Cerpen Terbaik, pada Lomba Cerpen Islam FKI Rabbani Unand Padang
“ASSALAMUALAKUM”
Salam seseorang di depan keIas Aku segera menghentikan kegiatan mencatatku. “Adik-Adik yang dicintai Allah, kami minta waktu sebentar saja. Mungkin adik-adik belum tahu Saya Rini, dari Forum Studi Islam di Fakultas ini, Saya akan memperkenalkan Unit Kegiatan Mahasiswa ini, di organisasi ini kita akan bersama-sama mentelaah atau mengkaji Islam lebih dalam lagi.
“Gila manis banget Kak Rini”
“Disini kita tidak hanya duduk-duduk mendengarkan mentoring saja tapi kita juga sesekali akan mengadakan jalan - jalan atau rihlah untuk mengkaji kebesaran Allah. LaIu, kita juga punya kegiatan belajar bersama untuk membantu adik-adik yang mempunyai kesulitan dalam perkuliahan juga, sambungnya”
Yap..!! Benar sekali aku memutuskan untuk mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa ini yang kata kakak-kakak senior dikenal dengan nama Forum Studi Islam (FSI). Tapi sungguh malang kegiatannya tidak berbaur antara laki-laki dengan perempuan. Jadi aku tidak punya kesempatan untuk melihat Kak Rini. Ada tabir yang membatas langsung, kuangkat tabir itu untuk mengintip tapi kakak tingkat menegurku. Yee… siapa yang betah begitu. Akukan masuk FSI ini ingin dekat dengan Kak Rini. Mendingan aku mundur aja deh
“Mad, aku jatuh cinta sama kak Rini..” kataku pada teman sebangkuku, Ahmad
“Astsghfirullah. Koq bisa?” tanya Ahmad heran, Aku melotot pada temanku yang masih betah Ikutan Forum Studi Islam itu. Dia segera mohon maaf padaku.
“Kamu ini, teman jatuh cinta bukannya diberi selamat atau diberi saran bagaimana agar bisa jadiaan, eh malah beristighfar. Aku jatuh cinta pada Kak Rini, tandanya aku masih normal suka pada lawan jenis Seharusnya kamu bersyukur. Coba kalo aku lesbian gimana coba?” Aku nyerocos panjang pendek
“Iya, sorri. Aku minta maaf,” kata Ahmad,
“Chan, emang ada manfaatnya kita pacaran,” lanjut Ahmad.
“Banyak, banyak banget, Diantaranya kita punya teman untuk berbagi cerita dan bisa nonton atau makan gratis. Ada yang memperhatikan kita, menyayangi kita” jawab ku barsemangat.
“Chan, kalau hanya untuk menyanyangi dan memperhatikan atau untuk berbagi cerita, kenapa kita tidak melakukannya bersama Allah, Bukankah Allah maha Pengasih dan maha Penyayang.”
“Itu mah lain, Akhi. Emang Allah bisa traktir kita makan atau nonton film?” aku balik bertanya.
“Bisa dong. Coba, sejak kamu lahir sampai segede ini siapa, yang memberimu makan? Orang tuamu? Mereka Itu hanya perantara Chan. Trus Allah mengajakmu nonton Film yang nggak akan pernah bisa dibuat oleh manusia; Contohnya Film nabi Adam saat berada di Surga bersama Hawa. trus nabi Nuh yang mebuat bahtera yang sangat besar. Titanic aja kalah Chan. Masih mau contoh yang lain?”
“Dimana kita bisa menontonnya” tanyaku tanpa menghiraukan pertanyaannya.
“Makanya baca tuh Qur’an. Jangan cuma jadi pajangan doang.”
“Ah itu tetap saja lain” Beda, aku masih protes.
“Oke. Kalau begitu mari kita lihat sisi buruknya. Kalau pacaran kita maunya Selalu berduaan, betul?”
“ya.”
“Maunya tidak ada yang menganggu betul”,
“ya”
“Kita maunya dia milik kita selamanya dan kita miliknya selamanya dan dunia ini serasa milik berdua, betul?”
“Ya.. Ya”
“Nah, kalau sudah begitu berarti kita sudah terbujuk rayuan setan. Kita sudah lupa sama Allah Kita lupa sholat dan kita berpikiran negatif. Nanti malam mau ngapain ya dengan dia? Kita sudah melakukan zina pikiran. Lalu apa yang terjadi kemudian? terjadilah suatu kecelakaan. Kamu ingat Ayu yang harus istirahat kuliah karena hamil dua bulan. Padahal dia sudah tingkat tiga. yang menghamili pacarnya sendiri. Pacarnya nggak mau bertanggung jawab. Orang tua mereka menolak menikahkan anaknya karena masih terlalu muda,” kata Ahmad menghentikan penjelasannya.
“Itukan tergantung orangnya. Dianya aja yang tidak pandai menjaga diri,” kataku berkelit.
“Astaghtirullah alazzim,” Ahmad mengurut dadanya dan menghela nafas panjang.
“Ya Allah limpahkan hidayah kepada Chandra, bukakanlah hati dan pikirannya” Ahmad berdoa dalam hati.
Aku nggak mengerti kenapa Ahmad begitu bersikeras melarangku untuk pacaran dengan Kak Rini. Mungkin dia iri. Aku mendengar banyak yang suka sama Kak Rini. Siapa yang tidak kepincut hatinya. Kak Rini orangnya sangat supel, berwibawa, pinter dan aktif berorganisasi. Pokoknya komplit. kayak jamu Sido muncul. Trus berita yang membuat sebel diriku adalah sudah ada beberapa teman yang sudah berencana mengirim surat cinta untuk kak Rini. Tentu aku nggak mau ketinggalan. Aku juga sudah merencanakan membuat surat cinta untuk kak Rini. Aku pergi ke toko buku, mencari kertas surat dan amplop warna merah jambu. Biar romantis gitu. Aku menulis surat cinta dan memberikannya Iangsung pada Kak Rini sepulang kuliah, Kak Rini menerima suratku dengan senyum yang manis sekali..! senyum close-up, kalah bo!, ini mungkin pertanda baik untukku. Aku segera menghayal seandainya cintaku diterima Kak Rini, Aku pergi ke Kampus dengan hati yang gembira..Suratku sudah kuberikan, tinggal tunggu jawaban diterima atau ditolak.
tapi aku optimis akan diterima, hidup memang harus optimis iya khan,
“Kamu koq nggak pernah datang lagi kegiatan LQ, Kak Hafish nanyai kamu terus loh.
”Kak Hafish siapa ya?”
“Mentor kita, pikuuunl”
“Oo… Kakak itu, males, Mad, tapi kamu jangan bilang ltu. Cari alasan lain yang bagus.”
“Enak aja nyuruh orang bohong tak usah lah yau.” Ahmad mengeluarkan lidahnya.
“Oh, iya. Hampir lupa. Kak Rini besok sore akan telepon,” sambung Ahmad.
“Yang benar aja, Mad.” Ahmad mengangguk
“Besok jam empat sore “ Tapi dia tahu nomor HP ku dari mana, ya?”
“Ya dari aku, bego”.
“Eh, aku mau ke Perpustakaan, ikut nggak?” Aku menggelengkan kepala. Sejak kapan aku suka berkunjung ke tempat yang satu itu. Mendingan duduk di Cafe main domino bareng teman-teman, daripada disuruh kesana. Cihuy Mungkin Kak Rini ingin memberi jawaban atas suratku tempo hari. ya, besok tepat tiga hari setelah aku memberikan surat itu.
Jam dinding di rumahku berdentang tiga kali. Menunjukkan jam tiga Iebih tiga puluh menit. Uh! lambat sekali jam ini berputar. Aku lalu meraih sebuah Komik yang baru kemarin aku beli di Gramedia. Aku membuka halaman dami halaman. tapi, Tetap saja tak dapat menghilangkan galau di hatiku. Degupan jantungku. Diterima atau ditolak ya? ku lemparkan komik itu ke atas kursi dan meraih remote control televisi. Kuhidupkan Televisi ah… acara Sepak Bola yang kusukai benar-benar tidak menarik bagiku. Aku paksakan juga mataku melotot ke Tivi dan berusaha untuk berkonsentrasi. Tapi tetap saja mataku sebentar-sebentar melirik jam yang menempel di dinding. Jam berdantang empat kali. Aku bergegas bangkit dan meraih HP yang semenjak tadi kuletakkan diatas meja agar memperoleh sinyal yang lebih baik, maklum kamar costku terlindung dengan rumah yang tinggi, sehingga menggangu sinyal HP yang masuk. Tak berapa lama benda kecil yang berada di tanganku berdering dan aku yakin pasti kak Rini yang menelpon seperti janjinya kemarin.
“Assalamualaikum,” sapa orang di seberang.
“Waalaikum salam.”
“Bisa bicara dengan Chandra.” “Ya, saya sendiri. Ini Kak Rini Ya?”
“Ya. Maaf terlambat lima menit.”
“Oo… nggak apa-apa,” kataku sambil berusaha menekan irama gemuruh di dadaku.
“Jadi diterima atau ditolak?” tanyaku tak sabaran.
‘‘Sebelum saya mejawabnya Saya ada satu pertanyaan untuk Chandra. Apa pengertian atau hakikat pacaran bagi Adik?”
“Dua orang yang berlainan jenis yang saling mencintai.”
“Tapi apakah adik sudah mencintai Nabi Muhammad dan Allah? Aku terdiam. Selama ini aku hanya menunaikan ibadah hanya sekedar gugur tugas. Bukan karena dasar mencintai.
“Sudah?” ulang Kak Rini.
“Belum.”
Kalau begitu maafkan saya, Saya tidak bisa menerima cinta mu. Dik Chandra, jangan khawatir, Kalau memang jodoh tak akan kemana. Kelak Allah akan mempertemukan kamu dengan jodohmu. Mungkin saya atau orang lain. Satu hal yang harus Chandra ingat. Allah memberi jodoh berdasarkan kita. Jika kita termasuk orang yang sabar, Allah memberi kita jodoh yang sabar juga. Kalau Chandra rajin sholat maka Allah memberikan jodoh yang rajin sholat juga. Kalau kita cinta pada Allah dan rasulnya, maka Allah memberi Chandra yang sama. Sekali lagi maafkan saya.”
“Kak, waIaupun cewok lain yang suka sama kakak?”
“Atas izin Allah untuk saat ini juga akan saya tolak. Kalau Chandra mau menjadi adik atau teman, saya menerimanya dengan senang hati. Baiklah saya rasa sudah jelas. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” KIik. Telepon tertutup, aku segera menekan nomor telepon Ahmad untuk curhat.
“Mad aku ditolak,” kataku tanpa basa-basi setelah kuyakin suara di seberang adalah Ahmad.
“Aku sudah tau.
“Kamu sudah tau?”
“Ku cegah tapi tidak mau. Aku tahu sifat Kak Rini.”
“Apa maksudmu, tahu sifat Kak Rini?”,
“lye. Kak Rini itu Kakak kandungku. Dan kamu bukan cowok yang pertama ditolaknya. Dulu Si Indra, Boby terus…”
Tubuhku terasa lemas mendengar pengakuan ahmad. Duh… malu sekali Andai aku tahu… Aku baru ingat persamaan kedua orang itu. Kedua-duanya suka memberi caramah dan nasehat, Aku sangat malu pada Kak Rini karena belum mencintai Allah dan Rasulnya. Aku teringat kembali perkataan Kak Rini yang mengatakan Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dan itu benar..!!!!
Diambil dari :
@ uni, cerpenmu bagus dik.sip.
BalasHapusAssalamu`alaikum bagus memang, tapi ingat itu bkn tulisan ane, and ingat juga ana g mau diembeli "dik", sebab bentar lag ane mau mantu, atau antum mau jadi mantu ane he....he....ws
BalasHapusWa alaikum salam, bu. Maaf ya bu.he3x. Ooh mau punya menantu bu? Alhamdulillah, ikut gembira. Saya udah nikah baru bbrp bulan.
BalasHapusAssalamu'alaikum wr wb iya nih, tapi anaknya br tmt sma th ini, umminya aja kecentilan, pengen cepeeet gitu, tp emang kayak gini ya jadi ibu-ibu...iya ya, brkallh , udah mo punya momongan? Ws
BalasHapusMau langsung dinikahkan mi? Tapi tanya dl deh anaknya. Wah3x dah mw punya cucu ya. Ya cari mantu yg baik ya. Jgn lupa, anaknya diajarin juga dari sekarang ttg masalah nikah.
BalasHapusAssalamu`alaikum wr wb Insya Allah mereka sudah ibu persiapkan dan Alhamdulillah g seperi anak skrng, mereka selain dari ibu persiapan maslah dinnya juga keterampilan, masalah masak, cuci menyulam dll, sudah diajarkan ws
BalasHapusWaalaikum salam. Waah camer yg cerdas neh.he2. Bagus bu. Cibubur kan di jakarta ya bu?dmn tuh?
BalasHapusAssalamu'alaikum iya kita tetanggaan ama sby, ibu tnggal d ciangsana d blk sklhn, mengajar d sit fajar hidayah kt wisata, slm buat istrinya ya. Slm jg buat caman ibu he...he...siapa ya, ws
BalasHapusWaalaikumsalam. Ooh tetangga sby ya. Makasih bu guru. Saya guru privat bu.dah lama juga. Bs diskusi masalah pendidikan.he3x. Caman ibu, brdoa n berusaha aja bu. Insya allah akan datang.he3x
BalasHapuscerpennya manis sekali ibu.. btw, siapa yang nulisnya? saudara ibu kah?
BalasHapusAssalamu`laikum, bukan sa. Pemenang lomba yang diadakan oleh FKI Rabbani di Padang ws
BalasHapus