al Ankabut: 6) Jihad yang bermakna sungguh-sunguh dengan mengeluarkan seluruh potensi yang dimiliki untuk mencapai cita-cita. Jihad sebagai etos kerja muslim karena bekerja merupakan kewajiban agama dalam rangka menjalankan perintah Allah dan menggapai ridha Allah SWT, sehingga kesadaran bekerja seperti inilah yang disebut jihad fi sabilillah.
Banyak ayat Al Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW yang menyampaikan arti penting amal/aktivitas/kerja dalam kaca mata Islam. Pertama, pengakuan yang diberikan Allah, Rasul-Nya dan orang mukmin terhadap amal/kerja orang beriman. Kedua, orang yang giat dan bekerja keras dalam mencari kehidupannya disamakan dengan orang yang jihad fii sabilillah. Ketiga, pengampunan dosa hari itu karena kelelahan bekerja seharian. Keempat, orang yang menuntut ilmu adalah fii sabilillah. Kelima, orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia mendapat shalawat dari seluruh penghuni langit dan seluruh penghuni bumi.
Dengan menjadikan jihad sebagai etos kerja muslim, maka Ramadhan tidak akan menurunkan produktivitas muslim. Bahkan sebaliknya, akan melipat gandakan produktivitas muslim karena Ramadhan adalah syahrul jihad,, bulan jihad. Dengan etos kerja jihad ini hari demi hari, jam demi jam bahkan detik demi detik para shoimin (orang yang puasa) akan disibukkan dengan aktivitas yang produktif. Kaum muslimin menjadi semakin bersemangat dalam beribadah kepada Allah, semakin bersemangat dalam bekerja mencari nafkah, semakin bersemangat dalam menuntut ilmu dan semakin bersemangat dalam mengajarkan ilmu dan kebaikan kepada orang lain. Wallahu a’lam bisshawwab.
Penceramah adalah Ketua DPW PKS Sumbar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar