Sering orang bilang,guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Selama saya mengajar dari 1989 hingga sekarang hampir 30 th,sebutan tsb direkam benak saya sprtnya hanya utk menghibur para guru. Memang kalau dengan ikhlas guru mengajar akan mendapat pahala yg banyak dari Allah SWT.
Seandainya guru d kasih tempat yg dihormati mgkin bangsa ini akan menjadi bangsa yg besar. Tapi guru hanya dipandang sebelah mata baik dr pemerintah,murid-murid,org tua ataupun penyelenggara pndidikan maupun masyrkt umum.
Kita lihat ilustrasi berikut. Ketika seorg anak ditanya,apa cita-citanya kalau sdh besar. Banyak anak yg menjawab jadi dokter,insinyur dsb. Jadi guru jarang, sebab guru dpandang sbg cita-cita yg kurang hebat dan tidak punya masa depan . Nanti tdk sejahtera, dsb padahal guru adalah adalah pembntuk peradaban. Tanpa guru semua tdk akan jadi apa-apa.
Ketika ditanya gaji seorang guru penyelenggara pndidikan dg ringan akan menetapkan angka 400 rb rupiah, sementara kebutuhan bisa jadi 5-10 kali lipat. Seorg guru pasti akan mncari peluang utk memenuhi kbtuhan hdpnya. Bgmn dia akan profesional?
Sebaliknya pernahkah guru dipikirkan perasaannya? Saya sbg guru sgt malu ketika org tua menganggap guru tdk profesional. Tdk pantas, tdk cocok, tdk bisa bekerja sama dsbnya embel-embel negatif lain.
Tolong dengar wahai slrh yg msh punya "rasa" kita ingin anak didik kita org yg paling "hebat",kalaupun anak didik kita itu berhsl kita guru ckp bangga walaupun dia dimana,tanpa tahu mantan gurunya, entah bgmn. Maka pd para org tua murid mari kita krj sama hrmonis dlm membntuk generasi tanpa "suuzhon". Sungguh kita guru sngt bahagia mendengar kesuksesan mrk. Bagi kita guru tdk ada mantan murid, tapi sblknya bg murid dan org tua adlh mantan guru.
Kemudian kita lihat juga pandangan anak didik terhadap guru. Sangat sedikit murid yang punya rasa hormat terhadap guru terlepas dari sikap gurunya. Oke kita tidak memungkiri ada guru yang hanya sekedar profesi,tapi tidak sedikit guru yang menganggap jadi guru adalah pengabdian yang tidak mengharap apa-apa dari muridnya. Kalau dilihat betapa banyak anak didik yang susah untuk dididik, barangkali menurut pandangan saya jangan-jangan ini disebabkan oleh karena guru tidak dihargai. Sebagai guru saya sangat mengharapkan untuk ada penghormatan kepada guru ,supaya negeri ini jangan kualat. Ini saja ,karena guru sangat berharap muridnya berhasil dunia akhirat. Bahagia sekali rasanya kalau bangsa ini berubah akibat guru didengarkan"
Saya membayangkan jika seandainya diantara murid-murid angkatan guru saya dulu berhasil dunia akhirat,artinya disamping cerdas intelektualnya juga cerdas spiritualnya,maka pasti koruptor,ataupun politisi yang tidak menyayangi bangsa dan negeri ini tidak banyak.Sekarang biarlah yang berlalu tetap berlalu,tapi yang akan datang generasi murid saya jangan terulang lagi . Kepada para guru mari kita "mendidik", jangan sekedar "mengajar"
Kemudian kepada para orang tua mari kita berbimbingan tangan untuk membentuk generasi. Kita jangan saling menyalahkan. Mari saling menghormati, guru kadang tidak membutuhkan uang dan materi tapi lebih membutuhkan aktualisasi diri, uang bisa dicari, tapi harga diri kemana membelinya?
Kepada pemerintah dan penyelenggara pendidikan, mari kita merenung , merenung dan sekali lagi merenungkan .Kembalikan guru kepada tempat asalnya, jadi jadikan lembaga pendidikan sebagai ajang jual beli ilmu. Kembalikan lembaga pendidikan sebagai tempat membentuk manusia seutuhnya, kembalikan seperti dulu pernah terjadi di zaman kakek nenek,jadi guru adalah kehormatan bukan profesi buangan. Perguruan Tinggi pembentuk guru tidak menerima sisa-sisa perguruan tinggi lain. Jadikan Perguruan Tinggi keguruan sebagai tujuan utama. Jangan pernah menerima mahasiswa keguruan lewat katabelece,ataupun program komersial. Ini harapan....harapan yang semoga didengarkan oleh yang punya hati nurani. Wassalam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar