Kisah Yu Meilan, Puteri Pejuang China yang Menelusuri Jejak Ayahnya ke Payakumbuh
Fajar R V - Padang Ekspres”Terharu di Ratapan Ibuh, Merenung di Toko Kumuh”
Namanya Yu Meilan. Usianya, sudah di ambang senja, 64 tahun. Sehari-hari, dia tinggal dan menjadi Chairman Overseas Chinese Association (COCA) di Provinsi Jiangsu, Republik Rakyat China. Minggu ini, dia berkunjung ke Sumatera Barat, untuk mencari jejak sang bapak bernama Yu Dafu, seorang sastrawan sekaligus pejuang nasional China yang tewas dibunuh pasukan kompetei Jepang di Jembatan Ratapan Ibuh Payakumbuh, tahun 1945 lalu. Bagaimana akhir pencariannya?
Memakai baju merah khas China, wajah Yu Meilan nampak terharu. Tokoh sentral di Provinsi Jiangsu, Republik Rakyat China ini mungkin tidak menyangka, dalam usianya yang untuk ukuran Indonesia sudah termasuk di ambang senja, masih bisa berkunjung ke Payakumbuh, Sumatera Barat, demi menelusuri jejak sang bapak bernama Yu Dafu (baca: Yu Tafu), sekaligus menyibak kembali bingkai-bingkai sejarah hidupnya.
Ya, Yu Meilan memang punya cerita tersendiri dengan Payakumbuh. Di kota berpenduduk 104.146 jiwa (data BPS 2007-red) inilah, untuk pertama kali tangisnya sebagai bayi mungil yang cantik pecah. Di kota ini pula, dia merasakan betapa pahitnya arti kelahiran manusia tanpa seorang bapak.
Maklum saja, menurut cerita Yu Meilan, ketika dilahirkan ibunya pada sebuah rumah yang sekarang beralih fungsi menjadi toko di deretan Bofet Pergaulan pasar Payakumbuh, bapaknya Yu Dafu (1896-1945), sudah tewas dihabisi pasukan kompetei Jepang.
“Saat saya lahir, bapak sudah meninggal di bunuh pasukan Jepang,”ucap Yu Meilan, sebagaimana ditafsirkan Susy Ong, wartawati Metro TV yang ikut mendampinginya, sewaktu berbicang dengan Wali Kota Payakumbuh Josrizal Zain, di pendopo rumah dinas Wali Kota, Sabtu (6/6) siang.
Tapi sayang, Yu Meilan, tidak menceritakan panjang lebar, ihwal pembantaian bapaknya oleh pasukan kompetei Jepang. Tapi, perempuan yang memiliki suami dengan jabatan setingkat Wakil Gubernur di Indonesia ini menyebut, bapaknya sampai sekarang diakui sebagai pejuang nasional republik China. Bahkan, buku-buku karangan bapaknya, menjadi bacaan wajib bagi anak sekolah di China.
“Bapak saya, selain pejuang juga merupakan sastrawan yang mengarang banyak buku,”kata Yu Meilan yang datang ke Payakumbuh bersama pimpinan PT Mulia Knitting Factory Jakarta, H. Max Mulyadi Supangkat.
Meskipun Yu Meilan, tidak bercerita panjang lebar tentang ihwal kematian bapaknya Yu Dafu. Namun, menurut Sofian Tamam, 75 tahun, masyarakat etnis Tiong Hoa yang lahir dan besar di Payakumbuh, Yu Dafu dihabisi karena dianggap Jepang telah mengkhianatinya.
Ceritanya begini, Yu Dafu merupakan seorang pejuang China yang fasih berbahasa Jepang. Dia datang ke Payakumbuh melalui Singapura, semasa perang dunia kedua pecah.
Setiba di Payakumbuh, Jepang masih berkuasa di Indonesia. Lalu, Yu Dafu ditunjuk sebagai mata-mata. Tapi, dasar wataknya tidak merima dengan segala bentuk penjajahan di atas dunia, Yu Dafu bermain mata.
Pria yang menyamar sebagai pembuat sofi atau minuman sejenis sake ini, menurut Sofian Tamam, tidak pernah memberi informasi yang valid kepada Jepang. Sebaliknya, Yu Dafu memberi informasi tentang segala niat Jepang kepada masyarakat China dan warga di Payakumbuh.
Akibatnya, diduga karena sakit hati. Apalagi, Indonesia juga memproklamirkan kemerdekaan pada tahun 1945. Maka pasukan kompetei Jepang di Payakumbuh, langsung menghabisi Yu Dafu yang pernah mengecep bangku kuliah di Universitas Tokyo, dengan cara menjemput malam.
“Ketika dijemput malam-malam, Yu Dafu bagaikan seseorang yang tidak bisa diberi ampun. Permintaannnya untuk mengganti piyama, bahkan tidak ditanggapi. Dia langsung di bawa ke atas mobil. Kabarnya dihabisi di jembatan ratapan Ibuah dan jasadnya tidak ditemukan. Tapi ada juga yang menyebut, jasadnya di temukan dan ditanam di Bukittingi,”kata Sofian Tamam yang semasa remajanya sudah kenal dengan Yu Dafu.
Cerita Sofian Tamam tentang Yu Dafu, juga mirip dengan sejumlah literatur yang diunduh Padang Ekspres (grup Padang Today) dari wikepedia dan www.britannica.com. Dalam situs berbahasa Inggris ini tertulis jelas, bahwa Yu Dafu yang merupakan jebolah Fakultas Ekonomi Universitas Tokyo tahun 1919, merupakan seorang pejuang republik China.
Dia bersama sejumlah pejuang meninggalkan China, ketika negeri Tirai Bambu itu dilanda huru-hara akibat perang dunia kedua. Kemudian, Yu Dafu menyeberang ke Singapura, untuk kemudian menetap di Sumatera, tepatnya di Payakumbuh. Selama berada di kota ini, Yu Dafu tidak menghentikan aktifitas sebagai pejuang nasional China, melainkan tetap intens menulis berbagai propaganda dan karya sastra. Hingga akhirnya dibunuh pasukan kompetei Jepang.
Terharu di Ratapan Ibuh
Kembali pada kisah Yu Meilan yang mencari jejak bapaknya Yu Dafu di Payakumbuh. Setiba di kota dengan lima kecamatan ini, Yu Meilan bertemu dulu dengan wali kota Josrizal Zain dan sejumlah petinggi kota. Setelah itu, baru wanita berkacamata dengan ukuran tubuh sedang itu berkunjung ke jembatan Ratapan Ibuah.
Di jembatan yang sejak dibangun Belanda tidak pernah mengalami pemugaran ini, Yu Meilan kemudian menabur bunga ke batang (sungai) Agam.
Sebelumnya, Yu Meilan bersama rombongan juga sempat memberi hormat kepada patung berbentuk ibu-ibu, yang disimbolkan sebagai ratapan perempuan saat melihat suaminya dibunuh penjajah Jepang ataupun Belanda. Patung tersebut berada tak jauh dari jembatan Ratapan Ibuh.
Usai melakukan ritual tabur bunga, Yu Meilan kemudian masuk ke pasar Payakumbuh, hingga sampai di toko dereten Bofet Pergaulan. Di sini, Yu Meilan yang masih gesit, nampak tertegun tegak. Sepertinya, ia tengah membayangkan masa lalu. Masa dimana bapak-ibunya tinggal di toko yang kini sudah kumuh dan kurang terawat itu.
Tapi, Yu Meilan tidak bisa berlama-lama menikmati kenangan masa lalunya. Izin berkunjung yang amat singkat dan tugas besar yang masih harus di hadang di Jiangsu China, memaksanya meninggalkan Payakumbuh hari itu juga.
Walau begitu, rindunya sedikit terobat. Bila nanti, ada orang bertanya tentang ihwal kematian ayahnya yang pejuang nasional China. Setidaknya, Yu Meilan sudah bisa menjawab, datanglah ke Payakumbuh. Karena di kota itu, sejarah Yu Dafu berlalu penuh haru!
diambil dari : http://padang-today.com/index.php?today=feature&id=229
Tidak ada komentar:
Posting Komentar