Jumat, 26/06/2009 09:54 WIB
Pemilu tidak Ada Kalah Menang
Oleh: Ismet Rum*MENARIK juga membaca polemik atau perdebatan melalui tulisan di Padang Ekspres, terutama tulisan Irsyad Syafar yang berjudul, Etika Orang Salah (Sabtu 23/5/09), yang menanggapi tulisan Awis Karni yang berjudul Etika Orang Kalah ( 15/5/09).
Tulisan Awis Karni menyatakan tentang etika orang kalah dalam pemilu, yang menurut persepsinya dianalogikan dengan sikap malaikat yang sujud kepada Adam. ”Tulisan Irsyad Syafar menanggapi bahwa sikap malaikat sujud kepada Adam sebagai pernyataan mengaku kalah terhadap Adam adalah interpretasi yang tidak tepat.
Kedua tulisan dengan segala argumen kedua penulisnya adalah dalam rangka membangun pemikiran kreatif positif, bukan pemikiran kreatif destruktif. Kedua tulisan juga seperti yang diniatkan kedua penulisnya, untuk meyebarkan manfaat dan kebaikan dalam kehidupan, dalam rangka saling mengingatkan sesama saudara, terutama bagaimana bersikap idealis sewajarnya terhadap pemilu.
Pemilu di mana saja, juga di Indonesia adalah peristiwa berkala yang berskala, pesta demokrasi rakyat katanya. Meskipun rakyat Indonesia seharusnya bergembira pada hari pemilu, namun ada juga orang yang bersedih hati bahkan sampai bunuh diri setelah selesai pemilu. Fenomena merusak bahkan sampai bunuh diri sendiri atau membunuh orang lain merupakan perbuatan kebodohan yang tidak sesuai dengan dasar negara Indonesia yang cerdas yang beragama. Agama mencerdaskan pemeluknya dengan melarang merusak apa saja bentuknya, apalagi bunuh diri.
Sikap yang salah memahami pemilu dan hasilnya adalah sebab utama merusak diri. Pemilu dan terutama hasil pemilu itu, sebaiknya tidak disikapi dengan merasa kalah atau menang, merasa tersingkir atau terhormat. Proses pemilu adanya yang memilih dan yang dipilih. Mereka yang memilih dan dipilih adalah sama-sama rakyat. Orang yang terpilih dan akhimya duduk di kantor DPRD, DPR misalnya, bahkan yang duduk di kantor presiden, adalah sama dengan orang yang belum atau tidak terpilih, yaitu sama—sama melaksanakan amanah dalam segala aspeknya.
Mereka yang duduk di kantor legislatif (DPR dan lain-lain) dan yang duduk di kantor eksekutif ( presiden dan para pembantunya) adalah pelaksana amanah, yaitu amanah mengurusi rakyat agar rakyat hidup teratur dan baik. Dan sebaliknya, mereka yang tidak berkedudukan di kantor tersebut adalah pelaksana amanah juga yaitu amanah siap diurus dengan baik.
Idealnya sesama rakyat saling mengingatkan dalam kerangka saling menghormati Wakil rakyat yang di legislatif maupun eksekutf siap mengingatkan dan diingatkan. Demikian juga rakyat yang tidak duduk di legislatif dan eksekutif, siap diingatkan dan mengingatkan. Semua orang siap mengingatkan dan diingatkan. Tidak tepat sikap seseorang hanya.siap mengingatkan menasihati tetapi tidak mau dinasihati atau diingatkan. Prinsipnya, manusia tidak ada yang suci, dan semua manusia berpotensi untuk salah.
Rakyat Indonesia dan juga di negara lain, semuanya melaksanakan amanah dalam segala aspek kehidupan. Orang yang terpilih dalam pemilu tidaklah identik dengan orang yang menang atau terhormat. Sebagaimana orang yang tidak terpilih dalam pemilu bukanlah orang yang kalah. Bolehlah dikatakan menang atau terhormat kepada orang yang terpilih, setelah selesai tugas melaksanakankan amanah. Di Indonesia tugas di legislatif dan eksekutif selama lima tahun.
Para anggota legislatif dan eksekutif yang terpilih dalam pemilu, boleh dikatakan terhomat atau menang setelah berakhir jabatan, setelah lima tahun bertugas. Dengan catatan bahwa mereka selama bertugas atau menjabat jabatan adalah benar mengurus rakyat atau benar melaksanakan amanah. Namun sebaliknya, jika selama menjabat mereka tidak benar mengurus rakyat, bahkan lebih banyak menguras rakyat saja, maka mereka bukan orang-orang yang menang atau terhormat, tetapi orang-orang yang kalah dan terlaknat.
Jadi pemilu adalah proses orang memposisikan diri untuk mengemban amanah, sedangkan nilai orang tersebut, nanti diketahui di akhir masa pelaksanaan amanah tersebut. Setelah selesai amanah, mereka mungkin kelompok orang yang menang atau terhormat atau sebaliknya, kelompok orang terlaknat atau kalah. Hidup adalah amanah. Kehidupan dengan segala posisi atau kedudukan seperti posisi yang dihasilkan setelah pemilu, adalah seni melaksanakan amanah.
Tentang nilai atau posisi seseorang dalam melaksanakan amanah, Al-Quran surat Ali Imran ayat 185 menyatakan :”Setiap orang merasakan kematian Dan hanya pada hari kiamat (akhirat) sajalah ditepatkan dengan sempurna balasanmu (nilai akhir beramanah). Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dialah orang yang menang. Kehidupan dunia hanya kesenangan yang memperdaya”.
Orang yang terpilih di hari pemilu dan orang yang belum atau tidak terpilih silih berganti. Demikianlah seni kehidupan habitat alam yang menjadi pelajaran. Al Quran surat Ali Imran ayat 140 menyatakan : ”hari-hari itu itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).” Yang terpilih di hari pemilu siap belajar mengurus dan belajar memimpin rakyat dengan baik. Dan, rakyat pun siap diurus dan dipimpin, selama kepengurusan dan kepemimpinan itu baik. Parameter kebaikan mengurus dan memimpin ditentukan seberapa siap untuk mengingatkan dan diingatkan.Wallahu’alam. (*)
*Penulis adalah Dosen Fakultas Dakwah LAIN Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar