dilahirkan 50 tahun lalu disebuah desa kecil di pedalaman sumatra barat kira-kira 18 km sebelah utara kota payakumbuh. tidak banyak penduduknya tapi menurut bu wen suatu tempat yang nyaman, udara sejuk dan masih perawan. mudah-mudahan tidak ada yang berniat membuat pabrik yang mengotorkan udara di sini.
sewaktu lahir bu wen dikasih nama hulma yuwelni lahir tengah malam 27 rajab 51 tahun lalu tahun qomariyah. mempunyai 4 orang adik, 1 adik perempuan dan 3 orang adik laki-laki. semuanya dibesarkan di kampung kecil padang jopang kenagarian 7 koto talago kecamatan guguk kabupaten 50 kota.
ibu kami misdar sudah wafat tahun 2004 lalu bersamaam dengan pemilu presiden, sedangkan bapak kami husni riva`i masih ada tapi dalam kondisi sakit akibat stroke, mohon do`a.
kami hidup sederhana tapi mengutamakan agama dan pendidikan, sehingga sampai sekarang pun mengutamakan pemahaman agama.
bu wen sekarang mempunyai 4 orang anak yang sudah berangkat remaja, dan juga mempunyai 23 orang ponakan. ramai bukan? kalau di minang kabau kami lebih dekat dengan clan ibu sehingga kalau pulang ke rumah gadang heboh dan seru sekali.
bu wen bercita-cita menjadi diplomat yang sudah dikubur. ketika itu bu wen dengan survey ke deplu tapi jadi diplomat saat tahun 1988 belum sejalan dengan nurani, maka kesempatannya tidak diambil. sejak saat itu bu wen tidak mengejar karir cukup mengajar honorer di sekolah negeri yaitu mtsn padang japang. mungkin nasibnya memang guru sampai sekarang pun tetap jadi guru. mudah-mudahan allah swt menuntun terus dan ini bisa membawa ke syurganya. amin.
sekarang di usia yang sudah paroh baya bu wen bercita-cita bisa mengantarkan anak dan ponakan sukses dalam kehidupan beragama dan pendidikan serta dunianya. amin. anak-anak bu wen sudah 3 orang yang kuliah, mudah-mudahan yang ke 4 juga bisa kuliah dengan mudah. bu wen berharap bukan hanya kuliah yang sukses tapi juga amal ibadahnya.
berat memang jadi orang tua sekaligus guru di zaman yang serba permisif ini. kadang menimbang antara kebutuhan rumah dan sekolah juga tak kalah rumitnya. namun semua insyaallah semua bisa berjalan seiring berjalannya waktu.
menurut bu wen seorang guru bisa profesional kalau bisa mendidik anaknya sekaligus muridnya tanpa ada benturan, namun kadang benturan itu terjadi. suatu saat inginnya mengaplikasikan apa yang telah dilaksanakan di keluarga tapi tidak mungkin diaplikasikan kepada murid. misal ketika anak sendiri berumur 10 tahun tidak mau shalat akan dipukul, tapi hal itu tidak mungkin dilaksanakan terhadap murid. bisa mengamuk orang tuanya nanti. dan banyak lagi benturan lain yang murid tidak suka.
yang namanya manusia mempunyai keterbatasan, maka seandainya guru itu menguasai satu bidang study dan tidak diacak-acak terus mungkin bisa dituntut lebih trampil, jika tidak tetap menyebabkan selalu belajar dan tidak nyaman, padahal mengajar lebih banyak urusan hati dari pada urusan logika, tapi ya itu belum bu wen dapatkan, mudah-mudahan suatu saat, ketika sudah punya sekolah sendiri mungkin, amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar