Senin, 13 Juli 2009

Berita lama tentang sekolah ummi

Dengungan Dangung-Dangung

SMP Dangung-Dangung dekat Kota Payakumbuh telah menerapkan sistem pengajaran baru. Pola yang dinamakan sistem pembangunan itu mengajarkan berbagai keterampilan praktis, seperti menjahit, dsb.
DI ruangan laboratorium akan ditemukan spiritus, semir sepatu, minyak serai, sirup, minyak rambut, salep dan sejumlah barang produksi percobaan kimiawi lain. Juga ada kamar gelap untuk mencuci dan meng-afdruk film. Di luar tampak pemuda remaja menambal ban sepeda. Di pinggir kolam yang akan diisi ikan mujair dan limbat (lele), ada pula pemuda berkucuran keringat. Tak jauh dari ruangan majlis guru terlihat kesibukan jahit-menjahit. Sedang di dalam kelas ada yang sedang belajar sejarah atau merenda sementara di lapangan basket anak-anak muda mulai kelihatan lelah tapi tak jauh dari sana masih ada yang segar dan asyik bertukang.

Demikian gambaran SMP Dangung Dangung Kecamatan Guguk dekat kota Payakumbuh. Istimewanya: itu SMP sejak 1961 mulai meninggalkan pola pendidikan lama, kemudian tanpa beslit apa-apa mengalihkan cara pengajaran kepada sistim yang sekarang dinamakan sistim pembangunan itu. SMP yang terdiri dari 15 lokal itu tak luput mendapat kunjungan pejabat-pejabat Jakarta ketika yang terakhir ini membicarakan kelanjutan Sistim Pendidikan Pembangunan di IKIP Padang, Juni yang lewat.

50 Kota. Siapa yang mula-mula berazam merobah pola pengajaran itu?. Itulah Masmimar, yang memimpin sekolah tersebut dari 1960 hingga 1968 dan kini dilanjutkan Amir. "Perobahan dilakukan secara berangsur, mulai dari membuat tebat ikan, membangun mushalla kemudian baru disusul pelajaran ketrampilan lainnya", Amir menerangkan kepada Koresponden Chairul Harun. Tebat ikan ini pada tahun 1971 dinyatakan Dinas Perikanan Darat setempat sebagai kolam ikan terbaik dalam Kabupaten 50 Kota Sedang mushalla yang digunakan sembahyang berjamaah oleh guru dan murid pada waktu zuhur, dianggap Amir sebagai tempat terpenting "Kiranya Tuhan telah memberikan rahmat dan membuka fikiran kami melalui mushalla ini", kata Amir pula. Dan benar: dukungan orang tua murid, kerajinan dan keuletan anak didik serta kerja sama yang harmonis di kalangan guru, sangat terasa sesudah mushalla dibangun. Gambaran lain seperti ini: pelajaran ketrampilan sebagian besar diberikan sore. Perbandingan pengetahuan umum dengan ketrampilan 60 : 40. Tidak ada. kemerosotan pengetahuan umum, sebab dalam pengalaman selama 3 tahun "prosentasi hasil ujian penghabisan di atas 80%", seperti disebutkan Amir pula.

Piket. Namun perombakan sistim pendidikan di sekolah ini bukan hanya, sekedar penyusunan kurikulum baru dengan memasukkan aspek-aspek ketrampilan bukan pula hanya akibat perubahan kebutuhan masyarakat. Yang nampaknya lebih penting adalah pembaharuan manajemen persekolahan tersebut. Demikian misalnya tampak suasana demokratis di kalangan majlis guru. Tidak ada diskriminasi antara guru pengetahuan umum dengan guru ketrampilan. Tiap minggu pimpinan mengadakan konsultasi dengan para staf pengajar. Waktu-waktu semacam itu merupakan kesempatan menyampaikan gagasan-gagasan baru koreksi, sampai pun kepada keluhan-keluhan. Barangkali itulah sebabnya Amir mengatakan: "Sebenarnya di sini tak ada lagi sebutan Kepala. Yang ada ialah Pimpinan yang memegang polcy umum".

Tiap hari, praktis yang memimpin sekolah adalah guru piket yang memang dibebaskan dari kewajiban mengajar. Tapi sewaktu-waktu bila ada guru berhalangan hadir, guru piket harus dapat segera turun gelanggang hingga tak ada jam pelajaran yang sia-sia. Jelasnya seperti dikatakan Amir: "Guru piket inilah yang mengendalikan pelaksanaan pendidikan setiap hari-sekolah".

Disamping itu ada pula kotak yang sengaja disediakan untuk menampung segala laporan harian guru-guru. Sebelum pulang sekolah, Wakil Direktur mengumpulkan dan memeriksa laporan-laporan itu. Hal-hal yang dianggap prinsipil diserahkan kepada Pimpinan untuk diputuskan, tapi hal-hal yang teknis sifatnya diselesaikan bersama dengan guru-guru dan pihak tata usaha.

Sumando. "Sebenarnya disekolah ini setiap guru bisa menjadi pimpinan", Amir menerangkan lagi. Sebab mereka bukan hanya menguasai mata pelajaran yang akan diajarkan, tapi juga administrasi pendidikan. Dan lumayannya, guru-guru tak begitu mengalami kesulitan ekonomi juga perumahan "sebab 41 orang guru itu adalah putera atau urang sumando Dangung-Dangung", Amir berkata. Karena itulah mereka dapat memberikan perhatian penuh dari pagi hingga petang terhadap anak didik.

Urang awak. Bagaimanapun, dirasakan bahwa sekolah biasa yang kemudian hendak menjadi sekolah "yang pembangunan" akan pasti memerlukan biaya jauh lebih besar. Apalagi kalau ide itu hanya datang sebagai inisiatif sendiri, seperti dilakukan Masmimar tadi. Maka untuk pengajaran ketrampilan, demikian Amir, "kami harus bertolak dari sumber-sumber bahan yang tersedia dan dapat dibuat di tempat ini". Bantuan bukan tak ada. Tapi bagi Amir bantuan yang misalnya sebesar Rp 1 juta dari UNICEF baru-baru ini, dianggapnya hanya sebagai perangsang untuk kemudian bisa membuat alat-alat sendiri. Sebab, "banyak peralatan yang diberikan UNICEF tidak bisa dipakai beberapa sekolah karena terlalu mewah, dan kalau rusak tak dapat diperbaiki". Sedang SPP yang setiap bulan hanya diterima sekitar Rp 25 ribu, jelas tidak memadai tapi bagi Amir hal itu belum jadi masalah yang gawat. Dan anak-anak ini, biarpun melakukan pekerjaan kreatif seperti memperbaiki sepeda atau menggunting rambut, samasekali tak mengutip bayaran.

Tapi yang tetap mendengung-dengung dibenak orang banyak: bagaimana supaya lulusan SMP Dangung-Dangung tidak menganggur bila peluang untuk melanjutkan sudah tertutup. Mereka, menurut Amir, harus mampu membuka lapangan kerja sendiri. Dengan berpedoman bahwa masyarakat banyak memberikan bantuan pada sekolah ini, maka menurut Amir "masyarakat tak boleh dirugikan karena kesalahan dalam sistim dan pelaksanaan pendidikan". Tapi masyarakat di sini adalah masyarakat daerahnya. Sebab menurut pimpinan sekolah ini, "pelajaran ketrampilan bukan dimaksud sebagai bekal kelak anak itu pergi ke kota, tapi supaya mereka mampu bertahan di kampung". Boleh juga

sumber : http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1972/09/23/PDK/mbm.19720923.PDK60526.id.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar