Kalau dirunut atuk ummi ini salah satu cucu Syekh Abdullah dt Jabok, salah satu Syekh pendiri perguruan tertua di Sumatra yaitu Sumatra Thawalib. Beliau sendiri mempunyai 11 anak yang tertua adalah Syekh Muhammad Saleh, yang menjadi Syekh juga di Kiambang Pariaman, dan salah satu muridnya adalah Syekh Burhanuddin Ulakan Pariaman. Yang kecil adalah Syech Mustafa Abdullah dan Syech Abbas Abdullah yang mendirikan Sekolah Darul Funun El Abbasiyah, sekolah putra dan Nahdatun Nisaiyah sekolah putri. Di sekolah inilah Zainuddin Labay El Yunusi pendiri Thawalib Padang Panjang, kakak dari Rahmah El Yunusiyah pendiri Diniyah putri Padang Panjang menempuh pendidikan sebelum mendirikan sekolah di Padang Panjang, jadi dari Padang Japang ke Padang Panjang. Itu yang pernah ummi baca di brosur usang Darul Funun.
Darul Funun dan Nahdatun Nisaiyah mempunyai banyak murid, bahkan sampai ke Malaysia, Singapura dan Pathani. Sekolahnya merupakan sekolah yang maju di zamannya konon waktu seperti pernah diceritakan Bapak Abbas Hassan dalam majalahnya majalah Harmonis, ada 26 buah bendi yang setiap hari Ahad akan berangkat ke Payakumbuh mengambil bekal siswa-siswa kedua sekolah tsb yang dikirim orang tua mereka dari berbagai tempat di luar daerah. Kemudian ada beberapa ratus yang dari daerah sekitar, dan ada lagi yang dari luar negeri.Atuk ummi adalah cucu dari Syech Muhammad Saleh, beliau sekolah di Darul Funun, namun belajarnya lebih tuntas dari pembelajaran sekarang. Setamat sekolah beliau telah ikut mendirikan dan mengajar di sekolah PPI Padang Japang yang nanti menjadi Sekolah PGA (Pendidikan Guru Agama) yang menghasilkan guru agama di tahun 60 – 70 an, juga dari negara tetangga Malaysia dan Singapura.
Bersama beliau lah ummi melewatkan masa kecil sampai tamat kuliah dan sampai menikah, bahkan sampai punya anak ke 3 ummi masih di manja oleh beliau. Padahal beliau sendiri sudah sangat sepuh. Ketika ummi melahirkan anak laki-laki satu-satunya beliau sangat bahagia sekali. Ketika pulang kampung beliau menyempatkan menggendong cicitnya dengan tubuh yang renta, namun sutu kebahagian bagi beliau walaupun yang digendongnya berat, besar dan gemuk, abang Miqdad ketika bayi gemuk dan berat.
Beliau pernah menjadi anggota DPRGRDaerah 1 priode, yang ingat ummi adalah beliau pernah menjadi anggota DPRD tk II Kabupaten 50 Koto dalam masa 3 priode berturut-turut, mulai dari pemilihan tahun 1971 mewakili Parmusi, tahun 1976 dan 1982 mewakili PPP. Ummi tidak paham bagaimana menjadi anggota dewan saat itu.Priode anggota dewanini ummi SD sampai SMA, tapi ummi hanya tahu mereka tidak seperti anggota dewan zaman sekarang,ummi ingat selama menjadi anggota dewan hanya 1 kali kunker yaitu ke Jawa Timur dan ke Bali, dimana tempat terakhir ini sangat disesalinya sekembalinya karena pernah melihat yang tidak pantas dilihat di pantai Kuta.
Kemudian juga atuk naik haji di tahun 1976, tapi ummi ingat sekali tidak dibiayai oleh negara ataupun dari dewan, beda kali dengan sekarang. Atok sama nenek naik haji dari hasil penjualan cengkeh, yang ummi ingat belum mencukupi tapi dipinjami uang oleh ponakan amak, sepupu atuk Ndut bapak ummi, karena nenek sudah cukup tapi atuk belum maka masih dicari lagi. Sudah dipinjami uang masih belum mencukupi, terakhir dicukupi dengan menjual sapi dan anak-anaknya yang sebenarnya diperuntukan kepada ummi.Sebenarnya atuk masih belum mau naik haji tapi nenek tidak mungkin pergi sendiri, maka semua yang ada diusahakan biar atuk sama berangkat sama nenek.
Anggota dewan sekarang bisa berkeliling dunia dengan biaya negara. Kalau zaman atuk ummi untuk kunker sekali itu saja dia mesti ada feed backnya bagi rakyak, ketika kembali dari kunker, actionnya yang ummi lihat adalah pemda kabupaten membuat sungai-sungai di rehabilitasi alirannya seperti Aliran Sinamar di buat jaring kawat diisi batu supaya dimusim hujan tidak jebol. Ummi sendiri tidak terlalu ngeh karena msh SD dan lugu lagi.
Satu lagi, atuk kredit motor yang diambil atas nama DPRD, ketika kreditnya belum lunas masih plat merah, ingat sekali tidak boleh siapapun memakai kecualiuntuk keperluan dewan ummi baru bisa pinjam ketika motornya lunas dan platnya sudah diganti plat hitam. Bandingkan dengan zaman sekarang apapun plat merah boleh dipakai oleh anak dan istri kemana aja kayaknya.
Selama ummi dibesarkan oleh atuk ummi dianggap anak manja, sekampung orang bilang bahwa ummi dimanjakan. Kalau mana-mana boncengan dengan sepeda ontel. Ummi paling suka kalau atuk ada di warung, ummi bisa minta dibelikan kue apem kesukaan ummi. Minta jajan adalah hal yang sangat ummi ingat terus. Atuk tidak akan ngasih kalau tidak tahu ummi jajan ummi itu apa. Dan akan ngasih cepat kalau untuk keperluan sekolah.Kemudian juga setiap malam Ahaddan pagi Ahad akan diantar Didikan Subuh ke mesjid. Setiap sebelum Maghrib ummi akan pergi ngaji, karena ummi gak mau diajari atuk, karena yang ngaji sama atuk orang-orang dewasa. Kalau anak kecil ngaji sama atuk Muhammad, nah ummi selalu dijemput setiap pukul 20.00. Bahagia sekali karena hanya ummi yang dijemput.
Tahun 1996 atuk ummi wafat, sebelum wafat beliau sudah lama sakit akibat ditabrak motor lagi bersepeda, sebenarnya sakitnya gak parah2 amat, tapi karena sudah tua tulangnya ada yang retak, maka sembuhnya lama sekali. Kemudian atuk juga ada asmanya, itu yang menurun ke uni Dhila. Yang ummi salut beliau selalu tahajud di sepertiga malam, berdua nenek sampai masih bisa selalu shalat tahajud, hal yang sama belum bisa ummi laksanakan. Semoga dalam waktu yang tidak lama ummi bisa melaksanakannya juga. Wallahu`alam bissawab.
Selamat berjuang ummi, mengikuti jejak atuknya :)
BalasHapusassalamu`alaikum bagusnya anggota dewan sekarang ngeliat bgmn dulu, ws
BalasHapuswaalaikum salam, betul umi
BalasHapus