Rabu, 23 Desember 2009

Syahid?

Mahasiswa IAIN: Sebelum Kejadian, Ridho Shalat Tahajut

Ilham Safutra - Padang Ekspres


Tidak pernah ada seorang pun di atas muka bumi dapat mengira, kapan ajal menjemput. Semua itu rahasia illahi. Sungguh pun begitu, sebelum janji Maha Kuasa itu jatuh pada waktunya, janganlah kita selaku hamba untuk meninggalkan perintah-Nya. Ridho Akhyar salah seorang dari tiga mahasiswa IAIN Imam Bonjol yang korban tertimpa bangunan di Wisma Alkahfi, Tigoruang, Kelurahan Lubuklintah, Kecamatan Kuranji, Senin (14/12) dini hari dimakamkan di kampung halaman, Jorong Aiebatumbuk, Nagari Paninjauan, Kecamatan X Koto Di Atas, Kabupaten Solok.

Selasa (15/12) siang itu, wakhtu zuhur telah masuk beberapa menit. Padang Ekspres pun tiba di rumah panggung berwarna cat putih hijau. Rumah tersebut masih ramai dengan pelayat. Umumnya pelayat yang datang itu kerabat jauh dan teman-teman sanak saudara almarhum Ridho Akhyar. Di rumah itulah, mahasiswa semester tiga Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Adab, IAIN Imam Bonjol, Padang itu lahir dan dibesarkan.

Kawasan tempat tinggal almarhum berjarak 30 km-an dari Arosuka, ibukota Kabupaten Solok. Perjalanan mencapai rumah itu, koran ini terpaksa melintasi Kota Solok, kemudian berlanjut menyisiri pinggir bukit yan bertebing tinggi dan jurang cukup dalam. Jalan menuju rumah almarhum pun penuh dengan tikungan tajam dan pendakian dan penurunan curam. semua itu memerlukan waktu sekitar 45 menitan.

Di ruang tengah rumah itu, tampak dua orang berusia senja, Yuhanis, 66 dan ibunya Nurside, 58 namanya. Mereka tak lain adalah orang tua Ridho. Mukenah putih yang digunakan Nurside saat shalat zuhur masih terpasang di badannya. Dia duduk di salah satu bagian dinding arah bagian depan, sambil melayani pelayat yang bertakziah atas meninggal anak bungsu tercintanya.

Dengan sabar dia terus menjawab pertanyaan tentang bagaimana kronologi kejadian terus dilontarkan pelayat kepada istri Yohanis itu. Tak sadar, sesekali dalam menjelaskan kejadian kepada pelayat, air muka Nurside berkaca-kaca. Bahkan air mata yang membasahi pipinya yang mulai keriput itu sampai menetes hingga ke mukenahnya.

Kedua orang tua itu menceritakan prosesi pemakaman anak bungsunya itu. Jenazah almarhum Ridho Akhyar telah dikuburkan di pemakaman keluarga di Surau Kajang, Jorong Aiebatumbuk, Nagari Paninjauan, Kecamatan X Koto Di Atas, Kabupaten Solok, Senin sore. Jenazahnya tiba di kampung halaman, sekitar pukul 17.00 WIB. Sebelum dimakamkan, jenazah almarhum sempat disemayamkan di rumah duka yang disambut penuh dengan rasa duka mendalam.

"Sejak berita buruk itu sampai ke kampung disampaikan kakaknya Yuhendri (kakak Ridho) seluruh warga kampung ini terkejut. Kami menunggu jenazah sampai di rumah hingga sore," ujarnya mengawali cerita.

Kejadian tersebut tidak pernah dikira Nurside. Bahkan sehari sebelum kejadian pun, Nurside tidak pernah mersakan firasat buruk sekalipun. Nurside hanya mengalami telinga kirinya bergerak-gerik minggu lalu. "Hal itu mungkin salah satu petanda kejadian yang akan menimpa Ridho," lirihnya seraya menyeka air mata yang membasahi pipinya.

Lantas, Nurside hanya mendapat cerita dari teman satu kos dengan Ridho. Bahwasannya, sebelum kejadian, Ridho sempat melaksanakan shalat tahajud. "Dia shalat sekitar pukul 03.00 WIB dini hari. Setelah itu, Ridho tidur lagi. Anehnya, Ridho tidak tidur di kamarnya. Dia pindah ke kamar sebelah," lanjut Nurside.

Sementara itu, Yuhanis yang duduk di sebelah Nurside tak henti-hentinya menahan isak tangisnya. Bayangannya terhadap anak bungsu dari lima bersaudara terus menyelimuti lamunannya. Sehingga bapak yang sehar-hari sebagai petani itu tak kuasa memandangi foto Ridho kecil yang terpajang di dinding. "Indak manyangko awak doh (Tidak menyangka saya, red)," ungkap Yuhanis pendek.

Rasa kehilangan  tidak hanya dialami kedua orang tua itu, tapi kakak almarhum pun tak kalah sedih. Betapa tidak, Yuhandri yang selalu memonitor tentang kegiatan adiknya yang lulusan SMA Negeri 1 Solok, sebelum kejadian masih mendapat informasi, bahwa adiknya masih sempat memimpin sidang salah satu forum di BEM IAIN.

Diakui Yuhendri, adik bungsunya kelahiran 20 tahun, memang aktif disejumlah organisasi kampus. Mulai sebagai ketua Kosma hingga tingkat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Jiwa aktivis Ridho itu mulai terlihat sejak dia menjadi pengurus OSIS di SMA Negeri 1 Solok, dua tahun silam.

Selain keluarga, orang kampung sekitar Aiebatumbuak pun tidak pernah menyangka laki-laki yang suka ke surau itu pergi begitu cepat. Sebab, jika Ridho pulang ke kampung, dia selalu menghabiskan harinya di rumah, sawah dan surau. "Usai membantu kami di sawah, Ridho lebih lama berada di rumah untuk beristirahat. Sedangkan saat waktu shalat, dia selalu menyempatkan shalat berjamaah di surau," kenang Nurside.

Putra kelahiran  15 Juli 1987 itu, selain rajin mengasah jiwa organisatornya, ternyata tidak tertinggal dalam hal akademis. Buktinya, indeks prestasi (IP) terkahir Ridho 3,45. Dalam akhir ceritanya, Yuhendri hanya berharap tidak ada korban lagi di rumah bekas gempa. [***]

sumber : http://www.padang-today.com/?today=feature&id=296

2 komentar:

  1. Subhanalloh. Ana br tau klu ad beritany d padangtoday. Soalny jrang bngt k site itu.

    Ana kenal dgn almarhum. Beliau, saat prsiapan snmptn thn maren, tinggal d wisma ikhwah fe unand slama masa bimbel bliau d gama. Mski tdk lulus d unp, beliau dtrima d iain d jur yg sama ktk bliau daftar snmptn.

    Beliau adl org yg ramah, rendah hati, sangat rendah hati malah mnrt ana. Tutur katany lembut. Bliau cpt akrab dgn kami ikhwah fe unand yg tinggal d wisma. Krn juli-agus itu jg adl libur akhr smster, kami sring mnghabiskn wktu d sore hr dgn renang brsama d sungai kecil d kampung binuang dkt wisma kami.

    Kepergian bliau sgt mngagetkan. Ana brsaksi bhw bliau adl ikhwan yg hanif. Smg beliau memang husnul khotimah. Allohummaghfirlahu warhamhu wa aafihi wa'fu 'anhu.

    BalasHapus
  2. insyaallah beliau syahid, mudah-mudahan tertimpa runtuhan, amin

    BalasHapus