Jumat, 06 September 2013

Dialog sisi-sisi diriku

     diriku mempunyai sisi baik dan sisi buruk, yang selalu berdialog dan mau ambil peran yang lebih besar. mungkin setiap orang seperti itu. manusia mempunyai sisi fujur dan taqwa. aku mau menumpahkan segalanya di sini buat pembelajaran bagiku dan anak cucuku selama blog ini masih ada.
     ketika memulai mengajar di tahun 1989 di mtsn padang japang. terjadi dialog panjang. tdk usah diceritakan yang intinya sisi baik menang aku menetapkan diriku jadi guru honorer, yang waktu itu mengalahkan cita-citaku jadi diplomat, di mana untuk jadi diplomat lebih banyak mudharatnya dan pakaiannya tidak bisa menutup aurat.
     dengan pilihan hidup ini aku dengan senang hati menjalani. menikah punya anak sampai tiga, hidup serba kekurangan tidak masalah sampai di situ. punya anak ke 4 diikuti dengan semakin terbukanya mata akan dunia dan munculnya era baru di indonesia. tumbangnya orde baru dan berdiri partai-partai baru.
     48 partat berdiri di taun 1999, saya masuk ke salah satu partai, dan oleh teman-teman pengurus partai saya diminta jadi caleg pengembira, oke gak masalah, belum tergiur akan dunia. beda dengan pemilu berikutnya, dengan sistem proporsional tertutup dan kemungkinan terpilih besar di tempatkn no1 untuk dprd kabupaten. di sini sisi baik dan sisi buruk diriku bergulat berdarah-darah, kenapa?
     begini dialognya :
sisi baik (sb) : ahh...dunia..jangan terlalu fokus
sisi buruk (sbk) : buat apa diikutkan kalau toh untuk dipermainkan, lawan yang menyebabkan posisimu di rubah, enak saja, kamu bukan manusia rendahan yang bodoh.
     cukup sampai di situ yang intinya dialog itu di menangkan sb, sudahlah allah swt maha mengetahui apa yang terbaik buat hambanya. tenang....
kehidupan dilanjutkan dengan serba kekurangan, penghasilan suami dan diriku sebagai guru dan menghidupi keluarga serta 4 orang anak berlanjut terus, tenang saja. tidak pernah saya ngotot kepada suami, allah maha mengetahui, pasti allah tidak membiarkan selamanya begitu. pasti suatu saat allah akan menunjukan jalan buat melanjutkan kehidupan dan yang terpenting membayar hutang-hutang kami yang catatannya akan saya buat di suatu tempat yang apabila kami sudah tiada, anak-anak (mudah-mudahan) bisa membayar. yang jelas kita harus berusaha.
  "mestinya para pengelola negara sadar bahwa bukan kami saja yang hidup miskin dan kekurangan ini karena ulah pengelola negara, di mana rakyat dari negara kaya ini susah dan terhina"
     tahun 2004

Tidak ada komentar:

Posting Komentar