Irsyad Syafar Lc MA*:
Ramadhan, Madrasah yang Agung dan Paripurna
Mesjid
Dalam dunia pendidikan sebuah sarana pendidikan haruslah mempunyai sebuah kurikulum atau disebut juga dalam bahasa arab dengan manhaj. Menurut para pakar pendidikan modern baik dari barat maupun dari timur (negara-negara arab) manhaj yang baik harus memiliki sekurang-kurangnya empat unsur. Keempat unsur tersebut adalah ; hadaf (target), muhtawa dan tanzhim (isi dan aturan), wasail (sarana) dan taqwim (evaluasi).Keempat unsur ini merupakan unsur yang asasi (terpenting) dalam sebuah manhaj. Ketiadaan satu unsur saja dalam sebuah manhaj maka dapat dikatakan manhaj tersebut manhaj yang fasyil (gagal), yang tidak dapat mengantarkan para peserta pendidikan yang mengikutinya kepada kesuksesan yang diharapkan.
Kalau kita ambil contoh dari unsur manhaj tersebut maka sebuah pendidikan dasar memiliki manhaj sebagai berikut :
Targetnya adalah membentuk anak didiknya (murid) mejadi orang yang memiliki pengetahuan-pengetahuan dasar seperti membaca, menulis, berhitung, dan ilmu-ilmu dasar lainnya.
Isinya adalah belajar membaca, menulis, berhitung dan mempelajari ilmu-ilmu dasar. Sedangkan aturannya antara lain; belajar membaca 5 jam dalam sepekan, belajar menulis 7 jam dalam sepekan, belajar berhitung 4 jam dalam sepekan dan seterusnya. Aturan lain adalah adanya pembagian jadwal dan waktu untuk mempelajari sebuah ilmu. Misalnya ilmu menulis dan menbaca harus dipelajari semenjak awal pendidikan, sedangkan berhitung dan ilmu-ilmu dasar lainnya dipelajari pada tahun kedua dan seterusnya.
Sarananya (wasail) adalah alat-alat tulis, buku, alat peraga, televisi, video, proyektor, komputer, alat-alat permainan, tenaga pengajar (guru), tenaga manajerial (direktur degan segala perangkatnya) dan lain sebagainya yang mendukung proses pendidikan.
Adapun evaluasi (taqwim) dapat berupa ujian bulanan, ujian semester dan ujian akhir.
Dapat juga berupa tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh para murid di rumah mereka masing-masing. Di samping itu hadiah dan motivasi yang diberikan oleh seorang guru kepada anak didiknya yang baik dan berhasil merupakan bagian dari evaluasi.
Apabila sebuah madrasah (sekolah) telah memiliki manhaj dengan segenap unsurnya yang lengkap dan baik yang sudah teruji dan telah membuahkan hasil yang memuaskan, namun tiba-tiba di suatu waktu anak didik yang dihasilkan oleh madrasah tersebut banyak yang gagal dan mutunya sangat rendah, maka dapat dipastikan kegagalan tersebut bukan disebabkan oleh manhajnya. Tetapi besar kemungkinan kegagalan tersebut berangkat dari anak didik (murid) itu sendiri. Karena manhaj sudah baik dan teruji. Bisa jadi muridnya yang tidak mau belajar, atau tidak mau mengikuti aturan yang digariskan oleh madrasah, atau tidak mempergunakan sarana yang ada, atau barangkali karena memang murid tersebut memiliki kemampuan yang lemah. Semua sebab tersebut sangat besar andilnya dalam kegagalan seorang murid. Dan ironis sekali kalau murid tersebut mencela atau menyalahkan madrasahnya sementara penyebab kegagalannya adalah dirinya sendiri.
***
Ramadhan adalah sebuah madrasah yang agung dan paripurna. Manhajnya langsung diletakkan oleh Allah SWT, Sang Pencipta Yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Segala ajaran-Nya adalah kebenaran. Selain ajaran-Nya adalah kesesatan. Allah berfirman :
Artinya : “Maka itulah Allah Tuhanmu yang sebenarnya, maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)â€. (QS Yunus : 32)
Maka manhaj Allah adalah manhaj yang benar yang tidak seorangpun dapat menyainginya, apalagi menyalahkannya. Madrasah Ramadhan telah Allah jadikan sebagai madrasah yang memiliki manhaj yang jelas dan teruji, khusus bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Targetnya adalah terwujudnya insan-insan yang bertaqwa.(QS Al Baqarah : 183)
Isi dan aturannya adalah menahan haus dan lapar mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Di samping itu setiap peserta madrasah ini (orang-orang yang shaum) dilarang untuk melakukan hal-hal yang akan membatalkan shaum mereka, seperti makan, minum, berhubungan suami isteri, muntah dengan sengaja dan lain sebagainya. Bahkan lebih dari itu mereka juga dianjurkan untuk meninggalkan segala yang merusak pahala ibadah mereka tersebut, seperti ghibah, mengumpat dan mencaci, melihat dan mendengar yang diharamkan Allah, berkata kotor dan sebagainya.
Adapun sarana untuk mencapai target shaum tersebut (taqwa) sangat banyak dan bervariasi. Semuanya adalah amalan-amalan sunnah yang akan menambah nilai shaum itu sendiri. Antara lain, melambatkan makan sahur dan menyegerakan berbuka, berbuka dengan rutab (korma muda) atau korma atau beberpa teguk air, memperbanyak do’a selama shaum karena do’a orang yang shaum mustajabah sampai ia berbuka, memperbanyak dzikir dan tilawah Al Quran karena Ramadhan adalah syahrul Quran, banyak bersedekah dan memberi demi mentauladani Baginda Nabi yang merupakan orang yang dermawan, dan beliau sangat dermawan di bulan Ramadhan, mengisi malam-malamnya dengan tarawih dan qiyam, meningkatkan aktivitas dan etos kerja karena Ramadhan adalah bulan jihad dan kemenangan Islam (syahrul jihad wal futuhat), mengisi 10 malam terakhir dengan segala bentuk ibadah sambil mengharapkan dapatnya malam yang mulia Lailatul Qadr dan banyak lagi sarana-sarana lain yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Untuk evaluasi, selama Ramadhan setiap hamba sebenarnya telah diperintahkan untuk melakukan istighfar dan taubat setiap hari. Bahkan Rasulullah melakukannya lebih dari 75 kali setiap harinya. Di samping itu Allah SWT telah memberikan bonus dan hadiah tambahan pada bulan Ramadhan sebagai motivasi bagi hamba-Nya untuk memperbanyak ibadah mereka. Ibadah sunah di Ramadhan menyamai ibadah wajib di bulan-bulan yang lain. Sedangkan ibadah wajibnya menyamai 70 kali ibadah wajib di bulan yang lain. Awal bulan Allah jadikan rahmah (rahmat), pertengahannya maghfirah (ampunan) dan diakhirnya ‘itqun minan nar (selamat dari neraka). Semua itu bagian dari evaluasi sekaligus sebagai bahan bagi setiap hamba yang melakukan shaum apakah mereka merasakan dan menikmati kelebihan-kelebihan tersebut.
Itulah manhaj madrasah Ramadhan. Manhaj yang telah melahirkan generasi-generasi terbaik ummat ini, mulai dari sahabat, tabi’in dan pengikut-pengikut mereka yang setia sampai generasi zaman ini. Dengan manhaj ini mereka ditempa dan dilatih serta ditarbiyah. Sehingga di tangan mereka kejayaan dan kemenangan Islam dapat terwujudkan.
Sekarang madrasah itu telah usai dan berlalu. Semua anak didiknya pun telah berhasil dikeluarkan. Tinggal kini mengevaluasi para alumninya. Apakah mereka telah menjadi insan-insan yang bertaqwa sesuai dengan target dari manhajnya? Ataukah kebanyakan mereka yang telah ikut dalam madrasah ini ternyata masih seperti sebelum Ramadhan -tidak berobah sedikitpun, tidak bertambah ketaatan dan kecintaanya kepada Allah dan Rasul-Nya-?
Kalau kenyataannya seperti itu maka yang salah bukan manhajnya. Tetapi muridnyalah yang tidak mau mengikuti isi dan aturan madrasah, enggan menggunakan sarana yang disediakan, serta jarang atau tidak pernah melakukan evaluasi terhadap ibadahnya. Maka wajarlah mereka belum mencapai derajat taqwa.
Bagi setiap muslim hari-hari ke depan ini adalah waktu untuk membuktikan janji Allah yang telah ditetapkan untuk orang-orang yang melakukan shaum dan qiyam dengan penuh keimanan dan perhitungan, yaitu pengampunan segala dosa yang telah berlalu. Artinya ia telah kembali kepada fitrah. Dan fitrah manusia adalah menyembah Allah semata, melakukan segala syariat-Nya dan meninggalkan segala aturan yang tidak berasal dari Allah SWT. Allah berfirman :
Artinya : “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertaqwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allahâ€. (QS Ar Rum : 30-31)
Semoga Allah menerima segala ketaatan kita selama Ramadhan dan menjadikan kita orang-orang yang kembali kepada fitrah, amien.
* Penulis adalah Ketua Dewan Syariah Wilayah PKS Sumbar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar