Jumat, 04 Oktober 2013

Feb 14, '11 4:25 AM
untuk semuanya
           Tahun 1970 ummi mulai sekolah langsung ke SD, tanpa TK. Sebenarnya ummi sudah masuk TK, tapi karena anak kepala sekolah TK namanya Martiyas ( Yas di mana ya sekarang 41 tahun yang lalu) mendelikan matanya ke ummi, ummi tidak mau lagi sekolah, akhirnya bulan Januari 1970 sekolah di kelas 1 SD no 2 Talago di Padang Japang Kanagarian VII Koto Talago Kecamatan Guguk Kabupaten 50 Koto. Masa itu adalah masa yang sulit untuk dilupakan .
          Sepulang sekolah banyak kegiatan yang rasanya anak sekarang sulit mendapatkan kesempatan seperti ummi. Suatu waktu kita maksudnya ummi sama tek Win dan kawan-kawan ummi menangkap ikan "pantau dan sapek, atau puyu kadang anak rutiang" di sawah.Pulangnya dapat ikan dan kita berkubang lumpur. Muka juga penuh lumpur. Nanti ibu akan masak ikannya jadi "punju atau singgang" atau hanya sekedar digoreng. Tahukah kalian, bahwa mencari ikan di sawah bagi kami adalah kegiatan yan sangat menyenangkan, tapi tetap banyak manfaatnya. Ikannya dimakan sebagai lauk yang bisa memenuhi gizi kami, sehingga bisa tumbuh optimal.
          Di lain waktu kita main di semak-semak, untuk main jungkat-jungkit di dahan kayu yan rendah atau di pohon kelapa yan tumbang. Rasanya asyik sekali berayun-ayun dengan suara riuh rendah, uhhh pokoknya suatu hal yan tidak bisa dilupakan, teriakan tapi kadang ada nangisnya juga kalau kita tukang ayunnya saja. Biasanya anak yang agak besar suka mempermainkan juga. Disaat kita yang masih kecil menangis, orang dewasa akan ikut campur. "Baok main adiak kalian, ijan bacakak, indak elok". Biasanya masalah akan selesai sampai di situ.
         Pernah juga kita bareng main masak-masakan di bawah rangkiyang, ada main jual-jualan, atau pun main "baralek-baralek an", ada yang jadi anak daro dan marapulai'. Satu ketika ummi jadi anak daro dan mak iyuh, saudara sebelah rumah gadang kita yang jadi marapulai, Ummi malu sekali diketawakan teman-teman ummi. Tapi ya waktu itu seru dan menjadi pembelajaran bagaimana dalam masayarakat.
        Untuk sekarang anak-anak tidak mendapat permainan seperti kami, sehingga anak-anak tidak tumbuh kembang secara alamiyah. Bahkan ada orang tua yang tega memaksakan akademis kepada anak-anak. Anak-anak dewasa sebelum waktunya dalam fisik dan mungkin "akademis" tapi tidak secara sosial. Banyak anak-anak yang tidak mampu bersaing dan survive, mereka manja dan cepat putus asa dan menyerah kepada apa adanya? Bagaimana bisa anak seperti itu akan bersaing di era global? Wallahu `alam
Sebelumnya: akibat tidak tabayun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar