Senin, 13 Juli 2009

UN, kenapa tidak ada yang peduli dengan kwalitasnya??????????

amis, 04/06/2009 08:29 WIB

Kecurangan Pelaksanaan UN, Ekspresi Mentalitas yang Tidak Siap

Oleh: Kurnia Hadinata, S. Pd*

Harian Padang Ekspres pada Jumat (17/4) silam mengapungkan berita berjudul “Kunci Jawaban Ujian Nasional (UN) di Perjual-Belikan di Padang” Dalam kutipan berita itu menulis petik bahwa informasi tentang beredarnya kunci jawaban soal UN tingkat SMA/K yang dilangsungkan secara nasional pada Senin, 20 April 2009 kamaren semakin santer. Selain terdapat secara fisik, tetapi juga beredar secara luas di media terutama internet. Harganyapun dibanderol jutaan rupiah.

Pemberitaan tersebut cukup menjadi perhatian kita semua ditengah kembali mengapungnya folemik pro dan kontra pelaksanan UN di tanah air. Sebab pelaksanaan UN 20 April 2009 untuk SMA/MA/K serta 27 April 2009 untuk SMP/Mts dan disusul untuk SD pada Mei 2009 mendatang di seluruh negeri akan menjadi perhatian semua pihak. Sedikit saja isu yang mengeliat dalam pelaksanaannya akan menjadi efek bola salju yang terus menggelinding dalam persoalan dunia pendidikan kita. Baik pelaksanaannya, baik pula hasil yang dicapai akan mengangkat pamor dunia pendidikan kita, namun sebaliknya amburadul pelaksanannya dan buruk hasilnya maka tidak ampun lagi dunia pendidikan kita akan dikecam keras. Tidak tangung-tangguh seluruh mata akan tertuju, dan semuanya kasak-kusuk mencari kambing hitamnya dan saling menyalahkan. Memang kita tidak bisa mengelak lagi bahwa memang UN sepertinya sudah dibabtis sebagai salah satu tolak ukur kemajuan pendidikan di Indonesia.

Pelaksanaan UN dipastikan masih menjadi momok yang menakutkan bagi seluruh siswa sekolah di negeri ini. Hal ini tentu bukan beralasan, sebanyak pelaksanaan UN dari setiap tahunnya selalu menyisakan kisah pilu dan duka yang mendalam bagi mereka yang tidak lulus. Pintar, juara kelas tidak menjadikan siswa jaminan untuk lulus UN. Pengalaman menunjukan banyak siswa dengan tingkat Inteligensi dan kepandaian yang bagus ternyata di UN tidak lulus. Sebaliknya siswa dengan tingkat kepandaian biasa bahkan dibawah standar secara mencengangkan lulus dengan nilai luar biasa. Tidak hanya itu ada sekolah yang dianggap bermutu dan berkualitas malah siswanya ada sebahagian yang tidak lulus. Ironisnya, sebuah sekolah swasta yang dianggap dengan kualitas sedang ke bawah teryata secara mengejutkan berhasil meluluskan siswanya seratus persen dengan nilai yang memuaskan.

Kita tetap tidak bisa mengelak kondisi ini sangat menjadi kemelut dan secara psikologis sangat membebani siswa. Bagaimana tidak mereka selalu dihadapan dengan kabar petakut bahwa standar kelulusan UN yang setiap tahunnya selalu ditingkatkan. Tidak hanya itu mata ujianpun setiap tahunnya juga direncanakan akan ditambah. Kondisi ini tentu bagaimanapun juga membebani beban mereka. Tidak hanya itu pihak sekolahpun demikian, bagaimanapun juga nilai dan lulusnya siswa mereka dalam UN tentu menjadi tolak ukur keberhasilan guru dan keberhasilan kepala sekolah, bahkan nama sekolah tersebut. Sehingga pihak sekolah mati-matian menyiapkan siswa mereka dalam mengahadapi pelaksanaan UN, mulai dari pelaksanaan kegiatan kelas tambahan sore khusus bagi siswa yang akan mengikuti ujian sampai pelaksanaan tes uji coba try out baik skala sekolah, kabupaten dan kota sampai tingkat propinsi.

Tetapi Selain persiapan secara positif itu dilakukan, kadang kala mereka (pihak sekolah) masih belum yakin jika siswa mereka dapat lulus dalam saringan yang bernama UN itu. Salah-salah jika tidak dibantu, tentu nama kepala sekolah menjadi taruhannya, siswa gagal, sekolah dianggap gagal dalam melaksanakan proses pembelajaran, kepala sekolah dicopot guru menjadi kambing hitamnya. Kondisi ini tentu mendorong banyak sekolah yang pada akhirnya nekad melakukan kecurangan-kecurangan dalam pelaksanaan UN di lapangan. Mulai dari membocorkan soal, mengelabui pemantau independen, memasukan kunci, membantu siswa dalam mengerjakan soal sampai menyebarluaskan kunci melalui media komunikasi seperti HP, bahkan secara manual sekalipun.

Apa yang penulis ulas tersebut sebenarnya sudah menjadi rahasia umum, setiap tahunnya UN selalu digelimangi dengan isu kecurangan yang terjadi. Pada UN tahun lalu misalnya, ada kepala sekolah yang akhirnya berurusan dengan yang berwajib karena membocorkan soal. Tahun lalu juga beberapa guru di Medan juga di kandang situmbin kan karena melakukan kecurangan dalam pelaksanaan UN. Meski berbagai upaya telah dilakukan pihak sekolah untuk mengantisipasi kecurangan mulai dari pembersihan lingkungan sekolah, menataan manajemen pelaksanan, namun indikasi kecurangan tentap saja terjadi, ada apa ini, apakah ini yang namanya kongkolingkung pelaksanaan UN?

Wacana inilah yang sengaja penulis apungkan, bagaimanapun juga penulis melihat bahwa kecurangan yang terjadi di lapangan dalam pelaksanaan UN merupakan gambaran yang tidak baik. Bagaimanapun kecurangan itu merupakan indikasi dan ekspresi mentalitas sekolah yang tidak siap dalam menghadai ujian nasional. Bahkan muncul ramor dikalangan sekolah, jika sekolah lain berbuat curang dalam pelaksanaan UN kenapa pula kita repot-repot bermain bersih, apa salahnya curang sama curang, toh tugas kita mulia membantu anak lulus. Inilah dilemanya, mau apa lagi nasi sudah menjadi bubur, kita lihat saja dilapangan siapakah dan apakah letup-letup kecurangan ini akan menguap di pelaksanan UN tahun ini.

Barangkali marilah kita mawas diri, semua pihak yang terkait. Harapan kami semua tentu siswa jangan terpancing dengan munculnya kunci jawaban UN yang beredar dari luar. Sejarah pelaksanaan UN tahun lalu telah membuktikan banyak siswa di sebuah sekolah yang tidak lulus gara-gara terjebak dengan kunci jawaban yang beredar dari luar. Kegagalan itu tentu sengat menyakitkan sekali, nah mari persiapkan diri siswa dengan segala kemampuan, usaha yang sunguh-sungguh pasti akan menghasilkan hasil yang maksimal. Selain itu semua unsur yang terlibat guru, pengawas, kepala sekolah, dinas terkait mari kita jaga pelaksanaan UN tahun 2009 ini sukses. Khusus kepada guru, rekan-rekan saya di seluruh tanah air bagaimanapun juga sukses tidaknya UN ini juga merupakan wujud profesional kita, orang-orang yang bekerja di bidang pendidikan di negara ini.

*Penulis adalah Pemerhati Pendidikan staf pengajar di SMPN 2 Panti, Pasaman, Sumbar
sumber : http://padang-today.com/index.php?today=article&j=4&id=773

Tidak ada komentar:

Posting Komentar